Ziarah Diri ke Puncak Lawu Nan Eksotis

Photo-0002-150x150
Jika engkau melihat sebuah gunung yang mirip seorang wajah perempuan tidur maka itulah gunung Lawu. Terletak pada ketinggian 2.354 m.dpl yang menjadi pembatas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perbedaan dengan banyak gunung di jawa lainnya, hanya gunung Lawu yang menyimpan banyak cerita hidup yang turun temurun diyakini masyarakat dan para pendaki yang datang kepadanya. Bagi beberapa kalangan mendaki gunung Lawu bukan sekedar aktifitas mendaki gunung biasa tapi menziarahi diri lewat sebuah media yang mengada yaitu gunung Lawu. Artinya pendakian ke gunung Lawu itu tak pernah kosong makna.

Ada tiga puncak yang mempunyai pemandangan eksotis di gunung Lawu, yaitu puncak Argo Dumilah, puncak Argo Dalem, dan puncak Argo Dumuling. Ketiga puncak itu terutama mempunyai beberapa kisah hidup yang turun temurun masih diyakini sampai sekarang. Terlepas kisah itu apakah mitos belaka namun kesempatan untuk mengunjungi ketiga puncak Lawu adalah sebuah sensasi tersendiri. Sebuah perjalanan menziarahi alam sekaligus menziarahi diri kita sendiri.

Kita awali perjalanan kita dari jalan di Tawangmangu yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan juga bukan sepi pemadangan indah. Areal persawahan yang hijau dan alur sungai kali Samin yang masih menjadi nadi kehidupan para petani di bawah lereng Lawu. Semua pemandangan itu seperti memanggil sisi hati yang lembut bahwa kita manusia adalah pecinta keindahan dan selalu mempunyai hasrat untuk berbagai keindahan. Artinya keindahan itu tidak bisa berlangsung selamanya jika kita tidak berperan ikut menyumbang di dalamnya. Ancaman hunian warga dan pembangunan properti memang mengincar sebagian kawasan di Tawangmangu yang eksotis. Pada awal mula ini kita diketuk untuk mengingat betapa murah hati sang pencipta memberikan keindahan kepada manusia di dunia dan tugas manusia adalah sebagai khalifah yang menjaga kelestarian bumi.

Setelah perjalanan itu kita lantas berhenti di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Ada dua tempat pintu gerbang pendakian. Semuanya menawarkan sensasi pendakian yang berbeda tentu saja. Tingkat kesulitan yang lebih berat biasanya dipilih pendaki yang menginginkan kisah petualangan yang penuh tantangan. Ada juga tipe pendaki yang ingin melihat-lihat vegetasi dan suka mengadakan penelitian di hutan gunung Lawu biasanya memilih lewat Cemoro kadang. Atau juga para pendaki peziarah spiritiual yang biasanya melewati jalur-jalur tertentu baik lewat Cemoro Kandang atau lewat Cemoro Sewu. Mereka mempunyai ciri khas tersendiri dari perangkat yang mereka bawa. Dengan mudah dapat kita temui banyak tipe pendaki seperti ini di puncak Lawu. Masing-masing karakter ini bukanlah alasan untuk menilai seseorang yang naik ke puncak Lawu. Keragaman ini adalah bagian dari kisah perjalanan yang selalu menyertai. Perilaku-perilaku negatif memang tidak bisa kita tolerir baik itu dari semua jenis pendaki, karena yang terpenting adalah tetap menjaga kelestarian dari gunung Lawu ini yang bisa dilakukan dengan beragam cara, baik itu dengan cara fisik maupun dengan cara pemikiran, dan keduanya sah-sah saja.

425686_393815737300277_100000155619700_1808783_217250675_n-150x150Baiklah, kita mulai perjalanan dari Cemoro Kandang yang lebih landai walaupun nanti sedikit memutar dan lebih jaauh sedikit. Tipe trek adalah jalan setapak, di sini menuntut kita menjadi orang yang berhati-hati, selalu berusaha menjaga keutuhan tim. Karena pada awal seperti ini cenderung para pendaki untuk selalu memforsir kekuatan untuk selalu pertama. Dan hal ini mempunyai kelanjutan yang buruk bagi keutuhan tim. Akhirnya pada trek pertama hingga pos pertama ini, kita harus belajar untuk tetap menjaga jarak dengan teman. Dalam arti menyeimbangkan dengan kekompakan tim bukan menumbuhkan ego masing-masing.

Pada setiap pos disarankan untuk berhenti. Karena perjalanan masih panjang dan perlu kita meneliti ulang apa yang sedang kita tuju di atas sana. Kisah diri kita dan puncak Lawu atau kisah tim di sepanjang trek puncak Lawu. Teliti juga peralatan, dan menjaga kehangatan untuk tetap terjaga. Selalu ada kaidah lebih baik lambat dan selamat daripada terburu-buru nafsu sedang kiri kanan adalah jurang menunggu. Pertanyaanya tentu saja apakah kita mau menjadi orang yang suka buru-buru dan bernasib buruk? Melainkan bagaimana cara kita tetap bertahan bersama hingga ke puncak nanti?

Setelah melewati berbagai pos kita akan sampai di beberapa situs unik semisal Sendang Drajat, yang konon diyakini barangsiapa yang mandi di sana akan naik derajatnya (statusnya) yang mungkin dulu seorang pegawai terus meningkat menjadi seorang pengusaha atau dulu seorang pengusaha kecil akan berubah menjadi seorang yang besar. Semua itu tentu saja mitos. Sendang itu ada karena curah air hujan yang menggenang dan tetesan dari akar di pohon yang mengalir. Ketika di musim kering sendang itupun juga kering. Namun di tempat ini juga dibangun beberapa kamar mandi bagi yang berminat berdingin-dingin ria, yang masih mempunyai keyakinan mandi di Sendang Drajat bisa memberikan khasiat.

Lebih dari itu semua, nampaknya ujian kita adalah ketika di puncak seperti ini, kita sangat mudah menerima hal-hal seperti ini. Seakan kita sedang dihadapkan pada sebuah hal yang irasional yang tak perlu kita perdebatkan. Nyatanya banyak orang yang bersikap seperti itu ketika menghadapi fenomena di alam liar. Hanya yang mempunyai kekuatan akal yang tinggi yang bisa bertahan dari serangan seperti itu. Itulah mengapa puncak gunung diyakini sebagai tempat berumah jin dan hantu. Karena sebenarnya banyak tempat yang tak bisa dijelaskan oleh orang-orang. Otak manusia terlalu kecil untuk menyimpulkan segala keajaiban itu.

Kemudian juga ada sumur Jalatunda. Sebenarnya sumur ini juga tak mirip sumur. Banyak orang yang percaya jika bertapa di sumur ini akan mendapat kesaktian. Bagi beberapa orang yang percaya dengan hal ini segera akan turun walaupun kondisi sumur itu sangat gelap dan lebih mirip gua atau lubang biawak. Mereka turun dan menikmati kegelapan itu sambil berharap akan mendapat kesaktian di sana. Akan lebih selamat bagi orang yang takut kemudian berlalu begitu saja.

Di puncak Lawu semua masih menunggu. Perjalanan berlanjut ke tempat dimana terdapat sebuah bangunan dari botol. Oleh pembuatnya itu dinamakan kyai botol. Yaitu sebuah bangunan dari botol bekas yang disusun sebagai tempat kencing. Sangat menarik. Sebuah karya yang sangat orisinal yang menunjukkan kepedulian akan lingkungan. Karena kita tahu botol tersebut tak akan bisa diurai oleh tanah bahkan selama ribuan tahun ke depan. Dan nyatanya banyak orang yang masih berbuat sembrono dengan membuang sampah sembarangan.
417341_393815970633587_100000155619700_1808787_568085223_n-150x150
Lantas di Argo Dalem, tempat puncak pertama, di sini terdapat petilasan Raja Brawijaya. Konon raja ini moksa di tempat ini. Tapi selain tempat petilasan itu adalah sebuah warung yang menarik untuk di datangi. Sebuah warung Mbok Yem, yaitu sebuah warung yang menyediakan untuk para pendaki yang naik.

Nampak di sini adalah perjumpaan kita dengan orang gunung yang memanfaatkan seadanya. Justru sangat menarik melihat kehidupan Mbok Yem. Kita seperti bernostalgia kepada masa lalu, ketika peradaban masih belum maju, dan sikap orang begitu sederhana. Mereka bertahan di alam ini dengan mengambil manfaat terkecil yang diberikan alam, tanpa merusak, sangat ramah, namun nyatanya mereka mempunyai kebaikan kepada alam ini. Dan lihatlah orang jaman sekarang, mereka datang ingin menguasai bumi. Mereka menghancurkan apa saja dengan tujuan untuk memperkaya diri. Sudah sepantasnya kita malu kepada orang-orang gunung ini.

Di sini ada dua puncak jika kita naik lagi, Argo Dumilah dan Argo Dumuling. Mungkin telah banyak orang yang berhasil naik ke puncak ini. Mengibarkan bendera di sana bersujud di bumi karena telah berhasil mengatasi perjalanan dan pendakian yang sulit. Semua memang diganjar dengan pemandangan yang indah dan sebuah kenangan yang tak akan terlupakan : menaklukkan sebuah gunung. Namun pertanyaan besar muncul seberapa besarkah kita mampu menaklukkan diri kita ketika kita sampai di puncak kehiduapn ini. Apakah kita akan tetap menjadi orang yang ramah kepada alam. Ramah kepada manusia. Bersahabat dengan binatang. Di puncak ini alam seakan berbicara kepada manusia. Bertanya kepada manusia-manusia itu. Mereka pendatang dan biasanya merayakan kemenangan itu dengan beragam cara. Hingga cara yang positif dan negatif. Semuanya menunjukkan karakter mereka sendiri.

Justru pada titik inilah manusia harus takut kepada dirinya sendiri. Manusia ternyata bisa melihat dirinya sangat kecil di puncak gunung. Mereka tenggelam dengan kedashyatan gunung jika timbul badai atau dengan panorama ciptaanNya. Ternyata semua itu bukan sebuah tanpa maksud. Dan manusia tetap saja bebal emlihat tanda-tanda kekusaaannya ini.

Seharusnya pada kesempatan di puncak ini manusia bisa melihat jelsa keberadaan dirinya di tengah dunia ini. Bagiamana dirinya di tengah alam raya yang lusa ini. Apkah menjadi manusia yang tanpa maksud seperti alam ini ataukah menjadi perusak alam ini. Tiap hati akan menjawab yang menjadi kecendrungannya.

Manusia ketika di puncak bisa meraih apa saja. Keinginan yang kotor maupun baik yang tinggal mengambil saja. Sangat mudah. Namun dalam saat itulah kita harus bisa mengendalikan diri kita menjadi orang yng besar. Bisa mengatasi badai dalam diri kita. Bisa mengatasi segala godaan untuk mundur dan turun dari apa yang kita sedang berdiri. Manusia adalah pengatasan dan pengatasan atas berbagai hal yang sedang terjadi.

Yang sederhana di puncak gunung akan terlihat tak bermakna, dan semua itu tinggal bagaimana kita melihatnya. Hidup untuk menjadi orang yang besar itu lebih baik daripada hidup menjadi orang kerdil yang kecil yang selalu merepotkan manusia lain. Kita harus berupaya menjadi orang besar.

Baiklah, kita harus turun dari puncak ini. Kembali ke kehidupan manusia yang ramai dan panas. Kita melewati tempat yang lain yang tak kalah menarik. Melewati Cemoro Kandang. Di tempat ini cukup landai. Banyak pemandangan yang terlihat. Jalan yang memutar. Angin yang dingin. Semuanya menarik. Tapi apa yang sangat menarik adalah ketika kita sampai di bawah. Terasa semua itu menjadi sebuah angan-angan. Bahwa yang kita tinggalkan di atas adalah sebuah kisah perjalanan saja. Tak perlu kita berbangga diri. Tapi kita akan berbuat untuk menguji diri kita pada tantangan yang lebih besar. Sejatinya pendakian gunung Lawu adalah media untuk menguji diri sendiri. Betapakah kita kuat menjalani tantangan yang menghadang.

Dan jawaban itu apakah kita kuat atau tidak dapat kita saksikan sendiri di tengah masyarakat yang heterogen ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s