Nyala Mata Ibu di Mata Akik Kamidi


Gosip menggosip, gunjing menggunjing adalah sebagian keahlian para ibu-ibu warga kampung Gaum. Gosip murahan tentu yang digemari para ibu-ibu itu. Tidak di arisan atau belanja sayur di warung, gosip itu telah menjadi bara yang membakar rumah, kampung, bahkan langit sekalipun!

“Kasihan Yu Saerah, Simboknya Kamidi itu sekarang buta. Harta anaknya yang segudang penuh ndak bisa membuatnya melek lagi!”

“Tak perlu kasihan. Itu kan akibat polah tingkahnya dulu sewaktu muda?”

“Emang dia ngapain, Yu?”

“Masak belum dengar sih? Dia kan punya perjanjian dengan jin Bandungan!”

Begitulah, gosip murahan disebar dan diberitakan seakan sebuah makanan dari langit untuk warga kami. Puncaknya sebagian warga menuduh bahwa Yu Saerah punya ingon-ingon[1] jin yang sekarang mengambil matanya.

***

Sebagai anaknya, Kamidi, merasa tidak terima Simboknya difitnah sedemikian keji. Dia ngudarasa[2] di sarasehan kampung yang digelar setiap malam Purnomo Sidhi[3] itu.

“Bapak-bapak yang saya hormati, saya di sini ingin mengutarakan kegundahan saya. Sebagian bapak-bapak ini mungkin sudah tahu, atau malah seluruh kampung ini sudah tahu. Tolong nasehati istri-istri panjenengan semua! Jangan suka menggunjing dan mengghibah Simbok saya! Malah, kalau boleh dikata ini sudah jatuh fitnah dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Peserta sarasehan itu sama kasak-kusuk.

“Ya, semua panjenengan di sini pastilah sudah tahu. Simbok saya yang sakit mata glukoma[4] tidak bisa melihat digosipkan punya perjanjian dengan jin Bandungan hanya gara-gara saya menjadi kaya setelah Simbok jatuh sakit itu. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Tahukah bapak-bapak mengapa saya bisa kaya?”

“Tidak tahu!!!” balas para warga.

Kamidi menghela napas panjang.

“Semua itu gara-gara batu akik yang saya jual ternyata laku ratusan juta. Bapak-bapak tahu sendiri kalau kami sekeluarga ini bisnis akik di rantau sana. Dan sekarang lagi demam akik dan batu mulia. Otomatis sekarang saya juga ikut merasakan madunya. E lhadalah, di sini kok malah Simbok saya digosipkan punya ingon-ingon dhemit padahal Simbok sakit glukoma.”

Sebagian warga manggut-manggut.

“Sudah jualan akik berapa lama, pak?” tanya seseorang yang lebih tertarik pada bisnis akik itu daripada klarifikasi Kamidi.

“Nanti akan saya terangkan. Tapi, tolong bapak-bapak pahamkan istri-istri panjenengan itu. Kalau saya tahu siapa yang menyebarkan fitnah ini, akan saya tuntut ke pengadilan. Saya punya uang dan yakin pasti menang di sana!”

Sebagian bapak-bapak itu merasa keder. Memang benar istri-istri mereka ikut terlibat dalam masalah ini.

“Wah, gawat. Kok malah sampai urusan pengadilan segala,” gerundel mereka.

“Maka dari itu bapak-bapak semua, tolong jaga suasana biar kondusif. Saya  tidak ingin berbuat jauh begitu kalau tidak dimulai dulu. Masih untung, kali ini saya maafkan.”

“Lantas, gimana bisnis akiknya, pak?” tanya warga yang ngeyel itu.

“Begini… akan saya ceritakan di sini..”

Jadilah sarasehan warga itu menjadi workshop bisnis akik oleh Kamidi. Semua orang dlongop[5] dan menetes air liurnya demi mendengar betapa mudahnya menyulap batu mulia menjadi uang beratus-ratus juta.

*****

Kamidi menuntun Simboknya dari kamar mandi menuju ruang tamu. Dituntun pelan-pelan dengan kasih sayang. “Simbok duduk di sini saja. Kalau mau pesan sesuatu bilang sama bi Ijah.”

“Siapa bi Ijah itu?”

“Pembantu, Mbok.”

“Kamu sudah punya pembantu sekarang?”

“Iya, Mbok. Sekarang di rumah ini ada pembantu. Biar tidak repot.”

“Apa aku nanti akan dilayani pembantu terus, bukan anakku sendiri?”

“Ya, ndak seperti itu to, Mbok. Adakalanya saya kan repot. Jadi biar pembantu yang mengurusi.”

“Terserah kamu. Tapi jangan mentang-mentang sekarang kaya dan punya pembantu, terus kamu menelantarkan Simbokmu sendiri. Ingat Le, uang itu tak bisa membeli segalanya.”

“Iya Mbok. Kamidi akan ingat itu.”

***

Bisnis Kamidi memang menjanjikan. Sekarang batu akiknya diburu orang. Kamidi juga bukan pemain baru. Harga yang ia berikan kepada pelanggan di atas 30 jutaan semua. Warga desa yang mendengar itu ikut berdecak kagum.

“Wah, hebat tenan si Kamidi. Tapi, sayangnya kok nggak eling[6] kanca ya.”

“Padahal dulu kita sama-sama kanca angon wedhus[7] di lapangan.”

“Pasti Simboknya juga ditelantarkan. Eh, kabarnya dia sekarang punya pembantu. Dua pembantu malah. Yang satu bi Ijah, orang tua itu. Yang satunya lagi Meisa namanya. Dari Sragen. Orangnya cantik.”

“Wah, jangan-jnagan si Kamidi itu ada main sama pembantunya…”

“Ya, bisa saja to. Orang punya duit banyak?”

“Kok istrinya diam saja ya?”

“Ya, paling istrinya juga main gituan. Hahaha…”

Semua orang tertawa di warung itu. Memang semua sudah ketularan penyakit ghibah yang sukar disembuhkan.

***

Hari itu Kamidi sedang mendapat telepon rekan bisnisnya dari Jepang. Om Suswoyo itu penggemar barang antik, tosan aji, dan batu mulia. Ia rupanya mendengar juga kesuksesan Kamidi yang menyetor batu akik kualitas tinggi.

“Kalau bisa kamu kirim barang yang terbaik buat aku.”

“Oke, bisa om. Kisaran harga berapa om.”

“Harga berapa saja aku mau. Yang penting di bawah 1 m.”

“Wah, sampeyan pemain kelas kakap ternyata, om.”

“Iya lah. Kesempatan ini harus segera diambil. Mungkin dua bulan lagi demam akik sudah tidak ada lagi. Hahaha…”

“Betul juga. Nanti akan saya carikan dulu. Kalau dapat akan saya kabari.”

Simbok Kamidi yang mendengar percakapan itu merasa tidak nyaman. Ia merasakan firasat tidak baik pada anaknya. Ya, entah mengapa semenjak matanya tak bisa melihat ini, terkadang malah ia bisa merasakan yang tidak kasat mata. Dan kali ini merasa sesuatu yang gelap sedang mendekati anaknya.

“Tadi siapa, Le?”

“Om Suswoyo dari Jepang. Pelanggan lama. Tapi sekarang saya kalah moncer dengannya.”

“Tapi perasaanku kok tidak enak ya, Le.”

“Simbok ndak usah khawatir. Tenang saja, Kamidi akan mengurus semuanya dengan lancar.”

“Kamu kalau berbisnis jangan terlalu dhuwur-dhuwur. Sing ati-ati.[8]

Namun Kamidi melanjutkan insting bisnisnya. Tak peduli dengan nasihat Simboknya. Ia pun mencari referensi beberapa penjual akik yang kondang. Pakdhe Timur Suprabana ia hubungi dan mas Yunus dari pasar Beringharjo ia juga telepon. Pendeknya, semua orang yang ia kenal ia sudah sambangi semua, baik lewat telepon atau ketemu langsung. Namun kebanyakan mereka juga kehabisan stok. Sebaliknya, om Suswoyo terus mendesak agar segera mengirim.

“Sudah dapat belum? Ini sudah dua hari lho. Kalau kamu lelet kamu akan kalah dalam bisnis.”

“Ya, tenang dulu om. Sabar, akan segera saya siapkan!” Tak mengira om Suswoyo begitu agresif begitu. Ia jadi membenarkan dirinya mungkin termasuk orang yang lelet berbisnis. Buktinya, om Suswoyo yang agresif sekarang sudah berada di puncak bisnisnya.

“Kalau kamu kurang modal. Ini tak kirimi modal 40 juta dulu. Tapi, tiga hari harus sudah kirim yo? Berani tidak?”

Kamidi terpancing. “Ya, boleh saja, om. Tapi, kok harus pakai panjar dulu sama saya.”

“Bukan soal itu. Kalau kamu tiga hari tidak kirim, aku denda kamu seratus persen dari panjarku. Berani tidak.”

“Gimana ya, om?”

“Oalah, Kamidi. Kalau kamu ragu, kamu akan kalah. Tapi, kalau kamu tidak mau, tak kasihkan temanku saja. 1 milyar kok masih ragu-ragu.”

Kamidi menyanggupi. “Baik om! Silakan transfer. Tiga hari akan saya kirim barangnya.”

“Yakin?”

“Ya, saya yakin.”

Kamidi sudah menyanggupi. Selang berapa menit kemudian, dilihatnya kiriman transfer di pesan hape androidnya.

Tapi, sekarang Kamidi bingung, kemana ia akan cari barang. Pakdhe Timur yang terkenal jualan barang akiknya bahkan sudah menyerah.

“Kamu itu ngoyak-ngoyak kayak mandor wae[9]! Kalau tidak mau sabar, ya sudah” Begitu ia malah dibentak oleh pakdhe Timur.

“Nggih, ngapunten pakdhe.”

Kamidi malah bingung. Hal itu diketahui Simboknya yang sedang mendengarkan pengajian di radio. Seperti sebelumnya Simbok Kamidi menyarankan agar tidak melanjutkan transaksi kali ini.

“Kamu jangan ngoyo Kamidi. Ingat pesanku kemarin.”

“Ah, ibu. Bukannya ngoyo[10]. Tapi ini kesempatan I milyar. Eman-eman[11] kalau dilewatkan, Mbok.”

“Bisa saja itu semua tipu daya buat kamu..”

“Alah, Simbok ini terlalu berlebihan. Sudahlah, tidak usah mencampuri urusan bisnis. Soal ini Kamidi yakin ini tidak keliru.”

“Kamu tidak merasakan Le… kamu telah keblinger ambisimu…” suara Mbok Saerah meninggi dan pandangan matanya yang buta itu sampai menyala.

“Ah, sudahlah Mbok. Saya mau pergi dulu. Kalau perlu sesuatu bilang ke Ijah saja.”

Kamidi tak mau dinasihati. Ia buru-buru mengemudikan mobilnya keluar dari garasi. Tapi, saat di pintu gerbang ada mobil mewah yang hendak masuk ke halamannya. Siapa tamu itu ia tak tahu. Tak ada yang hendak kencan datang ke rumahnya.

Kamidi keluar dari mobil. Tamunya itu dua orang berjas hitam. Salah satunya menenteng koper.

“Selamat siang. Betul ini rumah pak Kamidi?”

“Betul, saya sendiri. Ada perlu apa ya?”

Kedua orang itu mengulurkan tangan. Mereka mengaku penjual batu mulia dari Pacitan.

“Kok saya tidak mengenal ya. Pasti pemain baru,” timpal Kamidi.

“Oh, tidak. Kami sudah lama di bisnis ini,” jawab si kacamata yang bernama Kunto.

Kamidi mengamati kedua orang itu. Benar, ia tak mengenal dua nama itu. Bisa jadi mereka pemain lama. Tapi mengapa tidak kenal. Pakdhe Timur juga tidak merekomendasikan nama itu.

“Darimana anda tahu nama saya dan tinggal saya di sini?”

“Oh, anda kan sudah terkenal. Jadi siapa yang tidak tahu?” jawab lelaki gemuk yang bernama Bambang.

Sejenak Kamidi merasa bombong[12].

“Kami ke sini ingin menawarkan barang istimewa. Ada sepuluh batu mulia di sini. Tapi, ini bukan sembarang batu.”

“Ah, apa sih. Saya sudah kenal semua batu, masak saya tidak tahu,” tukas Kamidi. “Boleh dilihat?”

“Tentu saja.”

Koper itu dilihat. Sekilas batu itu seperti amber atau bacan.

“Harganya berapa ini?”

“Saya akan lepas 1 milyar. Nego hanya seratus saja dan itu buat jenengan kalau bayar cash.”

Kamidi sejenak ragu tentang batu itu. Tapi ia juga ingat dengan transaksi dengan om Suswoyo yang mendesak.

Kamidi memeriksa batu itu. Kebetulan sekali transaksinya akan berjalan mudah. Aku tinggal menyetor saja, sudah beres, aku dapat laba 100 juta, pikir Kamidi.

Namun, Kamidi sejenak ragu. Ia tak biasa secepat ini bertransaksi. Ia harus memeriksa semua batu itu dulu.

“Ada sertifikatnya kan?”

“Oh, tidak. Jenis batu ini langka. Sengaja tidak kami sertifikatkan. Kami tidak mau batu langka ini diketahui pemerintah,” jawab Kunto.

“Ya, kan di satu sisi biar meyakinkan kalau ini tidak palsu.”

“Jadi Anda menuduh kami ini penipu?” Kunto meradang.

“Maksud saya tidak begitu, mas,” Kamidi heran mengapa mereka marah.

“Baik kalau ragu kami akan pergi sekarang,” timpal Bambang.

“Lho bukan begitu mas. Kok tidak paham to?”

“Anda yang harus menghormati kami! Biaklah, kalau anda percaya, kesempatan ini hanya untuk hari ini. Kalau mau bayar silakan di depan sekarang. Kalau tidak, kami akan langsung pergi. Kami harus berhati-hati membawa barang seperti ini.”

Kamidi terdesak juga. Ingat bahwa besok ia harus segera kirim barang ke Jepang. Om Suswoyo akan mendendanya kalau ia ingkar janji.

“Apa saya bisa panjar dulu?” tanya Kamidi.

“Kalau tidak berani, tidak usah beli mas. Kami hanya bertanrasaksi dengan cash saja.”

Kamidi makin bingung.

“Kalau tidak beli, kami akan pergi sekarang,” ucap Bambang. “Ayo kita pergi.”

Keduanya bangkit. Kamidi terpancing.

“Tunggu! Ya, saya akan beli.”

Trasansaksi akhirnya terjadi. Kamidi membayar sepuluh batu akik itu dengan harga 900 juta. Setelah transaksi barang segera dikirim ke Jepang. Dengan sigap Kamidi mengirim BBM. Jawaban dari sana, sip, sudah ditunggu. Kamu betul-betul tepat waktu. Hebat! Nanti akan aku segera cek.

Lega rasanya transaksi berhasil. Kamidi memanggil istrinya dan Simboknya di ruang tengah. Diceritakan transaksinya yang berhasil dan laba 100 juta.

“Sekarang, ayo kita makan-makan. Kita akan pesan makanan paling enak di kota ini,” ujarnya gembira.

Istrinya juga tak kalah. “Nanti, beliin kalung lagi ya mas. Kan bisa juga untuk simpanan. Harga emas terus-menerus naik lho.”

Kamidi royal kepada keluarganya kalau transaksinya bisnisnya lancar. Besoknya istri dan Simboknya diajak untuk memilih kalung emas itu.

“Ini baru rejeki sedikit. Besok kalau dapat orderan besar lagi akan kubelikan jangkar emas.”

“Ah, mas Kamidi itu kok senengnya nggedebus[13]!”

“Ya, siapa tahu. Mungkin besok kita akan jadi milyader.”

Namun di dalam mobil itu, Simbok Saerah merasa tidak enak. Ia merasa sedang dibuntuti mendung hitam seperti topan yang akan menggilas mereka.

“Kring….kring…” hape Kamidi berdering.

Kamidi mengambil hanphonenya. Dari om Suswoyo.

“Gimana om? Sudah sampai kan? Saya kirimnya pakai yang paling cepat.”

“Cepat gundulmu itu! Kamu mau menipuku!”

Bagaikan petir di siang hari Kamidi mendengar dampratan om Suswoyo. Semua barang yang dikirim Kamidi ternyata palsu. Semua barang itu hanya batu bacan dan amber olahan, bukan batu mulia jenis langka.

Gemetar tangan Kamidi. Ia segera menepi. Jantungnya bergemuruh kencang. Ndrodog[14] seketika.

“Bu, tolong ambilkan minum..”

“Ada apa, Mas?”

“Pokoknya cepat ambilkan minum….”

Istrinya mengambilkan minum botol itu. Segera air minum itu tandas di tenggorokan Kamidi yang garing.

“Ada apa Kamidi? Apa yang terjadi?” tanya Simboknya di belakang.

Diceritakan semua peristiwa itu pada Simboknya. Bahwa dia telah tertipu pada transaksi kemarin itu. Semua batu mulia yang ia beli adalah palsu.

“Aku kan sudah bilang kemarin Kamidi. Kamu tak mengindahkan.”

“Iya Mbok. Aku yang salah. Sembrono. Tidak ngati-ngati[15].”

“Terus gimana kita mas? Kita nggak jadi beli kalung, Mas?”

“Semprul kamu! Kita ketiban musibah, kamu masih minta kalung emas. Malah kalung emasmu itu kita jual nanti. Uang kita habis!”

“Oalah, mas….” Istri Kamidi seketika ambruk demi mendengar berita naas ini. Pingsan! Kamidi juga tak kalah memelas. Bingung dan panik dengan keadaan istrinya.

“Mbok…Simbok bagaimana ini, Mbok?” teriak Kamidi kacau.

Namun Bu Saerah tetap tenang di tempat duduknya. Matanya yang glukoma menatap ke depan dan berwarna merah seperti nyala api. Ya, nyala api itulah yang kemarin sempat mengingatkan Kamidi untuk menangguhkan rencananya menjual akik itu.

 

 

 

 

[1] Jawa, peliharaan.

[2] Jawa, curhat atau mengeluarkan unek-unek hatinya.

[3] Malam terang bulan, tanggal 15 penanggalan Jawa.

 

[4] Glukoma, penyakit pada mata karena tekanan air mata yang besar. Bisa menyebabkan kebutaan. Dijuluki Si Pencuri Penglihatan

[5] Jawa, takjub tanpa sadar sampai menetes air liurnya.

[6] Eling, Jawa, Ingat.

[7] Angon wedhus, Jawa, menggembala kambing.

[8] Sing ati-ati, Jawa, supaya hati-hati.

[9] Jawa, perintah-perintah kaya mandor saja!

[10] Jawa, tamak.

[11] Jawa, sangat disayangkan.

[12] Jawa, bangga.

[13] Jawa, omong kosong doang.

[14] Jawa, gemetar disertai keluarnya keringat dingin.

[15] Jawa, Hati-hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s