Resensi Novel “Lost in Lawu” Yuditeha

Untitled
PERIHAL LOKALITAS, MENTALITAS DAN SOLIDARITAS
Judul : Lost In Lawu
Penulis : Andri Saptono
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan/tahun : Pertama/ Maret 2016
Halaman : VIII + 226 halaman

Membaca Lost In Lawu serasa kita ikut dalam petualangan pendakian di Gunung Lawu. Ada ketegangan ketika proses petualangan itu bergulir. Namun secara tersamar sesunggungnya novel ini menawarkan petualangan yang lebih dari sekedar petualangan yang bersifat fisik. Lost In Lawu adalah sebuah kisah yang mengusung tema lokalitas, mentalitas dan solidaritas. Ketiga tema tersebut berbaur untuk menguatkan jalan carita.

Pertama tema lokalitas. Di setiap daerah pasti mempunyai tempat-tempat istimewa, demikian juga di Karanganyar. Dalam hal ini Gunung Lawu merupakan salah satu aset daerah Karanganyar. Keberadaan Gunung Lawu tentu saja akan memberi efek bagi warga sekitarnya, terkhusus untuk masalah tingginya intensitas pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Keadaan ini akan mendorong para investor berlomba-lomba untuk menanamkan modalnya dalam berbagai bentuk bisnis. Tanpa adanya pemikiran tentang kearifan lokal, bisa saja penduduk sekitar hanya akan menjadi budak bagi para investor. Novel ini memberikan contoh beberapa tindakan kearifan lokal tersebut untuk menghalau pelaku investor jahat (ditokohkan oleh Om Lien dan Mikhael), pengusaha yang hanya ingin mengeruk keuntungan daerah tersebut. Bahkan dapat dikatakan inti dari kisah novel ini terletak pada masalah tersebut. Tokoh inspiratif dalam hal ini dimotori oleh Sungkono, yang dulunya pewaris pimpinan Padepokan Harimau Gunung dan pada akhirnya menjadi Lurah di desa Tegal Winangun. Bisa jadi tema lokalitas ini digarap sesungguhnya merupakan tanggapan dari penulis terhadap kegelisahannya mengenai hal itu, dimana secara sosiologis dia adalah anggota masyarakat yang mempunyai hubungan langsung dengan lokasi tersebut.

Kedua tema mentalitas. Sesungguhnya, urusan mendaki gunung bukan melulu bertumpu pada kekuatan fisik. Memang kekuatan fisik akan mendukung jalannya prosesi pendakian tetapi hal itu bukan menjadi syarat mutlak. Yang sebenarnya terpenting dalam pendakian adalah urusan mentalitas pendaki itu sendiri. Pada saat kita naik gunung, sesungguhnya mental kita sedang diuji. Kesiapan mental kita acapkali menjadi penentu apakah kita akan mampu melakukan pendakian itu dengan baik atau sebaliknya. Dan sesungguhnya mental kita akan diuji bukan hanya pada saat kita melakukan prosisi naik saja, tetapi juga pada saat kita sampai di puncak dan turun gunung. Continue reading

Advertisements

RESENSI BUKU #‎LaridariPesantren‬, Sebuah Pelajaran Tentang Kebijaksanaan

Oleh yuditeha

Andri Saptono
sebuah novel anak terbaru dari Andri Saptono

Judul : Lari dari Pesantren
Penulis : Andri Saptono
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan/tahun : Pertama/Akhir 2015
Halaman : 115

Menurut ilmu filsaat, kebijaksanaan adalah kemampuan memilih dan memutuskan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil akhir yang terbaik sesuai tujuannya. Dengan merunut pengertian di atas, novel anak berjudul Lari dari Pesantren ini secara implisit telah mengajarkan bagaimana sebuah kebijaksanaan sangat diperlukan dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Tersebutlah dalam cerita, Albar dan Ilyas, memutuskan lari dalam satu hari dari pesantren Al-Ikhlas untuk memenuhi tantangan dari Bashir bin Lukman, salah satu temannya di pondok yang biasa dipanggil dengan Ucil. Dalam pelarian itu banyak kejadian yang menimpa mereka, yang tentu saja tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya, dari usahanya mencari kerja yang tidak pernah diperoleh, mengemis bahkan mencuri. Semua itu berawal dari keinginannya untuk mendapatkan makanan dan usaha usaha mereka untuk bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang digambarkan sangat keras itu. Karena situasi dalam pelarian yang begitu berat mereka rasakan akhirnya berbagai dosa terpaksa mereka lakukan. Mereka lupa akan ajaran-ajaran luhur di pondok, termasuk sesekali meninggalkan salat.

Cerita menjadi pelik saat mereka ikut terjaring razia petugal satpol PP bersama yang lain. Semua orang yang terjaring razia itu akhirnya dibawa ke hutan buangan, di lepas di sana. Selain mereka, salah satu yang juga ikut terjaring adalah seorang pelacur bernama Warti. Tokoh pelacur inilah yang nantinya justru dipilih berperan peduli kepada Albar dan Ilyas. Hal itu menjadi titik awal penulis merangkai kisah hingga hadirlah sebuah pelajaran tentang kebijaksanaan.

Inilah kecerdasan penulis, ketika pelacur yang identik dengan perempuan kotor dijadikan peran untuk peduli dengan mereka. Perempuan itu yang akhirnya membantu Albar dan Ilyas keluar dari hutan buangan. Dan tak disadari, jalinan persahabatan itu menciptakan kisah saling berbagi kebaikan. Kisah inilah yang akan membentuk peristiwa haru, seiring kesadaran kedua anak itu tumbuh di dada mereka.

Sebuah kesadaran bisa saja tereja karena paksaan keadaan tetapi kesadaran seperti itu, yang tanpa dibarengi dengan ketulusan diri, seringkali akan percuma. Dan untuk kesadaran kedua anak itu lahir dari dalam lubuk hati mereka. Mereka rindu akan ajaran luhur ketika di pondok.

Demikian juga dengan diri Warti, bagaimana terharunya dia ketika melihat kedua anak itu menegakkan salat di tengah jeda perjalanan pergi dari hutan buangan. Meski peristiwa itu bukan sebagai pemicu utama kesadaran Warti untuk bertobat, tetapi kisah-kisah yang dialami bersama Albar dan Ilyas semakin menguatkan tekatnya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia ingin benar-benar bertobat. Continue reading

Promo Novel Lost in Lawu #LostinLawu

TEMP

Alhamdulillah, pagi ini menjadi hari yang cerah dan indah meskipun langit masih mendung.
Ya, benar saja akhirnya novel saya yang ke sekian ini terbit juga. Inilah Lost in Lawu, yang diterbitkan oleh penerbit Prenadamedia.com di divisi Kaki Langit

ini penampakannya kawan..
Untitled

Sinopsis Lost in Lawu

Seperti peribahasa kuno, asam di gunung garam di laut bertemu di belanga. Takdir yang telah mempertemukan para peziarah Lawu dalam satu kemelut dahsyat. Bayu, Sanyoto dan Marzuki, dua orang pendaki amatir bertemu dengan Galih, seorang introvert dari kota yang individualistis. Namun justru kedahsyatan alam liar gunung Lawu telah merekatkan hubungan mereka bertiga hingga menjadi simpul integritas yang mengubah sosok introvert Galih Adiyasa berhasil menemukan jati dirinya.

Ketika Bayu dan kawan-kawan ingin sejenak menikmati pesona matahari terbit di puncak lawu, siapa sangka mereka telah menyeret diri mereka dalam kancah pertempuran dua orang para pendekar masa silam yang sedang berlaga di puncak Argo Dumilah. Lurah Sungkono, seorang abdi masyarakat di desa Tegal Winangun hanya ingin mempertahankan desanya dari terkaman para pengusaha kota yang rakus, yang akhirnya harus berhadapan dengan Sukriya, saudara perguruannya sendiri, yang tamak dengan harta dan kekuasaan.

Tak dinyana Bayu dan kawan-kawan harus berhadapan dengan para penjahat kejam yang ingin membunuh lurah Sungkono. Terjadilah kemelut di puncak Lawu.

Bukan itu saja, kisah perjalanan Galih menemukan jati dirinya di puncak Lawu adalah sebuah ziarah diri yang terdalam. Ia pergi ke puncak gunung Lawu untuk menguji dirinya sejauh mana ia bisa bertahan dalam sengitnya tekanan. Alam liar adalah lawan tangguh untuk pengujian ini. Namun, musuh utamanya justru dirinya sendiri dan masa lalu. Melepaskan diri dari masa lalu adalah sebuah perjalanan menuju tapal batas kehidupan. Merenungi makna kehidupan dan mengejawantahkan arti diri dalam kebajikan.

Galih telah sampai kepada pengertian tentang pribadinya sendiri di tengah alam semesta ini. Dan perjalanan untuk sampai ke titik itu tidaklah mudah. Ia harus menguji dirinya dengan dashyatnya tantangan puncak Lawu yang penuh aroma mistis. Bahkan, konon puncak Lawu adalah tempat terbaik untuk menguji seseorang untuk memahami hakikat dirinya. Salah satu tanda itu dia akan mendapatkan bunga edelweis ungu yang langka.

Mampukah Galih mendapatkan edelweis ungu yang mistis itu?

Novel Lost In Lawu sukses membuat saya bergadang. Membaca novel ini seperti menonton film suspense thriller adventure yang menggiurkan, saya begitu terseret ke dalam petualangan seru di Gunung Lawu. Seperti ikut mendaki gunung bersama tokohnya, dan menghadapi banyak rintangan, hujan badai, binatang liar, bahkan seseorang yang mengancam nyawa kita. Pikiran saya terus memburu jawaban, bergonta-ganti Poin of View Tokoh, membuat saya makin penasaran. Hingga jawabannya terkuak. Siapkah kau menerima jawabannya?

—NIKOTOPIA, Penulis Astrolo(ve)gi & Scriptwriter Masalembo Net TV.

..Melintasi lereng Lawu adalah perjalanan rutin saya setiap kali pulang ke Magetan. Kabut yang menurun dan dingin yang menusuk di Cemoro Sewu mengiringi tapak jejak perjalanan. Menghirup udara Lawu adalah menghirup kenangan yang membuat saya rindu untuk selalu kembali dan kembali lagi. Saya belum pernah mencapai Argo Dumilah, apalagi Argo Dumuling, tapi membaca kisah ini membuat saya merasa berhasil mencapai puncak Lawu. Menapaki alur yang indah, sekaligus mencekam dan penuh tantangan. Lost in Lawu bukan kisah pendakian biasa, namun juga kisah pengkhianatan, ketamakan, persahabatan, sekaligus ziarah kehidupan. Kisah-kisah yang hanya akan didapat oleh mereka, yang benar-benar melakukan perjalanan dalam kesejatian.

(Ary Yulistiana- penulis novel Sonnenblume &100th dragonfly)
Oya, untuk yang mau order daripada penasaran, sila mampir ke website ini:

http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Lost_In_Lawu

Resensi buku Tolak Bala, Menepis Bencana dengan Lantunan Doa

Foto0666

Judul Arab          : Raddul Bala’ Biddu’a
Penulis               : Musthofa Syaikh Ibrahim Haqqi
Penerbit              : Darul Hadhoroh Lin Nasyr Wat Tauzi Riyadh
Penerjemah         : Ibnu Abdil Jamil, Arif Munandar
Cetakan Indonesia : September 2006
Penerbit                 : Wip (Wacana Ilmiah Press)

Manusia dan ujian (bala) adalah saling beriringan. Darul dunia (negeri dunia) ini sejatinya adalah tempat ujian bagi manusia. Sedangkan jannah adalah tempat tak ada lagi ujian, namun merupakan kampung pembalasan bagi orang beriman. Sebaliknya, neraka adalah tempat kesudahan bagi manusia-manusia yang tidak beriman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : amat baik perkara seorang muslim itu. Apabila dia diberi kesusahan dan ia bersabar, maka ia mendapatkan pahala atasnya. Dan apabila dia diberikan kemudahan kemudian dia bersyukur, maka pahalanya atas hal tersebut.
Dari hal di atas, kita bisa melihat pula pola yang terjadi pada orang-orang shalih, nabi dan para syuhada lainnya yang merupakan kekasih Allah, orang yang sangat dicintai Allah. Mereka juga tak lepas dari yang namanya ujian dan bala. Namun yang membedakan merkea dengan manusia biasa adalah bahwa mereka mampu menyikapi adanya bala dan ujian itu dengan tindakan yang proporsional (baca: sesuai syariat Allah). Artinya, tindakan tersebut mampu mengembalikan ridha Allah kepada merka atau bahkan bisa meningkatkan derajat keimanan mereka menjadi lebih baik lagi. Dan hakikatnya Allah sendiri memberikan ujian kepada manusia adalah untuk mereka menjadi lebih baik tingkatannya.

Disebutkan dalam hadits, bahwa seorang yang tidak bisa beramal kebaikan. Melainkan ia diberikan cobaan hingga ia bersabar dan ia mencapai derajat yang tinggi karena rahmat Allah taala. Jadi ia menjadi hambanya yang mulia justru karena ujian yang diberikannnya itu.

Buku terbitan WIP (Wacana Ilmiah Press) ini memberikan poin-poin penting kepada kita bagaimana kita bersikap menghadapi ujian dan bala yang terjadi pada diri kita. Ketika saya membuka buku ini saya langsung mendapatkan jawaban dari kerumpegan yang terjadi pada hidup saya. Kemudian saya mengambil sikap untuk beristigfar dan berdoa memohon diberikan kemudahan dan kelapangan akan persoalan pada hidup saya.

Jadi artinya ketika membuka buku ini pertama kali, kita pun akan mendapatkan solusi dari Syaikh Ibrahim Haqqi.
Ada beberapa bab penting di dalam buku ini. Dimulai dari pengertian bala secara bahasa dan secara syarak. Kemudian aplikasi dalam al quran dan assunah, tentang solusi mengatasi bala dan doa-doa yang dianjurkan. Lebih meruncing lagi, tentang bagaimana cara memanjatkan doa yang sesuai sunnah, apa faedah doa, implementasi doa berkeanaan dengan cobaan, beberapa persoalan terkait dengan cobaan.

Kemudian diberikan ilustrasi bagaimana para nabi adalah kekasih Allah sedangkan mereka juga tidak semata hidup lempeng-lempeng saja. Mereka juga diberikan ujian dan cobaan. Sekaligus diberikan pemaparan bagaimana mereka berdoa dan membuat ridha Allah dengan keteguhan iman mereka.

Pada bab akhir, kita diberikan tuntunan beberapa doa yang dilantunkan oleh rasulullah saw, seperti doa tertimpa bencana dan kesusahan, doa untuk meraih khusnul khatimah, doa saat melihat orang lain tertimpa doa, dan potret doa para salaf. Sekaligus juga diberikan tentang buah dari doa tersebut.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca indonesia ini. Pelbagai ujian dan kesusahan silih berganti mendatangi negeri ini. Sudah saatnya kita menggerakan diri untuk kembali mencari ridha Allah taala. Marilah kita beristigfar atas segala kesalahan yang kita perbuat. Istigfar ini juga menjadi jalan kemudahan bagi kita agar doa kita diterima. Kemudian juga berdoa sungguh-sungguh, terutama di waktu yang mustajab, insya Allah segala hajat dan kesusahan kita akan diberikan jalan oleh Allah yang maha penyayang. Bahkan Allah mencela orang yang enggan berdoa sebagai orang yang sombong. Dan sebaliknya Allah mencintai hambaNya yang menadahkan dua tangan kemudian melantunkan doa dengan lirih serta berharap serta yakin doanya akan terkabul.

Saya cuplikan beberapa doa untuk mendatangkan rejeki dan harta serta melunasi hutang.

اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدِ كِبَرِ سِنيِّ وَانْقِطَاعِ عُمْرِي
“Ya Allah, jadikanlah anugerah rezeki-Mu yang paling lapang untukku saat usiaku tua dan menjelang penghabisan umurku.” (HR. Hakim)

اللّهُمَّ فَارِجُ الهَمِّ, وَكَاشِفُ الغَّمِّ, وَمُجِيْبُ دَعْوَةِ المُضْطَرِّيْنَ, رَحْمَانُ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ وَرَحِيْمُهُمَا أَنْتَ تَرْحَمُنَا فَارْحَمْنِي بِرَحْمَةِ تَغْنِينِي بِِهَا عَنْ رَحْمَةِ مِنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, Dzat yang melapangkan kesedihan, Penghilang kesusahan dan yang mengabulkan doa orang-orang yang terdesak. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang di dunia dan akhirat, Engkau yang mengasihi kami, maka kasihanilah diriku dengan kasih sayang yang membuatku tidak membutuhkan lagi kasih sayang selain Engkau.” (HR. Hakim)

Kisah Kemuliaan Wanita

SKSR

Wanita mempunyai kedudukan mulia dalam kehidupan manusia. Ditegaskan dalam Al-Hadits, yang pertama kali harus dimuliakan adalah ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian bapak. Hadits ini masyhur dan tak ada perbantahan ulama.
Buku Secangkir Kopi dan Sepotong Roti (SKSR) mengejawantahkan pekerjaan mulia para perempuan, khususnya seorang ibu atau perjuangan seorang ibu. SKSR merupakan buku kumpulan kisah perempuan yang ditulis dari beragam profesi perempuan. Tidak melulu ibu rumah tangga, namun semuanya berwatak satu: peran seorang ibu dalam menyokong kehidupan ini.
Pilihan ini ditegaskan oleh Widi Astuti, yang menceritakan pilihannya untuk menjadi full time mother. Padahal dulu, dia adalah seorang wanita karier yang sukses. Gaji dan pengalaman yang menantang di luaran. Tapi Widi merasa bangga dengan pilihannya karena pekerjaan seorang ibu lebih jauh mulia dan berpahala daripada seorang wanita karier biasa yang akhirnya lebih banyak meninggalkan peran seorang ibu.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjadi seroang ibu. Dalam kisah To Be A Great Mommy, Nicole bercerita perihal dirinya yang ditinggal ibunya, dan harus mengasuh adiknya Kyle yang baru kelas 2 SD. Ketika ditinggal pada usia yang muda, 14 tahun, Nicole telah belajar banyak dari ibunya. Ketika ia menikah dan akhirnya mempunyai anak, ia mempunyai semangat dan berharap dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarganya. Seperti tuturannya, “Ini bukan soal berapa lama kau hidup mendampingi orang yang kaucintai, tapi tentang betapa banyak manfaat dan ilmu yang kaubagi kepada mereka.” Ia mendapat intisari hidup dari pengalaman dan perannya sebagai seorang ibu. Dan semua itu tak lain ia dapat dari ibunya dahulu. Continue reading

Patologisme kepada Bunga

sonnenblume(1)

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.
Continue reading

Novel Jihad nan Liris >> Review “Jurai” Guntur Alam

Review jurai oleh Andri Saptono untuk Festival Sastra Solo yang diadakan Pawon, 22 Feb/23 Feb 2014

Judul buku :Jurai
Penulis :Guntur Alam
Tebal :vii + 300 hlm
Penerbit :Gramedia
Cetakan :Maret 2013

re_buku_picture_86641

Kata Jurai bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang-orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal maka akan dikatakan: Itu jurai orang tuanya. seperti pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohohnya. Namun makna jurai lebih universal. (Footnote hlm. 8) Saya mencoba membandingkan kosa kata ini dengan sukerta, dalam kosmologi Jawa yang berarti ‘tanda lahir buruk’ semacam sifat genetis (gawan bayi) yang dibawa si anak yang kelak membuatnya mengalami nasib buruk, celaka, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Misalnya, anak ontang-anting (anak tunggal) atau anak kembar dampit. Dalam kosmologi Jawa, anak yang membawa sukerta ini harus diruwat, dibersihkan dengan cara menanggap wayang yang lakonnya tertentu. Tentu ini bukan persoalan sederhana. Bukan hanya biaya nanggap wayang itu mahal, namun jiwa kemerdekaan anak dipasung dengan kisah dongengan seperti itu yang sama sekali tidak bermanfaat dan membawa mudharat. Bahkan hal seperti ini dimanfaatkan beberapa orang untuk memancing di air keruh, memasang jasa untuk meruwat dengan tarif mahal dan sangat bangsat sekali membodohi masyarakat seperti itu.
Tetapi dalam novel jurai, sang penulis memaparkan tentang kisah kemiripan si tokoh (Catuk), seorang anak laki kelas V SD yang mirip dengan bapaknya. Kemiripan ini adalah jurai dan sukerta yang kelak bisa membawa bala. Kelak suatu saat, tepatnya pada pada suatu siang di musim kemarau, Ebak—ayah Catuk—tiba-tiba pulang ke limas—rumah adat Sumatra Selatan—dalam keadaan tanpa nyawa. Padahal pagi harinya, dia dalam keadaan baik-baik saja, segar bugar tanpa kurang sesuatu apa. Ebak masih bisa menemani Catuk mandi di Sungai Lematang, bahkan masih sempat memboncengkan anak bungsunya itu ke sekolah, sebelum meneruskan perjalanan dengan sepeda kumbang menuju kebun karet milik Toge Nagap yang biasa Ebak sadap (halaman 4). Diceritakan pada bab-bab awal itu Ebak meninggal karena diamuk babi hutan.
Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terkuak. Ebak menemui ajal bukan karena diamuk babi hutan, melainkan karena ditabrak sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap, sang majikan Ebak. Toge Nagap berbuat dusta agar tak terkena perkara. Toge Nagap meminta pegawainya yang saat itu berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) mengarang dusta perihal penyebab kematian Ebak bahwa Ebak mati diserang babi hutan. Sementara itu, Toge Nagap yang mengetahui Emak buta huruf, justru membuat surat pernyataan yang berisi Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Hal ini adalah kekhilafan Emak yang tidak bisa baca tulis yang membuatnya mau membubuhkan cap jempol di surat itu (hlm. 109-110).
Hal ini semacam sindiran bahwa kebanyakan majikan yang busuk akan melahirkan anak-anak yang ceroboh dan busuk pula perilakunya. Jika ini dimaksudkan sebagai pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” kiranya ini lebih tepat untuk perkara negatif ini.
Persoalan lain tentang poligami atau kesetaraan gender coba diselipkan penulis dalam novel ini pula. Seperti sudah jatuh kena tangga, ketika hari berduka itu belum sembuh, pada suatu petang, limas Catuk kedatangan tiga orang asing dari Palembang. Mereka itu terdiri dari seorang wanita beserta dua anaknya. Setelah berbasa-basi, mengakulah wanita itu sebagai istri kedua Ebak. Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong, lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Continue reading