Promo Novel Anak : Laskar Anak Pintar

1234814_1402584506635211_1356398086_n

Sholeh, Maman, Lukman, Daud, dan Iqbal, adalah lima sekawan. Mereka berlima hidup di sebuah daerah pedesaan yang cukup jauh dari perkotaan. Mereka berlima adalah anak dari orang-orang miskin dan sederhana. Sholeh adalah anak lelaki penjaja pisang goreng keliling kampung dengan berjalan kaki. Namun demikian, Sholeh adalah anak yang berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.

Maman adalah satu di antara lima sekawan yang tidak sekolah karena bapaknya yang hanya buruh serabutan, tak mampu menyekolahkan. Padahal, Maman sebenarnya sangat ingin sekolah, memakai baju merah putih.

Biarpun mereka berlima miskin dan sederhana, bahkan ada Maman yang tidak sekolah, namun mereka mampu memikirkan jalan keluar masalah bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka adalah anak-anak yang kritis dan cerdas. Lalu, pada suatu hari ada kejutan buat Sholeh dan Maman yang membuat keduanya sangat bahagia. Kejutan apakah itu? Ikuti perjalanan seru lima anak desa ini hingga selesai, ya!

Penulis Andri Saptono,
Penerbit : Indiva Kreasi (Lintang)
ISBN : 9786021614006
Tebal : 124 hal
harga 18.500,-

kalau mau beli online di sini
http://indivamediakreasi.com/new/index.php?route=product/product&path=59&product_id=166

Advertisements

Memanusiakan Kaum Marginal Kota

13023504532082239972
dimuat di UNSA27

Jalanan jelas bukan tempat yang tepat bagi pengemis, pengamen, gelandangan dan kaum marginal lainnya. Selain mengganggu kelancaran lalu lintas dan merusak pemandangan di perjalanan, lalu lalang kaum marginal di jalanan bisa menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, yang tidak hanya kerugian bagi mereka tapi juga pemakai jalan yang lain. Di Solo sendiri walaupun sudah ditetapkan dalam Perda No. 6 tahun 2005 tentang larangan berjualan, mengemis dan mengamen di jalan Slamet Riyadi, hal ini masih saja kerap terlihat dalam keseharian para pengemis atau pengamen yang sengaja memasang diri di kawasan-kawasan larangan mengemis dan mengamen ini.
Dari sudut pandang pemakai jalan, jelas mereka merugikan dan mengganggu pemakai jalan. Mereka tidak boleh berkeliaran sambil mengetuk tiap jendela mobil atau menadahkan tangan kepada setiap orang yang lewat. Namun untuk mengusir mereka pergi dari jalan raya itu saja niscaya hal itu juga bukan hal mudah. Para pengemis dan pengamen itu menganggap jalanan adalah tempat yang paling mudah untuk mencari uang, mencari sesuap nasi agar mereka bisa makan. Sementara itu jalan diperlukan untuk mobilitas setiap pemakai jalan yang memerlukan ketertiban, kelancaran, dan kemudahan dalam mencapai tujuan. Dari kontradiksi inilah hal ihwal kemacetan salah satunya terjadi walaupun tentu juga banyak variabel lainnya yang mempengaruhi.
Pilih Pembinaan atau Pergi
Di beberapa titik di kota Solo, kaum marginal yang memilih mencari maisyah (penghidupan) di jalanan ini sangat beragam. Dari pengamen berbekal ecek-ecek, pengemis anak-anak yang harusnya saat itu bersekolah, hingga perempuan tua yang seharusnya berada di tempat yang nyaman bukan di jalanan yang panas dan keras, atau gerombolan punk yang ingin menunjukkan eksistensi mereka, yang kadang berumah di trotoar, hingga menjadi keluhan bagi pemakai jalan yang lewat. Continue reading