Mengembangkan Budaya Tulisan Melalui Smartphone

menjadi 10 finalis di lomba tulis Gagdetan.com

gadgets

Adalah sebuah keprihatinan melihat banyak pengguna gadget membatasi diri pada ritus budaya budaya cangkeman (lisan) yang instan. Keakraban dengan gagdet sebatas budaya sms-an dengan kata yang amburadul dan jejaring sosial hanya dipenuhi dengan status tak bermutu yang mereduksi intelegensia manusia.

Sebaliknya mengembangkan budaya menulis yang standar dan kreatif akan mengembangkan kemampuan kita baik dalam menulis, berpikir, merumuskan pikiran serta menyampaikan pikiran dengan cara yang tepat. Semua itu bisa dimulai dengan smartphone yang tepat pula. Jangan hanya menyerah sebatas budaya cangkeman, tapi kita harus lebih maju selangkah. Kita harus mengembangkan diri kita dengan budaya menulis yang lebih formal namun tetap kreatif. Caranya dengan menghadirkan smartphone khusus untuk menulis. Artinya manfaat itu tidak hanya dapat dinikmati para penulis atau jurnalis saja, tetapi orang awam pun bisa belajar menulis dan mengembangkan diri lewat tulisan.

Sebagai seorang penulis yang mobile ke mana saja, kadangkala ada banyak peristiwa yang ingin saya catat. Sebuah peristiwa menarik yang telah berlalu jelas tak bisa dikembalikan lagi. Harus pada momentum yang tepat itu. Dan saya memikirkan bagaimana sebuah tablet atau smartphone khusus yang bisa mengakomodir kebutuhan seorang penulis seperti saya. Setiap fitur menyediakan kemudahan saya dalam mengambil video atau memotret dengan resolusi tinggi, memadukan tulisan dengan gambar, video atau mp3, dan tak kalah penting fitur menulis itu sendiri. Kemudian semua itu dimudahkan dengan aplikasi internet jaringan tinggi sehingga kita mudah menguploadnya ke dunia maya. Semacam smartphone yang lebih dekat kepada blog namun lebih praktis daripada blog. Hal itu tentu saja harus didukung template yang menarik agar tidak membosankan. Syukur-syukur, kita bisa mengcustom tampilan tersebut khas karakter kita. Misalnya warna batik yang kita ambil dari budaya kita sendiri, atau grafiti jalanan yang merupa kan simbol perlawanan anak muda sekaligus kritik sosial. Continue reading