Mendamba Keluarga Qur’ani

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu… (At.Tahrim: 6)

Tulisan ini tidak hendak menguliti moral orang per orang, khususnya pemuda-pemuda tetangga yang sudah melakukan penyimpangan. Tapi sebagai sample kasus yang coba kita dedahkan permasalahannya dan kita berikan solusi untuk perbaikan umat.Sample

Kasus:

Sebut saja ES (32 th). Dia dulu teman SD saya. Sebagai perempuan dia bergaul terlalu bebas. Sering berganti pacar, hingga akhirnya terjerumus ke dalam hiburan malam, bekerja di tempat karaoke. Dia sering pulang malam, diantar sembunyi-sembunyi oleh laki-laki yang seringnya berbeda-beda. Dia menjadi rumor dan gunjingan di desa. Hingga ia pun memungkasi masa lajangnya dengan menikahi seorang tentara yang sudah beranak-istri. Nikahnya nikah siri. Tapi, nasibnya juga tak menjadi lebih baik, si tentara sudah tak bersamanya lagi, meninggalkannya sendiri atau karena memang statusnya sebagai tentara melarangnya untuk beristri lebih dari satu. Continue reading

Advertisements

Supeltas: Sepele Nanging Gedhe Khasiate

Supeltas: sepele nanging gedhe khasiate
Supeltas: sepele nanging gedhe khasiate

Ketika jam ngantor pagi atau berangkat sekolah, kita hampir tak bisa memilih lagi jalanan mana yang tidak terkena macet. Statiska kemacetan per tahun menunjukan grafik peningkatan. Arogansi pengendara motor alias si raja jalanan, terutama yang membuat jalanan akhir-akhir ini makin semrawut. Begitu pula aktivitas pemakai jalan lain yang tidak mengindahkan peraturan, seperti angkutan bus yang ‘berhenti di sembarang tempat’ ketika menurunkan penumpang. Fakta inilah yang menyebabkan harga selembar nyawa seakan menjadi murah dan sia-sia di jalanan.

Pesona Supeltas

Di Solo kehadiran para Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas) yang membantu kelancaran lalu lintas seperti di perempatan Coyudan, bundaran Baron, bundaran Purwosari, Lawang Gapit sebelah barat, dan beberapa ruas jalan yang ‘belum layak’ dipasang trafigh light yang justru kemacetannya luar biasa dan sering terjadi kecelakaan, amat signifikan membantu mengurai kemacetan dan mengurangi angka kecelakaan. Pengakuan terhadap peran positif mereka juga kerap menimbulkan simpati elemen masyarakat, seperti pemberian ‘saweran’ hingga bingkisan oleh beberapa elemen masyarakat pada moment-moment tertentu, misalnya ketika bulan Ramadhan.

Dari relasi yang menarik inilah yang membuat pekerjaan supeltas bahkan bernilai ibadah. Jika dianalogikan (kiyas) dengan menyingkirkan duri dari jalan saja sudah dianggap shodaqoh, apalagi para supeltas ini, yang sukarela mengatur jalanan yang sama sekali tidak sesederhana seperti yang kita lihat, baik keruwetan dan tingkat stress tinggi di jalanan. Apalagi seperti yang kita lihat jalanan setiap hari bukan makin longgar atau lancar, tetapi sebaliknya, jalanan berubah menjadi area parkir, bursa mobil, atau tempat berjualan kaki lima.

Butuh Pelatihan dan Pengembangan
Sekilas bisa dilihat menjadi Supeltas sangat diperlukan fisik yang kuat, yang tahan berpanas-panas di jalanan. Namun sebenarnya mereka juga memerlukan keahlian untuk mengendalikan lalu lintas. Karena tanpa keahlian dan pengamatan yang cerdas itu, jalanan hanya akan menjadi ruwet dan membuat jalanan tambah macet. Tetapi andaikan mereka dibekali lagi dengan ketrampilan mengatur lalu lintas alangkah sangat membantu peran supeltas itu sendiri. Tentu hal ini harus mengikutsertakan aparat polisi dalam pembinaan dan memberikan pelatihan kepada para Supeltas.

Di Solo, kerjasama antara polisi dan supeltas ini di beberapa tempat di Solo memang sudah terlihat, namun akan lebih bernilai plus lagi, andaikan Supeltas ini mendapat perhatian dan pembinaan dari Polisi karena peran mereka yang positif dalam membantu ketertiban di jalanan. Atau mungkin kehadiran mereka bisa diadopsi oleh daerah lain yang selama ini mempunyai masalah kemacetan lalu lintas.

Profesi supeltas memang sebuah hal remeh, namun mereka memberi kemanfaatan yang luar biasa. Orang Jawa bilang, sepele nanging gedhe khasiate!

sumber gambar: surakarta.go.id

LOMBA RESENSI AL-QOWAM GROUP

lomba resensi A4WEB

Lomba Resensi buku Al-Qowam Group adalah upaya memperkenalkan buku-buku terbitan Al-Qowam Group kepada masyarakat luas. Dengan adanya Lomba Resensi ini dapat pula merekatkan pembaca buku Al-Qowam Group dengan redaksi dan memberikan penghargaan kepada para pembaca yang setia.

PESERTA:
Para Blogger (Segala macam domain (WordPress, Blogspot, Blogdetik, kompasiana Dll) dan Facebooker dengan Ketentuan Bersyarat

HADIAH:
Pemenang I : Rp. 1.000.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
Pemenang II : Rp. 750.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
Pemenang III : Rp. 500.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
5 pemenang harapan masing-masing mendapat bingkisan buku menarik Al-Qowam
Dan jika diperlukan atau meminta akan diberikan sertifikat sebagai kelengkapan.

PENILAIAN:

Kritis dan obyektif tulisan (70 %)
Penggunaan hiperlink yang proporsional (20 %)
Interaktif tulisan di blog/facebook dengan pembaca (10%)

TEKNIK PELAKSANAAN:
1. Artikel lomba merupakan karya original, bukan saduran, terjemahan, dan bebas dari tindakan plagiat. Artikel lomba menggunakan bahasa Indonesia.
2. Semua artikel yang diikutsertakan dalam lomba harus ditayangkan di blog atau catatan facebook. Domain blog bebas (wordpress, blogspot, kompasiana, blogdetik, maupun blog pribadi dengan nama domain dot com atau domain lain).
3. Untuk catatan di facebook, peserta adalah facebooker dengan nama asli bukan nama alias/samaran/nama alay). Minimal teman 100 orang. Meng-add facebook Sahabat Penerbit Al-Qowam dan Kutubuku Al-Qowam (wajib). Resensi diposting di catatan dan meng-tag minimal 15 orang teman termasuk Al-Qowam.
4. Menyertakan gambar buku yang diresensi.
5. Mengandung kata kunci judul buku diresensi yang dilink-kan ke http://www.alqowamgroup.com/
6. Kirim naskah ke alamat email: al-qowamgroup@yahoo.com. Cantumkan nama, alamat, no telp yang bisa dihubungi dan LINK resensi yang diposting.
7. Lomba ini tidak boleh diikuti karyawan Al-Qowam Group.
8. Keputusan pemenang mutlak ada di tangan dewan juri. Keputusan tidak dapat diganggu gugat.
9. Dewan juri tidak menerima pertanyaan atau saran apapun. Tapi pertanyaan bisa ditanyakan ke redaksi lewat komentar di halaman web atau facebook Al-Qowam group.
10. Pengumuman pemenang akan ditayangkan di facebook Al-Qowam dan di website al-qowamgroup.com
11. Pemenang lomba dipilih berdasarkan kualitas tulisan. Jumlah sharing artikel di sosial media, komentar dan jumlah pembaca menjadi bahan pertimbangan dalam penjurian.

Pelaksanaan : 1 April – 10 Mei 2014 (diundur)
Pengumuman Pemenang : 20 Mei 2014

INFO BUKU YANG WAJIB DIRESENSI : www.alqowamgroup.com
INFORMASI
085229628009 (Andri )

ttd
Panitia Lomba

Novel Jihad nan Liris >> Review “Jurai” Guntur Alam

Review jurai oleh Andri Saptono untuk Festival Sastra Solo yang diadakan Pawon, 22 Feb/23 Feb 2014

Judul buku :Jurai
Penulis :Guntur Alam
Tebal :vii + 300 hlm
Penerbit :Gramedia
Cetakan :Maret 2013

re_buku_picture_86641

Kata Jurai bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang-orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal maka akan dikatakan: Itu jurai orang tuanya. seperti pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohohnya. Namun makna jurai lebih universal. (Footnote hlm. 8) Saya mencoba membandingkan kosa kata ini dengan sukerta, dalam kosmologi Jawa yang berarti ‘tanda lahir buruk’ semacam sifat genetis (gawan bayi) yang dibawa si anak yang kelak membuatnya mengalami nasib buruk, celaka, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Misalnya, anak ontang-anting (anak tunggal) atau anak kembar dampit. Dalam kosmologi Jawa, anak yang membawa sukerta ini harus diruwat, dibersihkan dengan cara menanggap wayang yang lakonnya tertentu. Tentu ini bukan persoalan sederhana. Bukan hanya biaya nanggap wayang itu mahal, namun jiwa kemerdekaan anak dipasung dengan kisah dongengan seperti itu yang sama sekali tidak bermanfaat dan membawa mudharat. Bahkan hal seperti ini dimanfaatkan beberapa orang untuk memancing di air keruh, memasang jasa untuk meruwat dengan tarif mahal dan sangat bangsat sekali membodohi masyarakat seperti itu.
Tetapi dalam novel jurai, sang penulis memaparkan tentang kisah kemiripan si tokoh (Catuk), seorang anak laki kelas V SD yang mirip dengan bapaknya. Kemiripan ini adalah jurai dan sukerta yang kelak bisa membawa bala. Kelak suatu saat, tepatnya pada pada suatu siang di musim kemarau, Ebak—ayah Catuk—tiba-tiba pulang ke limas—rumah adat Sumatra Selatan—dalam keadaan tanpa nyawa. Padahal pagi harinya, dia dalam keadaan baik-baik saja, segar bugar tanpa kurang sesuatu apa. Ebak masih bisa menemani Catuk mandi di Sungai Lematang, bahkan masih sempat memboncengkan anak bungsunya itu ke sekolah, sebelum meneruskan perjalanan dengan sepeda kumbang menuju kebun karet milik Toge Nagap yang biasa Ebak sadap (halaman 4). Diceritakan pada bab-bab awal itu Ebak meninggal karena diamuk babi hutan.
Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terkuak. Ebak menemui ajal bukan karena diamuk babi hutan, melainkan karena ditabrak sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap, sang majikan Ebak. Toge Nagap berbuat dusta agar tak terkena perkara. Toge Nagap meminta pegawainya yang saat itu berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) mengarang dusta perihal penyebab kematian Ebak bahwa Ebak mati diserang babi hutan. Sementara itu, Toge Nagap yang mengetahui Emak buta huruf, justru membuat surat pernyataan yang berisi Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Hal ini adalah kekhilafan Emak yang tidak bisa baca tulis yang membuatnya mau membubuhkan cap jempol di surat itu (hlm. 109-110).
Hal ini semacam sindiran bahwa kebanyakan majikan yang busuk akan melahirkan anak-anak yang ceroboh dan busuk pula perilakunya. Jika ini dimaksudkan sebagai pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” kiranya ini lebih tepat untuk perkara negatif ini.
Persoalan lain tentang poligami atau kesetaraan gender coba diselipkan penulis dalam novel ini pula. Seperti sudah jatuh kena tangga, ketika hari berduka itu belum sembuh, pada suatu petang, limas Catuk kedatangan tiga orang asing dari Palembang. Mereka itu terdiri dari seorang wanita beserta dua anaknya. Setelah berbasa-basi, mengakulah wanita itu sebagai istri kedua Ebak. Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong, lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Continue reading

NEGARA DAN MORALITAS KONDOM

dimuat di joglosemar 6/12
pekan-kondom
Kondom bagi pemerintah adalah alat pencegah penularan HIV/AIDS, penyakit menular (PMS), dan kehamilan beresiko yang tidak dikehendaki, yang bisa diedarkan secara masal. Dengan ini pula pemerintah menggandeng pihak produsen kondom untuk mengkampanyekan Pekan Kondom Nasional 2013 pada 1-7 Desember.
Menurut Ibu Menkes (Menteri Kesehatan) Nafsiah Mboi, kampanye kondom tidak akan dibagikan ke masyarakat umum. Atribut kampanye berupa penggunaan bus yang berwarna merah dengan gambar artis seksi yang mengundang mata jelalatan itu, konon hanya ditujukan pada daerah hilir, seperti tempat lokalisasi atau kolong jembatan, yang menurut mereka sangat rentan dengan penularan PMS. Memang fakta di lapangan jumlah kasus HIV di Indonesia secara kumulatif dari tahun 1987 hingga Maret 2012 sebesar 82.870 kasus dan AIDS sebesar 30.430 kasus. Kasus paling banyak pada usia produktif 20-29 tahun. Perlu dilakukan upaya pencegahan komprehensif dalam penanggulangannya.

Namun kedua point mulia itu ternyata mempunyai lobang besar. Terlihat betapa kampanye kondom untuk memerangi HIV/AIDS sangat prematur, apalagi diharapkan dapat mengharamkan penyakit perzinaan yang kini meruyak di masyarakat.

Kronik Kondom
Dari sisi medis terbukti kondom bukanlah alat yang tepat untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Kondom hanya dapat mencegah penetrasi sperma bukan mencegah penetrasi virus HIV/AIDS. Alasannya karena proses pembuatan pabrik kondom memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”. Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom. Bahan latek ini tidak bisa diandalkan untuk mencegah kehamilan. Jika Menkes mengatakan bahwa kondom dari latex ini aman dari penyegahan HIV/AIDS hal itu jelas membohongi publik.

Kemudian jika dikatakan bahwa kampanye dengan bus merah bergambar artis seksi itu hanya ditujukan pada hilir, atau tempat-tempat dengan tanda merah saja, hal itu sama sekali bohong. Fakta di lapangan, kampanye kondom dilakukan di depan kampus UGM secara random. Para mahasiswa selain dibagikan buku tentang HIV/AIDS tetapi di dalamnya diselipi 3 kondom gratis. Pesan ‘perempuan seksi pada bus merah’ dan 3 kondom gratis mengatakan ‘silakan kalian boleh berzina dan akan kami beri kondom gratis’.
Materi iklan pekan kondom nasional yang diinisiasikan oleh KeMenkes ini jelas telah mengkhianati UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Khususnya Pasal 4 yang menyebut setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit.
Lantas, apakah ini kesengajaan? Atau sebuah proyek bodoh yang dikerjakan oleh orang bodoh dari jajaran bidang kesehatan?

Kontroversi
Kampanye kondom di berbagai belahan negara lain juga menuai kontroversi tidak hanya di Indonesia. Di Inggris, di Kenya, di Malaysia, Philipina, sebagian tokoh masyarakat terdiri dari ulama, pendeta, dan para orang tua menolak kampanye kondom gratis secara umum. Mereka melihat hal itu hanya mendorong pergaulan bebas dan tidak dapat mencegah virus HIV/AIDS.

Kalau menurut Raihan Iskandar yang merupakan Anggota Komisi VIII DPR, “pesan tersembunyi dari program kondomisasi adalah melegalkan free sex. Lebih jelasnya, jika tidak mau hamil karena berhubungan seks, maka kondom adalah solusinya. Akhirnya, dengan kondom maka anak bangsa bisa leluasa berhubungan seks bebas. Continue reading

Gawat! Indonesia Siaga Korupsi

oleh Andri Saptono*

seragam-koruptor-_120709164037-914
Prolog
Tidak bisa menutup mata keadaan negara kita dalam kondisi siaga korupsi. Berita tertangkapnya ketua MK, Akil Muktar, karena dugaan korupsi makin membuat Indonesia menjadi legam oleh korupsi. Artinya korupsi telah menjadi budaya dan gaya hidup orang Indonesia dari tingkat tinggi hingga lapisan paling bawah. Dan ini sebagaimana dirilis Organisasi Fund for Peace, kegagalan negara Indonesia menjamin kesejahteraan rakyatnya mendapat peringkat ke-63 seluruh dunia. Mereka merilis indeks terbaru tersebut menggunakan indikator dan subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi. Viva News

Bila dikaji lebih jauh mengapa kian hari korupsi makin subur di Indonesia. Tentu jawabannya bukan sekedar karena presidennya bodoh atau tidak pandai. Tentu saja tuduhan ini pasti akan menuai banyak bantahan. Namun fakta yang menyebutkan korupsi sudah menjangkiti hampir semua lini lapisan masyarakat sudah mengisyaratkan status Indonesia yang “siaga korupsi”. Dan bukan ini saja, lebih gawatnya lagi budaya negatif ini menjangkiti tidak hanya oknum pejabat atau okunum aparat pemerintahan yang seharusnya menjadi teladan dalam memerangi korupsi di Indonesia, namun akan lebih mengerikan kalau virus korupsi sudah menyebar ke instansi dan perusahaan negara di negara muslim terbesar di dunia ini.

Bahkan yang cukup menyedihkan adalah kecendrungan sebagian kalangan untuk mereduksi tindak korupsi. Misalnya bagi kalangan atas, korupsi adalah ungkapan untuk pejabat yang menggelapkan dana perusahaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sedangkan ungkapan bagi rakyat kecil yang mencuri ayam karena kelaparan, mencuri kayu hutan karena tak bisa beli gas elpiji, mengutil pakaian di supermarket karena tak punya uang untuk memberi sandang anaknya adalah status maling yang amat menghinakan. Pun hukuman untuk para maling pun senantiasa lebih sadis daripada koruptor yang menggelapkan trilyunan uang rakyat. Sudah biasa tercetak di koran, diberitakan maling ayam dihakimi massa, mencuri kayu hutan di hukum penjara selama satu tahun, atau yang mengutil pakaian di supermarket akan dipermalukan dengan diarak di jalan. Semua itu berbeda dengan koruptor yang menggelapkan trilyunan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan segelintir kroco-kroconya, melulu diganjar tahanan kota, dikerubuti wartawan seperti layaknya artis sambil memberi statement pada microphone wartawan, maaf, no coment! Continue reading

Hujan Bulan Juni

dimuat di majalah Respon

hd-wallpaper-otife-rose-and-rain-wallpapers
Hujan tiris bagai tirai dari langit menjatuhi bumi. Dedaunan basah begitu segar dipandang mata. Anak-anak kecil berlarian di jalanan, menggiring bola menuju ke lapangan. Sorak sorai mereka tak pernah bosan menyambut hujan yang datang di awal tahun baru ini.

Barangkali hanya Laksmi dan si penjual martabak yang berteduh di emper toko yang tutup itu, yang bosan dan benci kepada hujan. Pedagang martabak itu tentu karena hujan menghalangi dirinya menawarkan martabaknya berkeliling ke gang-gang perumahan. Dagangan masih utuh tak berkurang, alamat api dapur tak bisa mengepul. Namun apa yang Laksmi benci dari hujan? Bukankah hujan turun membawa kesegaran. Hujan membasahi setiap tanaman di taman rumahnya hingga bersemi indah. Di kota ini hujan turun tidak terlalu deras, malah cenderung teratur sepanjang tahun yaitu pada bulan tertentu saja. Beberapa orang mengatakan karena masih banyak agamawan yang tinggal dan setiap hari berdoa kepada Sang Maha Pencipta. Sedangkan para akademisi menyimpulkan karena masih banyak hutan dan danau di sekitar kota ini yang menyebabkan siklus alam berlangsung dengan teratur. Adalah pula hal terakhir ini yang sebenarnya membuat Laksmi dan suaminya memilih membeli rumah di pinggir kota ini -karena keindahan danau-danau kecil dimana angsa dan bebek liar masih berkeliaran.

Ya, entah mengapa Laksmi enggan bersahabat dengan hujan. Pandangan matanya menentang dari daun jendela kepada halaman yang basah. Terkadang matanya meluapkan air mata seakan tak dapat membendung lagi kebenciannya kepada hujan itu. Continue reading