Anomali Monti

dimuat di Solo Pos

Sebuah anomali barangkali terjadi pada Monti. Monti, adalah anak pertama Mama yang mempunyai tubuh paling besar di antara kami. Jika dilihat dari foto keluarga, siapapun tahu ia sangat mirip Papa. Tetapi karena mentalnya yang terbelakang membuat ia terlihat sangat kontras dari semua anak Mama yang rata-rata berprestasi. Mbak Ira, terutama yang paling keras kepada Monti –untuk tidak aku katakan membencinya bahkan menuduh Monti hasil hubungan gelap Mama.

“Ia tidak mungkin mirip Papa. Sama sekali tidak! Monti adalah seorang idiot dan itu tak mungkin menurun dari Papa,” pendapat Mbak Ira dengan ketus.

Sejatinya aku tahu Mbak Ira hanya kecewa dengan Mama. Seperti yang berulang kali ia katakan, Mama selalu menekannya karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara kami. Anak perempuan mempunyai kewajiban yang besar menurut Mama. Dan anehnya karena terlalu sering ditekan seperti itu alih-alih Mbak Ira membenci Monti satu-satunya anak “yang tak berguna” bagi keluarga.

Mamaku sendiri, di usianya yang senja tinggal bersama Monti di Jakarta. Aku tinggal di semarang, di studio sekaligus galeri kecilku. Ira tinggal di Jogjakarta dengan keluarganya karena dekat dengan rumah sakit ia berpraktek sebagai dokter. Kakakku, Agus, tinggal di istana negara, tempat ia bekerja. Edi, sedang menyelesaikan S3 nya di Australia. Ed, begitu biasa kami memanggilnya, pergi dari rumah melanjutkan studi setelah perkawinannya gagal. Ia mengatakan satu hal padaku sebelum ia berangkat.
Continue reading

Advertisements

Tragedi Cinta dalam Sastra


(Resensi Kumcer Balada Bidadari, Yuditeha)
Resensi andri saptono*

Judul buku : Balada Bidadari (kumpulan cerpen)
Penulis : Yuditeha
Penerbit : Kompas
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 133 hlm

Menulis adalah menjauhi rasa sakit dan merayakan cinta (Atmokanjeng)

Menulis cerpen sastra yang bertemakan cinta tragedi adalah pekerjaan ganda sekaligus. Penulis diharuskan berpikir dan juga merasakan nasib tragedi cinta para tokohnya. Yuditeha, dalam antologi cerpen, Balada Bidadari (2016), yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini, menulis kisah cinta para tokohnya yang terkadang di luar logika sekaligus berusaha memasukkan empati di dalamnya. Penulis seperti ini memang tidak banyak yang berhasil, Yuditeha sedikit saja yang berusaha ajeg agar cerpen itu menarik dibaca juga tidak sepi makna.

Cerpen yang terbaik dalam antologi ini, Rusmiyati, mengisahkan balada cinta seorang penari wayang orang. Ia jatuh cinta pada seorang tokoh pejabat yang menurut Rusmiyati adalah sosok Arjuna baginya. Rusmiyati pasrah saja ketika ia hamil dan tak bisa menuntut apa-apa dari sang kekasih itu karena lelaki itu sudah berkeluarga. Konflik ini menjadi tidak biasa, karena justru orang lainlah, sang aku tokoh, yang memposisikan sebagai kacamata norma dan nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri. Padahal, Rusmiyati, melakoni cinta yang “bermasalah” itu dengan berbunga-bunga.

Lebih menarik, adalah Yuditeha bermain-bermain dalam dekonstruki cerita rakyat yang sudah terkenal di Jawa. Ada dua cerita rakyat di antologi ini yang juga bertemakan cinta. Kisah Sangkuriang dengan dongeng Tangkupan Perahu (digubah menjadi Lelaki Sampan), dan kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari (Balada Bidadari). Ketika cerita ini digubah menjadi kisah kekinian, Yuditeha membuat alur yang gotik. Bidadari dengan sayap patah, patung, seniman patung, cemburu, pertengkaran menjadi warna yang suram. Atau ketika Sangkuriang yang awalnya flamboyan menjadi murung justru ketika ia bertemu “cinta sejatinya”, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Dari kedua cerpen ini Yuditeha lebih menekankan unsur psikologis pada konflik antar tokohnya bukan pada kesaktian tokoh yang biasanya menjadi daya pikat dari cerita rakyat.
Continue reading

Air Mata Orang Tua teruntuk Anaknya

dimuat di Solopos

Sanyoto melihat malam ini cuaca terang. Langit bersih. Kelihatannya ia bisa mengeluarkan becaknya malam ini. Tubuhnya masih bisa dipaksa. Demi kontrakan dan yang terpenting bisa membayar uang syahriah (uang bulanan) anaknya yang di pondok. Yang terakhir ini ia harus prioritaskan lebih dari yang lain. Baginya anak adalah investasi dunia akhirat.

Sanyoto salin baju tebal. Kaos kaki panjang ia pakai. Handuk kecil terlilit di leher. Untuk berjaga-jaga ia juga mengantongi balsem di saku.

Sanyoto biasa mengetem di perempatan Papahan. Terkadang masih ada satu dua penumpang saat malam begini. Lumayan, bisa buat tambahan membeli lauk. Namun, akhir-akhir ini pendapatannya berkurang. Tukang becak kalah bersaing dengan ojek online atau taksi yang bersliweran. Untunglah sesekali ada saja penumpang yang minta diantar ke PKU Muhammadiyah itu.

Khusus untuk orang yang ingin ke PKU, entah itu menjenguk orang sakit atau menunggu pasien, Sanyoto tak pernah menarik tarif. Mau dikasih berapa saja ia mau. Alhamdulillah, cara ini membuatnya tidak kemaruk. Toh, rejeki sudah diatur.

Sanyoto sudah hampir sampai di tempat biasa ia ngetem. Dia menyebrang agak lama karena kondisi tubuhnya yang masih belum sehat benar. Kawannya tukang becak yang lain, Parjo, ternyata tidak ada. Kata Yu Darmi, bakul sate lontong lesehan itu, Parjo sedang punya hajat mengkhitankan anaknya.

“Sudah kelas enam, anaknya pengin disunat,” ujar Mbok Darmi yang sibuk mengemasi dagangannya.
Sanyoto ingat kemarin saat ngobrol dengan Parjo. Soal anaknya yang sudah minta khitan dan niatan Parjo menyekolahkan anak semata wayangnya itu ke pondok. Biar anaknya punya landasan agama yang baik. Kalau di sekolah umum, kurang banyak porsinya, cerita Parjo.

“Mbok Darmi, saya bisa titip ya mbok? Sebentar…”
Sanyoto bergegas turun dari becaknya menuju ke sebuah warung kelontong. Di sana ia membeli amplop. Setelah itu uangnya yang hanya selembar lima puluh ribu itu ia masukkan di amplop. Sedianya uang itu untuk nambah biaya kontrakan. Tapi, mas Parjo yang mengkhitankan anaknya lebih membutuhkan. Biar bisa diberikan hadiah untuk anaknya walaupun tak seberapa. Continue reading

Nyala Mata Ibu di Mata Akik Kamidi


Gosip menggosip, gunjing menggunjing adalah sebagian keahlian para ibu-ibu warga kampung Gaum. Gosip murahan tentu yang digemari para ibu-ibu itu. Tidak di arisan atau belanja sayur di warung, gosip itu telah menjadi bara yang membakar rumah, kampung, bahkan langit sekalipun!

“Kasihan Yu Saerah, Simboknya Kamidi itu sekarang buta. Harta anaknya yang segudang penuh ndak bisa membuatnya melek lagi!”

“Tak perlu kasihan. Itu kan akibat polah tingkahnya dulu sewaktu muda?”

“Emang dia ngapain, Yu?”

“Masak belum dengar sih? Dia kan punya perjanjian dengan jin Bandungan!”

Begitulah, gosip murahan disebar dan diberitakan seakan sebuah makanan dari langit untuk warga kami. Puncaknya sebagian warga menuduh bahwa Yu Saerah punya ingon-ingon[1] jin yang sekarang mengambil matanya.

***

Sebagai anaknya, Kamidi, merasa tidak terima Simboknya difitnah sedemikian keji. Dia ngudarasa[2] di sarasehan kampung yang digelar setiap malam Purnomo Sidhi[3] itu.

“Bapak-bapak yang saya hormati, saya di sini ingin mengutarakan kegundahan saya. Sebagian bapak-bapak ini mungkin sudah tahu, atau malah seluruh kampung ini sudah tahu. Tolong nasehati istri-istri panjenengan semua! Jangan suka menggunjing dan mengghibah Simbok saya! Malah, kalau boleh dikata ini sudah jatuh fitnah dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Peserta sarasehan itu sama kasak-kusuk. Continue reading

Ampo

dimuat di Republika
ujan-55f99a08179373c90d894bd9
Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran ini yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

“Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijasahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?”

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktifitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin mengambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji di sini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti jaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijasah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat hanya pelajaran umum saja. Continue reading

Kisah Deswita Mencari Pembunuh Suaminya

Dimuat di Tabloid Nova
mqdefault
Rumah yang doyong ke kiri dan mau rubuh itu adalah rumah seorang perempuan yang konon cantik luar biasa. Perempuan yang tak pernah kenal takut dengan para lelaki. Oh, nama perempuan itu adalah nama yang sakral. Jangan kau sebut di hadapan para lelaki yang pernah dipercundanginya. Jangan kau menyalakan kembali bara di dalam dada mereka.

Memang jika kau menyebut nama perempuan itu di depan mereka, buru-buru mereka akan membantah, atau mencari-cari celah bahkan tak segan mengarang bahwa perempuan itu seorang pendusta, pezina dan tak tahu malu.

Lalu bibir para lelaki itu tak akan henti mencibir, meludah sesudah menyebut nama perempuan itu.

“Deswita itu sudah kusumpah tak akan pernah berbini sampai mati! Tunggu saja kelak di masa tuanya, ia akan merangkak-rangkak ke kaki setiap pria yang lewat di depan rumahnya, sekadar mau tidur dengannya.”

“Tubuhnya kelak akan reyot seperti kayu lapuk, lalu saat itupula ia akan merasa bahwa waktu muda ia menyia-nyiakan kesenangan yang hendak ditawarkan padanya. Tapi, penyesalan pun tak akan berguna baginya.”

Menurutku tak ada lelaki yang mengucap baiknya tentang Deswita. Semua menganggap Deswita seakan musuh, seakan seteru yang harus dibunuh, atau kalau tidak dibunuh harus ditawan dan dijadikan budak miliknya.

Aku sendiri perempuan yang hidup bersama suamiku. Sepanjang hidup kami menikah, suamiku tak banyak bicara tentang Deswita. Walau kudengar dulu, ia pernah juga datang kepada dirinya, dan menawarkan diri menjadi suami. Deswita yang saat itu jadi kembang desa dan banyak dikerubuti para pemuda, menolak suamiku. Mungkin karena suamiku adalah seorang pemuda biasa, yang sekedar buruh di kota. Wajah suamiku pun tak terlalu tampan. Tak banyak pula yang bisa diberikan.

Tetapi aku yakin Deswita bukan orang seperti itu, yang mata duitan, yang melihat para lelaki karena uang dan harta yang akan ia terima sebagai mahar perkawinan. Aku merasa hal itu sedikit benar. Karena ketika aku menikah dulu, makin banyak kuketahui perangai suamiku yang asli. Yang dulu ramah, sekarang mulai kasar. Yang dulu suka memberi hadiah, kini selalu tak segan membentak hanya karena aku meminta sesuatu. Bagiku perubahan itu tetap kuanggap sebagai sesuatu hal yang harus kuterima karena aku istrinya. Sebisa mungkin menyabarkan diri. Mencoba menerima apa adanya suamiku. Karena dengan mengimbangi itulah perahu perkawinan kami tak akan mudah karam diterpa gelombang.

Namun kadang aku menjadi selalu ingin tahu tentang Deswita. Ada rasa kagumku yang makin membesar ketika lewat rumah yang mencong ke kiri mau roboh itu. Ketika lewat hanya kutandai dapurnya yang mengepulkan asap pertanda ada kesibukan di dalamnya. Atau di sore hari, kudengar suara orang memecah kayu, barangkali untuk memasak esok hari. Deswita memang jarang keluar. Dan hal inilah membuat aku penasaran ingin berkunjung padanya.

Hari itu minggu sore kubawakan sayur beserta lauk kambing untuknya. Sengaja pula aku mencari lena suamiku yang kini sedang pergi ke rumah ibunya. Alasanku ingin mampir dan membawakan makanan ini memang kurang terpuji. Aku adalah orang baru di kampung ini yang dibawa dari rumah orang tuaku. Karena mendengar kemashyuran Deswita itulah aku ingin mencari tahu bagaimanakah sebenarnya perempuan yang menjadi kembang desa yang dulu pernah diincar suamiku dan para pemuda di kampung, yang kini namanya jatuh menjadi celaan seluruh kampung. Apakah memang benar begitu kenyataan yang sebenarnya? Karena aku sendiri tidak yakin bahwa mulut orang kampung mengandung kebenaran dalam menilai Deswita.
Continue reading

Topeng Monyet Pilkada

dimuat di litera Joglosemar

“Kalian tahu pekerjaan yang kita lakukan semalam pasti akan lebih berguna di kota. Kabarnya persaingan politik di Ibu kota lebih panas. Kita pasti akan mendapat uang banyak dari setiap juragan yang kita temui,” kata si pemimpin topeng monyet itu sambil menghembuskan rokok.

Rombongan pengamen larang-topeng-monyet-jokowi-halangi-rakyat-cari-makan-halaltopeng monyet itu makin bergegas. Mendung gelap menggantung alamat hujan deras. Lima belas menit mereka harus sudah sampai di desa sebelah. Kliwon, kera mereka yang bersepeda motor kayu ditarik oleh si pemimpin rombongan sendiri, seorang tua yang berambut putih sekitar umur lima puluhan yang sering dipanggil mbah Mbesur, karena memperlambat perjalanan, kini rantai itu digulung sedangkan si Kliwon ganti naik ke pundak si lelaki tua itu.

Dua orang anak kecil di belakangnya membawa peralatan musik yang sederhana. Bagong, yang bertubuh gendut membawa kendang untuk ditabuh ketika memanggil orang-orang mendekat. Bendot, yang lebih kurus membawa kenong. Baik kendang maupun kenong fungsinya sama.

Seorang lagi bertubuh kurus tinggi yang biasa menyembunyikan wajahnya di balik topi yang juga digunakan sebagai pelindung panas itu, membawa peralatan si Kliwon ketika beraksi: sepeda motor dari kayu, payung, dan juga sebuah meja kursi kecil –semua properti itu diikat menjadi satu biar mudah dibawa.

Tak ada yang bicara selama berjalan bergegas itu. Si Kliwon yang duduk di pundak mbah Mbesur karena sudah bosan memainkan topi si pemimpin rombongan yang sudah berwarna tanah itu, kini matanya terus-terusan memandangi jalanan di depan yang serasa tak berujung.

Ternyata hujan lebih cepat turun dari perkiraan mereka. Untunglah ada sebuah gardu poskamling yang kosong dan terbuka. Mereka masuk ke dalam. Semua peralatan segera dibawa masuk agar tidak rusak. Napas ngos-ngosan setelah berlomba dengan hujan yang menderas

Si Kliwon berputar-putar hingga membuat tali itu kusut sendiri. Mungkin ia bosan di dalam gardu yang sempit itu dan ingin bermain hujan di luar. Anclung yang menyandarkan punggung batuk-batuk sebentar.

“Mungkin sampai malam hujan ini baru reda,” ujarnya.

Memang benar langit begitu hitam. Si pemimpin rombongan juga melihat hal itu. Terpaksa malam ini mereka harus tidur di gardu keamanan desa ini.

“Kau lapar, Gong? Bendot, kamu juga lapar tidak?” tanya mbah Mbesur pada Bagong dan Bendot. “Kalau lapar, kalian bisa kau buka bungkusan itu. Aku sama Anclung nanti belakangan.” Continue reading