Ampo

dimuat di Republika
ujan-55f99a08179373c90d894bd9
Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran ini yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

“Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijasahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?”

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktifitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin mengambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji di sini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti jaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijasah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat hanya pelajaran umum saja.

Pun ia juga melepaskan diri dari pemerintah yang setengah-setengah mau membantunya. Memberi bantuan tetapi juga memotong untuk biaya administrasi, biaya ketebelece, dll. Mereka juga suka minta begini dan begitu kalau sudah merasa pernah memberi bantuan sesuatu. Mata pelajaran ini dihilangkan, yang itu ditambah, diganti kurikulum baru, pelajaran agama juga tak perlu banyak-banyak, sebagai selingan saja. Maka, si kawan guru Atma itu pilih berlepas diri dari pemerintah. Perusahaan tekstil dan kebun sawitnya di Sumatra itu ia jual untuk membuat sekolahan di kota Soloini.

Sekarang, 5 tahun berdiri sekolah ini masih tak banyak berubah. Jumlah muridnya hanya satu kelas semua. Kelas 1 satu kelas, kelas 2 satu kelas, dan kelas 3 satu kelas. Lulusannya bisa dihitung dengan jari setiap akhir tahun. Tapi sekolah itu tetap bertahan. Pemerintah juga enggan menutupnya. Mereka khawatir jika tak ada penduduk di kota ini yang sekolah, maka akan menjadi sorotan dunia. Mereka lebih takut dibully oleh netizen di medsos.

Guru Atma mengajar bahasa di kelas 1 sampai 3. Ia pun senang-senang saja. Tak peduli dengan gajinya. Atau jumlah jam mengajar. Ketika ia longgar, ia selalu mudah tergerak untuk berada di kelas dan mengajarkan tentang bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada anak-anak itu. Walaupun anak-anak kadang kala tak peduli, tak memperhatikan, memainkan gadget di kelas, atau malah ada yang bercumbu di WC guru. Guru Atma seberanya mengetahui hal itu. Tapi ia tetap tersenyum. Mengajar dengan cara yang tak biasa. Kadang anak-anak malah merasa heran dengan kebiasaan guru baru itu. Harusnya guru itu tak bertahan sampai setahun ini. Harusnya ia sudah hengkang dari dulu-dulu seperti guru-guru lainnya. Ataukah ia memang orang-orang gila seperti sang kepala sekolah yang suka berpenampilan mirip koboi itu?

Barangkali begitu, begitu anak-anak itu berpikir. Dan mereka tak peduli. Mereka pergi ke sekolah hanya karena ingin diberi uang saku, berkelahi, ingin mencuri makanan di kantin, atau karena ingin pacaran, dan ada juga karena ingin membalaskan dendam kepada guru yang telah membuat mereka mengerjakan PR, membalas mereka dengan menggembosi ban sepeda motor si guru itu, atau dengan menggergaji bangku dan meja guru. Ya, mereka senang datang ke sekolah hanya untuk membuat kekacauan. Pernah, salah satu murid senang sekali berhasil membuat seroang guru wanita terjerambab di lantai hingga menangis. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Si guru wanita menangis. Ia lari dan lapor kepada kepala sekolah yang memakai topi koboi itu. Langsung si kepala sekolah datang di kelas. Tanpa basa basi ia bertanya siap yang membuat guru itu menangis. Seorang siswa berkepala botak, badan gempal mirip petinju berdiri dengan seringai di mulutnya.

“Saya pak. Emangnya ada apa?”

“Bukankah kau sudah diajari agama di sini? Bahwa kalian tidak boleh berbuat jahat pada orang lain?”

“Ah, saya lupa semua pelajaran agama. Tak ada gunanya.” Ia tertawa.

Si murid tertawa. Ia terlampau percaya diri. Badannya memang lebih besar dan gempal. Sepintas kelihatanya tenaganya dua kali lipat tenaga si kepala sekolah itu.

“Kalau begitu. Kita buktikan di halaman. Kamu sama aku. Satu lawan satu! Siapa yang menang: yang jahat atau yang benar! Kita lihat apakah Tuhan itu atau tidak!”

Saat itu pula si guru Atma datang menengahi.

“Ayo kita bicara dulu baik-baik. Kita bicara dari hati.”

“Ah, persetan kau! Ini bukan pelajaran bahasa,” ketus murid itu.

“Kau dengar sendiri kawanku, mereka memang tak bisa diajari sopan santun sekarang.”

“Hei murid, aku beritahu, aku nasihati kau. Lebih baik kau mundur. Kau akan kalah dan babak belur. Apa itu yang kau ingin?”

“Ah, sudah diam. Badan kerempeng itu akan aku hantam hingga penyok dan jontor mulutnya!”

Betul-betul bersikeras itu murid. Pertandingan tinju dadakan digelar. Beberapa murid mengajak taruhan kawannya. Para guru menutup muka takut akan apa yang terjadi pada si kepala sekolah mereka.

Dan yang terjadi, begitulah terjadi. Si kepala sekolah cukup sekali saja menangkis pukulan si murid. Sesudah itu tangan itu ditangkap, dipiting, dan badan gempal itu dibanting di tanah. Si murid tak bisa bangkit. Dadanya sesak dan lima menit kemudian pingsan. Ia harus menjadi gotongan kawan-kawannya menuju ambulan yang tiba-tiba datang entah darimana.

Begitulah dua guru ini disegani di madrasah, dan juga di kota ini. Mereka berdua adalah guru yang aneh. Kadang kala karena aneh dan berbeda, warga suka mengolok-olok bahwa kedua guru yang berteman akrab itu sebenarnya alien yang tersesat di bumi.
***
Jam sebelas berdenting di belakang punggung guru Atma. Gerimis masih nggrejeh untuk pertama kalinya hujan selama satu tahun kemarau ini.

“Ini hujan pertanda baik atau buruk?” tanya suara yang tiba-tiba naik dari halaman. Pak kepala sekolah ternyata yang datang. “Sejak Magrib sampai sekarang masih gerimis tak mau henti-henti.”

Guru Atma tersenyum menatap tamannya yang datang, lalu kembali pada gerimis di halaman, sejenak beralih pada seekor katak bangkong yang keluar dari balik pot yang terbalik.

“Tanya pada bangkong itu. Dia pasti lebih tahu?”

“Andai saja ia bisa bicara, kawanku.”

“Tentu ia bisa bicara.”

“Ya, tapi aku kan tak tahu bagaimana bahasa mereka?”

“Oh, kau tak perlu menjawabnya. Cukup dengarkan saja.”
“Benarkah. Aku tak perlu mengajaknya bicara, cukup mendengarkan saja mereka berkata.”

“Ya, kita tunggu saja. Semoga saja ia mau bicara soal hujan sesore ini.”

Tapi, si katak bangkong tak mau bicara. Si bangkong hanya berdiam di halaman, membiarkan tubuhnya yang bintil-bintil seperti kutil itu terguyur gerimis. Sesekali lidahnya menjulur kalau ada serangga kecil atau nyamuk yang melintas. Makhluk-makhluk itu akan bermalam selamanya di perut sang katak bangkong itu.

“Sial! Ia sepertinya tak mau bicara!”

“Ya, bahkan bangkong itu pun tak mau bicara pada kita.”

“Ah, aku jadi takut dengan amsal hujan pertama kali ini kawan.”

“Tapi aku masih punya sedikit harapan baik. Aku masih punya firasat itu. Sang Pemilik Hujan tidak serta merta murka. Ia masih menanti kita menjadi orang baik yang disukai-Nya.”

“Tapi dari segi apa kau bisa bicara tentang harapan baik?”

“Ampo! Ya, kau bisa cium ampo tanah halaman ini?”

Si kepala sekolah mengangguk. Sementara guru Atma membuatkan kopi untuk kawannya. Sepertinya keduanya akan berbincang panjang tentang hujan di beranda ini.
***
“Ampo ini terasa gurih dan nikmat seperti masa kecil kita,” kata pak kepala sekolah.

“Ya, aku juga merasa. Semoga di tempat lain juga seperti yang kita rasakan,” tukas guru Atma.

“Ah, aku sangsi di kota terkutuk ini.”

“Tidak, tidak jangan sebut kota ini terkutuk. Kau yang mengajak aku ke sini. Kau sudah lama tinggal di sini. Aku tak mau mendengar ungkapan keputusasaan dari kamu.”

“Yah, begitulah, terkadang aku lelah saja. Maafkan aku.”

“Kau tentu masih ingat cerita yang disampaikan guru SD kita itu. Tentang dua orang pengendara yang datang ke suatu kota. Ketika mereka sama-sama kembali dan ditanyai tentang pengalaman mereka tinggal. Seorang menjawab bahwa kota itu busuk dan penduduknya jahat. Ia tak kerasan tinggal di situ. Sementara orang kedua ia menjawab bahwa kota itu menyenangkan, penduduknya ramah kepadanya. Dan ternyata kemudian diketahui bahwa yang membuat mereka tidak kerasan tinggal adalah diri mereka sendiri. Yang jahat tidak kerasan tinggal. Yang baik kerasan tinggal. Hati itu cermin pemiliknya sendiri-sendiri.”

“Ya, aku masih ingat. Karena guru itu pula aku dan kamu sepakat sesudah dewasa ingin mengabdi sebagai guru.”

“Ya, kau berhasil membangun sekolah di sini, bahkan tanpa bantuan pemerintah. Kau hebat.”

“Kau mau membantuku. Melepas karirmu sebagai pelukis potret. Itu membuatku bahagia dan berusaha untuk tetap tinggal di sini.”

Keduanya tertawa. Meminum kopi dan memakan ubi rebus dengan nikmat.

“Bau ampo ini pertanda kita tetap tinggal dan mengabdi di sini.”
***
Esoknya, hujan berhenti. Tapi siangnya ketika sekolah usai dan guru Atma mau pulang, hujan kembali turun. Di sekolah murid-murid sudah sepi. Tinggal beberapa guru. Tapi mereka ternyata memakai mantol. Hanya pak guru Atma yang tidak memakai. Bahkan si kepala sekolah itu juga tidak membawa payung.

“Kau tidak bawa payung?”

“Aku ingin berhujan-hujan. Aku ingin mencium bau ampo. Kau cium bau itu di halaman kan?”

“Iya, aku juga menciumnya,” jawabnya sambil menutup payungnya. Keduanya berjalan turun di halaman, membiarkan seluruh baju mereka basah oleh hujan dan bahkan buku-buku tas mereka.

“Ada sunnahnya untuk berhujan-hujan.”

“Iya, sudah lama kita tak melakukannya. Sunnah yang enak untuk berhujan-hujan begini.”

Mereka tertawa gembira.

“Mau mampir di tempatku lagi?” tanya guru Atma.

“Ah, gantian saja. Sekarang di tempatku. Istriku tadi membuatkan Sop Manten untuk mengenang 3 tahun pernikahan kami. Kau kuundang ke tempatku.”

“Dengan pakaian basah begini?”

“Tidak apa. Nanti kau bisa pakai kaos dan sarungku.”

Mereka tertawa berjalan keluar dari halaman. Anehnya, begitu keluar bau dari halaman halaman, bau ampo itu makin lama makin tipis. Bahkan hujan menjadi berbau amis dan jika jatuh di lidah air itu terasa anyir. Ini menakutkan keduanya. Mereka jadi bergidik ngeri.

“Tidak semua tempat seperti yang kita duga ternyata. Jalanan tidak bersahabat.”

“Bahkan taman bermain ini juga berbau sama. Menakutkan. Entah kerusakan apa yang terjadi di sini.”

“Tanda-tanda akhir jaman telah tiba. Semua didahului dengan keadaan begini. Ayo kita bergegas!”

Jalanan, taman bermain, pasar dan rumah-rumah sedikit sekali yang berbau ampo gurih.Rata-rata-rata berbau anyir dan amis. Keduanya bahkan berlari dari hujan yang seakan mengejar mereka. Berharap segera sampai di rumah kepala sekolah.

“Rumahmu terasa jauh sekali. Napasku kembang kempis. Sial napas rokok.”

“Lima belokan lagi. Kita harus tetap berlari.”

Keduanya berlari. Mereka kini bertudung buku dan tas dari hujan. Tak peduli dilihati oleh orang-orang yang menepi di pinggir jalan, perempuan pramuniaga yang seksi di toko-toko, dilihati anak-anak yang bermain di beranda rumah mereka, dilihati pemulung yang menepi di pojok halte.

Tapi orang-orang itu sudah mafhum dengan dua guru aneh itu. Konon keduanya seniman nyentrik. Sudah tua masih saja balapan lari saat hujan begini, seperti anak kecil saja! pikir mereka.

Dan di ujung jalan itu, terdapat sebuah rumah. Seorang perempuan menunggu di beranda masih dengan celemek di perutnya yang menutupi kehamilannya. Sebulan lagi ia melahirkan. Bayi itu konon adalah bayi pertama yang lahir setelah sepuluh tahun tak ada kelahiran bayi di kota ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s