Belati Si Bromocorah

dimuat di Lombokpost

beruangsemenanjung.blogspot.com_

Kabar burung yang beredar pendatang baru yang tinggal di ujung komplek perumahan ini adalah seorang bromocorah. Ia pernah beberapa kali merampok toko emas dan sekali membunuh seorang preman di Jakarta. Kepulangannya ke Solo karena menjenguk adiknya yang ditahan karena kasus terorisme. Mengenai adiknya sendiri, setahu kami, dia jarang terlihat di rumah. Ketika sekali dua kali lewat ia hanya menyapa dan memberi salam. Tidak ada yang mencolok kecuali cara berpakaian ia berbeda dari orang kebanyakan. Namun ini kan soal selera sebenarnya. Jika dia bercelana cingkrang dan senang memakai baju koko itu merupakan pilihan dia.

Karena adiknya sudah di penjara, kami tak terlalu khawatir dengan hal itu. Tapi kami lebih memikirkan tentang si bromocorah dari Jakarta itu. Ketika ia datang ke warung memesan kopi, kami ingat bagaimana sikapnya yang mengesankan kewaspadaan tinggi. Seakan ia buron polisi yang sedang melarikan diri. Matanya sesekali melirik kami dengan tajam. Di lengannya terlihat tato dan beberapa bekas luka di lengannya. Tampaknya semua itu bekas perkelahian yang kejam bukan karena jatuh main sepedaan.

Ketika ia bicara suaranya berat. Senyumnya yang mahal membuat siapapun yang bercakap dengannya menjadi segan. Barulah ketika ia pergi dari hadapan kami, kami bisa bercakap dengan leluasa, seolah sebuah bom telah diambil dari tengah-tengah kami.

“Apa bener dia pernah membunuh seorang preman di Jakarta?” tanya Paijo membuka bicara. Paijo sendiri sebenarnya preman kampung juga. Tapi menilik bicaranya yang berbisik, jelas dia merasa keder.

“Aku juga pernah lihat sendiri belati miliknya, sangat menyeramkan. Seperti belati milik angkatan laut, panjang, khusus untuk bertarung dan membunuh musuh,” sahut Kentus membuat kami tambah membayangkan sosok si bromocorah menjadi sangat menyeramkan. Seperti sosok Rambo yang bertarung dengan musuhnya. Bagaimana ia membeset wajah atau memotong telinga serta gerakannya yang kuat memburaikan usus musuhnya. Darah kental yang ia jilati dari belati panjang itu.

“Nanti aku akan ambil potret belati itu. Kalian pasti akan takjub,” sambung Kentus.

“Bagaimana kalau kamu ketahuan? Heh, apa nggak takut dicincang kamu?” tanyaku.

“Ya, bagaimana caranya agar kamu tidak ketahuan?” sambung yang lain.

“Ah, itu gampang. Aku ahlinya.”

Semua orang tidak percaya dengan bualan Kentus, tapi benar saja. Tiga hari kemudian Kentus datang ke warung. Wajahnya sumringah alamat ia akan pamer sesuatu. Benar saja, ia membuka handphonenya yang berkamera 5 mega pixel itu. Sebuah gambar belati panjang, cukup panjang dari yang kami perkirakan, dengan gagang dari kayu hitam berkilat mirip katana Jepang.

“Bagaimana kamu mendapat gambar itu, Tus?” tanyaku.

“Aku kemarin menyelinap ke rumahnya ketika dia sedang pergi. He he…”

“Kamu berani sekali. Bagaimana kalau ketahuan. Kamu akan habis dicincang.”

“Tenang saja, aku tahu bagaimana membuka pintu tanpa merusak grendelnya. Aku dapat semua ilmu itu dari internet.”  Lagi-lagi ia terkekeh.

Tiba-tiba entah mengapa kami jadi memandang Kentus dengan waspada. Jangan-jangan ia sudah menyelinap ke rumah dan kamar kami tanpa sepengetahuan kami, lalu mengambil gambar privasi kami. Apalagi, kami kenal kalau Kentus itu suka melihat video bokep.

“Selain gambar ini kamu ambil apa saja. Jangan-jangan istri orang kamu potret juga!” selidikku.

Orang-orang jadi membenarkan. Wajah-wajah menjadi curiga.

Kalau benar, kamu tak cincang sendiri, Tus!” Karto yang terkenal cemburuan sudah mengeluarkan ancamannya.

“Tenang-tenang, aku tidak akan merusak rumah tangga sahabatku sendiri. Jangan khawatir. Sesama bala dilarang mengganggu. Hehehe..”

Tetap di dalam hati kami ada perasaan curiga, Kentus memang bukan orang yang bisa dipegang bicaranya.

Ketika di rumah, aku jadi memikirkan ketakutan-ketakutan kalau rumahku pernah dimasuki Kentus. Jangan-jangan ia pernah mengintip istriku mandi, atau lebih bejat lagi, mengambil gambar anakku yang perempuan sedang salin pakaian.

Huh, coba kuenyahkan bayangan itu. Walaupun aku tetap waspada kalau-kalau terjadi hal seperti itu. Selain lelaki bromocorah itu yang perlu kami waspadai, Kentus itu juga harus kami awasi.

Seminggu kemudian, ketika aku sedang berada di depan televisi, aku melihat berita tentang lelaki bromocorah itu lagi. Kali ini ia ditangkap ketika terjadi perkelahian di kota. Korbannya tewas dengan tubuh penuh tusukan belati.

Aku segera menghubungi yang lain agar melihat berita di televisi. Ngeri aku membayangkan bagaimana si korban itu berlumuran darah. Perutnya terburai hingga ususnya keluar. Sungguh pembunuhan berdarah dingin!

Bayangan belati itu membuat jantungku berdetak kencang. Apakah belati yang dipotret Kentus itu yang menjagal si korban?

Namun di televisi si lelaki bromocorah itu menolak tuduhan bahwa ia membunuh korban, yang ditengarai sebagai musuhnya itu. Dia berkilah saat itu baru keluar dari warung saat melihat kerumunan orang. Ia pun merasa ingin tahu. Saat mendekat itulah ia terkejut melihat sosok yang dikenalnya, yang tak lain musuhnya, sudah bersimbah darah. Tubuhnya tercincang dan ususnya terburai keluar. Dan tahu-tahu polisi sudah menyergapnya.

Ketika kami berkumpul di warung, topik itu segera menjadi bahasan hangat.

Benar-benar sadis. Sudah adiknya seorang teroris, kakaknya seorang bromocorah. Kukira keluarga itu bukan keluarga manusia lagi,” ujar Karto.

“Rasanya orang yang mampu memandang musuhnya kelojotan sekarat pasti pembunuh kejam,” sahut yang lain.

“Eh, ngomong-ngomong soal belati. Apa belati yang kemarin ditunjukkan Kentus itu yang mencincang orang di televisi itu?” tanyaku.

“Sangat mungkin sekali. Tapi kemana Kentus tidak ada di sini?” tanya Karto.

Kami semua menggeleng. Tumben Kentus tidak ada di warung.

“Bukti gambar belati itu malah bisa dijadikan polisi untuk memberatkan tersangka. Benar kan? Soalnya si bromocorah itu tidak mengakui punya belati,” kataku.

“Wah, benar! Kita laporkan saja hal ini pada polisi. Pasti itu akan membantu penyelidikan mereka,” tukas Karto. “Kalau begitu ayo kita ramai-ramai ke rumah Kentus.”

Kami berombongan ke rumah Kentus. Namun sampai di sana kami hanya mendapati pintu yang tertutup. Sepertinya semua orang sedang keluar.

“Tadi pagi aku lihat ada kok. Jangan-jangan dia tidur.”

Karto mencoba mengetok pintu itu. Sampai tiga kali masih saja pintu itu tertutup.

“Atau kita lapor saja ke polisi langsung. Biar nanti Kentus yang akan bersaksi di pengadilan agar memberatkan tersangka bengis itu,” usulku.

Kami pun berangkat bersama ke kantor polisi sektor. Segera kami menyampaikan yang kami lihat dan kami ketahui. Polisi berterima kasih atas bantuan warga masyarakat yang membantu penyidikan. Walaupun sebenarnya lebih karena geram dengan kejahatan yang marak berlangsung di sekitar kami. Rata-rata penjahat itu juga tidak malah kapok, tapi makin menjadi-jadi.

Kami pun merasa bangga, sambil membayangkan bagaimana jadinya hukuman bagi si bromocorah itu nanti. Yang pasti kami berharap hukuman yang seberat-beratnya.

Di perjalanan, kami tak sengaja bertemu Kentus. Rasanya sangat kebetulan sekali bertemu dengannya.

“Wah, sayang tadi kamu tidak ikut! Kami baru dari kantor polisi melaporkan belati si bromocorah itu sebagai barang bukti.”

“Barang bukti apa?” tanya Kentus heran. “Kalian bicara apa sih?”

“Kamu lihat soal pembunuhan di televisi itu kan?”

“Tidak. Memang siapa yang dibunuh?”

“Kamu harus lihat. Si bromocorah itu membunuh lagi dengan belati panjangnya itu. Dia mencincang korbannya sampai ususnya terburai. Kami ini baru saja dari kantor Polsek melaporkan belati itu. Buktinya ya dari foto kamu itu.”

“Apa?!! Kalian.. kalian lancang. Kalian telo semua!” teriak Kentus marah-marah.

Kami mengernyitkan dahi, sama tak paham. “Maksudmu telo gimana, Tus? Kenapa kamu marah begitu sama kami?”

“Soal belati itu!”

“Ah, kami kan hanya mempercepat penyidikan saja kok.”

“Kalian gila!” lagi-lagi Kentus berteriak. “Itu gambar palsu. Belati itu tidak ada sama sekali.”

“Ha..!!! Apa maksudmu?” Sekarang giliran kami yang berteriak.

Terus bagaimana kalau polisi itu datang ke rumah kita? Atau bagaimana kalau kesaksian kita benar-benar digunakan untuk menghukum mati bromocorah itu?” tanyaku juga ikut bingung.

Semua pertanyaan mengerikan itu mengepung kami. Sekarang yang kami bayangkan adalah nasib si bromocorah malang itu. Apalagi nasib bromocorah tersangka pembunuhan biasanya tak pernah jauh dari hukuman mati! Dan ujung pangkalnya itu semua gara-gara gambar belati palsu yang diunduh dari internet, sekedar buat mengesankan kami.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s