Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya

index
dimuat di joglosemar Slogan ‘Karanganyar Maju dan Berbudaya’ memberikan dorongan dan konsistentensi yang kuat untuk membentuk perilaku positif. Mungkin “Maju dan Berbudaya” menegasikan slogan sebelum Karanganyar Tentram, yang lebih identik dengan stagnan, dan kurang progresif. Karanganyar berbenah di era kepemimpinan YU-RO (Yuliatmono dan Rohadi Wibowo). Kemajuan infrastruktur menjadi ukuran yang ingin ditampilkan dari di bidang pembangunan, terutama jalan dan berbagai tempat publik. Peremajaan gedung-gedung diagendakan sebagai bagian dari modernisasi wajah Karanganyar. Relokasi pasar Jumat yang kemarin menimbulkan penolakan tetap dijalankan demi pembangunan ke arah kemajuan dan maslahat kota Karanganyar, yang kini diwujudkan dengan open space di sekitar alun-alun Karanganyar. Masyarakat Karanganyar pasti mengamini kalau pemimpin kali ini adalah tipe yang gigih ingin memajukan pembangunan Karanganyar. Pun, slogan berbudaya getol dicanangkan Karanganyar. Perlindungan terhadap cagar budaya dengan menggelar pameran cagar budaya yang digelar pada acara milad Karanganyar kemarin. Rencana pembangunan sekolah pariwisata yang bernilai 4 milyar yang kelak akan menjadi jualan kota Karanganyar yang berada di lereng gunung Lawu, yang banyak memiliki aset pariwisata, yang tentu kelak akan menambah pemasukan pendapatan daerah. Dan Karanganyar masih memiliki banyak tempat wisata indah lainnya yang tentu saja menuntut perhatian pemerintah Kabupaten untuk merawat dan tidak rusak berbagai kepentingan oknum yang opurtunis. Pujian akan tetap ada untuk YU RO dan kritikan masih akan terus berlangsung selama keduanya memimpin Karanganyar –minus pro kontra kepemilikian tempat wisata Grojogan Sewu yang masih belum kelar dan plagiatisme logo Karanganyar Maju dan Berbudaya yang menjiplak SEA Games ke-26 yang dilaksanakan di Palembang. Tidak Melulu Menjual Pariwisata Karanganyar tidak harus melulu menjual pariwisata. Slogan maju dan berbudaya adalah langkah atau ikhtiar pembentukan sumber daya manusia yang ada di Karanganyar itu sendiri. Bagaimana cara agar masyarakat mempunyai andil yang besar dalam pembangunan Karanganyar. Tidak melulu mengeskploitasi alam dan terkadang berdampak merubah, mendistorsi kekayaan alam yang ada di Karanganyar hanya karena nggege mangsa untuk menjadikan Karanganyar sebagai kota pariwisata. Pun, pada kesempatan milad Karanganyar yang ke 97 lalu, pelbagai acara telah digelar, dan festival budaya dicanangkan, pameran budaya ditampilkan untuk pertama kalinya di Karanganyar setelah beberapa pemimpin sebelumnya tak ada yang melakukannya. Semuanya hanya berkiblat pada kota Karanganyar sebagai kota pariwisata. Ini justru menjadi sebuah ketidakberuntungan di satu sisi. Padahal Karanganyar sendiri mempunyai nilai lebih di bidang lain yang semestinya bisa digarap. Semisal adanya lahan pertanian yang tentu juga membutuhkan perhatian dan pengembangan besar. Agrobisnis yang sempat moncer pada bupati sebelumnya namun tenggelam di masa sekarang. Dan selama ini petani seperti menjadi kelas kedua di masyarakat. Padahal Karanganyar itu sendiri mempunyai lahan yang luas yang bisa dioptimalkan untuk menjadikan Karanganyar sebagai kota pertanian. Adanya waduk Delingan, waduk Lalung, dan lainnya yang belum tergarap maksimal. Selama ini terlihat waduk Delingan, mudah sekali habis airnya yang semula penuh. Penyebabnya debit air cepat menurun karena air dijual untuk kebutuhan pabrik gula Tasikmadu ketika masa giling dan pertanian menjadi prioritas kedua. Padahal seharusnya ekosistem waduk bisa dikembangkan menjadi konsep pariwisata agroculture ditambah kawasan hutan lindung Bromo yang berada di dekatnya. Hal ini lebih bisa bermaslahat bagi rakyat daripada hanya mengedepankan untuk mendapatkan pembayaran dari pabrik gula Tasikmadu saja. Masih banyak sektor lain yang semestinya digarap. Entah itu pertanian atau sektor lain. Menurut saya kesadaran masyarakat untuk maju juga harus digarap. Masyarakat Karanganyar sepertinya juga lebih tertarik menjadi konsumen dan penggemar hiburan dengan adanya opensace di Karanganyar. Mengapa tidak menjadikan openspace itu sebagai sebuah taman pintar, dan dilengkapi dengan perpustakaan kota yang representatif atau museum di kota. Mengapa wajah kota hanya dipenuhi pemandangan para penjual dan tempat hiburan yang centang perenang. Menuju Kota Edukasi Open space yang dikerumuni oleh pasar malam menihilkan budaya literer. Dulu di tempat itu, berdiri perpustakaan dalam waktu yang lama, menyokong pembangunan dengan cara yang asketis dan sepi. Pun beberapa komunitas literasi sempat bernaung di di sana. Perpustakaan menjaga akal budi masyarakat perkotaan, membuka wawasan dengan ilmu agar tidak kesingsal dengan budaya modern yang banal. Kini di sekitar alun-alun, hanya berdiri perpustakaan masjid Agung yang makin elok namun masih sepi pengunjung. Konon, masyarakat baca di Karanganyar belum terbentuk. Ketika jaman bupati Rina Iriani, beberapa kali terselenggara event membaca terbanyak dan membaca terlama yang masuk MURI, dan menjadi seremonial belaka. Kini, minus perpustakaan yang tersembunyi di bekas Kartini lawas, nampaknya dinas terkait, terutama Disdikpora, harus rajin untuk berkeliling kembali menggelorakan semangat membaca di Karanganyar. Entah itu dengan perpustakaan keliling atau festival baca yang besar di Karanganyar. Ini adalah ajakan untuk membentuk masyarakat yang gemar membaca di Karanganyar. Ajakan hanya akan menjadi wacana jika tidak diimbangi dengan kebijakan dari dinas terkait untuk memfasilitasi. Misalnya, akan lebih proporsional di openspace alun-alun kelak itu, juga dibangun Taman Pintar. Buku dan ilmu disediakan di sana dan perpustakaan yang memadai. Jadi, orang pergi ke Karanganyar tidak hanya wisata kuliner, dan menghabiskan waktu memandangi taman, tapi mereka juga belajar pada buku. Kantong Hitam Karanganyar juga belum sepenuhnya dikatakan maju dan berbudaya. Karanganyar masih menyimpan kantong hitam di bawah pelupuk matanya. Adanya lokalisasi Ndangkrong Indah (DKI) di Tasikmadu, memperlihatkan betapa peliknya masalah pelacuran menjadi masalah di setiap kota. Ketakberdayaan pemerintah untuk mengatasi hal ini membuat mereka makin berakar kuat dan merusak sendi masyarakat di sekitarnya. Seorang kawan pernah bercerita dirinya akan menikah dengan gadis daerah lain. Melihat kawan saya dekat dari Ndangkrong ini, si keluarga calon menolak anak perempuannya diboyong ke rumah si lelaki ini. Stigma lokalisasi Ndangkrong akan terus menempel bagi Karanganyar. Akan lebih bijaksana hal ini segera dituntaskan, dientaskan dan dibuat solusi yang bijaksana. Seperti pendahulu yang sebelumnya, Rina Iriani yang kini menjalani sidang di Tipikor Semarang, telah berhasil menutup lokalisasi di Warung Ayu, Kebakkramat. Keberhasilannya tentu bisa menjadi contoh dan referensi bagi YURO untuk menyelesaikan masalah lokalisasi Ndangkrong. Akhirnya, harapan menjadikan kota Karanganyar sebagai kota yang maju dan berbudaya akan terwujud. Tidak melulu kota pariwisata yang menjual keelokan alam tetapi membentuk sikap dan kualitas manusia di Karanganyar sebagai masyarakat yang maju dan mempunyai serta menjunjung tinggi budaya adiluhung, yaitu budaya manusia yang mengedepankan nilai agama, cinta kasih dan persaudaraan universal. Sungguh, saya berharap banyak pada pasangan YU-RO kali ini dalam memimpin Karanganyar, terutama mau belajar pada keberhasilan pemimpin sebelumnya. * penulis, pegiat komunitas Pakagula Sastra Karanganyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s