Peran dan Fenomena Pondok Tahfizhul Qur’an di Indonesia

Walaupun ujian nasional dan pengumuman kelulusan belum mulai, sudah banyak bermunculan spanduk dan baliho penerimaan siswa baru (PSB), khususnya SMP dan SMA. Baik itu sekolah negeri, swasta, hingga pondok pesantren seakan berlomba menjaring calon murid sebanyak mungkin. Semaraknya spanduk semacam ini juga mengindikasikan banyaknya jumlah madrasah/sekolah yang ada. Pun, menunjukkan pula bahwa madrasah/sekolah sudah tidak didominasi oleh sekolah negeri lagi. Di Solo raya misalnya, banyak bermunculan pondok pesantren yang mampu bersaing dengan sekolah formal. Dari pondok pesantren modern hingga pondok pesantren berbasis enterpreuner. Hal ini berbeda dengan image pondok pesantren di jaman dulu, yang lebih terkenal sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal atau seperti isu yang dihembuskan sebagian kalangan, bahwa pondok pesantren adalah sarang teroris.

Tulisan ini hendak menyoal mengapa banyak orang tua sekarang yang berpaling kepada pondok pesantren, terutama pondok pesantren Tahfidzul Qur’an. Sample yang saya ambil adalah SMP/SMA Tahfidzul Qur’an Al-Ikhlas di Mojolaban. Pondok yang didirikan empat tahun silam ini, sudah membuka PSB dan dengan cepat sudah terisi penuh kuotanya. Pondok ini ‘menjual’ sekolah tahfizh Qur’an yang berintegrasi dengan mata pelajaran umum penyelenggara wajar dikdas. Perkembangan pondok yang cepat, bahkan kini mulai membuka pondok putri tahfizhul Qur’an setingkat MTs dan Aliyah adalah sebuah fenomena menarik. Tidak hanya di SMP/SMA Al Ikhlas Mojolaban, tapi juga di beberapa pondok tahfizhul Qur’an lainnya. Harapan kita tentu banyak bermunculan pondok pesantren tahfizhul Qur’an di Solo raya khususnya, sebanding dengan tingkat keshalihan dan kebermanfaatan santri-santri tersebut di tengah masyarakat.
Fenomena Begal dan Peran Pesantren
Awal tahun 2015 masyarakat disapa dengan fenomena begal yang marak terjadi. Disinyalir pelakunya sebagian besar dari siswa sekolah. Motif ekonomi menjadi modus tertinggi dan selebihnya gaya hidup mereka yang jauh dari tujuan pendidikan di madsarah/institusi pendidikan. Artinya, siswa atau murid yang bermutasi menjadi begal ini mendapat pengaruh buruk dari luar sekolah. Pengawasan orang tua yang kurang, kadang bisa menjadi bumerang bagi orang tua itu sendiri. Apalagi bagi orang tua karier yang lebih banyak di luar rumah.
Ekses pergaulan liar yang buruk inilah yang kemudian sebagian membentuk karakter begal. Masa pencarian jati diri yang biasanya dialami oleh siswa kelas 2 SMP dan kelas 2 SMA menjadi masa rentan dalam pengawasan anak/murid ini.
Pondok pesantren tentu lebih mempunyai kelebihan dalam pengawasan kualitas siswa. Seperti yang dilakukan oleh pondok Al-Qur’an Al Ikhlas, Mojolaban yang lebih memprioritaskan pendidikan mereka adalah pendidikan akhlak. Di pondok ini santri juga dididik selama 24 jam. Anak tidak hanya belajar akademik, tapi juga bagaimana mereka diajari mandiri, berlatih bekerja sama, ribath (menjaga keamanan) dan juga menjadi seorang dai (penyeru kebajikan di tengah masyarakat). Peran serta siswa ini tentu akan mengolah jiwa mereka agar bisa memilih kegiatan yang positif, daripada misalnya, anak yang pulang sekolah kemudian menghabiskan waktu di depan game GTA (Gran Thef Auto City) yang kental dengan unsur kekerasan atau mencari pengalaman dari jalanan.
Kembali kepada Khittah Ulama
Tujuan madrah/sekolah yang pokok adalah mencetak siswa yang berakhlak mulia dan mempunyai intelektual yang tinggi. Kedua modal dasar ini bisa menjadi modal pembangun bangsa Indonesia ini agar menjadi negara yang baldatun thoyyibun ghafur (madani). Salah satu yang menjadi target pokok di pondok pesantren tentu saja adalah menggodok akhlak murid/siswa menjadi siswa yang alim. Pengertian alim di sini bukan sekedar siswa yang pintar dan berprestasi akademik, namun juga memahami hukum syari yang mengikatnya dalam segala aspek kehidupan ini. Sekolah melibatkan hukuman dan pengawasan Allah agar siswa/murid menjadi tunduk dan sesuai yang ditargetkan oleh institusi pondok tersebut. Ilustrasi dalam novel 5 Menara (Anwar Fuadi) mungkin bisa menjadi gambaran untuk realitas pondok pesantren di jaman sekarang. Dalam novel 5 menara kita disuguhi bagaimana institusi pondok pesantren Madani yang mengedepankan pendidikan akhlak dan kerjasama yang berintegritas tinggi. Dari novel ini bisa menjadi gambaran bagaimana proses belajar dan aplikasi pembelajaran itu diterapkan kepada siswa sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajan sekaligus memaknai tentang hakikat belajar itu sendiri.
Kesimpulan
Aplikasi pendidikan dengan celupan Al Qur’an menjadi dambaan para orang tua. Anak adalah aset terbesar bagi orang tau, terutama kelak jika mereka menjadi anak yang shalih dan bisa hapal Qur’an yang mempunyai banyak sekali keutamaan. Dan peran orang tua dalam hal seperti ini juga mendapatkan balasan yang besar di sisi Allah. Disebutkan dalam Al Qur’an bahwa orang yang alim adalah mereka yang betul-betul takut akan Allah. Segala perbuatannya didasari dan dilandasi dengan khauf (takut) kepada Allah ini, sedagnkan kehidupannya pada raja (harapan baik) kepada Allah. Dua aspek ini ditekankan sekali kepada siswa pondok pesantren, khususnya pondok pesantren tahfidz Qur’an. Keberhasilan mereka menghapal Qur’an merupakan cerminan dan kesahlihan mereka dan pemahaman mereka akan raja dan khauf kepada Allah ini, yang akan mengintregasi laku mereka di tengah masyarakat serta peran serta mereka dalam pembangunan.
Kesimpulan dari tulisan di atas bahwasanya mengapa pondok pesantren kini ramai, meskipun sempat terkena imbas isu sarang teroris. Orang tua ternyata lebih memilih pendidikan yang mengedepankan akhlak daripada faktor akademis semata. Negara kita ini yang merupakan negara muslim terbesar, ternyata tidak mencerminkan sama sekali akan ajaran Islam secara komprehensif. Karena itulah orang tua yang selama ini berislam tetapi kurang paham dengan Islam, kemudian berazam untuk memberikan pendikan Islam kepada anaknya. Hal ini sekaligus menjadi apologi bahwa mereka memang tak menguasai ilmu agama yang menjadi bekal anaknya yang seharusnya bisa menjadi tauladan bagi anak-anak. Faktor kedua adalah fenomena pendidikan dan pergaulan bebas yang menjurus kepada kriminalitas menjadi dorongan kuat agar anak-anak merekea jauh dari ekses negatif ini. Pendidikan di madrasah menjadi acuan utama mereka untuk menyelamatkan anak-anak mereka. Faktor ketiga, adalah bagaimana orang tua ingin anak-anak mereka menjadi ulama. Sayang sekali faktor ini hanya sebagian besar saja diamini para orang tua. Padahal ini adalah tujuan terpenting dari pendidikan di pondok pesantren. Mengkaderisasi ulama yang kelak akan berjuang untuk negara dan agama. Ulama tidak sekedar hapal berjuz ayat Al Qur’an tetapi aktor intelektual dan budaya yang berjuang dalam setiap aspek kehiudpan ini. Kedudukan ulama ini seperti ditekankan Al Qur’an adalah lebih utama daripada seorang pekerja profesional yang sukses duniawi.
Indonesia mempunyai jumlah pondok pesantren yang banyak dan terus bersaing dengan sekolah formal di negara ini. Sementara pilihan kita sebagai orang tua tentu saja adalah mendidik anak pintar secara akademis dan juga berakhlak shalih yang mampu berkontribusi bagi negara dan agama.
Wallahu Alam bish showab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s