Rhapsody Petang Hari

Tetiba petang merambat malam tanpa terasa. Hendramasih berada di kantor. Ia yang terakhir. Semua pekerja lainnya sudah bergegas pulang. Takut kedahuluan hujan yang mulai sering turun di awal November ini.
“Krinnnnngg….. kring……kringg..!!”
Handphonenya berdering. Nadya, istrinya, yang menelpon. Pasti segera menyuruhnya pulang.
“Halo! Mas, cepat pulang ya. Jangan nglembur lagi. Aku takut di rumah sendirian nih.”
“Iya, ini aku hampir selesai. Tidak ada lemburan kok.”
“Jangan mampir-mampir lagi.”
“Iya!”
Telepon ditutup Hendra. Agak kesal juga. Istrinya mulai sering baper di awal kehamilannya. Ditambahi pula omongan tetangga bahwa rumah kontrakan mereka berhantu.Tapi, mau gimana lagi. Ia tak bisa pulang sekarang. Kantor menjelang akhir tahun selalu repot.Pekerjaanyang diamanahkan kepada dirinya makin menumpuk.
Ah, rasanya ia pun mulai ikut-ikutan baper.
Diliriknya jam di dinding. Sudah setengah enam. Magrib sudah menjelang. Hendra menghela napas. Pekerjaan belum terlihat berkurang.

***
Nadya berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu. Tangannya mengipas-ngipassobekan kardus untuk mengusir peluh yang meleler di dahi dan lehernya. Maklum rumah kontrakan baru sempit. Udara gerah.Suaminya yang belum pulangmenambah kesal.
“Pasti nglembur lagi. Apa tidak pekerja lain sih selain mas Hendra!” gerutunya.
Dijangkaunya jus dingin di atas meja. Sengaja ia nekad minum es saat hamil 3 bulan pertama ini walaupun dilarang oleh dokter. Taktahan dengan udara gerah.
Diteguknya es jus itu hingga tandas.
“Aduh,kenapa lama sih. Sabar ya adek. Ayah, sebentar lagi pulang kok,” katanya kepada perutnya sendiri yang membuncit.

***
Seorang anak kecil pedagang koran jalanan. Memanfaatkanmacet yang mengular panjang di kala sore menjelang magrib seperti ini. Koran yang ditawarkan sebenarnya adalah koran pagi yang tak laku dijual. Seribu perak saja. Murah.
“Koran…koran…koran…”
Diketuknya setiap pintu mobil yang berhenti di lampu merah. Ditawarkannya pada pengendara sepeda motor. Pada semua orang yang melintas di jalan protokol itu. Tidak hanya dia seorang, ada pedagang asongan, pengemis, dan beragam kaum marginal penghuni jalanan itu.
Sebenarnya ada yang istimewa dari si Budikecil ini. Ia menjual koran di kala sore sedangkan paginya bersekolah. Ayahnya seorang pemulung.Berangkatkerja pagi dan pulang tatkala malam. Mereka tinggal di sebuah rumah tidak permanen bersama orang-orang pinggiran lainnya di bantaran kali besar itu.
Ya, kemacetan hampir terjadi setiap hari di jalan ini. Dan dari kemacetan inilah Budikecil mencari peruntungannya.
“Koran..koran!!”
Budi menyelip di antara kendaraan yang melaju lambat. Sesekali ada pengendara sepeda motor tidak sabaran. Mengklakson Budi yang baru menyebrang. Bahkan, tak jarang pengendara yang tergesa-gesa menyrempet pedagang jalanan seperti si Budi. Bagi mereka, pedagang itulah yang salah. Jalanan bukan tempat untuk berjualan.

***
Tepat pukul enam Hendra keluar kantor. Kunci dititipkan kepada pak satpam. Lelaki yang biasa dipanggil pak Brewok itu pulang pukul 12 malam. Berganti dengan penjaga shif malam di kantor biro jasa iklan ini.
“Hati-hati mas Hendra. Mbahsaya bilang kalau sore tidak baik berkendara di jalanan. Pamali. Mending istirahat atau sholat dulu,” kata pak Brewok yang amat memegang tradisi Jawa.
“Istri saya sendirian di rumah Pak. Bawaannya baper baru mengandung anak pertama. Saya harus buru-buru. Nanti sholatnya adi rumah saja.”
“Oh, gitu. Yang penting hati-hati mas.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Satpam itu menutup pintu gerbang. Ia lantas berkeliling memeriksa semua pintu terkunci atau tidak. Diperiksanya dengan teliti semua ruangan apakah ada aliran listrik yang menyala sia-sia.

***
“Aduh, kok tidak diangkat-angkat sih. Dimana sih mas Hendra?”
Nadya kesal suaminya tidak mengangkat panggilannya. “Sudah jam enam lagi.”

***
“Apa lagi sih!Orang di jalan malah ditelpon.”
Hendra menepi sambil merogoh telepon yang berdering dari balik saku jaket.
“Tett…tettttttttttttt….”
“Pakai mata kalau nyebrang!!” teriak si sopir truk pasir yang hampir menabrak Hendra.
Hendra menghela napas. Semua pengemudi hanya ingin menang sendiri. Tak mau mengurangi kecepatan. Padahal ia tadi juga sudah berhati-hati. Menyalaikan sein ingin menepi. Huh, dasar pengemudi truk gemblung!
Ternyata panggilan itu sudah berakhir. Hendra hanya menghela napas.

***
Pak satpam Brewok tiba-tiba menemukan sebuah dompet di meja Hendra.
“Wah, mas Hendra kelupaan dompetnya. Waduh, gimana sih. Sudah dibilangin jangan tergesa-gesa.”
Si satpam buru-buru keluar dari ruangan dan mengunci pintu. Di pos gardu ia duduk sambil mengambil handphone kantor. Dicari nomer kontak Hendra.
“Semoga belum jauh dari kantor…”
Ditelepon nomer itu…. Tersambung…tapi belum diangkat.
***
Budi kecil yang menjajakan koran bersama yang lain menyerbu ke jalan ketika lampu merah menyala.
“Koran-koran…”
“Yang dingin…yang dingin… kacang godhok… tahu Sumedang om…”
“Rokok…rokok….”
“Aqua…”
“Minta sedekahnya, den…minta uang buat makan… matur nuwun….”
Beragam kaum marginal menuju ke jalanan. Jalanan tambah macet. Padat merayap. Klakson sebentar-bentar menyalak tanda tak sabar. Gerutuan di mana-mana. Beberapa orang nekat membuka helm. Gerah. Pusing!

***
“Aduh mas Hendra, kemana sih… aku kan takut sendirian di rumah kontrakan ini. Palagi kata tetangga rumah ini berhantu…” Nadya terus mengeluh. Ia nekat keluar ke halaman. Menunggu di sana. Tak berani masuk lagi ke dalam rumah lagi. Waktumagrib sudah hampir berlalu.
“Lebih aman aku di sini saja daripada di dalam.”

***
“Apa lagi sih. Kenapa nelpon lagi!” Hendra terpaksa menepi lagi dengan kesal. Diperhatikan semoga tak ada pengemudi di belakang. Akhirnya ia berhasil menyebrang.
Diambilnya handphone dari balik jaket. Ternyata panggilan dari kantor.
“Halo…”
“Halo mas Hendra. Ini dompetnya ketinggalan. Apa sudah jauh dari kantor?”
“Aduh, gawat…” Hendra menyadari ketelodorannya. “Iya pak. Tadi saya tergesa-gesa.”
“Ini dimana?”
“Sudah jauh dari kantor pak.”
Hendra sejenak berpikir. Di rumah istrinya juga tak bawa uang. Mau tak mau ia harus kembali ke kantor.
“Baik pak. Simpankan dulu. Ini saya mau balik.”
Sebelum kembali ke kantorHendra menelpon istrinya. Tersambung.
“Halo….sayang…”
“Kenapa belum pulang sih mas… ini aku tidak berani di dalam rumah.”
“Ini aku masih di jalan. Kenapa tidak masuk ke dalam? Magrib-magrib malah di luar.”
“Aku takut sendirian, mas. Palagi kata tetangga rumah ini berhantu. Aku takut…”
“Ah, jaman sekarang tidak ada hantu-hantuan. Itu cuman ada di sinetron!”
“Lha mas Hendra dimana sekarang?”
“Aku masih di jalan. Dompetkuketinggalan. Harus balik lagi ke kantor.”
“Jangan lama-lama lho!”
“Ya.”
Hendra segera menstarter sepeda motornya kencang. Kesal dan rasanya ingin marah. Ia harus segera ke kantor dan pulang ke rumah. Beberapa pengemudi yang disalip olehnya berteriak-teriak.
“Dasar kampret! Ugal-ugalan di jalan.”
Hendra tak peduli. Dompet sial. Kenapa harus ketinggalan, gerutunya.Terbayang juga wajah istrinya yang berdiri di halaman tidak berani masuk ke rumah.

***
Jalanan makin padat merayap. Apalagi ditambah banyaknya anak jalanan yang bersliweran. Polisi entah kemana. Semua atsmosfer ini bercampur menjadi satu. Dan semua tinggal menunggu waktu. Meledak dalam kemacetan jalan raya. Kecelakaan. Kejahatan di jalan. Pengemudi ugal-ugalan.

***
Hendra menggeber sepeda motornya. Ia harus cepat sampai di kantor.

***
Budi kecil mengetuk pintu setiap kaca mobil yang tertutup. Berteriak kepada mereka.
“Koran seribu pak…bu…” senandungnya sambil mengulurkan koran kepada pengemudi motor.
“Koran pak. Seribu aja. Buat bacaandi jalan macet.”
“Hei becanda kamu. Emang jalanan kayak taman milik mbahmu!Malah disuruh baca koran”
Buditerkekeh segera menjauh pergi takut kena caci maki.

***
“Mas Hendra kenapa sering teledor sih. Ada-ada saja. Kenapa dompet bisa ketinggalan di kantor segala?”

***
“Wah, magrib hampir berlalu. Akubelum sholat. Harus menepi dulu nih.”
Brak!!!! Dlasarrrr…..
Budi terpelanting dengan koran yang dibawanya. Sang pengendara motor ndlasar ke jalanan beraspal. Membentur sebuah mobil. Brak!! Sang pengendara tergeletak. Helm mencelat di jalanan. Orang-orang menghentikan kendaraan. Mendekat. Mengerumuni jalanan seperti lalat mengerumuni kotoran. Menggotong si Budi yang pingsan. Menggotong si pengendara yang berlumuran darah wajahnya.

***
Adzan Isya sudah mengalun dari speaker masjid. Pak satpam brewok melihat hapenya. Tak ada telepon dari Hendra.
“Mungkin masih di masjid sekalian sholat isya. Semoga tidak terjadi apa-apa,” ujarnya pada dirinya sendiri. Ia duduk kembali di dalam pos gardu. Menyalakantelevisi dengan remote. Seorang presenter menayangkan berita live tentang kecelakaan di jalanan. Pengendaramotor telah menabrak anak penjual koran.
“Kecelakaan lagi… kapan tidak ada berita kecelakaan lalu lintas di televisi.”
Digantinya ke chanel yang lain. Ada film kartun Spongebob. Tapi di situ juga sedang ada fragmen Spongebob yang terluka-luka karena menabrak rumah Squid Wardsaat ujian SIM.
Tapi pak satpam Brewok kali ini tertawa terbahak-bahak. Kartun ini kesukaan anaknya yang baru duduk di TK besar.

***
Nadya terduduk di beranda. Adzan Isya sedang mengalun di TOA masjid. Dilihatnya ke pintu rumah. Memutuskan apakah masuk ke dalam atau tidak. Bagaimana kalau omongan tetangganya benar, rumah ini berhantu!
Tapi, ia harus berpikir rasional. Masuk ke dalam rumah menunggu mas Hendrapulang.
Nadya berdiri. Tangannya menggenggam kencang. Jantungnya berdetak kencang. Berani! Berani! Berani!

***
Di sebuah klinik Budi kecil tergeletak pingsan. Sementara si pengendara motor yang lebih parah berada di ruangan lain.
Sejenak Budi kecil mulai membuka mata. Ditatapnya orang yang sedang duduk di samping ranjangnya. Hanya lelaki seorang itu yang ada di ruangan ini. Di luar terdengar suara gaduh entah apa.
“Ini di mana?”
“Tenang dik. Kamu sekarangberada di klinik perawatan. Apanya yang sakit?”
“Tidak ada mas. Rasanya hanya lecet saja kok.”
“Alhamdulillah, yang menabrakmu malah parah. Ia belum sadar. Kepalanya berdarah. Sepertinya ia tak memakai helm tadi.
“Terima kasih mas, sudah menolong saya. Tapi saya takut pulang. Takut nanti dimarahi bapak.”
“Tidak apa. Aku nanti yang akan bilang.”
“Iya mas. Terima kasih.”
“Oh, ya namamu siapa? Namaku Hendra. Kebetulan aku menjadi saksi saat kecelakaan itu terjadi. Saat itu aku mau menepi ke masjid Baiturahman itu.”
“Nama sayaBudi mas. Sekali lagi terima kasih atas pertolongannya.”

***
Nadya masuk ke dalam rumah akhirnya. Sudah setengah jam ini ia duduk di sofa sambil memegangi handphone.Perasaannya sudah lebih tenang. Takada hantu blau.Omongantetangganya tentang penghuni rumah kontrakan ini hanya isapan jempol.
Tetiba sebuah sms masuk. Dari Hendra. Dibukannya pesan pendek itu.
“Darurat sayang. Ini aku di rumah sakti. Tadi harus menolong dulu anak penjual koran tertabrak sepeda motor. Maaf ya aku terlambat lagi.”
Kaliini Nadya dengan tenang membalas sms itu.
“Baiklah, hati-hati saja kalau bermotor di jalan. Ingat safety first. Aku akan menunggumu sampai kau kembali. Sayangmu :*

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s