Malèh

dimuat di Joglosemar
grumpy-grandpa

Pak Rosyid moncer karena kekayaannya. Tak ada orang yang tak kenal namanya. Kekayaan Pak Rosyid meliputi gudang beras di pojok desa, penggilingan padi, sawah berhektar-hektar. Pak Rosyid pun sudah naik haji dua kali. Ia mengatakan tidak ingin naik haji lagi setelah ini, mungkin umrah akan tetap ia lakukan setiap tahun. Dan semua orang tahu, kalau Pak Rosyid banyak bersedekah kepada orang miskin. Pun ketika lelaki itu jatuh sakit karena terpeleset di kamar mandi, yang menjadikan ia stroke, banyak warga kampung yang datang padanya.

Namun betapa warga itu heran mendapati bahwa Pak Rosyid yang terjatuh ke kamar mandi dan kepalanya terbentur oleh tembok berubah perangai seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi ganas jika orang-orang dekat padanya. Ia mencaci maki suster yang merawat dan meludahi dokter yang memeriksa kepalanya, dengan alasan ia tak mau kepalanya dipegangi oleh si dokter. Ia bahkan menyumpahi anaknya dengan kata-kata kasar, mengatai anak-anaknya itu berharap dia segera mati agar bisa mendapatkan hartanya.
Semua hal yang terjadi itu membuat prihatin semua yang melihatnya, tidak hanya anak-anaknya saja. Gegar otak bisa saja terjadi pada semua orang, namun mereka masih tak menyangka bahwa hal itu terjadi Pak Rosyid yang terkenal dermawan dan baik. Mereka berpikir seharusnya orang yang sering berbuat jahat saja yang pantas sakit seperti itu. Atau jangan-jangan Pak Rosyid itu juga sering berbuat jahat hingga diganjar sakit seperti itu. Ya, mungkin saja, karena siapa yang tahu dibalik kebaikan yang ia berikan pada warga, ada ulat di dalam hatinya. Buktinya, ia berhasil memenangkan tender jalan kampung, atau proyek jembatan kampung sebelah. Sawahnya yang dibeli untuk tower celular, atau yayasan sekolahannya yang mendapat bantuan Bank Dunia satu milyar. Pastilah semua itu bukan kebetulan belaka. Pasti karena ia kong kalikong. Dan kini, semua akumulasi kejahatan itu mengumpul di otaknya hingga ia berubah perangai menjadi jahat. Begitulah pendapat masyarakat, yang dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mulai memikirkan dibalik ihwal sakit Pak Rosyid. Tidak melulu prihatin saja, namun juga ada pihak yang tampaknya benci dan mengungkit cela orang terkaya di kampung itu.

“Biasanya kalau orang jatuh dikamar mandi, itu sudah alamat,” kata Parto di warung Yu Parmi saat wedangan.
Yang lain diam mendengarkan. Pembicaraan tentang Pak Rosyid semakin bertambah gayeng.
“Apa kalian tidak ingat si Wagiman yang stroke selama lima tahun, kemudian karena habis ongkos untuk berobat terus gantung diri. Atau Si Legiman yang bablas edan. Hampir semua orang yang jatuh di kamar mandi tak bisa sembuh, entah itu stroke atau lainnya.”
“Tapi kan Pak Rosyid kaya. Bisa bayar suster. Dan bisa bayar orang untuk nyebokin jika Pak Rosyid mau buang hajat,” tukas Paijo, pemuda kampung yang pengangguran itu.
“Walaupun begitu, uang tidak akan berarti apa-apa. Sekali keluarga kita ada yang sakit seperti itu, rasanya seluruh nikmat yang kita punya hilang seketika,” tukas Parto lagi.
“Iya bener juga. Moga-moga kita ini jadi orang waras, nggak kena sakit apapun,” ujar Yu Parmi sok netral.
***
Pak Rosyid pagi itu baru saja berak di celana. Anaknya meminta untuk celana itu diganti. Tapi Pak Rosyid bersikeras tidak mau.
“Biar saja. Kamu itu pura-pura baik kalau aku sudah mau mampus. Sana pergi! Aku tidak mau diganti celana sama kamu. Panggil Tini itu ke sini.”
Sebenarnya Tini adalah suster yang dibawa oleh anak Pak Rosyid untuk merawat ayahnya. Tetapi yang terjadi Pak Rosyid kini lebih percaya kepada Tini daripada anak-anaknya sendiri. Pak Rosyid sering ngudarasa atau menyampaikan keluhan di hatinya kepada suster bayaran itu.
Tini sendiri kadang salah tingkah, anak-anak Pak Rosyid bukan tidak tahu hal itu. Ketika Tini sendiri, mereka datang dan menanyai apa yang ayahnya katakan. Tini kadang sulit menjawab, apalagi kalau Pak Rosyid hanya menjelekkan anak-anaknya. Tapi, Tini mencoba menyampaikan yang patut didengar oleh mereka saja. Ia tak ingin memperuncing masalah yang ada.
“Eh, Tini. Kamu harus pengaruhi ayah. Bilang kalau kita itu sayang sama Ayah. Ayah tidak boleh berprasangka buruk kepada kita,” begitu si sulung membisiki Tini.
Tini patuh. Ia menyampaikan hal itu pada si Pak Rosyid yang saat itu lagi-lagi ganas menjelekkan anak-anaknya.
“Mereka itu sebenarnya musang berbulu domba. Jangan percaya sama omongan mereka. Aku tuh sudah kenyang makan asam garam, jadi tahu banyak karakter orang.”
Tini tetap menganggap semua akumulasi kekesalan itu karena anak-anak Pak Rosyid selama ini tak dekat dengan ayahnya. Mereka punya kesibukan sendiri di luar dan rumah tangga masing-masing. Mungkin rasa kesepian yang membuat hati Pak Rosyid keras kepada anak-anaknya.
Namun telah terjadi sesuatu yang besar. Tini yang kelabakan. Pasalnya Pak Rosyid meminta Tini untuk jadi istrinya. Alasan Pak Rosyid, ia hanya mau dirawat oleh Tini dan tak mau oleh siapapun. Tidak juga anak-anaknya!
Anak-anak Pak Rosyid panik. Tidak boleh menuruti hal itu. Tapi apa yang akan mereka lakukan pada ayah mereka.
Mereka coba membujuk Tini agar menolak kemauan ayahnya.
“Kamu jangan mau Tin. Ayah sekarang sedang tidak sehat, dan permintaan itu karena sakitnya. Lagipula dengan sakit seperti itu, apa untungnya buat kamu, ia cuma akan merepotkanmu saja dengan sakitnya itu,” kata si Sulung.
“Sebenarnya bukan karena itu Mas. Tapi saya takut, nanti jika Bapak akan terus menerus menanyakan hal itu dan meminta jawaban dari saya. Apa yang harus saya jawab agar tidak membuat Bapak marah.”
“Kamu bilang apa adanya saja. Bilang kamu sudah menikah.”
“Saya nggak mau bohong Mas. Saya belum menikah kok.”
“Ah, itu bisa diatur. Ayah kan tidak tahu. Dia tak pernah pergi kemana-mana.”
“Saya tetap nggak mau berbohong Mas.”
“Bilang saja kalau kamu sudah dilamar orang.”
“Tetapi saya …”
“Alah, jangan banyak pertimbangan. Itu satu-satunya alasan yang bisa membuat Ayah mundur.”
Tini bingung. Ia coba bertanya pada teman-temannya yang seprofesi.
“Ah, itu rejeki nomplok Tin. Jangan sia-siakan. Anak-anaknya jelas menghalangi kamu karena takut hartanya jatuh pada kamu bukan mereka.”
“Saya malah jadi bingung, Mbak Narsi.”
“Percaya saja dengan keberuntungan kamu itu. Itu sudah nasibmu. Beda dengan nasibku. Tiap hari aku diomeli majikan. Ini salah itu salah! Setiap hari terus mencaci maki aku. Bikin kuping panas saja.”
Tini makin jadi bingung. Jujur saja, ia tak pernah mengangankan hal yang muluk-muluk. Dulu ia cuma lulusan SMP. Dapat kursus merawat orang sakit dari kelurahan. Dan sebulan kemudian ia dapat pekerjaan di rumah orang kaya. Tapi ia tak pernah menyangka akan serunyam seperti ini.
“Ah, ini salahku. Aku harusnya tak menerima pekerjaan itu dulu. Tapi, kalau aku tak menerima bekerja, aku terus di rumah mau apa. Simbok terus menerus membujukku agar bekerja di pabrik. Aku malah tidak suka pabrik. Di sana banyak perempuan yang dilecehkan sama mandor. Aku tak mau kerja seperti tetanggaku Murti itu yang nyaris diperkosa mandornya. Apalagi temanku dan aku itu cuma seorang perempuan, mau melawan tidak berani. Takut dipecat, takut masalah akan jadi panjang. Apa yang harus kulakukan?”
Tini mencoba berpikir dan menimbang apa yang ia lakukan. Namun, tak kunjung jawaban yang ia peroleh.
Dan Pak Rosyid kembali meminta jawaban Tini esok harinya.
“Bagaimana Tin, kamu mau atau tidak jadi istriku. Selain sakitku yang membuatku tidak bisa menggerakkan kakiku, yang lainnya masih aktif kok. Kamu sudah lihat sendiri kan kemarin sewaktu kamu mandiin aku itu.”
Pipi Tini bersemu merah. Ia tahu yang dimaksudkan Pak Rosyid itu, bahwa penisnya masih bisa ereksi.
“Ayo jawab, kamu jangan diam saja.”
“Tini masih bingung Pak.” Tini masih bingung
“Kenapa harus bingung? Aku akan mencukupi kebutuhan kamu. Aku masih punya banyak harta. Biarpun aku tidak bekerja selama sepuluh tahun, aku masih bisa tetap memberi makan kamu dengan hartaku itu.”
“Tapi, saya tidak bisa Pak… saya.”
“Apa maksudmu, kamu tidak bisa? Apa artinya kamu menolak?”
Pak Rosyid memang tak biasa ditolak, tidak oleh siapapun, sekalipun camat atau gubernur. Apalagi ditolak Tini.
“Kalau kamu ingin mempertimbangkan dulu, baiklah aku beri kamu waktu. Tapi jangan lama-lama. Lebih baik diterima daripada getun mburi .”
Rupanya Pak Rosyid tak mau menyerah.
Di rumah Tini, bicara sama Simbok dan Bapaknya.
“Bener kamu yakin mau jadi TKW, Nduk? Kok mendadak, gitu?”
“Iya Mbok, Tini dapat tawaran menarik dari teman-teman Tini yang sudah kerja di sana. Katanya, gajinya besar. Dekat dengan Mekkah lagi. Tini pengin sekali lihat Mekkah, Mbok.”
“Tapi kamu harus ngati-ngati, Nduk. Ayah dengar banyak juga yang tak kerasan di sana gara-gara majikan kasar dan kejam.”
“Iya Pak. Tini akan hati-hati.”
Dalam hati Tini, memang tak yakin jadi TKW akan membuat ia menjadi tentram. Tapi ia hanya ingin menjauh dari Pak Rosyid. Ia hanya takut jika ia kembali dihubungi olehnya dan akan banyak masalah yang besar. Jujur, ternyata jadi perempuan itu gampang-gampang susah.
Mendapat kabar dari Tini sendiri yang ingin jadi TKW itu, Pak Rosyid marah-marah pada anak-anaknya. Pak Rosyid menyalahkan dan menuduh anak-anaknya pasti yang menghalangi. Dan sejak saat itu Pak Rosyid mengunci kamarnya. Ia tak mau ditemui siapapun. Pekerjaannya hanya memandangi jendela. Tak ada keserian lagi di wajah itu. Ia sudah tak peduli lagi dengan hartanya. Di matanya hanya terbayang wajah Tini yang kampungan yang entah mengapa makin membuat ia mabuk kepayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s