Tragedi Cinta dalam Sastra


(Resensi Kumcer Balada Bidadari, Yuditeha)
Resensi andri saptono*

Judul buku : Balada Bidadari (kumpulan cerpen)
Penulis : Yuditeha
Penerbit : Kompas
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 133 hlm

Menulis adalah menjauhi rasa sakit dan merayakan cinta (Atmokanjeng)

Menulis cerpen sastra yang bertemakan cinta tragedi adalah pekerjaan ganda sekaligus. Penulis diharuskan berpikir dan juga merasakan nasib tragedi cinta para tokohnya. Yuditeha, dalam antologi cerpen, Balada Bidadari (2016), yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini, menulis kisah cinta para tokohnya yang terkadang di luar logika sekaligus berusaha memasukkan empati di dalamnya. Penulis seperti ini memang tidak banyak yang berhasil, Yuditeha sedikit saja yang berusaha ajeg agar cerpen itu menarik dibaca juga tidak sepi makna.

Cerpen yang terbaik dalam antologi ini, Rusmiyati, mengisahkan balada cinta seorang penari wayang orang. Ia jatuh cinta pada seorang tokoh pejabat yang menurut Rusmiyati adalah sosok Arjuna baginya. Rusmiyati pasrah saja ketika ia hamil dan tak bisa menuntut apa-apa dari sang kekasih itu karena lelaki itu sudah berkeluarga. Konflik ini menjadi tidak biasa, karena justru orang lainlah, sang aku tokoh, yang memposisikan sebagai kacamata norma dan nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri. Padahal, Rusmiyati, melakoni cinta yang “bermasalah” itu dengan berbunga-bunga.

Lebih menarik, adalah Yuditeha bermain-bermain dalam dekonstruki cerita rakyat yang sudah terkenal di Jawa. Ada dua cerita rakyat di antologi ini yang juga bertemakan cinta. Kisah Sangkuriang dengan dongeng Tangkupan Perahu (digubah menjadi Lelaki Sampan), dan kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari (Balada Bidadari). Ketika cerita ini digubah menjadi kisah kekinian, Yuditeha membuat alur yang gotik. Bidadari dengan sayap patah, patung, seniman patung, cemburu, pertengkaran menjadi warna yang suram. Atau ketika Sangkuriang yang awalnya flamboyan menjadi murung justru ketika ia bertemu “cinta sejatinya”, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Dari kedua cerpen ini Yuditeha lebih menekankan unsur psikologis pada konflik antar tokohnya bukan pada kesaktian tokoh yang biasanya menjadi daya pikat dari cerita rakyat.

Kisah wanita gila yang dipasung Yuditeha menjadikan kisah itu lebih menarik. Dalam Kesepakatan Gila dan Kesepakatan Gila II, wanita yang dipasung itu sebenarnya tidak gila. Ia hanya membuat ide konyol dengan kekasihnya agar disangka oleh kedua orang tuanya gila. Namun, kesepakatan ini melemparkan dirinya pada tragedi serupa kisah Romeo dan Juliet. Pembaca dilambungkan para harapan tertinggi bahwa kedua pasangan ini akan bisa bersatu setelah mendapat halangan yang bertubi-tubi. Namun dalam kedua cerpen ini yang merupakan gabungan satu kisah, Yuditeha mengakhiri kisah cinta keduanya dengan tragedi. Kita menjadi berprasangka, bahwa tragedi ini sebenarnya cermin bagi pembaca agar melihat sisi terburuk jika cinta itu coba dibinasakan, yang kemudian akan menjadi pelajaran bagi kita.
Dari 20 cerpen di buku antologi ini, Yuditeha, tampaknya karib dan akrab dengan tokoh-tokohnya, baik itu nama maupun lelakon yang dibawakan dalam cerpen-cerpen ini. Namun, sedikit kritik adalah dalam cerpen Hotel Nusa, Kamar 103, yang mengisahkan sepasang kekasih bunuh diri agar cinta mereka kekal. Kita mafhum dalam kisah bunuh diri adalah gambaran was-was, samsara, perdebatan batin yang tak selesai, serta kegamangan luar biasa baik dari segi psikologi dan medis, namun dalam cerpen ini cenderung perdebatan serta rasa sakit itu hampir tak nampak sekali. Seakan lakon bunuh diri adalah sebuah kenikmatan yang mudah dicapai, padahal itu adalah sebuah “lakon tersuram” dalam garis hidup manusia.

Yuditeha telah berhasil mengangkat tema cinta dalam antologi cerpen, Balada Bidadari ini, justru karena ia telah mampu berjarak dan membiarkan tokoh-tokohnya mengeksekusi kisah cinta mereka sendiri-sendiri. Selamat berbahagia pembaca dengan membaca dan belajar dari kisah cinta tragedi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s