Gunung Lawu; Sepotong Keajaiban Surga Di Dunia

gunung-lawu
Salah satu yang unik, kontur muka gunung Lawu mirip wajah perempuan yang sedang tidur. Ya, biarkan ia lelap dalam mimpinya. Kau hanya harus melintas dengan tenang, membiarkan ia dalam kedamaiannya. Seorang peziarah atau pendaki tak pantas menganggu kedamaiannya. Hanya orang bodoh yang tak paham tata karma akan merusak pemandangan gunung ini dengan kotoran dan sampah.

Gunung Lawu ini sebagaimana dalam kalam Al-Qur’an adalah pasak yang menjaga agar bumi ini tak runtuh. Jika kalian paham, kalian akan sangat bersyukur dengan adanya gunung Lawu ini. Ia bukan sekedar paru-paru dunia, cagar alam atau, bukan pula sekedar tempat menyimpan air. Ya, ia adalah pasak bagi bumi ini agar tak hancur.

Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl adalah sebuah keajaiban surga di dunia. Ia mewujud sebagai kosmos kecil dalam wujud yang mengada: gunung. Mereka yang ingin mengenali diri mereka masing-masing silakan datang ke sini. Kuatkan niat kalian menjadi manusia bumi saat mendaki puncaknya. Setiap perjalanan, setiap jengkalnya akan menjadi pelajaran bagi kalian. Dan keberhasilan itu akan menjadi hakiki setelah kalian mengetahui makna manusia bumi, khalifatullah alam ini.
poster
Akan kuperkenalkan tiga puncak keindahan dan kemegahan gunung ini.

Argo Dalem
Di tempat ini terdapat petilasan Raja Brawijaya, raja Majapahit. Di puncak ini ia menepikan dirinya (madheg pandhita) dan moksa kembali kepada Tuhannya.

Argo Dumilah
Di tempat ini pelayan sang raja, Naya Genggong, ikut moksa. Ia di daulat menjadi Sunan Lawu. Berujud burung jalak dan menjadi pengingat bagi para pendaki tersesat agar ia tetap ingat. Terkadang memang semangat akan bertumbuh dengan hadirnya burung-burung yang menghampiri pendaki tersesat seperti yang pernah saya alami. Saat itu hujan badai itu saya hampri putus asa. Tidak tahu apakah saya kuat terus menanjakkan kaki hingga puncak. Saat itu nyaris sepi tak ada manusia dan pendaki lainnya.

Dalam keputusasaan itu, alhamdulillah, saya berjumpa dengan seekor jalak yang tiba-tiba menukik turun ke depan langkah saya. Ia menatap saya, seperti berbicara. Menguatkan saya untuk tetap melangkah. Karena jika berhenti, mungkin saya akan hipotermia, mati. Saat itu tangan sudah gemetar dan ngilu karena dingin.

Burung itu menebarkan semangat yang mulai muncul. Rasa persahabatannya pada saya membuat saya terus melangkah. Alhamdulillah, saya menjumpai sebuah pos V. Ya, saya akan terus mengingat saat itu. Saat-saat yang mendebarkan dan melahirkan kembali diri saya ketika telah sampai puncak.

Argo Dumuling
Di tempat ini para pelayan, Sabda Palon, juga moksa. Moksa adalah pergi ke nirwana tanpa raga. Dan kebahagiaan apa yang bisa dicapai dalam wujud fatalistis itu? Oh, saya hanya membayangkannya. Bagaimana sebuah roh tinggal dalam gunung dan menjaga di sana. Barangkali itu adalah sebuah kebaikan.
Dan banyak tempat lagi di gunung ini. Tentang Warung Mbok Yem, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda atau tempat-tempat lainnya. Aku ingin bertutur banyak hal tentang gunung ini. Namun kata-kata biarlah berangkat dalam rahasia. Aku hanya ingin mengantarmu lewat aksara di pintu gerbangnya. Selebihnya adalah kisah pendakianmu dan ziarah ke dalam dirimu sendiri.
Ah, sebagai penutup aku ingin mengutip seorang Syekh dari Arab yang diajak jalan-jalan ke Lawu, ia berkata. Hadzihi jannah… ini adalah sebuah surga. Ya, ia benar. Gunung Lawu adalah sebuah Keajaiban Surga di Dunia…
banner_blog

Mengapa Air Mancur Laser di Karanganyar?

dimuat di joglosemar

Karanganyar berbenah, mematutkan diri sebagai kota kabupaten yang moncer dan modern. Segala upaya pembangunan dipusatkan di tengah kota agar bisa ada center area yang modern dan menarik. Kini pembangunan air mancur modern model Wing of Times mulai diagendakan. Pembangunan itu memerlukan dana besar, 2,5 milyar. Sungguh, ini adalah sebuah angka yang besar untuk pembangunan sebuah air mancur yang konon terinspirasi dari air mancur di Singapura. Masyarakat diharapkan akan datang ke tempat ini dan menonton air mancur ini. Karep besar ini ingin membuktikan bahwa Karanganyar lebih modernis dan maju, tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya, dan air mancur ini tentu lebih hebat dari sekedar air mancur di Gladak itu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota ini, memang selama ini pembangunan alun-alun sebagai public space terus digalakkan. Dari mulai perobohan kantor perpustakaan Karanganyar dan gedung informasi yang keduanya dipindahkan dari tempat tersebut. Yang agak memprihatinkan adalah nasib Perpustakaan Daerah Karanganyar yang masih nebeng di aula kelurahan Cangakan. Setelah sebelumnya perpustakaan ini sempat nebeng juga di bangunan bekas Rumah Sakit Kartini Lawas.

Bagi masyarakat pecinta buku dan ikut tergabung dalam komunitas Pakagula Sastra di Karanganyar, saya masih merasa belum paham mengapa keberadaan perpustakaan di Karanganyar masih sulit untuk diterima. Dalam artian, tidak mempunyai gedung sendiri, padahal pustakawannya juga ada, kemudian pegawainya juga ada beberapa. Namun mengapa pusat informasi dan pengetahuan tersebut selalu harus bernasib memprihatikan. Sejak saya ikut pertama kali menjadi anggota perpustakaan Karanganyar ketika masih di alun-alun Karanganyar yang menginduk gedung Kodim, saya terbiasa dengan keluhan bahwasanya banyak buku baru tidak bisa terdisplay karena tidak muat atau karena tempatnya kurang representatif. Tapi, inipun terus berlanjut, selepas dari bupati Rina Iriani yang terjerat korupsi, nampaknya perpustakaan daerah masih belum bisa diwujudkan dengan baik di Karanganyar. Dengan ini pula indikator kemodernan dan kemajuan suatu kota sebenarnya bisa dipertanyakan. Atau memang pemerintah sekadar mengejar keindahan artifisial yang tidak substansial dan emoh dengan perpustakaan yang kisut dan berdebu itu. Continue reading

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner

bancakan-bisnis-jabarcom

dimuat di Solo Pos (14/2)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.
Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup. Continue reading

Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya

index
dimuat di joglosemar Slogan ‘Karanganyar Maju dan Berbudaya’ memberikan dorongan dan konsistentensi yang kuat untuk membentuk perilaku positif. Mungkin “Maju dan Berbudaya” menegasikan slogan sebelum Karanganyar Tentram, yang lebih identik dengan stagnan, dan kurang progresif. Karanganyar berbenah di era kepemimpinan YU-RO (Yuliatmono dan Rohadi Wibowo). Kemajuan infrastruktur menjadi ukuran yang ingin ditampilkan dari di bidang pembangunan, terutama jalan dan berbagai tempat publik. Peremajaan gedung-gedung diagendakan sebagai bagian dari modernisasi wajah Karanganyar. Relokasi pasar Jumat yang kemarin menimbulkan penolakan tetap dijalankan demi pembangunan ke arah kemajuan dan maslahat kota Karanganyar, yang kini diwujudkan dengan open space di sekitar alun-alun Karanganyar. Masyarakat Karanganyar pasti mengamini kalau pemimpin kali ini adalah tipe yang gigih ingin memajukan pembangunan Karanganyar. Pun, slogan berbudaya getol dicanangkan Karanganyar. Perlindungan terhadap cagar budaya dengan menggelar pameran cagar budaya yang digelar pada acara milad Karanganyar kemarin. Rencana pembangunan sekolah pariwisata yang bernilai 4 milyar yang kelak akan menjadi jualan kota Karanganyar yang berada di lereng gunung Lawu, yang banyak memiliki aset pariwisata, yang tentu kelak akan menambah pemasukan pendapatan daerah. Dan Karanganyar masih memiliki banyak tempat wisata indah lainnya yang tentu saja menuntut perhatian pemerintah Kabupaten untuk merawat dan tidak rusak berbagai kepentingan oknum yang opurtunis. Pujian akan tetap ada untuk YU RO dan kritikan masih akan terus berlangsung selama keduanya memimpin Karanganyar –minus pro kontra kepemilikian tempat wisata Grojogan Sewu yang masih belum kelar dan plagiatisme logo Karanganyar Maju dan Berbudaya yang menjiplak SEA Games ke-26 yang dilaksanakan di Palembang. Continue reading

Parkir dan Perilaku Borjuis

dimuat di joglosemar 09/8

 Untitled

Jalanan nan mulus di Solo kala pagi selalu mengundang kaum berduit untuk memanjakan diri bersama keluarga. Bermobil bersama dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos oblong untuk mencari sarapan pagi yang menyehatkan. Semua anggota keluarga diajak serta sebagai sebuah pencitraan keluarga yang harmonis dan mapan. Pun di sana akan bertemu dengan kolega, saudara, ataupun teman kencan. Dengan mobil keluaran terkini turun di sebuah restoran yang terkenal dan penuh sesak. Setelah memarkirkan kendaraan di pinggir jalan dan ditemani dengan senyum tukang parkir, bersama melenggang santai di tengah jalan ramai mengabaikan lalu lintas yang macet seolah merekalah tokoh utamanya. Di restoran, kolega atau teman kencan yang sedang menunggu mereka, sambil menunggu pesanan datang sibuk memainkan gadget keluaran terbaru atau iseng mengamati pejalan dan pengendara sepeda motor yang bersungut-sunggut menunggu tukang parkir rampung menyebrangkan para pengunjung restoran yang amat terkenal di Solo itu.

Narasi gogolian (dinisbatkan kepada Nikolai Gogol, penulis Rusia) itu selalu memenuhi ruang kepala saya ketika berangkat pagi ke kantor dari Karanganyar menuju Solo dengan bermotor. Pemandangan yang menyebalkan dari gaya hidup borjuis dari kelas menengah ke atas yang suka pamer di sepanjang jalan arteri dengan mobil-mobil mereka. Borjuisme muncul dari perilaku parkir warga kota, terutama pada gaya hidup kalangan menengah keatas, di mana mereka sering terlihat showoff di restoran-restoran laris yang tidak mempunyai tempat parkir khusus. Mereka bermobil ke restoran bersama keluarga –meskipun jarak rumah sangat dekat- lantas memarkir mobil sembarangan, misal yang terjadi di depan soto seger Mbok Giyem, di jalan Bhayangkara Solo. Padahal, area parkir Lotte Mart tak jauh dari tempat itu dan memungkinkan untuk jumlah mobil yang banyak alih-alih parkir di bahu jalan yang menganggu lalu lintas kendaraan.

Di kota Solo, banyak tempat ruas jalan utama harus dipotong untuk berbagi dengan parkir mobil. Dimulai di Gandekan, Coyudan, kawasan Matahari Singosaren hingga ke Jl. Slamet Riyadi, area pasar Gedhe Solo hingga jl. Urip Sumoharjo, belakang Kantor Pos Indonesia, Warung Soto Seger Mbok Giyem di jalan Bhayangkara itu. Semakin lama jalan di Solo makin sempit karena bahu jalan dipakai untuk berbagi dengan parkir mobil.

Saya menyebut ini borjuisme. Dan perilaku ini makin marak terjadi dan menjadi fenomena tersendiri. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah hilangnya perasaan empati dan pembenaran pelanggaran ketertiban di tempat umum. Pada kasus yang sedikit berbeda adalah pemakaian area kosong di depan benteng Vantesburg untuk area pakir. Lagi-lagi ini adalah pemandangan kota akhir-akhir ini. Tidak hanya di kawasan benteng Vansterbug, hampir di banyak tempat strategis juga menjadi tempat parkir dadakan.

Konon ada rencana pemkot Solo untuk mensterilkan jalan Slamet Riyadi (Purwosari-Gladak) dari area parkir. Harapan kita agar hal ini segera terwujud. Entah itu penetapan Perda (Peraturan Perda) yang mengatur khusus tentang hal itu ataupun proyeksi pembuatan kawasan parkir yang luas, elegan, dan sekaligus nyaman di kota Solo ini.

Lantas menjadi pertanyaan kita keberadaan tukang parkir liar itu apakah memang dari pihak resmi Dishubkominfo (Departemen Perhubungan Komunikasi dan Inforfamasi) ataukah sekedar tukang parkir liar dan preman saja? Karena sekilas terlihat mereka sama sekali tidak memakai seragam dan cenderung memacetkan lalu lintas. Sekaligus ini juga sentilan kepada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo apakah mereka berani menindak tukang parkir liar seperti ini? Hatta pelaksanaan pengawasan yang disertai dengan penegakan hukum yang tegas merupakan langkah yang penting dalam pengendalian parkir untuk mempertahankan kinerja lalu lintas.

Pengendalian Parkir

Kota yang padat harus diiringi dengan pengendalian parkir yang bagus pula. Pengendalian parkir ini dilakukan untuk mendorong penggunaan sumber daya parkir secara lebih efisien serta digunakan juga sebagai alat untuk membatasi arus kendaraan ke suatu kawasan yang perlu dibatasi lalu lintasnya. Pengendalian parkir merupakan alat manajemen kebutuhan lalu lintas yang biasa digunakan untuk mengendalikan kendaraan yang akan menuju suatu kawasan ataupun perkantoran tertentu sehingga dapat diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja lalu lintas di kawasan tersebut.

Pengendalian parkir harus diatur dalam Peraturan Daerah tentang Parkir agar mempunyai kekuatan hukum dan diwujudkan rambu larangan, rambu petunjuk dan informasi. Untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan yang diterapkan dalam pengendalian parkir perlu diambil langkah yang tegas dalam menindak para pelanggar kebijakan parkir. (wikipedia)

Pemerintah harusnya mulai mengantisipasi lahan parkir ini yaitu dengan cara membuat lahan parkir umum yang luas. Tujuan semua ini untuk mengontrol parkir liar dan pembuat kemacetan di jalananan. Solusi pembuatan tempat parkir seharusnya bisa dilakukan. Pemerintah membangun area yang luas dan representatif. Bukan hanya itu saja agar mengurangi kemacetan tempat parkir itu dikelola per jam. Mereka harus membayar perjam. Tetapi sebaliknya pemerintah juga membuat angkutan umum adalah sesuatu yang mudah dan terjangkau. Dengan beginilah kemacetan bisa terhindari dan praktek parkir liar tidak akan terjadi lagi.

Selain itu banyak tempat tertentu yang berada di pinggir jalan atau tempat strategis hanya mangkrak. Mengapa tidak tenmpat seperti itu jadi parkir umum. Pasti akan lebih bermanfaat daripada membiarkan mangkrak tak terpakai. Dengan dibangun tempat parkir yang besar dan representatif tentu akan menjadi keuntungan bagi pemkot sekaligus pengendalian kendaraan di Solo bisa menjadi lebih bagus.

Parkir atau Pajak.

Sebuah kenyataan bahwa kita hidup sebagai penduduk Indonesia ini semuanya tak luput dari kewajiban membayar pajak atau restribusi. Walaupun sebenarnya ungkapan restribusi sendiri adalah ungkapan yang tidak tepat. Pasalnya, di manapun kita berada selalu saja kita harus memberikan restribusi tanpa kita bisa menolaknya, karena ketidakmampuan membayar itu membuat diri kita tidak berhak untuk berada di tempat tersebut.

Mungkin bisa sangat utopis jika berharap bahwa jalanan raya kota Solo adalah milik umum dan bebas dari restribusi apapun. Artinya jalanan adalah tempat bebas yang haram ditarik restribusi apapun dan ini diperlukan pengelolaan tata jalanan dengan intansi dan pihak terkait. Artinya pengelolaan itu dilakukan oleh pemkot dan diberikan sepenuhnya kepada masyarakat luas, bukan untuk mencari keuntungan dari jalanan ini. Semisal menjadikan jalanan sebagai tempat parkir dan kita wajib memberikan andil di sini.

Kita tahu jalanan tak akan cukup representatif untuk menjadi tempat parkir. Dalam Islam, disebutkan bahwa tidak boleh untuk berhenti di bahu jalan karena jalanan adalah tempat lewat hewan dan manusia. Artinya juga, tempat parkir adalah sebuah kawasan tersendiri yang dibuat untuk mengumpulkan kendaraan-kendaraan yang tidak boleh mengganggu lalu lintas di jalan. Harus ada tindakan tegas dari pihak yang berwajib. Semisal pengawasan parkir dengan penilangan pelanggaran parkir oleh Polisi Lalu Lintas, pemasangan gembok roda sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar terhadap larangan parkir ataupun penderekan terhadap kendaraan parkir sembarangan.

* Pekerja kantoran yang harus berangkat pagi melewati Solo menuju sebuah penerbit di Sukoharjo. Aktif di komunitas Pakagula Sastra.

Ziarah Diri ke Puncak Lawu Nan Eksotis

Photo-0002-150x150
Jika engkau melihat sebuah gunung yang mirip seorang wajah perempuan tidur maka itulah gunung Lawu. Terletak pada ketinggian 2.354 m.dpl yang menjadi pembatas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perbedaan dengan banyak gunung di jawa lainnya, hanya gunung Lawu yang menyimpan banyak cerita hidup yang turun temurun diyakini masyarakat dan para pendaki yang datang kepadanya. Bagi beberapa kalangan mendaki gunung Lawu bukan sekedar aktifitas mendaki gunung biasa tapi menziarahi diri lewat sebuah media yang mengada yaitu gunung Lawu. Artinya pendakian ke gunung Lawu itu tak pernah kosong makna.

Ada tiga puncak yang mempunyai pemandangan eksotis di gunung Lawu, yaitu puncak Argo Dumilah, puncak Argo Dalem, dan puncak Argo Dumuling. Ketiga puncak itu terutama mempunyai beberapa kisah hidup yang turun temurun masih diyakini sampai sekarang. Terlepas kisah itu apakah mitos belaka namun kesempatan untuk mengunjungi ketiga puncak Lawu adalah sebuah sensasi tersendiri. Sebuah perjalanan menziarahi alam sekaligus menziarahi diri kita sendiri.

Kita awali perjalanan kita dari jalan di Tawangmangu yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan juga bukan sepi pemadangan indah. Areal persawahan yang hijau dan alur sungai kali Samin yang masih menjadi nadi kehidupan para petani di bawah lereng Lawu. Semua pemandangan itu seperti memanggil sisi hati yang lembut bahwa kita manusia adalah pecinta keindahan dan selalu mempunyai hasrat untuk berbagai keindahan. Artinya keindahan itu tidak bisa berlangsung selamanya jika kita tidak berperan ikut menyumbang di dalamnya. Ancaman hunian warga dan pembangunan properti memang mengincar sebagian kawasan di Tawangmangu yang eksotis. Pada awal mula ini kita diketuk untuk mengingat betapa murah hati sang pencipta memberikan keindahan kepada manusia di dunia dan tugas manusia adalah sebagai khalifah yang menjaga kelestarian bumi.

Setelah perjalanan itu kita lantas berhenti di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Ada dua tempat pintu gerbang pendakian. Semuanya menawarkan sensasi pendakian yang berbeda tentu saja. Tingkat kesulitan yang lebih berat biasanya dipilih pendaki yang menginginkan kisah petualangan yang penuh tantangan. Ada juga tipe pendaki yang ingin melihat-lihat vegetasi dan suka mengadakan penelitian di hutan gunung Lawu biasanya memilih lewat Cemoro kadang. Atau juga para pendaki peziarah spiritiual yang biasanya melewati jalur-jalur tertentu baik lewat Cemoro Kandang atau lewat Cemoro Sewu. Mereka mempunyai ciri khas tersendiri dari perangkat yang mereka bawa. Dengan mudah dapat kita temui banyak tipe pendaki seperti ini di puncak Lawu. Masing-masing karakter ini bukanlah alasan untuk menilai seseorang yang naik ke puncak Lawu. Keragaman ini adalah bagian dari kisah perjalanan yang selalu menyertai. Perilaku-perilaku negatif memang tidak bisa kita tolerir baik itu dari semua jenis pendaki, karena yang terpenting adalah tetap menjaga kelestarian dari gunung Lawu ini yang bisa dilakukan dengan beragam cara, baik itu dengan cara fisik maupun dengan cara pemikiran, dan keduanya sah-sah saja.

425686_393815737300277_100000155619700_1808783_217250675_n-150x150Baiklah, kita mulai perjalanan dari Cemoro Kandang yang lebih landai walaupun nanti sedikit memutar dan lebih jaauh sedikit. Tipe trek adalah jalan setapak, di sini menuntut kita menjadi orang yang berhati-hati, selalu berusaha menjaga keutuhan tim. Karena pada awal seperti ini cenderung para pendaki untuk selalu memforsir kekuatan untuk selalu pertama. Dan hal ini mempunyai kelanjutan yang buruk bagi keutuhan tim. Akhirnya pada trek pertama hingga pos pertama ini, kita harus belajar untuk tetap menjaga jarak dengan teman. Dalam arti menyeimbangkan dengan kekompakan tim bukan menumbuhkan ego masing-masing.

Pada setiap pos disarankan untuk berhenti. Karena perjalanan masih panjang dan perlu kita meneliti ulang apa yang sedang kita tuju di atas sana. Kisah diri kita dan puncak Lawu atau kisah tim di sepanjang trek puncak Lawu. Teliti juga peralatan, dan menjaga kehangatan untuk tetap terjaga. Selalu ada kaidah lebih baik lambat dan selamat daripada terburu-buru nafsu sedang kiri kanan adalah jurang menunggu. Pertanyaanya tentu saja apakah kita mau menjadi orang yang suka buru-buru dan bernasib buruk? Melainkan bagaimana cara kita tetap bertahan bersama hingga ke puncak nanti?
Continue reading

Novel Jihad nan Liris >> Review “Jurai” Guntur Alam

Review jurai oleh Andri Saptono untuk Festival Sastra Solo yang diadakan Pawon, 22 Feb/23 Feb 2014

Judul buku :Jurai
Penulis :Guntur Alam
Tebal :vii + 300 hlm
Penerbit :Gramedia
Cetakan :Maret 2013

re_buku_picture_86641

Kata Jurai bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang-orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal maka akan dikatakan: Itu jurai orang tuanya. seperti pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohohnya. Namun makna jurai lebih universal. (Footnote hlm. 8) Saya mencoba membandingkan kosa kata ini dengan sukerta, dalam kosmologi Jawa yang berarti ‘tanda lahir buruk’ semacam sifat genetis (gawan bayi) yang dibawa si anak yang kelak membuatnya mengalami nasib buruk, celaka, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Misalnya, anak ontang-anting (anak tunggal) atau anak kembar dampit. Dalam kosmologi Jawa, anak yang membawa sukerta ini harus diruwat, dibersihkan dengan cara menanggap wayang yang lakonnya tertentu. Tentu ini bukan persoalan sederhana. Bukan hanya biaya nanggap wayang itu mahal, namun jiwa kemerdekaan anak dipasung dengan kisah dongengan seperti itu yang sama sekali tidak bermanfaat dan membawa mudharat. Bahkan hal seperti ini dimanfaatkan beberapa orang untuk memancing di air keruh, memasang jasa untuk meruwat dengan tarif mahal dan sangat bangsat sekali membodohi masyarakat seperti itu.
Tetapi dalam novel jurai, sang penulis memaparkan tentang kisah kemiripan si tokoh (Catuk), seorang anak laki kelas V SD yang mirip dengan bapaknya. Kemiripan ini adalah jurai dan sukerta yang kelak bisa membawa bala. Kelak suatu saat, tepatnya pada pada suatu siang di musim kemarau, Ebak—ayah Catuk—tiba-tiba pulang ke limas—rumah adat Sumatra Selatan—dalam keadaan tanpa nyawa. Padahal pagi harinya, dia dalam keadaan baik-baik saja, segar bugar tanpa kurang sesuatu apa. Ebak masih bisa menemani Catuk mandi di Sungai Lematang, bahkan masih sempat memboncengkan anak bungsunya itu ke sekolah, sebelum meneruskan perjalanan dengan sepeda kumbang menuju kebun karet milik Toge Nagap yang biasa Ebak sadap (halaman 4). Diceritakan pada bab-bab awal itu Ebak meninggal karena diamuk babi hutan.
Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terkuak. Ebak menemui ajal bukan karena diamuk babi hutan, melainkan karena ditabrak sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap, sang majikan Ebak. Toge Nagap berbuat dusta agar tak terkena perkara. Toge Nagap meminta pegawainya yang saat itu berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) mengarang dusta perihal penyebab kematian Ebak bahwa Ebak mati diserang babi hutan. Sementara itu, Toge Nagap yang mengetahui Emak buta huruf, justru membuat surat pernyataan yang berisi Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Hal ini adalah kekhilafan Emak yang tidak bisa baca tulis yang membuatnya mau membubuhkan cap jempol di surat itu (hlm. 109-110).
Hal ini semacam sindiran bahwa kebanyakan majikan yang busuk akan melahirkan anak-anak yang ceroboh dan busuk pula perilakunya. Jika ini dimaksudkan sebagai pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” kiranya ini lebih tepat untuk perkara negatif ini.
Persoalan lain tentang poligami atau kesetaraan gender coba diselipkan penulis dalam novel ini pula. Seperti sudah jatuh kena tangga, ketika hari berduka itu belum sembuh, pada suatu petang, limas Catuk kedatangan tiga orang asing dari Palembang. Mereka itu terdiri dari seorang wanita beserta dua anaknya. Setelah berbasa-basi, mengakulah wanita itu sebagai istri kedua Ebak. Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong, lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Continue reading