Wajah Calon Lurah Berlumuran Darah

dimuat di joglosemar 23/3
Untitled

Calon lurah itu akhir-akhir ini memang sering datang di warung. Saban hari malah ia datang dengan mobil panthernya. Biasanya ia datang sendirian. Senyum lebarnya selalu menyapa kami, seolah ia orang yang tak pernah merasa kesusahan.

Apalagi menjelang Pilkades yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Dalam setiap kedatangannya ia selalu bermurah hati menraktir semua pengunjung di warung. Bu Kanjeng sendiri, sebagai pemilik warung, ikut merasa dia yang ketiban pulung. Ia pun memanggil si calon lurah yang bernama Yosua itu dengan Bos Yos. Akhirnya semua orang, setiap ketemu dengan calon lurah itu suka mengikuti lidah Bu Kanjeng, semata untuk mendapat hati dari si calon lurah.

Seperti hari ini, jika biasanya yang banyak mendominasi obrolan di warung adalah Narimo si tukang becak, yang isinya kurang lebih curhat kekurangan hidupnya, sekarang hal itu tak terjadi lagi. Sekarang Narimo sendiri paling banter hanya bicara untuk mengaklamasi omongan si Bos Yos itu, persis seperti beo saja. Tapi anehnya, perbuatan yang kami benci dari Narimo ini, tak segan kami lakukan kalau si calon lurah ini bicara.

Seperti kali ini ketika Bos Yos ini sedang menceritakan janji-janjinya kalau jadi lurah nanti dan juga kegiatan amalnya menyumbang korban banjir yang sedang melanda Jakarta. Kami semua, termasuk Narimo hanya mendengarkan. Tak peduli itu cerita itu sebenarnya tidak banyak berbeda seperti janji-janji pejabat yang ingkar janji itu, namun karena Bos Yos yang membayari kami makanan, jadilah kami merasa harus menjadi pendengar yang baik. Tak boleh ada sahutan yang nyaring dari orang-orang, atau celetukan kenes Bu Kanjeng. Pokoknya harus menjadi pendengar sampai si Bos Yos bosan sendiri bicara.

Tetapi tiba-tiba, mungkin karena saking bersemangatnya, tanpa sadar Bos Yos berbuat ceroboh yang sangat gawat. Sikunya yang atraktif itu tak sengaja menumpahkan cangkir kopi pengunjung di sebelahnya, milik Pak Kardi, orang yang paling streng di antara pengunjung warung. Jadilah kemeja putih Pak Kardi itu kena tumpahan kopi hitam yang cukup banyak sehingga membuat kemeja yang belum lunas cicilannya itu menjadi tambah jelek sekali.

“Maaf, maaf Pak. Saya tadi nggak sengaja,” kata si Bos Yos benar-benar minta maaf. Ia berniat mengelapi namun malah meratakan kotoran kuning ampas kopi.

Continue reading

Ziarah Diri ke Puncak Lawu Nan Eksotis

Photo-0002-150x150
Jika engkau melihat sebuah gunung yang mirip seorang wajah perempuan tidur maka itulah gunung Lawu. Terletak pada ketinggian 2.354 m.dpl yang menjadi pembatas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perbedaan dengan banyak gunung di jawa lainnya, hanya gunung Lawu yang menyimpan banyak cerita hidup yang turun temurun diyakini masyarakat dan para pendaki yang datang kepadanya. Bagi beberapa kalangan mendaki gunung Lawu bukan sekedar aktifitas mendaki gunung biasa tapi menziarahi diri lewat sebuah media yang mengada yaitu gunung Lawu. Artinya pendakian ke gunung Lawu itu tak pernah kosong makna.

Ada tiga puncak yang mempunyai pemandangan eksotis di gunung Lawu, yaitu puncak Argo Dumilah, puncak Argo Dalem, dan puncak Argo Dumuling. Ketiga puncak itu terutama mempunyai beberapa kisah hidup yang turun temurun masih diyakini sampai sekarang. Terlepas kisah itu apakah mitos belaka namun kesempatan untuk mengunjungi ketiga puncak Lawu adalah sebuah sensasi tersendiri. Sebuah perjalanan menziarahi alam sekaligus menziarahi diri kita sendiri.

Kita awali perjalanan kita dari jalan di Tawangmangu yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan juga bukan sepi pemadangan indah. Areal persawahan yang hijau dan alur sungai kali Samin yang masih menjadi nadi kehidupan para petani di bawah lereng Lawu. Semua pemandangan itu seperti memanggil sisi hati yang lembut bahwa kita manusia adalah pecinta keindahan dan selalu mempunyai hasrat untuk berbagai keindahan. Artinya keindahan itu tidak bisa berlangsung selamanya jika kita tidak berperan ikut menyumbang di dalamnya. Ancaman hunian warga dan pembangunan properti memang mengincar sebagian kawasan di Tawangmangu yang eksotis. Pada awal mula ini kita diketuk untuk mengingat betapa murah hati sang pencipta memberikan keindahan kepada manusia di dunia dan tugas manusia adalah sebagai khalifah yang menjaga kelestarian bumi.

Setelah perjalanan itu kita lantas berhenti di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Ada dua tempat pintu gerbang pendakian. Semuanya menawarkan sensasi pendakian yang berbeda tentu saja. Tingkat kesulitan yang lebih berat biasanya dipilih pendaki yang menginginkan kisah petualangan yang penuh tantangan. Ada juga tipe pendaki yang ingin melihat-lihat vegetasi dan suka mengadakan penelitian di hutan gunung Lawu biasanya memilih lewat Cemoro kadang. Atau juga para pendaki peziarah spiritiual yang biasanya melewati jalur-jalur tertentu baik lewat Cemoro Kandang atau lewat Cemoro Sewu. Mereka mempunyai ciri khas tersendiri dari perangkat yang mereka bawa. Dengan mudah dapat kita temui banyak tipe pendaki seperti ini di puncak Lawu. Masing-masing karakter ini bukanlah alasan untuk menilai seseorang yang naik ke puncak Lawu. Keragaman ini adalah bagian dari kisah perjalanan yang selalu menyertai. Perilaku-perilaku negatif memang tidak bisa kita tolerir baik itu dari semua jenis pendaki, karena yang terpenting adalah tetap menjaga kelestarian dari gunung Lawu ini yang bisa dilakukan dengan beragam cara, baik itu dengan cara fisik maupun dengan cara pemikiran, dan keduanya sah-sah saja.

425686_393815737300277_100000155619700_1808783_217250675_n-150x150Baiklah, kita mulai perjalanan dari Cemoro Kandang yang lebih landai walaupun nanti sedikit memutar dan lebih jaauh sedikit. Tipe trek adalah jalan setapak, di sini menuntut kita menjadi orang yang berhati-hati, selalu berusaha menjaga keutuhan tim. Karena pada awal seperti ini cenderung para pendaki untuk selalu memforsir kekuatan untuk selalu pertama. Dan hal ini mempunyai kelanjutan yang buruk bagi keutuhan tim. Akhirnya pada trek pertama hingga pos pertama ini, kita harus belajar untuk tetap menjaga jarak dengan teman. Dalam arti menyeimbangkan dengan kekompakan tim bukan menumbuhkan ego masing-masing.

Pada setiap pos disarankan untuk berhenti. Karena perjalanan masih panjang dan perlu kita meneliti ulang apa yang sedang kita tuju di atas sana. Kisah diri kita dan puncak Lawu atau kisah tim di sepanjang trek puncak Lawu. Teliti juga peralatan, dan menjaga kehangatan untuk tetap terjaga. Selalu ada kaidah lebih baik lambat dan selamat daripada terburu-buru nafsu sedang kiri kanan adalah jurang menunggu. Pertanyaanya tentu saja apakah kita mau menjadi orang yang suka buru-buru dan bernasib buruk? Melainkan bagaimana cara kita tetap bertahan bersama hingga ke puncak nanti?
Continue reading

Membeli Kebebasan Ibu

dimuat di majalah Basis, 01-02,2014
Edisi_22012014222233_2014,_BASIS_0102_cover

Seharusnya peristiwa itu tak perlu terjadi jika aku mampu mencegahnya. Maaf, bukannya aku ingin bermaksud membagi cerita sedih ini dengan kalian. Aku sendiri berharap seandainya dapat kembali ke masa lalu. Seandainya aku dapat mencegah peristiwa celaka itu terjadi. Ibu pasti tidak akan masuk penjara dan istriku tidak akan menjadikan Nadya sebagai anak piatu. Pembunuhan itu kutahu tak pernah disengaja Ibu karena akupun berada di sana ketika istriku terbunuh pada malam celaka itu.

Malam itu aku dan istriku bertengkar. Dewi menuduhku terlalu bergantung Ibu dan mengusulkan agar kami berumah sendiri, sedangkan Ibu tinggal dengan Bi Asih. Tapi aku bersikeras semua itu tak bisa kulakukan. Ibu tak mungkin kutinggal sendiri karena Ibu sudah tua dan kewajibanku sebagai anak satu-satunya untuk merawat dia.

“Aku tak bisa melakukan itu. Selama ini waktumu selalu habis di kampus. Bahkan untuk mandi Nadya saja ia harus berbagi dengan tugas mengajarmu.”
“Aku bekerja itu semua demi kebaikan kita juga. Aku tak mungkin hanya diam di rumah menjaga Nadya. Aku bisa gila jika tidak beraktivitas!”
“Ah, terserahlah… aku tetap tak mau meninggalkan Ibu.”
Istriku membanting pintu kamar karena aku bersikeras. Ibu muncul dan menghampiriku. Kutahu Ibuku prihatin dengan pertengkaran kami.
“Aku khawatir rumah ini akan meledak karena pertengkaran kalian. Makin lama kalian seperti air dan api, tidak bisa disatukan. Ibu tidak akan terlalu sedih kalau kalian bercerai. Kau pun tak perlu harus beristri seorang dosen. Seperti Bi Asih tak apa-apa, asal selalu di rumah merawat Nadya.”
“Ini tidak sesederhana itu, Bu.”
Tak dinyana istriku ternyata mendengar percakapan kami. Ia langsung menyerang Ibu.
“Kau perempuan tua tidak tahu malu! Kau mau menyingkirkanku?!”
Ibuku langsung menampar istriku. Istriku tak terima. Mereka bergelut dan saling dorong. Continue reading

Ibu Vs Nenek Jahat

dimuat di joglosemar 10/11

Nenek Jahat
Kematian Nenek jahat di subuh itu memang tak mengejutkan siapa-siapa. Kami yang merupakan keluarga Nenek selalu menganggap bahwa hanya kematian yang membuat jiwa Nenek yang gelisah dan tiba-tiba menjadi jahat pasca sakit stroke yang menimpanya itu adalah pintu gerbang ketenangan untuknya di alam akhirat. Namun, ada yang membuat kami heran, hampir mendekati sebuah rasa ketertakjubkan sebenarnya saat mendapati Nenek memejamkan mata selamanya itu. Ya, kami tak habis pikir akan bisa mendapati sebuah senyuman di wajahnya, senyum lebar dan ikhlas, seolah-olah Nenek jahat tengah merasa bahagia menyambut dunianya yang baru. Hal ini jelas tak sama dengan bayangan kami yang mengira kematian Nenek akan menjadi sebuah melodrama yang memilukan. Dipanggang rasa sekarat dan kebencian yang merasuki umur-umur tuanya itu, yang membuat ia tersengal-sengal ketika sakaratul maut.

Ah, kehidupan Nenek selalu menjadi misteri bagi kami. Nenek mempunyai perangai yang sulit kami mengerti dan sulit kami pahami. Sejak sembuh dari sakit stroke perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa sangat kejam kepada siapapun, termasuk kepada anak-anaknya. Nenek juga memilih hidup sendiri dan menolak tinggal dengan anak-anaknya. Ia mengerjakan semua sendiri di rumahnya di desa; mencari kayu bakar di kebun dan menjemur kayu-kayu itu di halaman untuk kemudian dipakai memasak di pawon . Anak-anaknya yang sudah putus asa menyuruh Nenek ikut tinggal bersama mereka hanya diperbolehkan membawakan beras dan sayur setiap bulan.

Aku pernah diajak Ibuku mengantarkan catu saat Ayah sedang dinas keluar kota. Ibu satu-satunya menantu yang mau pergi ke rumah Nenek. Semua menantu yang lain tak berani atau pura-pura sibuk, karena enggan berhadapan dengan Nenek yang mereka sebut sudah maleh –untuk tidak mengatakan bahwa Nenek sudah hilang kewarasannya.

Saat kami datang itu Nenek sedang tak di rumah. Mungkin sedang mencari kayu bakar di kebun seperti biasa. Kami bisa masuk ke dalam rumah karena pintu tak terkunci. Menurut cerita Ibu, nyaris tak ada tetangga yang mau bergaul dengan Nenek karena mereka menganggap Nenek sudah tidak waras dan berbahaya.
Ibu menyuruhku membuka semua pintu dan jendela untuk membersihkan rumah tua ini, agar ‘hantu-hantu’ dari kegelapan rumah ini pergi. Sungguh sulit membayangkan ada orang tinggal dalam kamar yang serba berantakan dan pengap seperti kuburan ini. Di meja tergeletak segelas teh sisa yang sudah dingin. Mungkin teh kemarin sore yang belum dibawa ke tempat cuci. Sarang laba-laba menghiasi di sudut-sudut ruangan menjadi hiasan abadi interior rumah tua ini.

Iseng kunyalakan radio transistor tua di atas lemari yang sudah diselimuti debu. Suaranya kemrosok. Kucari chanel musik pop kesukaanku.

“Kita bawa ke loundry saja Bu? Nggak usah repot-repot mencuci,” kataku saat Ibu keluar dari kamar sambil membawa kain pesing milik Nenek. Continue reading

Love Bird

Love-Birds
dimuat di majalah Respon bulan Oktober

Sepasang burung love bird cantik hadiah dari saudara sepupu Luna yang tinggal di Papua. Berbulu hijau mangga dan paruh warna semangka. Sebuah kado pernikahan yang lucu. Mereka tak pernah mengira akan mendapatkan sepasang burung cantik itu, alih-alih tak tahu bagaimana memelihara sepasang love bird. Konon dengan memelihara burung love bird akan membuat ikatan cinta pasangan menjadi langgeng.

“Burung itu mahal lho Mbak, jual aja. Harganya bisa sampai 6 juta seekor. Kalau sepasang begini, wah, itu bakalan lebih mahal,” pendapat adik perempuan Luna, yang tampaknya hanya tertarik dengan uang.

Luna tak akan menjualnya, hal itu menjadi keputusan. Adam, suaminya sendiri hanya mengangkat bahu. Terserah kau, katanya. Ia memang sedang sibuk untuk menyelesiakan tesis yang ia targetkan selesai di tahun ini.

Luna menjadi sibuk sendiri dengan burung love bird. Ia mulai gemar browsing love bird di jejaring sosial Kaskus atau facebook. Bagaimana pola makan mereka. Bagaimana cara memandikan mereka. Ia juga berencana pergi ke pet shop di kotanya agar bisa mendapat informasi yang jelas.

“Ayolah temani aku ke sana,” pinta Luna pada suaminya.

“Kenapa tidak cari di internet saja. Tinggal browsing ke Mbah Google, pasti ketemu.”

“Ah, itu tidak akan membuatku lebih paham. Kita lihat saja langsung mereka yang punya.”

Adam terpaksa manut diajak pergi ke pasar burung. Sesampai di sana, Luna langsung mencari penjual tempat burung love bird. Continue reading

Promo Novel Anak : Laskar Anak Pintar

1234814_1402584506635211_1356398086_n

Sholeh, Maman, Lukman, Daud, dan Iqbal, adalah lima sekawan. Mereka berlima hidup di sebuah daerah pedesaan yang cukup jauh dari perkotaan. Mereka berlima adalah anak dari orang-orang miskin dan sederhana. Sholeh adalah anak lelaki penjaja pisang goreng keliling kampung dengan berjalan kaki. Namun demikian, Sholeh adalah anak yang berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.

Maman adalah satu di antara lima sekawan yang tidak sekolah karena bapaknya yang hanya buruh serabutan, tak mampu menyekolahkan. Padahal, Maman sebenarnya sangat ingin sekolah, memakai baju merah putih.

Biarpun mereka berlima miskin dan sederhana, bahkan ada Maman yang tidak sekolah, namun mereka mampu memikirkan jalan keluar masalah bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka adalah anak-anak yang kritis dan cerdas. Lalu, pada suatu hari ada kejutan buat Sholeh dan Maman yang membuat keduanya sangat bahagia. Kejutan apakah itu? Ikuti perjalanan seru lima anak desa ini hingga selesai, ya!

Penulis Andri Saptono,
Penerbit : Indiva Kreasi (Lintang)
ISBN : 9786021614006
Tebal : 124 hal
harga 18.500,-

kalau mau beli online di sini
http://indivamediakreasi.com/new/index.php?route=product/product&path=59&product_id=166

Hujan Bulan Juni

dimuat di majalah Respon

hd-wallpaper-otife-rose-and-rain-wallpapers
Hujan tiris bagai tirai dari langit menjatuhi bumi. Dedaunan basah begitu segar dipandang mata. Anak-anak kecil berlarian di jalanan, menggiring bola menuju ke lapangan. Sorak sorai mereka tak pernah bosan menyambut hujan yang datang di awal tahun baru ini.

Barangkali hanya Laksmi dan si penjual martabak yang berteduh di emper toko yang tutup itu, yang bosan dan benci kepada hujan. Pedagang martabak itu tentu karena hujan menghalangi dirinya menawarkan martabaknya berkeliling ke gang-gang perumahan. Dagangan masih utuh tak berkurang, alamat api dapur tak bisa mengepul. Namun apa yang Laksmi benci dari hujan? Bukankah hujan turun membawa kesegaran. Hujan membasahi setiap tanaman di taman rumahnya hingga bersemi indah. Di kota ini hujan turun tidak terlalu deras, malah cenderung teratur sepanjang tahun yaitu pada bulan tertentu saja. Beberapa orang mengatakan karena masih banyak agamawan yang tinggal dan setiap hari berdoa kepada Sang Maha Pencipta. Sedangkan para akademisi menyimpulkan karena masih banyak hutan dan danau di sekitar kota ini yang menyebabkan siklus alam berlangsung dengan teratur. Adalah pula hal terakhir ini yang sebenarnya membuat Laksmi dan suaminya memilih membeli rumah di pinggir kota ini -karena keindahan danau-danau kecil dimana angsa dan bebek liar masih berkeliaran.

Ya, entah mengapa Laksmi enggan bersahabat dengan hujan. Pandangan matanya menentang dari daun jendela kepada halaman yang basah. Terkadang matanya meluapkan air mata seakan tak dapat membendung lagi kebenciannya kepada hujan itu. Continue reading