Menghidupkan Lagi Dangkrong Indah

dimuat di Gagasan Solo Pos
dsc_0169
Pasar Nglano dan Dangkrong Indah (DKI) adalah dua entitas yang saling koheren. Saya masih ingat ketika presenter TATV, Wawin dan Mamang, yang syuting “Blusukan Pasar” di Pasar Nglano waktu itu. Para ibu pedagang pasar dengan jenaka ngaturi (Jawa, menawari dengan halus) dua presenter TV yang kocak itu untuk mampir ngalor. “Mampir ngalor” ini tentu saja adalah mampir ke lokalisasi Dangkrong. Dan rupanya dua presenter ini juga paham tentang keberadaan lokalisasi Dangkrong yang terkenal itu. Bahkan, secara ikonik Dangkrong ini lebih terkenal daripada pasar Nglano yang berdekatan dengan Pabrik Gula Tasikmadu tersebut.

Menurut sejarahnya dulu lokalisasi itu berkait paut dengan kisah para pekerja di pabrik gula Tasikmadu. Keberadaannya yang sangat dekat dengan lokasi mess para pekerja menyimpan simpul yang saling terkait. Sebagian para pekerja di jaman itu setelah gajian biasa diam-diam pergi ke lokalisasi yang sudah berdiri puluhan tahun di tanah pemerintah Kabupaten Karanganyar tersebut. Sebaliknya, ada juga bakul jamu (baca: bakul jamu nyambi PSK) dari lokalisasi yang dulu sering menyambangi dan masuk ke area pabrik Gula Tasikmadu, terutama saat tanggal gajian pekerja.
29102014030
Menghidupkan kembali Dangkrong Indah adalah bagian dari nostalgia pasar tradisional. Namun, jangan buruk sangka dulu. Menghidupkan bukanlah kembali mendirikan lokalisasi Dangkrong yang kini sudah tergusur itu. Sebenarnya, nama Dangkrong adalah sebuah akronim dari sendang ngerong. Keberadaan sendang itu sendiri berada tepat di utara pasar Nglano. Mata air sendang tersebut menjadi agung (melimpah) ketika musim hujan yang juga dihuni oleh ikan-ikan lele dan kutok. Sebaliknya, air sendang akan kering ketika musim kemarau. Dan saat itulah terdapat rong (lubang kecil) yang menjadi persembunyian ikan lele dan kutok tersebut agar tidak mati kekeringan.

Konon, sendang ini berkait-paut dengan dua buah sendang besar yang lain yang juga di daerah Karanganyar. Mitos ini dibumbui kisah misteri lele besar yang sering diberi makan para pengunjung untuk ngalap berkah. Beragam motivasi mereka, ada yang ingin menang judi, PSK yang ingin laris pelanggannya, ataupun motivasi temporer lainnya.
Secara substansif Dangkrong adalah sendang penjaga air di desa Nglano. Pohon-pohon besar mengitari sendang tersebut menjadi penyimpan air hujan dan peneduh bagi para pengunjung pasar. Makna menghidupkan kembali Dangkrong di sini sangat relevan dengan pembangunan pasar Nglano yang sedang berlangsung. Area sendang yang luas dan asri ini bisa dijadikan semacam rest area yang teduh dengan komplek mushola di tempat tersebut. Bahkan, selain rest area juga bisa ditambahi semacam ruang nostalgia pasar Nglano tempo dulu dengan memajang potret dan miniatur Pasar Nglano tempo dulu yang bisa memberikan edukasi tentang pasar tradisional terhadap masyarakat. Pasar sejatinya bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, namun telah menjadi denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Continue reading

Advertisements

Gunung Lawu; Sepotong Keajaiban Surga Di Dunia

gunung-lawu
Salah satu yang unik, kontur muka gunung Lawu mirip wajah perempuan yang sedang tidur. Ya, biarkan ia lelap dalam mimpinya. Kau hanya harus melintas dengan tenang, membiarkan ia dalam kedamaiannya. Seorang peziarah atau pendaki tak pantas menganggu kedamaiannya. Hanya orang bodoh yang tak paham tata karma akan merusak pemandangan gunung ini dengan kotoran dan sampah.

Gunung Lawu ini sebagaimana dalam kalam Al-Qur’an adalah pasak yang menjaga agar bumi ini tak runtuh. Jika kalian paham, kalian akan sangat bersyukur dengan adanya gunung Lawu ini. Ia bukan sekedar paru-paru dunia, cagar alam atau, bukan pula sekedar tempat menyimpan air. Ya, ia adalah pasak bagi bumi ini agar tak hancur.

Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl adalah sebuah keajaiban surga di dunia. Ia mewujud sebagai kosmos kecil dalam wujud yang mengada: gunung. Mereka yang ingin mengenali diri mereka masing-masing silakan datang ke sini. Kuatkan niat kalian menjadi manusia bumi saat mendaki puncaknya. Setiap perjalanan, setiap jengkalnya akan menjadi pelajaran bagi kalian. Dan keberhasilan itu akan menjadi hakiki setelah kalian mengetahui makna manusia bumi, khalifatullah alam ini.
poster
Akan kuperkenalkan tiga puncak keindahan dan kemegahan gunung ini.

Argo Dalem
Di tempat ini terdapat petilasan Raja Brawijaya, raja Majapahit. Di puncak ini ia menepikan dirinya (madheg pandhita) dan moksa kembali kepada Tuhannya.

Argo Dumilah
Di tempat ini pelayan sang raja, Naya Genggong, ikut moksa. Ia di daulat menjadi Sunan Lawu. Berujud burung jalak dan menjadi pengingat bagi para pendaki tersesat agar ia tetap ingat. Terkadang memang semangat akan bertumbuh dengan hadirnya burung-burung yang menghampiri pendaki tersesat seperti yang pernah saya alami. Saat itu hujan badai itu saya hampri putus asa. Tidak tahu apakah saya kuat terus menanjakkan kaki hingga puncak. Saat itu nyaris sepi tak ada manusia dan pendaki lainnya.

Dalam keputusasaan itu, alhamdulillah, saya berjumpa dengan seekor jalak yang tiba-tiba menukik turun ke depan langkah saya. Ia menatap saya, seperti berbicara. Menguatkan saya untuk tetap melangkah. Karena jika berhenti, mungkin saya akan hipotermia, mati. Saat itu tangan sudah gemetar dan ngilu karena dingin.

Burung itu menebarkan semangat yang mulai muncul. Rasa persahabatannya pada saya membuat saya terus melangkah. Alhamdulillah, saya menjumpai sebuah pos V. Ya, saya akan terus mengingat saat itu. Saat-saat yang mendebarkan dan melahirkan kembali diri saya ketika telah sampai puncak.

Argo Dumuling
Di tempat ini para pelayan, Sabda Palon, juga moksa. Moksa adalah pergi ke nirwana tanpa raga. Dan kebahagiaan apa yang bisa dicapai dalam wujud fatalistis itu? Oh, saya hanya membayangkannya. Bagaimana sebuah roh tinggal dalam gunung dan menjaga di sana. Barangkali itu adalah sebuah kebaikan.
Dan banyak tempat lagi di gunung ini. Tentang Warung Mbok Yem, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda atau tempat-tempat lainnya. Aku ingin bertutur banyak hal tentang gunung ini. Namun kata-kata biarlah berangkat dalam rahasia. Aku hanya ingin mengantarmu lewat aksara di pintu gerbangnya. Selebihnya adalah kisah pendakianmu dan ziarah ke dalam dirimu sendiri.
Ah, sebagai penutup aku ingin mengutip seorang Syekh dari Arab yang diajak jalan-jalan ke Lawu, ia berkata. Hadzihi jannah… ini adalah sebuah surga. Ya, ia benar. Gunung Lawu adalah sebuah Keajaiban Surga di Dunia…
banner_blog

Lupa Kusalami Umar Kayam

sajak Puitri Hatiningsih

Aku layang-layang kertas kejauhan di atas Yogya. Aku
pejalan laki yang menghentikan bus,
motor, mobil mewah, setengah mewah, dan kuda-kuda. Semua
tak berhenti
tapi aku merasa tidak terlalu ingin bunuh diri, karena aku ada di
Jalan Malioboro,
di jalan ini orang tak harus merasa sangat kecewa dan salah,
seperti lima mahasiswa yang berlalu dengan happening art-nya,
dan orang-orang tak peduli.
malamnya aku masuk ke pesta perpisahannya Umar Kayam di
Purna Budaya Bulak Sumu. Aku makan dengan bebas,
bergabung dengan mahasiswa tanpa kawan, tak ada yang
peduli meski aku belum mandi, orang-orang kondang wangi
berseliweran, misalnya Ratih Sanggarwati.
dan aku anak perempuan jalanan tanpa ada yang harus
disapa. dengan kaos oblong cokelat bertuliskan SLANK,
aku lupa mengulurkan tangan, meski berdekatan juga kepada
Umar Kayam yang sedang duduk menyaksikkan orang orang
di pesta terakhirnya.

Pamit Pensiun Umar Kayam Juni 96

Mengapa Air Mancur Laser di Karanganyar?

dimuat di joglosemar

Karanganyar berbenah, mematutkan diri sebagai kota kabupaten yang moncer dan modern. Segala upaya pembangunan dipusatkan di tengah kota agar bisa ada center area yang modern dan menarik. Kini pembangunan air mancur modern model Wing of Times mulai diagendakan. Pembangunan itu memerlukan dana besar, 2,5 milyar. Sungguh, ini adalah sebuah angka yang besar untuk pembangunan sebuah air mancur yang konon terinspirasi dari air mancur di Singapura. Masyarakat diharapkan akan datang ke tempat ini dan menonton air mancur ini. Karep besar ini ingin membuktikan bahwa Karanganyar lebih modernis dan maju, tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya, dan air mancur ini tentu lebih hebat dari sekedar air mancur di Gladak itu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota ini, memang selama ini pembangunan alun-alun sebagai public space terus digalakkan. Dari mulai perobohan kantor perpustakaan Karanganyar dan gedung informasi yang keduanya dipindahkan dari tempat tersebut. Yang agak memprihatinkan adalah nasib Perpustakaan Daerah Karanganyar yang masih nebeng di aula kelurahan Cangakan. Setelah sebelumnya perpustakaan ini sempat nebeng juga di bangunan bekas Rumah Sakit Kartini Lawas.

Bagi masyarakat pecinta buku dan ikut tergabung dalam komunitas Pakagula Sastra di Karanganyar, saya masih merasa belum paham mengapa keberadaan perpustakaan di Karanganyar masih sulit untuk diterima. Dalam artian, tidak mempunyai gedung sendiri, padahal pustakawannya juga ada, kemudian pegawainya juga ada beberapa. Namun mengapa pusat informasi dan pengetahuan tersebut selalu harus bernasib memprihatikan. Sejak saya ikut pertama kali menjadi anggota perpustakaan Karanganyar ketika masih di alun-alun Karanganyar yang menginduk gedung Kodim, saya terbiasa dengan keluhan bahwasanya banyak buku baru tidak bisa terdisplay karena tidak muat atau karena tempatnya kurang representatif. Tapi, inipun terus berlanjut, selepas dari bupati Rina Iriani yang terjerat korupsi, nampaknya perpustakaan daerah masih belum bisa diwujudkan dengan baik di Karanganyar. Dengan ini pula indikator kemodernan dan kemajuan suatu kota sebenarnya bisa dipertanyakan. Atau memang pemerintah sekadar mengejar keindahan artifisial yang tidak substansial dan emoh dengan perpustakaan yang kisut dan berdebu itu. Continue reading

Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

dimuat di Solo Pos 27/4

Bank-Plecit-Dilarang-Masuk-Padukuhan-Jambon-1-370x277
Desa dan Bank Plecit
Istilah bank plecit, atau lintah darat dulu lebih masyhur dikenal daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawari pinjaman dengan cepat, dan tanpa administrasi yang ribet –cukup dengan jamiman fotocopy KTP saja. Penampilan mereka pun nyaris stereotif sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil tagihan kepada para nasabahnya. Biasanya mereka lebih suka menyamperi ibu-ibu yang bergerombol entah sedang petan kutu atau sekedar nangga. Begitulah realita yang terjadi di desa saya, dan beberapa desa lainnya di Karanganyar.
Desa menjadi tujuan para bank plecit beroperasi. Seperti desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara tetapi dengan bunga yang mencekik leher. Ibu-ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan selebihnya masuk menjadi nasabah para setan kredit itu.
Pertumbuhan koperasi simpan pinjam baik yang berbadan hukum resmi atau abal-abal semakin banyak di Jawa khususnya. Terutama bank plecit hanya ingin mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa. Kenyataan di lapangan, penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang seringkali kesingsal dengan perubahan jaman. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para Bank Plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya. Continue reading

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner

bancakan-bisnis-jabarcom

dimuat di Solo Pos (14/2)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.
Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup. Continue reading

Patologisme kepada Bunga

sonnenblume(1)

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.
Continue reading