Lupa Kusalami Umar Kayam

sajak Puitri Hatiningsih

Aku layang-layang kertas kejauhan di atas Yogya. Aku
pejalan laki yang menghentikan bus,
motor, mobil mewah, setengah mewah, dan kuda-kuda. Semua
tak berhenti
tapi aku merasa tidak terlalu ingin bunuh diri, karena aku ada di
Jalan Malioboro,
di jalan ini orang tak harus merasa sangat kecewa dan salah,
seperti lima mahasiswa yang berlalu dengan happening art-nya,
dan orang-orang tak peduli.
malamnya aku masuk ke pesta perpisahannya Umar Kayam di
Purna Budaya Bulak Sumu. Aku makan dengan bebas,
bergabung dengan mahasiswa tanpa kawan, tak ada yang
peduli meski aku belum mandi, orang-orang kondang wangi
berseliweran, misalnya Ratih Sanggarwati.
dan aku anak perempuan jalanan tanpa ada yang harus
disapa. dengan kaos oblong cokelat bertuliskan SLANK,
aku lupa mengulurkan tangan, meski berdekatan juga kepada
Umar Kayam yang sedang duduk menyaksikkan orang orang
di pesta terakhirnya.

Pamit Pensiun Umar Kayam Juni 96

Advertisements

Ibu Vs Nenek Jahat

dimuat di joglosemar 10/11

Nenek Jahat
Kematian Nenek jahat di subuh itu memang tak mengejutkan siapa-siapa. Kami yang merupakan keluarga Nenek selalu menganggap bahwa hanya kematian yang membuat jiwa Nenek yang gelisah dan tiba-tiba menjadi jahat pasca sakit stroke yang menimpanya itu adalah pintu gerbang ketenangan untuknya di alam akhirat. Namun, ada yang membuat kami heran, hampir mendekati sebuah rasa ketertakjubkan sebenarnya saat mendapati Nenek memejamkan mata selamanya itu. Ya, kami tak habis pikir akan bisa mendapati sebuah senyuman di wajahnya, senyum lebar dan ikhlas, seolah-olah Nenek jahat tengah merasa bahagia menyambut dunianya yang baru. Hal ini jelas tak sama dengan bayangan kami yang mengira kematian Nenek akan menjadi sebuah melodrama yang memilukan. Dipanggang rasa sekarat dan kebencian yang merasuki umur-umur tuanya itu, yang membuat ia tersengal-sengal ketika sakaratul maut.

Ah, kehidupan Nenek selalu menjadi misteri bagi kami. Nenek mempunyai perangai yang sulit kami mengerti dan sulit kami pahami. Sejak sembuh dari sakit stroke perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa sangat kejam kepada siapapun, termasuk kepada anak-anaknya. Nenek juga memilih hidup sendiri dan menolak tinggal dengan anak-anaknya. Ia mengerjakan semua sendiri di rumahnya di desa; mencari kayu bakar di kebun dan menjemur kayu-kayu itu di halaman untuk kemudian dipakai memasak di pawon . Anak-anaknya yang sudah putus asa menyuruh Nenek ikut tinggal bersama mereka hanya diperbolehkan membawakan beras dan sayur setiap bulan.

Aku pernah diajak Ibuku mengantarkan catu saat Ayah sedang dinas keluar kota. Ibu satu-satunya menantu yang mau pergi ke rumah Nenek. Semua menantu yang lain tak berani atau pura-pura sibuk, karena enggan berhadapan dengan Nenek yang mereka sebut sudah maleh –untuk tidak mengatakan bahwa Nenek sudah hilang kewarasannya.

Saat kami datang itu Nenek sedang tak di rumah. Mungkin sedang mencari kayu bakar di kebun seperti biasa. Kami bisa masuk ke dalam rumah karena pintu tak terkunci. Menurut cerita Ibu, nyaris tak ada tetangga yang mau bergaul dengan Nenek karena mereka menganggap Nenek sudah tidak waras dan berbahaya.
Ibu menyuruhku membuka semua pintu dan jendela untuk membersihkan rumah tua ini, agar ‘hantu-hantu’ dari kegelapan rumah ini pergi. Sungguh sulit membayangkan ada orang tinggal dalam kamar yang serba berantakan dan pengap seperti kuburan ini. Di meja tergeletak segelas teh sisa yang sudah dingin. Mungkin teh kemarin sore yang belum dibawa ke tempat cuci. Sarang laba-laba menghiasi di sudut-sudut ruangan menjadi hiasan abadi interior rumah tua ini.

Iseng kunyalakan radio transistor tua di atas lemari yang sudah diselimuti debu. Suaranya kemrosok. Kucari chanel musik pop kesukaanku.

“Kita bawa ke loundry saja Bu? Nggak usah repot-repot mencuci,” kataku saat Ibu keluar dari kamar sambil membawa kain pesing milik Nenek. Continue reading

Fragmen Senja

1/
ada banyak kabar dari berbagai peristiwa
terkadang samar dan jauh dari kebenaran
para ulama menghasung untuk tabayun, mendengarkan
dengan seksama kecuali dari mulut orang fasiq,
karena kedatangan orang fasiq adalah kedustaan dan perpecahan
ada banyak kabar yang sengaja disebar dari satu peristiwa yang sama
lain pembawa berita lain pula ceritanya
lantas si tolol pun bersengketa karenanya
siapakah yang benar dan siapakah dalangnya
hanya beberapa alim saja mendapat berkahnya
dan berkata bahwa sebaik-baik kabar dari orang fasiq adalah mengingkarinya

2/
rindu seperti duri ikan yang kau telan
mengganggumu hingga tak bisa menikmati makanan
tapi rindu bisa menjelma seperti ikan
berenang-renang di dadamu dan membuat sesak karenanya
lantas berenang ke kepalamu membuatmu tak bisa tenang
rindu bukan seperti penyakit panu
yang membuatmu malu bila si fulan tahu
rindu adalah anak ajaib yang kaupelihara
ia tak pernah minta roti dan nasi padamu
tapi setiap hari bertumbuh besar dan raksasa
hingga suatu kali akan mencekikmu kalau kau tak menuruti
adalah abu nawas dan bukan MUI suatu kali berfatwa tentangnya
“Sesungguhnya dia adalah penyakit yang berbahaya. Segeralah pergi ke dokter spesialis dan minta obatnya.” Continue reading

Sajak Ekstase dan Mencari Rumah Tuhan


Ek­ta­se 1

sung­guh me­re­ka pi­kir aku me­lu­kai ha­ti­ku sen­di­ri

da­lam per­ja­lan­an sing­kat nan pan­jang me­nem­pu­hi­Mu

me­re­ka­lah cin­ta-cin­ta re­meh yang ha­rus me­ne­pi

da­ri pan­tai ingat­an

ter­sing­kir de­ras ge­lom­bang wang­iMu

ka­u­lah len­te­ra ca­ha­ya yang tak per­nah pa­dam da­lam ke­ge­lap­an

ku­sim­pan di da­da rin­du

ber­sa­yap nya­nyi te­ku­kur yang ter­bang me­nu­ju ma­ta­ha­ri

Continue reading

Mari Berpuisi…


Membaca Puisimu
Membaca puisimu di kursi malasku
Aku tidak lantas bergerak ataupun berdiri tegak
Hanya angin dingin yang mulai meraba di hatiku
dan rinai suara hujan di luar kedengaran kian semarak

Kisah Aku Si Pangeran Kodok
Beberapa malam ini
Seakan Ibu terus memastikan aku berada di dalam kamar
Setiap malam ia datang menjenguk
Dan mengintip dari celah pintu
Hal ini makin membuatku gelisah
Dalam mimpi aku melihat ibu
Menjadi seorang nenek sihir
Yang ingin mengubahku menjadi anak yang patuh
tapi salah membuat ramuan
dan ibuku bersedih (tapi tertawa karena ia nenek sihir)
Saat melihatku menjadi kodok raksasa yang besar
Ibu terus tertawa melihat penjelmaanku
Katanya, “ia akan jadi pangeran sekaligus penyair yang tampan,
Jika ia ketemu dengan putri cantik yang membunuhku dengan puisi)

…mari berpuisi bersama saya. silakan koment dan berpuisi dengannya. tidak masalah buat yang pemula atawa yang sudah master. dan postingan ini sekaligus anulir dari tipografi yang salah dimuat di Solo Pos minggu (15/5).