Menghidupkan Lagi Dangkrong Indah

dimuat di Gagasan Solo Pos
dsc_0169
Pasar Nglano dan Dangkrong Indah (DKI) adalah dua entitas yang saling koheren. Saya masih ingat ketika presenter TATV, Wawin dan Mamang, yang syuting “Blusukan Pasar” di Pasar Nglano waktu itu. Para ibu pedagang pasar dengan jenaka ngaturi (Jawa, menawari dengan halus) dua presenter TV yang kocak itu untuk mampir ngalor. “Mampir ngalor” ini tentu saja adalah mampir ke lokalisasi Dangkrong. Dan rupanya dua presenter ini juga paham tentang keberadaan lokalisasi Dangkrong yang terkenal itu. Bahkan, secara ikonik Dangkrong ini lebih terkenal daripada pasar Nglano yang berdekatan dengan Pabrik Gula Tasikmadu tersebut.

Menurut sejarahnya dulu lokalisasi itu berkait paut dengan kisah para pekerja di pabrik gula Tasikmadu. Keberadaannya yang sangat dekat dengan lokasi mess para pekerja menyimpan simpul yang saling terkait. Sebagian para pekerja di jaman itu setelah gajian biasa diam-diam pergi ke lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun di tanah pemerintah Kabupaten Karanganyar tersebut. Sebaliknya, ada juga bakul jamu (baca: bakul jamu nyambi PSK) dari lokalisasi yang dulu sering menyambangi dan masuk ke area pabrik Gula Tasikmadu, terutama saat tanggal gajian pekerja.
29102014030
Menghidupkan kembali Dangkrong Indah adalah bagian dari nostalgia pasar tradisional. Namun, jangan buruk sangka dulu. Menghidupkan bukanlah kembali mendirikan lokalisasi Dangkrong yang kini sudah tergusur itu. Sebenarnya, nama Dangkrong adalah sebuah akronim dari sendang ngerong. Keberadaan sendang itu sendiri berada tepat di utara pasar Nglano. Mata air sendang tersebut menjadi agung (melimpah) ketika musim hujan yang juga dihuni oleh ikan-ikan lele dan kutok. Sebaliknya, air sendang akan kering ketika musim kemarau. Dan saat itulah terdapat rong (lubang kecil) yang menjadi persembunyian ikan lele dan kutok tersebut agar tidak mati kekeringan.

Konon, sendang ini berkait-paut dengan dua buah sendang besar yang lain yang juga di daerah Karanganyar. Mitos ini dibumbui kisah misteri lele besar yang sering diberi makan para pengunjung untuk ngalap berkah. Beragam motivasi mereka, ada yang ingin menang judi, PSK yang ingin laris pelanggannya, ataupun motivasi temporer lainnya.
Secara substansif Dangkrong adalah sendang penjaga air di desa Nglano. Pohon-pohon besar mengitari sendang tersebut menjadi penyimpan air hujan dan peneduh bagi para pengunjung pasar. Makna menghidupkan kembali Dangkrong di sini sangat relevan dengan pembangunan pasar Nglano yang sedang berlangsung. Area sendang yang luas dan asri ini bisa dijadikan semacam rest area yang teduh dengan komplek mushola di tempat tersebut. Bahkan, selain rest area juga bisa ditambahi semacam ruang nostalgia pasar Nglano tempo dulu dengan memajang potret dan miniatur Pasar Nglano tempo dulu yang bisa memberikan edukasi tentang pasar tradisional terhadap masyarakat. Pasar sejatinya bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, namun telah menjadi denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Continue reading

Advertisements

MUKADIMAH PAGI BAGI SETIAP MUSLIM

99 inspirasi pagi - andri

Judul buku          : 99 Inspirasi pagi untuk setiap muslim,
Penyusun            : Muhammad H Bashori
Penerbit              : Al-Qudwah Publishing
Tahun terbitan  : Maret, 2014
ISBN                      : 978-602-7929-74-6
Tebal                     : 308 hlm, 17.5 x 23.5 cm
Cover                    : soft cover
Harga                    : 75.000,-

 

Percakapan saya dengan seorang pembaca buku yang merupakan teman dekat saya dan saya kenal dia sebagai pembaca buku-buku bagus, mereka akan membeli buku jika:
 

  1. Judulnya menarik
  2. Penulisnya terkenal
  3. Kaver dan sampulnya bagus
  4. Harganya murah
  5. Isinya sesuai yang dibutuhkan

 
Sebuah buku bagus memang tidak harus mencirikan 5 hal di atas. Selera pembaca terkadang tidak dapat diduga dengan mudah. Trend dan tradisi pasar juga mempengaruhi seberapa besar buku bagus dapat kita baca.

 
Dan buku yang saya resensi ini adalah salah satu buku yang saya anggap menarik dan pantas untuk diresensi.

 
Dilihat dari judulnya : Menilik judulnya yang panjang: 99 Inspirasi Pagi Untuk Setiap Muslim! Ditambah tagline ‘Awali Pagi Anda dengan Membakar Semangat” buku ini menjanjikan sesuatu yang bahagia dan mencerahkan seperti sebuah pagi. Jika ingin lebih meruncing lagi, yaitu sejumlah angka 99, pasti hidangan atau apapun ini (seperti yang digambarkan dengan seduhan kopi) saya berhusnuzhon pastilah akan mengenyangkan dan memuaskan jiwa kita.

Mengawali pagi dengan 99 Inspirasi  pagi untuk Setiap Muslim - Al Qudwah
Mengawali pagi dengan 99 Inspirasi pagi untuk Setiap Muslim – Al Qudwah

Pun dari segi penampakan ukuran buku yang tidak biasa, jelas menyiratkan bahwa buku ini adalah buku yang luar biasa (308 hlm, 17.5 x 23.5 cm). Ukuran ini bagi penerbit membutuhkan sebuah pertaruhan penerbit agar bisa diterima oleh pembaca Indonesia, baik dari segi harga maupun kualitas. Berkompromi dengan hal ini tentu juga bukan sebuah hal remeh temeh untuk mempertimbangkan kualitas sebuah buku. Di lapak dunia maya buku ini dijual dengan harga diskonan. Dari harga 75.000 menjadi 63.000,-. Sebuah harga yang setimpal untuk buku bagus semacam ini.

 
Mengenai penyusun sendiri (saya lebih suka menyebutnya penyusun daripada penulis karena beberapa alasan yang akan saya sampaikan di belakang), Muhammad H Bashori, meskipun terhitung masih timur, beberapa pengalamannya di dunia tulis menulis memperlihatkan ia bukan seorang amatir. Karyanya dimuat di penerbit dan koran nasional maupun lokal. Latar belakangnya yang berasal dari pesantren memberikan jaminan kepada kita bahwa ‘ilmu’ yang akan ia bagikan dalam buku ini bukan sekedar pepesan kosong belaka dan mengapa ia memilih jalur non fiksi di sini. Sekilas saya cuplikan berita tentang sang penyusun buku ini:

 
… pendidik di Ma’had al-Ishlah Paciran, Lamongan sekaligus pimpinan redaksi majalah al-Ishlah. Lulus di IAIN Walisongo Semarang dan lulus tahun 2012. Penulis ‘Ilmu Falak Praktis’ dan ‘Peradaban Tanpa Penanggalan, Inikah Pilihan Kita? Diterbitkan di Elexmedia Komputindo).

 
Penulisan buku ini terlihat mengacu kepada buku-buku inspiratif populer, semisal ‘Chicken Soup for The Soul’ atau buku ‘Bukan untuk Dibaca’ yang populer dan lebih dari 9 kali terbit. Gambar kavernya yang mengetengahkan seduhan kopi hangat mengepul, seperti menyiratkan bahwa ‘kopi hangat’ ini berkhasiat menghangat pagi para pembaca, khususnya para pembaca muslim karena isinya juga lebih tendensius kepada muslimin di Indonesia.

 
Sasaran pembaca yang mendekati dari buku 99 inspirasi pagi untuk setiap muslim ini tentu sangat variatif, karena bahasannya ringan dan sederhana, tetapi tidak kalah bernas. Mayoritas umat muslim di Indonesia lebih bisa terjangkau karena buku ini pun terkesan ‘inspiratif dan tidak ekslusif’ seperti misalnya buku fikih dan semacamnya. Penulis mungkin ingin memberikan sebuah sajian yang lengkap dalam sebuah buku. Maka buku ini disusun dengan 99 bahasan, yang beraneka ragam. Namun inti dari semua bahasan itu terpusat untuk memperbagus karya dan amalan kita. Pun hendaklah amalan itu tidak sekedar bernilai duniawi tetapi juga ukhrawi (akhirat).

 
Penerbit ini yaitu Al Qudwah merupakan lini dari penerbit Ziyad Visi Media Group yang berkantor di Jl. Banyuanyar Surakarta. Ada beberapa lini yang berbeda di penerbit ini dan tiap lini menampilkan jenis-jenis buku yang berbeda pula dengan lini lainnya. Sekilas dari istilah ada istilah Qudwah Sebelum Dakwah yaitu bermakna ‘apa-apa yang telah engkau ikuti dan engkau biasa dengannya dari kebaikan.’

 
Adapun mengenai isi dari buku ini dapat kita tilik sejauh pembacaan saya.

 
Ketika tiba saya membaca halaman pertama, penyusun buku ini menyapa jiwa kita dengan ‘Allah ingin datangkan pelangi’. Mengetengahkan tentang ‘pledoi syukur kepada Allah’. Dirangkai dengan bahasa yang ringan dan populer membuat mudah pemahaman pembaca akan maksud bahasan ‘Allah ingin datangkan pelangi’.

 
Dirangkai kemudian dengan bahasan kedua, ‘Cara Allah Menyayangi Hambanya’ penyusun buku ini memberikan persepsi yang menarik tentang ‘cara Allah’ yang terkadang berbeda dengan ‘keinginan manusia’ dalam memenuhi keinginannya. Sebuah quote dicetak tebal di situ:

 

“Jika Allah MENCINTAI seorang hamba, Allah ilhamkan kepadanya KETAATAN. Allah biasakan ia dengan QANA’AH (menerima apa adanya). Allah karuniakan untuknya PEMAHAMAN AGAMA. Allah menguatkannya dengan KEYAKINAN. Allah mengilhamkan kepadanya ketaatan dan selalu memberinya petunjuk.

 

Ini  jelas merupakan sebuah quote yang super yang dapat membangkitkan semangat kita dalam beramal shalih.

 
Pada pembahasan ketiga ‘Hatinya Serapuh Kaca’ Muhammad H Bashori mendedahkan tentang makna perempuan dalam kehidupan seorang lelaki. Banyak kata indah bertaburan di halaman ini, bahkan judulnya sudah puitis. Beberapa terkesan menggurui mengingat ia sendiri masih muda dan belum menikah. Tentu pengalaman dan referensi otentik memperkaya dan lebih mempertajam tulisan. Tapi, bagaimanapun penyusun sudah memberikan bunga rampai pengantar tentang memahami seorang perempuan. (yah, masih sebagai pengantar 🙂 )

 
Bahasan ke-4 dan ke-5 membidik tentang cinta. Cinta di sini kaitannya dengan hasrat seksual dan cinta yang lebih langgeng daripada sekedar hawa nafsu manusia.  Pembahasan kemudian berlanjut kepada ‘memprovokatori untuk menikah’ bagi para jomblo yang sedang galau. Terlihat kesan pengalaman si penyusun dalam bahasan ini dan juga bahasan ‘edisi ngomporin berjilbab’ dalam gaya bahasa yang dipaparkan.

 
Pada bahasan selanjutnya yang beraneka ragam, masing-masing bahasan ini selalu diberi quote yang ditebalkan dan dibuat menarik. Kata bijak dipilih dan terkadang diberi ilustrasi yang proporsional, membuat pembahasan lebih mengena. Bahasan tentang mendorong agar kita berkarya dan menulis karena ‘sebuah karya tulis’ akan lebih panjang umurnya daripada si penulis itu sendiri. Jika ia bisa menjadi amal shalih, tentulah amal ini akan mengalir sepanjang masa sampai hari kiamat dan bisa menjadi syafaat bagi si penulis.

 
Benang merah daripada tulisan ini adalah inspirasi untuk setiap muslim. Bagaimana menjadi seorang hamba yang bisa berkarya dan memberi manfaat di dunia dan juga akhirat. Kelebihan dari buku ini adalah pembahasan yang ringkas dan sederhana sehingga pembaca tidak perlu berlarut-larut dalam prolog atau pembahasan fikih yang penuh iktilaf (perbedaan pendapat). Semua isi dari bahasan ini disajikan secara populer sekaligus semacam buku tazkiyatun nafs bagi seorang muslim.

 
Sejumlah 99 pembahasan dipaparkan dalam buku ini. Sebagian saya ketahui bahwa penyusun, mengambil kisah atau menyadur ulang dari buku atau kisah buku lain. Artinya penyusun tidak menulis sendiri. Hal ini cenderung rentan dianggap sebagai pembajakan karena tidak ada keterangan tentang sumber tulisan. Contoh dalam hal ini adalah kisah Ibrahim Bin Adham dan tanya jawab seorang pendeta dengan seorang muslim dalam bahasan ke-91 ‘Kebenaran Islam’. Juga bahasan ‘Haruskah Hati menciptakan Jarak’ penyusun bukanlah orang yang menggali ide ini sendiri, melainkan mengambilnya dari tempat lain.

 
Saran saya, sebaiknya penyusun memberi keterangan darimana ia memperoleh sumber tulisan ini. Hal ini lebih menyelematkan daripada misalnya sekedar menyusun pembahasan yang tidak ada sumber referensinya. Apalagi cap plagiat atau pembajak merupakan sesuatu yang harus dibayar mahal oleh seorang penulis.

 
Pun secara struktur buku ini dapat dikritisi, yaitu tidak ada tema atau kategorisasi setiap tema di dalam buku, misalnya tema cinta kasih, parenting, atau seksologi. Jika ini bisa ditampilkan, tentu akan lebih mudah bagi pembaca untuk segera menuju pada topik bahasan. Apalagi di dalam buku ini ada 99 bahasan yang masing-masing berbeda dan terkadang tidak setema antara bab satu dan selanjutnya.

 
Sasaran dalam buku ini juga tidak terlalu spesifik. Dalam satu sisi ada kelemahan dan juga kelebihan. Kelemahannya adalah buku ini sepintas akan dipandang sebagai buku tebal yang referensial, tetapi ketika kita membuka halamannya kemudian, ternyata bahasan di sini lebih ringan daripada penampakan dan ketebalan buku. Juga beberapa bahasan terkesan filosofis yang membuat berkerut kening para pembaca. Tetapi di bahasan lain bahasa pengarang terkesan sangat populer dan teenlit, sehingga bagi pembaca yang serius, ini merupakan sebuah ‘gangguan’. Jadi akan lebih proporsional misalnya, jika gaya bahasa pun disamakan sehingga dapat menemukan pembaca yang tepat untuk buku semacam ini.

 
Berbagai kekurangan dalam buku pasti tetap ada. Seperti peribahasa Tak ada gading yang tak retak’ buku ini pantas disanjung karena ia mempunyai tujuan yang jelas dalam berbagai kebaikan dan menuju jalan lurus yang sama (Islam). Kekurangan hanya bersifat temporer dalam bentuk gaya bahasa ataupun penulis, dan hal itu dapat ditebus dengan hikmah yang didapat dari membaca 99 bahasan dalam buku indah ini.

 
Ya, buku ini memberikan motivasi, memperbarui inspirasi dan menyehatkan jiwa kita. Ini seperti sebuah paduan yang sempurna agar kita lebih produktif dan mempunyai mood yang baik. Pagi hari seorang muslim hendaklah diisi dengan hal-hal yang bercahaya seperti ini. Apalagi pagi adalah momen yang indah dan penuh harapan. Tidak peduli hari yang kita hadapi adalah mendung, cerah atau gerimis, sebab pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut dengan kehidupan.

 
Jadi mari kita awali pagi kita, kita buka lembaran kehidupan kita dengan ‘99 Inspirasi Pagi untuk Setiap Muslim’ karena hidup adalah pilihan kita untuk berbahagia. Salam.

Menumbuhkan Sense of Crisis pada Masyarakat

dimuat di joglosemar

ritual-bersih-desa-dusun-nglurah-tawangmangu-karanganyar

Di setiap penanggalan bulan Sura (baca: Muharam) desa saya melaksanakan sebuah ritual Bersih Desa. Tujuan ritual Bersih Desa adalahuntuk memberikan penghormatan kepada arwah leluhur desa, dengan perwujudan menanam kepala kambing atau memberi sesaji kepala seekor kambing di tengah desa, sementara keempat kakinya harus ditanam di empat penjuru desa(papat kiblat lima pancer). Selebihnya sisa daging kambing yang diberikan kepada ‘danyang’ itu akan dimakan beramai-ramai entah diolah menjadi gulai atau tongseng untuk warga 2 RT.

Hanya saja, pelaksanaan ritual Bersih Desa pada tahun ini agak berbeda. Dengan sebab alasan bertentangan dengan agama, beberapa pemuka desa mengatakan sudah tidak akan memberikan sesajen lagi kepada ‘danyang’. Artinya, kepala dan kaki kambing tersebut tidak akan disajenkan tetapi akan dimasak semua untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai sedekah bersama. Pembelian seekor kambing yang mewajibkan setiap warga membayar 30 ribu/kk pada setiap bulan Sura ini, akan dibagikan lagi kepada masyarakat. Continue reading

Resensi buku Tolak Bala, Menepis Bencana dengan Lantunan Doa

Foto0666

Judul Arab          : Raddul Bala’ Biddu’a
Penulis               : Musthofa Syaikh Ibrahim Haqqi
Penerbit              : Darul Hadhoroh Lin Nasyr Wat Tauzi Riyadh
Penerjemah         : Ibnu Abdil Jamil, Arif Munandar
Cetakan Indonesia : September 2006
Penerbit                 : Wip (Wacana Ilmiah Press)

Manusia dan ujian (bala) adalah saling beriringan. Darul dunia (negeri dunia) ini sejatinya adalah tempat ujian bagi manusia. Sedangkan jannah adalah tempat tak ada lagi ujian, namun merupakan kampung pembalasan bagi orang beriman. Sebaliknya, neraka adalah tempat kesudahan bagi manusia-manusia yang tidak beriman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : amat baik perkara seorang muslim itu. Apabila dia diberi kesusahan dan ia bersabar, maka ia mendapatkan pahala atasnya. Dan apabila dia diberikan kemudahan kemudian dia bersyukur, maka pahalanya atas hal tersebut.
Dari hal di atas, kita bisa melihat pula pola yang terjadi pada orang-orang shalih, nabi dan para syuhada lainnya yang merupakan kekasih Allah, orang yang sangat dicintai Allah. Mereka juga tak lepas dari yang namanya ujian dan bala. Namun yang membedakan merkea dengan manusia biasa adalah bahwa mereka mampu menyikapi adanya bala dan ujian itu dengan tindakan yang proporsional (baca: sesuai syariat Allah). Artinya, tindakan tersebut mampu mengembalikan ridha Allah kepada merka atau bahkan bisa meningkatkan derajat keimanan mereka menjadi lebih baik lagi. Dan hakikatnya Allah sendiri memberikan ujian kepada manusia adalah untuk mereka menjadi lebih baik tingkatannya.

Disebutkan dalam hadits, bahwa seorang yang tidak bisa beramal kebaikan. Melainkan ia diberikan cobaan hingga ia bersabar dan ia mencapai derajat yang tinggi karena rahmat Allah taala. Jadi ia menjadi hambanya yang mulia justru karena ujian yang diberikannnya itu.

Buku terbitan WIP (Wacana Ilmiah Press) ini memberikan poin-poin penting kepada kita bagaimana kita bersikap menghadapi ujian dan bala yang terjadi pada diri kita. Ketika saya membuka buku ini saya langsung mendapatkan jawaban dari kerumpegan yang terjadi pada hidup saya. Kemudian saya mengambil sikap untuk beristigfar dan berdoa memohon diberikan kemudahan dan kelapangan akan persoalan pada hidup saya.

Jadi artinya ketika membuka buku ini pertama kali, kita pun akan mendapatkan solusi dari Syaikh Ibrahim Haqqi.
Ada beberapa bab penting di dalam buku ini. Dimulai dari pengertian bala secara bahasa dan secara syarak. Kemudian aplikasi dalam al quran dan assunah, tentang solusi mengatasi bala dan doa-doa yang dianjurkan. Lebih meruncing lagi, tentang bagaimana cara memanjatkan doa yang sesuai sunnah, apa faedah doa, implementasi doa berkeanaan dengan cobaan, beberapa persoalan terkait dengan cobaan.

Kemudian diberikan ilustrasi bagaimana para nabi adalah kekasih Allah sedangkan mereka juga tidak semata hidup lempeng-lempeng saja. Mereka juga diberikan ujian dan cobaan. Sekaligus diberikan pemaparan bagaimana mereka berdoa dan membuat ridha Allah dengan keteguhan iman mereka.

Pada bab akhir, kita diberikan tuntunan beberapa doa yang dilantunkan oleh rasulullah saw, seperti doa tertimpa bencana dan kesusahan, doa untuk meraih khusnul khatimah, doa saat melihat orang lain tertimpa doa, dan potret doa para salaf. Sekaligus juga diberikan tentang buah dari doa tersebut.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca indonesia ini. Pelbagai ujian dan kesusahan silih berganti mendatangi negeri ini. Sudah saatnya kita menggerakan diri untuk kembali mencari ridha Allah taala. Marilah kita beristigfar atas segala kesalahan yang kita perbuat. Istigfar ini juga menjadi jalan kemudahan bagi kita agar doa kita diterima. Kemudian juga berdoa sungguh-sungguh, terutama di waktu yang mustajab, insya Allah segala hajat dan kesusahan kita akan diberikan jalan oleh Allah yang maha penyayang. Bahkan Allah mencela orang yang enggan berdoa sebagai orang yang sombong. Dan sebaliknya Allah mencintai hambaNya yang menadahkan dua tangan kemudian melantunkan doa dengan lirih serta berharap serta yakin doanya akan terkabul.

Saya cuplikan beberapa doa untuk mendatangkan rejeki dan harta serta melunasi hutang.

اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدِ كِبَرِ سِنيِّ وَانْقِطَاعِ عُمْرِي
“Ya Allah, jadikanlah anugerah rezeki-Mu yang paling lapang untukku saat usiaku tua dan menjelang penghabisan umurku.” (HR. Hakim)

اللّهُمَّ فَارِجُ الهَمِّ, وَكَاشِفُ الغَّمِّ, وَمُجِيْبُ دَعْوَةِ المُضْطَرِّيْنَ, رَحْمَانُ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ وَرَحِيْمُهُمَا أَنْتَ تَرْحَمُنَا فَارْحَمْنِي بِرَحْمَةِ تَغْنِينِي بِِهَا عَنْ رَحْمَةِ مِنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, Dzat yang melapangkan kesedihan, Penghilang kesusahan dan yang mengabulkan doa orang-orang yang terdesak. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang di dunia dan akhirat, Engkau yang mengasihi kami, maka kasihanilah diriku dengan kasih sayang yang membuatku tidak membutuhkan lagi kasih sayang selain Engkau.” (HR. Hakim)

Peran dan Fenomena Pondok Tahfizhul Qur’an di Indonesia

Walaupun ujian nasional dan pengumuman kelulusan belum mulai, sudah banyak bermunculan spanduk dan baliho penerimaan siswa baru (PSB), khususnya SMP dan SMA. Baik itu sekolah negeri, swasta, hingga pondok pesantren seakan berlomba menjaring calon murid sebanyak mungkin. Semaraknya spanduk semacam ini juga mengindikasikan banyaknya jumlah madrasah/sekolah yang ada. Pun, menunjukkan pula bahwa madrasah/sekolah sudah tidak didominasi oleh sekolah negeri lagi. Di Solo raya misalnya, banyak bermunculan pondok pesantren yang mampu bersaing dengan sekolah formal. Dari pondok pesantren modern hingga pondok pesantren berbasis enterpreuner. Hal ini berbeda dengan image pondok pesantren di jaman dulu, yang lebih terkenal sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal atau seperti isu yang dihembuskan sebagian kalangan, bahwa pondok pesantren adalah sarang teroris. Continue reading

Kisah Kemuliaan Wanita

SKSR

Wanita mempunyai kedudukan mulia dalam kehidupan manusia. Ditegaskan dalam Al-Hadits, yang pertama kali harus dimuliakan adalah ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian bapak. Hadits ini masyhur dan tak ada perbantahan ulama.
Buku Secangkir Kopi dan Sepotong Roti (SKSR) mengejawantahkan pekerjaan mulia para perempuan, khususnya seorang ibu atau perjuangan seorang ibu. SKSR merupakan buku kumpulan kisah perempuan yang ditulis dari beragam profesi perempuan. Tidak melulu ibu rumah tangga, namun semuanya berwatak satu: peran seorang ibu dalam menyokong kehidupan ini.
Pilihan ini ditegaskan oleh Widi Astuti, yang menceritakan pilihannya untuk menjadi full time mother. Padahal dulu, dia adalah seorang wanita karier yang sukses. Gaji dan pengalaman yang menantang di luaran. Tapi Widi merasa bangga dengan pilihannya karena pekerjaan seorang ibu lebih jauh mulia dan berpahala daripada seorang wanita karier biasa yang akhirnya lebih banyak meninggalkan peran seorang ibu.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjadi seroang ibu. Dalam kisah To Be A Great Mommy, Nicole bercerita perihal dirinya yang ditinggal ibunya, dan harus mengasuh adiknya Kyle yang baru kelas 2 SD. Ketika ditinggal pada usia yang muda, 14 tahun, Nicole telah belajar banyak dari ibunya. Ketika ia menikah dan akhirnya mempunyai anak, ia mempunyai semangat dan berharap dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarganya. Seperti tuturannya, “Ini bukan soal berapa lama kau hidup mendampingi orang yang kaucintai, tapi tentang betapa banyak manfaat dan ilmu yang kaubagi kepada mereka.” Ia mendapat intisari hidup dari pengalaman dan perannya sebagai seorang ibu. Dan semua itu tak lain ia dapat dari ibunya dahulu. Continue reading

Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

dimuat di Solo Pos 27/4

Bank-Plecit-Dilarang-Masuk-Padukuhan-Jambon-1-370x277
Desa dan Bank Plecit
Istilah bank plecit, atau lintah darat dulu lebih masyhur dikenal daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawari pinjaman dengan cepat, dan tanpa administrasi yang ribet –cukup dengan jamiman fotocopy KTP saja. Penampilan mereka pun nyaris stereotif sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil tagihan kepada para nasabahnya. Biasanya mereka lebih suka menyamperi ibu-ibu yang bergerombol entah sedang petan kutu atau sekedar nangga. Begitulah realita yang terjadi di desa saya, dan beberapa desa lainnya di Karanganyar.
Desa menjadi tujuan para bank plecit beroperasi. Seperti desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara tetapi dengan bunga yang mencekik leher. Ibu-ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan selebihnya masuk menjadi nasabah para setan kredit itu.
Pertumbuhan koperasi simpan pinjam baik yang berbadan hukum resmi atau abal-abal semakin banyak di Jawa khususnya. Terutama bank plecit hanya ingin mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa. Kenyataan di lapangan, penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang seringkali kesingsal dengan perubahan jaman. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para Bank Plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya. Continue reading