Nyala Mata Ibu di Mata Akik Kamidi


Gosip menggosip, gunjing menggunjing adalah sebagian keahlian para ibu-ibu warga kampung Gaum. Gosip murahan tentu yang digemari para ibu-ibu itu. Tidak di arisan atau belanja sayur di warung, gosip itu telah menjadi bara yang membakar rumah, kampung, bahkan langit sekalipun!

“Kasihan Yu Saerah, Simboknya Kamidi itu sekarang buta. Harta anaknya yang segudang penuh ndak bisa membuatnya melek lagi!”

“Tak perlu kasihan. Itu kan akibat polah tingkahnya dulu sewaktu muda?”

“Emang dia ngapain, Yu?”

“Masak belum dengar sih? Dia kan punya perjanjian dengan jin Bandungan!”

Begitulah, gosip murahan disebar dan diberitakan seakan sebuah makanan dari langit untuk warga kami. Puncaknya sebagian warga menuduh bahwa Yu Saerah punya ingon-ingon[1] jin yang sekarang mengambil matanya.

***

Sebagai anaknya, Kamidi, merasa tidak terima Simboknya difitnah sedemikian keji. Dia ngudarasa[2] di sarasehan kampung yang digelar setiap malam Purnomo Sidhi[3] itu.

“Bapak-bapak yang saya hormati, saya di sini ingin mengutarakan kegundahan saya. Sebagian bapak-bapak ini mungkin sudah tahu, atau malah seluruh kampung ini sudah tahu. Tolong nasehati istri-istri panjenengan semua! Jangan suka menggunjing dan mengghibah Simbok saya! Malah, kalau boleh dikata ini sudah jatuh fitnah dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Peserta sarasehan itu sama kasak-kusuk. Continue reading

Advertisements

Ampo

dimuat di Republika
ujan-55f99a08179373c90d894bd9
Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran ini yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

“Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijasahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?”

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktifitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin mengambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji di sini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti jaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijasah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat hanya pelajaran umum saja. Continue reading

Kisah Deswita Mencari Pembunuh Suaminya

Dimuat di Tabloid Nova
mqdefault
Rumah yang doyong ke kiri dan mau rubuh itu adalah rumah seorang perempuan yang konon cantik luar biasa. Perempuan yang tak pernah kenal takut dengan para lelaki. Oh, nama perempuan itu adalah nama yang sakral. Jangan kau sebut di hadapan para lelaki yang pernah dipercundanginya. Jangan kau menyalakan kembali bara di dalam dada mereka.

Memang jika kau menyebut nama perempuan itu di depan mereka, buru-buru mereka akan membantah, atau mencari-cari celah bahkan tak segan mengarang bahwa perempuan itu seorang pendusta, pezina dan tak tahu malu.

Lalu bibir para lelaki itu tak akan henti mencibir, meludah sesudah menyebut nama perempuan itu.

“Deswita itu sudah kusumpah tak akan pernah berbini sampai mati! Tunggu saja kelak di masa tuanya, ia akan merangkak-rangkak ke kaki setiap pria yang lewat di depan rumahnya, sekadar mau tidur dengannya.”

“Tubuhnya kelak akan reyot seperti kayu lapuk, lalu saat itupula ia akan merasa bahwa waktu muda ia menyia-nyiakan kesenangan yang hendak ditawarkan padanya. Tapi, penyesalan pun tak akan berguna baginya.”

Menurutku tak ada lelaki yang mengucap baiknya tentang Deswita. Semua menganggap Deswita seakan musuh, seakan seteru yang harus dibunuh, atau kalau tidak dibunuh harus ditawan dan dijadikan budak miliknya.

Aku sendiri perempuan yang hidup bersama suamiku. Sepanjang hidup kami menikah, suamiku tak banyak bicara tentang Deswita. Walau kudengar dulu, ia pernah juga datang kepada dirinya, dan menawarkan diri menjadi suami. Deswita yang saat itu jadi kembang desa dan banyak dikerubuti para pemuda, menolak suamiku. Mungkin karena suamiku adalah seorang pemuda biasa, yang sekedar buruh di kota. Wajah suamiku pun tak terlalu tampan. Tak banyak pula yang bisa diberikan.

Tetapi aku yakin Deswita bukan orang seperti itu, yang mata duitan, yang melihat para lelaki karena uang dan harta yang akan ia terima sebagai mahar perkawinan. Aku merasa hal itu sedikit benar. Karena ketika aku menikah dulu, makin banyak kuketahui perangai suamiku yang asli. Yang dulu ramah, sekarang mulai kasar. Yang dulu suka memberi hadiah, kini selalu tak segan membentak hanya karena aku meminta sesuatu. Bagiku perubahan itu tetap kuanggap sebagai sesuatu hal yang harus kuterima karena aku istrinya. Sebisa mungkin menyabarkan diri. Mencoba menerima apa adanya suamiku. Karena dengan mengimbangi itulah perahu perkawinan kami tak akan mudah karam diterpa gelombang.

Namun kadang aku menjadi selalu ingin tahu tentang Deswita. Ada rasa kagumku yang makin membesar ketika lewat rumah yang mencong ke kiri mau roboh itu. Ketika lewat hanya kutandai dapurnya yang mengepulkan asap pertanda ada kesibukan di dalamnya. Atau di sore hari, kudengar suara orang memecah kayu, barangkali untuk memasak esok hari. Deswita memang jarang keluar. Dan hal inilah membuat aku penasaran ingin berkunjung padanya.

Hari itu minggu sore kubawakan sayur beserta lauk kambing untuknya. Sengaja pula aku mencari lena suamiku yang kini sedang pergi ke rumah ibunya. Alasanku ingin mampir dan membawakan makanan ini memang kurang terpuji. Aku adalah orang baru di kampung ini yang dibawa dari rumah orang tuaku. Karena mendengar kemashyuran Deswita itulah aku ingin mencari tahu bagaimanakah sebenarnya perempuan yang menjadi kembang desa yang dulu pernah diincar suamiku dan para pemuda di kampung, yang kini namanya jatuh menjadi celaan seluruh kampung. Apakah memang benar begitu kenyataan yang sebenarnya? Karena aku sendiri tidak yakin bahwa mulut orang kampung mengandung kebenaran dalam menilai Deswita.
Continue reading

Topeng Monyet Pilkada

dimuat di litera Joglosemar

“Kalian tahu pekerjaan yang kita lakukan semalam pasti akan lebih berguna di kota. Kabarnya persaingan politik di Ibu kota lebih panas. Kita pasti akan mendapat uang banyak dari setiap juragan yang kita temui,” kata si pemimpin topeng monyet itu sambil menghembuskan rokok.

Rombongan pengamen larang-topeng-monyet-jokowi-halangi-rakyat-cari-makan-halaltopeng monyet itu makin bergegas. Mendung gelap menggantung alamat hujan deras. Lima belas menit mereka harus sudah sampai di desa sebelah. Kliwon, kera mereka yang bersepeda motor kayu ditarik oleh si pemimpin rombongan sendiri, seorang tua yang berambut putih sekitar umur lima puluhan yang sering dipanggil mbah Mbesur, karena memperlambat perjalanan, kini rantai itu digulung sedangkan si Kliwon ganti naik ke pundak si lelaki tua itu.

Dua orang anak kecil di belakangnya membawa peralatan musik yang sederhana. Bagong, yang bertubuh gendut membawa kendang untuk ditabuh ketika memanggil orang-orang mendekat. Bendot, yang lebih kurus membawa kenong. Baik kendang maupun kenong fungsinya sama.

Seorang lagi bertubuh kurus tinggi yang biasa menyembunyikan wajahnya di balik topi yang juga digunakan sebagai pelindung panas itu, membawa peralatan si Kliwon ketika beraksi: sepeda motor dari kayu, payung, dan juga sebuah meja kursi kecil –semua properti itu diikat menjadi satu biar mudah dibawa.

Tak ada yang bicara selama berjalan bergegas itu. Si Kliwon yang duduk di pundak mbah Mbesur karena sudah bosan memainkan topi si pemimpin rombongan yang sudah berwarna tanah itu, kini matanya terus-terusan memandangi jalanan di depan yang serasa tak berujung.

Ternyata hujan lebih cepat turun dari perkiraan mereka. Untunglah ada sebuah gardu poskamling yang kosong dan terbuka. Mereka masuk ke dalam. Semua peralatan segera dibawa masuk agar tidak rusak. Napas ngos-ngosan setelah berlomba dengan hujan yang menderas

Si Kliwon berputar-putar hingga membuat tali itu kusut sendiri. Mungkin ia bosan di dalam gardu yang sempit itu dan ingin bermain hujan di luar. Anclung yang menyandarkan punggung batuk-batuk sebentar.

“Mungkin sampai malam hujan ini baru reda,” ujarnya.

Memang benar langit begitu hitam. Si pemimpin rombongan juga melihat hal itu. Terpaksa malam ini mereka harus tidur di gardu keamanan desa ini.

“Kau lapar, Gong? Bendot, kamu juga lapar tidak?” tanya mbah Mbesur pada Bagong dan Bendot. “Kalau lapar, kalian bisa kau buka bungkusan itu. Aku sama Anclung nanti belakangan.” Continue reading

Malèh

dimuat di Joglosemar
grumpy-grandpa

Pak Rosyid moncer karena kekayaannya. Tak ada orang yang tak kenal namanya. Kekayaan Pak Rosyid meliputi gudang beras di pojok desa, penggilingan padi, sawah berhektar-hektar. Pak Rosyid pun sudah naik haji dua kali. Ia mengatakan tidak ingin naik haji lagi setelah ini, mungkin umrah akan tetap ia lakukan setiap tahun. Dan semua orang tahu, kalau Pak Rosyid banyak bersedekah kepada orang miskin. Pun ketika lelaki itu jatuh sakit karena terpeleset di kamar mandi, yang menjadikan ia stroke, banyak warga kampung yang datang padanya.

Namun betapa warga itu heran mendapati bahwa Pak Rosyid yang terjatuh ke kamar mandi dan kepalanya terbentur oleh tembok berubah perangai seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi ganas jika orang-orang dekat padanya. Ia mencaci maki suster yang merawat dan meludahi dokter yang memeriksa kepalanya, dengan alasan ia tak mau kepalanya dipegangi oleh si dokter. Ia bahkan menyumpahi anaknya dengan kata-kata kasar, mengatai anak-anaknya itu berharap dia segera mati agar bisa mendapatkan hartanya.
Semua hal yang terjadi itu membuat prihatin semua yang melihatnya, tidak hanya anak-anaknya saja. Gegar otak bisa saja terjadi pada semua orang, namun mereka masih tak menyangka bahwa hal itu terjadi Pak Rosyid yang terkenal dermawan dan baik. Mereka berpikir seharusnya orang yang sering berbuat jahat saja yang pantas sakit seperti itu. Atau jangan-jangan Pak Rosyid itu juga sering berbuat jahat hingga diganjar sakit seperti itu. Ya, mungkin saja, karena siapa yang tahu dibalik kebaikan yang ia berikan pada warga, ada ulat di dalam hatinya. Buktinya, ia berhasil memenangkan tender jalan kampung, atau proyek jembatan kampung sebelah. Sawahnya yang dibeli untuk tower celular, atau yayasan sekolahannya yang mendapat bantuan Bank Dunia satu milyar. Pastilah semua itu bukan kebetulan belaka. Pasti karena ia kong kalikong. Dan kini, semua akumulasi kejahatan itu mengumpul di otaknya hingga ia berubah perangai menjadi jahat. Begitulah pendapat masyarakat, yang dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mulai memikirkan dibalik ihwal sakit Pak Rosyid. Tidak melulu prihatin saja, namun juga ada pihak yang tampaknya benci dan mengungkit cela orang terkaya di kampung itu.
Continue reading

Menghidupkan Lagi Dangkrong Indah

dimuat di Gagasan Solo Pos
dsc_0169
Pasar Nglano dan Dangkrong Indah (DKI) adalah dua entitas yang saling koheren. Saya masih ingat ketika presenter TATV, Wawin dan Mamang, yang syuting “Blusukan Pasar” di Pasar Nglano waktu itu. Para ibu pedagang pasar dengan jenaka ngaturi (Jawa, menawari dengan halus) dua presenter TV yang kocak itu untuk mampir ngalor. “Mampir ngalor” ini tentu saja adalah mampir ke lokalisasi Dangkrong. Dan rupanya dua presenter ini juga paham tentang keberadaan lokalisasi Dangkrong yang terkenal itu. Bahkan, secara ikonik Dangkrong ini lebih terkenal daripada pasar Nglano yang berdekatan dengan Pabrik Gula Tasikmadu tersebut.

Menurut sejarahnya dulu lokalisasi itu berkait paut dengan kisah para pekerja di pabrik gula Tasikmadu. Keberadaannya yang sangat dekat dengan lokasi mess para pekerja menyimpan simpul yang saling terkait. Sebagian para pekerja di jaman itu setelah gajian biasa diam-diam pergi ke lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun di tanah pemerintah Kabupaten Karanganyar tersebut. Sebaliknya, ada juga bakul jamu (baca: bakul jamu nyambi PSK) dari lokalisasi yang dulu sering menyambangi dan masuk ke area pabrik Gula Tasikmadu, terutama saat tanggal gajian pekerja.
29102014030
Menghidupkan kembali Dangkrong Indah adalah bagian dari nostalgia pasar tradisional. Namun, jangan buruk sangka dulu. Menghidupkan bukanlah kembali mendirikan lokalisasi Dangkrong yang kini sudah tergusur itu. Sebenarnya, nama Dangkrong adalah sebuah akronim dari sendang ngerong. Keberadaan sendang itu sendiri berada tepat di utara pasar Nglano. Mata air sendang tersebut menjadi agung (melimpah) ketika musim hujan yang juga dihuni oleh ikan-ikan lele dan kutok. Sebaliknya, air sendang akan kering ketika musim kemarau. Dan saat itulah terdapat rong (lubang kecil) yang menjadi persembunyian ikan lele dan kutok tersebut agar tidak mati kekeringan.

Konon, sendang ini berkait-paut dengan dua buah sendang besar yang lain yang juga di daerah Karanganyar. Mitos ini dibumbui kisah misteri lele besar yang sering diberi makan para pengunjung untuk ngalap berkah. Beragam motivasi mereka, ada yang ingin menang judi, PSK yang ingin laris pelanggannya, ataupun motivasi temporer lainnya.
Secara substansif Dangkrong adalah sendang penjaga air di desa Nglano. Pohon-pohon besar mengitari sendang tersebut menjadi penyimpan air hujan dan peneduh bagi para pengunjung pasar. Makna menghidupkan kembali Dangkrong di sini sangat relevan dengan pembangunan pasar Nglano yang sedang berlangsung. Area sendang yang luas dan asri ini bisa dijadikan semacam rest area yang teduh dengan komplek mushola di tempat tersebut. Bahkan, selain rest area juga bisa ditambahi semacam ruang nostalgia pasar Nglano tempo dulu dengan memajang potret dan miniatur Pasar Nglano tempo dulu yang bisa memberikan edukasi tentang pasar tradisional terhadap masyarakat. Pasar sejatinya bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, namun telah menjadi denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Continue reading

Gunung Lawu; Sepotong Keajaiban Surga Di Dunia

gunung-lawu
Salah satu yang unik, kontur muka gunung Lawu mirip wajah perempuan yang sedang tidur. Ya, biarkan ia lelap dalam mimpinya. Kau hanya harus melintas dengan tenang, membiarkan ia dalam kedamaiannya. Seorang peziarah atau pendaki tak pantas menganggu kedamaiannya. Hanya orang bodoh yang tak paham tata karma akan merusak pemandangan gunung ini dengan kotoran dan sampah.

Gunung Lawu ini sebagaimana dalam kalam Al-Qur’an adalah pasak yang menjaga agar bumi ini tak runtuh. Jika kalian paham, kalian akan sangat bersyukur dengan adanya gunung Lawu ini. Ia bukan sekedar paru-paru dunia, cagar alam atau, bukan pula sekedar tempat menyimpan air. Ya, ia adalah pasak bagi bumi ini agar tak hancur.

Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl adalah sebuah keajaiban surga di dunia. Ia mewujud sebagai kosmos kecil dalam wujud yang mengada: gunung. Mereka yang ingin mengenali diri mereka masing-masing silakan datang ke sini. Kuatkan niat kalian menjadi manusia bumi saat mendaki puncaknya. Setiap perjalanan, setiap jengkalnya akan menjadi pelajaran bagi kalian. Dan keberhasilan itu akan menjadi hakiki setelah kalian mengetahui makna manusia bumi, khalifatullah alam ini.
poster
Akan kuperkenalkan tiga puncak keindahan dan kemegahan gunung ini.

Argo Dalem
Di tempat ini terdapat petilasan Raja Brawijaya, raja Majapahit. Di puncak ini ia menepikan dirinya (madheg pandhita) dan moksa kembali kepada Tuhannya.

Argo Dumilah
Di tempat ini pelayan sang raja, Naya Genggong, ikut moksa. Ia di daulat menjadi Sunan Lawu. Berujud burung jalak dan menjadi pengingat bagi para pendaki tersesat agar ia tetap ingat. Terkadang memang semangat akan bertumbuh dengan hadirnya burung-burung yang menghampiri pendaki tersesat seperti yang pernah saya alami. Saat itu hujan badai itu saya hampri putus asa. Tidak tahu apakah saya kuat terus menanjakkan kaki hingga puncak. Saat itu nyaris sepi tak ada manusia dan pendaki lainnya.

Dalam keputusasaan itu, alhamdulillah, saya berjumpa dengan seekor jalak yang tiba-tiba menukik turun ke depan langkah saya. Ia menatap saya, seperti berbicara. Menguatkan saya untuk tetap melangkah. Karena jika berhenti, mungkin saya akan hipotermia, mati. Saat itu tangan sudah gemetar dan ngilu karena dingin.

Burung itu menebarkan semangat yang mulai muncul. Rasa persahabatannya pada saya membuat saya terus melangkah. Alhamdulillah, saya menjumpai sebuah pos V. Ya, saya akan terus mengingat saat itu. Saat-saat yang mendebarkan dan melahirkan kembali diri saya ketika telah sampai puncak.

Argo Dumuling
Di tempat ini para pelayan, Sabda Palon, juga moksa. Moksa adalah pergi ke nirwana tanpa raga. Dan kebahagiaan apa yang bisa dicapai dalam wujud fatalistis itu? Oh, saya hanya membayangkannya. Bagaimana sebuah roh tinggal dalam gunung dan menjaga di sana. Barangkali itu adalah sebuah kebaikan.
Dan banyak tempat lagi di gunung ini. Tentang Warung Mbok Yem, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda atau tempat-tempat lainnya. Aku ingin bertutur banyak hal tentang gunung ini. Namun kata-kata biarlah berangkat dalam rahasia. Aku hanya ingin mengantarmu lewat aksara di pintu gerbangnya. Selebihnya adalah kisah pendakianmu dan ziarah ke dalam dirimu sendiri.
Ah, sebagai penutup aku ingin mengutip seorang Syekh dari Arab yang diajak jalan-jalan ke Lawu, ia berkata. Hadzihi jannah… ini adalah sebuah surga. Ya, ia benar. Gunung Lawu adalah sebuah Keajaiban Surga di Dunia…
banner_blog