MARTIR

Karomah ilmu khodam_e1

“Kalian tidak mungkin bisa mengeksekusi orang yang punya karomah ini, meskipun kondisi kalian sangat terdesak dan nyawa menjadi taruhan. Sudah terbukti di lapangan, hampir semua rencana yang tersusun rapi -berdasar teori konspirasi yang canggih sekalipun- akan koyak moyak kalau kita langsung memuntahkan timah panas padanya. Ada strategi khusus untuk menyingkirkan orang yang punya karomah seperti ini!”
Sejenak Sang Komandan menyulut rokok dalam-dalam. Gemeretak kretek terbakar. Hampir bersamaan juga asap mengalir dari kedua hidung besar hitam Sang Komandan berwajah codet itu.
“Lalu kita harus bagaimana, Komandan? Tentu ada cara lain?” tanya si bawahan yang bertubuh raksasa.
“Peraturan pertama! Jangan pernah mengeksekusi langsung mereka. Kita harus membuat ‘orang berkaromah ini’ keluar terlebih dulu dari ‘hidayahNya’. Kalian paham maksudku?”
Kedua bawahan yang sama kekarnya itu sama menggeleng, alamat tidak tahu.
“Buat mereka terjatuh dalam kesalahan pikiran mereka sendiri. Kita hancurkan mereka dari dalam. Hanya cara iblis inilah yang sudah teruji di lapangan.”
Ψ
Pondok Al Ikhlas target operasi kami. Jumlah santri berjumlah sekitar 200-an. Kegiatan harian akan menyibukan mereka sehari-hari. Saat itulah aku akan datang dengan menyamar menjadi tukang kebun yang minta pekerjaan atau penjual pakan ternak menawarkan rumput pada mereka. Jika satu pintu gerbang sudah dibuka, aku akan mudah masuk. Selanjutnya aku akan memperkeruh suasana, lalu dengan mudah memancing ikan besar yang sudah megap-megap itu. Tak kusangsikan inilah rencana paling brilian abad ini!
Ψ
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja Ustadz: bersih-bersih kebun, mencari pakan kambing- yang penting dapat makan dan tempat tinggal.”
“Saya minta maaf, saya tidak bisa membantu saudara. Di sini semua pekerjaan sudah dikerjakan anak-anak.”
“Tolong Ustadz, saya mau tidak dibayar asal masih dapat makan.”
“Maaf, sekali lagi anak muda, semua anak di sini diharuskan bekerja, biar menjadi latihan bagi mereka mencari penghidupan setelah keluar dari pondok. Itulah sebabnya hampir semua pekerjaan sudah kami tangani sendiri. Kami hanya punya kebun-kebun yang sampahnya kami biarkan menjadi pupuk kompos atau menjadi humus bagi tanah. Untuk kambing-kambing itu cukuplah kami berikan makanan berfermentasi, sehingga siapapun tidak perlu untuk mencarikan rumput setiap hari.”
“Tapi Ustadz, saya butuh sekali pekerjaan -apa saja asal dapat makan sudah cukup.”
“Anak muda, kamu bersikeras sekali. Mengapa tidak mencoba di tempat lain? Di warung-warung, atau mungkin di bengkel-bengkel pinggir jalan itu yang butuh tenaga.”

“Saya mohon Ustadz…”
“Pergilah cari pekerjaan yang menguntungkanmu. Saya doakan semoga engkau mendapatkan pekerjaan dan tempat yang baik.”
Ψ
Aku telah berusaha masuk ke dalam, ternyata tak berhasil. Aku salah mengira bisa mudah masuk ke dalam. Orang tua keparat itu harus disingkirkan atau tugasku semakin sulit.
Dan masih ada seribu satu cara untuk bisa mengacak-acak pondok itu. Semua tinggal menunggu waktu saja!
Ψ
“Berhati-hatilah anak-anakku sekalian. Fitnah melanda umat Islam bergulung-gulung dari arah manapun. Jangan menjadi umat Islam yang serupa buih di lautan, yang terombang-ambing oleh fitnah. Kita harus merapat pada jama’ah dan selalu menjaga ketaqwaan diri masing-masing. Tanpa ketaqwaan Allah tidak akan melindungi dan memberi rahmat kita. Karena Allah hanya menjadi pelindung bagi hamba Allah yang menjadikan Allah sebagai walinya. Biarpun orang-orang fasiq itu hendak makar kepada Islam, tapi Allah adalah Maha pembuat rencana dan penghancur rencana orang-orang yang hendak makar padaNya!”
Sejurus seorang santri muda tergopoh-gopoh masuk ke dalam menghadap.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam…”
“Ada kecelakaan terjadi di dekat pondok kita Ustadz. Kelihatannya terluka parah. Sekarang sedang dibawa ke klinik.”
“Aku akan segera ke sana.”
Pertemuan dibubarkan. Hanya beberapa orang santri saja yang diperbolehkan ikut melihat korban kecelakaan itu. Sepintas keadaan korban tidak terlalu kritis walau masih pingsan. Namun, sekejap terkesiap sang Ustadz melihat rupa korban kecelakaan itu. Ia yakin pernah melihatnya.
“Masya Allah, bukankah dia si penyabit rumput kemarin?” batin Ustadz Ahmad menyadari sesuatu. Jelaslah si penyabit rumput itu bukan seorang penyabit rumput biasa. Ia masih tetap menahan diri untuk mengatakan apapun sekarang. Tak ingin malah terjadi kepanikan sebelum semua jelas.
“Anak-anak, rawat orang ini dengan baik. Kalian penuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Aku pergi dulu,” kata Ustadz Ahmad buru-buru meninggalkan tempat.
Ψ
“Dimana saya?” tanya si korban kecelakaan itu.
“Anda di klinik pondok kami, syukurlah anda baik-baik saja.”
“Anda siapa?”
“Saya santri di pondok ini. Anda mendapat kecelakaan setelah sepeda anda menabrak pagar pembatas.”
“Aduh kepala saya sakit. Saya juga tak ingat apa-apa.”
Bingung. Mengamati seluruh ruangan. Tiba-tiba kembali pening mendenging.
“Saya bahkan tak tahu nama saya,” keluhnya.
“Benarkah? Anda tidak tahu diri anda sendiri?”
Ada KTP dan tanda pengenal di dalam dompet semua dibuka dan diperlihatkan kepada pengendara kecelakaan itu. Si pengendara itu masih tetap menggelengkan kepala.
Ψ
“Kau sudah berhasil masuk lebih dalam dari yang kupikirkan. Ini bagus kau bisa menjadi santri di sini. Komandan pasti akan senang,” bisik lelaki berjaket hitam itu pada santri baru itu. Mereka berdua di pinggir jalan hutan dekat dengan pondok. Si santri berhenti karena tiba-tiba seorang lelaki mencegatnya dan mendorongnya ke balik pohon.
“Apa yang berhasil kau dapatkan? Perintah komandan kita harus bergerak! Hancurkan target sekarang!”
“Anda bicara tentang apa? Saya tidak kenal anda dan semua yang anda bicarakan itu,” tukas si Santri dengan terkejut.
“Ini bukan saatnya melawak. Kau sengaja pura-pura bodoh!!!”
“Maaf, Anda pasti salah orang. Ya, anda salah orang.”
“Jangan memaksa aku memukulmu! Atau kau ingin membodohiku!”
“Saya memang tak paham dengan apa yang anda katakan. Maaf saya harus pergi sekarang karena ditunggu Ustadz Ahmad.”
Si lelaki berjaket tetap nekat mencengkram. Si santri bersikeras keluar. Terjadi dorong mendorong dengan sengit. “Apa-apaan anda! Kamu gila!!!” geram si Santri.
Tiba-tiba si lelaki berjaket melonggarkan cengkramannya. Tatapan matanya tajam pada si santri yang balas menatapnya lekat.
“Sebaiknya kau tidak mencoba berpikir berkhianat! Kau akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini!”
Ψ
Aku tak menggubris lelaki itu. Sebenarnya aku tahu semua yang ia katakan itu. Ingatanku telah pulih benar. Sebaliknya hati nuraniku juga pulih. Aku telah melihat terang kebenaran sejati itu setelah tinggal dan mendapat ilmu di pondok ini. Semua makar dan rencana yang kami lakukan untuk menghancurkan Islam yang telah mendorongku ke tempat ini, telah membuat mataku terbuka bagaimanakah Islam sesungguhnya.
Syariat Islam adalah rahmat bagi manusia jika diterapkan di dunia ini. Akan menjadi pembeda antara yang hak dan batil. Yang benar akan dibenarkan dan yang salah akan diharamkan. Aku tahu mengapa orang-orang itu menyewa kami menghancurkan Islam. Membayar kami agar merongrong Islam dari dalam, dari orang-orangnya yang bisa dibeli dengan uang. Sebenarnya mereka takut kalau Islam akan mengambil apa yang selama ini telah mereka dapatkan dengan licik dan jahat. Karena Islam akan menghukum tangan-tangan keji dan wajah-wajah pezina moral itu. Yang selama ini bisa berkuasa di dunia dengan hukum positif yang compang-camping yang sekarang diterapkan. Begitu banyak lobang pada hukum negara ini sehingga yang bisa menikmati keadilan hanyalah orang-orang kaya dan para penjilat pantat penguasa.
Sungguh aku tak menyesal dengan pengkhianatanku. Aku tahu orang-orang itu akan kembali. Namun aku sudah siap menyongsong demi hidayah yang tak sudi kulepaskan sekalipun maut menjemput!

Karanganyar, 1432 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s