Pertolongan Allah itu Dekat

dimuat di majalah Respon edisi 285/xxvii/20 feb – 20 maret 2014
IMG
Mengumpulkan batu dari kali adalah pekerjaan baru Kasno. Selepas ia dirumahkan dari perusahaan tekstil hanya kerja mengusung batu dari kali itulah pengisi kesibukan baru Kasno. Ya, tentu saja pekerjaan itu tak ada yang membayar. la melakukannya untuk mengisi kesibukan setelah dirumahkan dari pekerjaan tekstil itu. Dan kalau boleh jujur, juga untuk menghindari cernooh isterinya, karena sekarang ia menganggur dengan berdalih cari batu untuk nyicil kelak kalau bisa mbangun rumah sendiri.

Setelah lima kali turun naik dari kali Kasno memerlukan sejenak istirahat. Penat memberati pundak. Sendi-sendi kakinya sudah gemetar. Dicarinya tempat yang teduh di tepi kali.

Biar tidak ngamplo ia merogoh rokoknya di saku. Ah, ternyata tinggal rokok terakhir.

Kasno membakar batang rokok terakhirnya itu. Asap biru berhembus lurus dari mulutnya. Sejenak pikirannya menerawang. Selalu saja seperti itu, merokok yang sedianya untuk melupakan kepenatan, tapi makin membuatnya mengingat hal-hal suram yang telah berlalu.

“Cari kerja sana Mas. Si Thole sebentar lagi masuk TK. Perlu duit banyak buat daftar sekolah.”

“Kemarin juga aku sudah ke pabrik. Tapi uang pesangon belum turun. Gimanalagi?”

“Kok malah tanya gimana? Mas Kasno sendiri sebagai kepala rumah
tangga yang harus mikir; kok malah tanya gimana. Mas Kasno bisa cari
pinjaman. Nanti bisa dilunasi setelah uang pesangon turun. Yu Satiyem yang
kemarin sudah mendaftarkan anaknya, bilang, uang daftar masuk TK sekarang
sudah naik jadi dua juta!”

Itu adalah kejadian semalam. Isterinya minta dirinya segera mencari pinjaman uang untuk biaya daftar sekolah si Thole karena bulan depan si Thole sudah masukTK.

Kasno menghela napas lagi. Dibebani rasa penat, dirinya merebahkan tubuh diatas tumpukan batu yang telah dikumpulkannya dari kali. Air gemercik. Angin semilir. Semua itu membuatnya merasa nyaman. Barangkali berhasil juga menghilangkan rasa lelah yang dari tadi menghimpit pundak.

Kasno memang lelah. Ya, ia betul-betul lelah. Rasanya beban kehidupan bertambah berat sejak ia dirumahkan dari pabrik. la sudah bekerja belasan tahun di pabrik, tapi ternyata tak ada balasan penghargaan dari pabrik. Malah pabrik tega mempermainkan orang kecil seperti dirinya. Ingatannya masih segar saat beberapa hari yang lalu ia mencoba menghadap kepala direksi. la datang bersama wakil SPSI, berharap wakil pekerja di perusahaan itu dapat membantunya di depan kepala direksi agar dirinya tak dirumahkan.

Ya, soalnya aneh sekali mengapa pabrik banyak merumahkan pekerja, tapi juga mengangkat pegawai kontrak baru. Kalau soal dirinya sudah tua, ia juga belum terlalu tua. la masih produktif. Umurnya baru 35 tahun. Anaknya baru berumur enam tahun masukTK pada tahun ini. la juga mengatakan kepada kepala direksi kalau ia sudah bekerja lebih dari lima belas tahun. Betapa waktu itu sudah membuktikah kesetiaan dirinya selama bekerja di pabrik. Tapi ternyata tetap saja tak ada perubahan. Wakil SPSI yang hadir bersamanya itu juga tidak bisa membantu.

Dan pabrik juga sangat tega pada pekerja yang dirumahkan seperti dirinya, bisa-bisanya uang pesangon dari pabrik yang besarnya tiga kali gaji itu dibayar dengan diangsur dua kali. la pun tak punya pilihan selain menerima keputusan yang sepihak dari pabriknya itu.

Kemarin istrinya juga sudah menggebrak meja lagi.

“Utang di warung sudah menumpuk Mas. Kalau kamu tidak mau cari kerja, aku yang akan bekerja. Kemarin Pak Broto menawari aku pekerjaan buruh cuci dan setrika di rumahnya.”

Kasno diam.

“Kalau terpaksa Mas Kasno sampai minggu belum kerja, aku akan terima pekerjaan itu.”
Kasno pun sudah mencari hutangan kanan kiri, tapi hasilnya nihil. Semua orang yang dihutanginya mengatakan kalau kantongnya lagi sempit, atau ada yang bilang lagi defisit.

Abu rokok yang mengenai jemari membuat Kasno terlonjak. Lamunannya buyar.

Kasno menghela napasnya panjang-panjang. la berusaha mengusir segala pikiran yang meruwet di kepalanya itu.
Kasno melihat timbunan batu-batu yang dikumpulkannya itu masih membukit kecil. Usaha kecil itu dirasanya hanya membuang waktu dan tenaga saja. Seandainya ada keajaiban terjadi padanya, pikirnya.

Tapi apakah ada keajaiban bagi orang kecil seperti dirinya. Pabrik tak berpihak orang kecil. Istrinya sendiripun kadang melonjak tak menghargai suami kalautakada uang dibawa pulang.

Kasno menghela napas. Hidup begitu sulit. Seandainya batu-batu yang ia kumpulkan berubah menjadi emas. Oh, alangkah dirinya akan menjadi orang terkaya di kampung. Segala kebutuhan tercukupi. Senyum istrinya yang manis itu akan kembali.

Kasno menggeleng-gelengkan kepala. la tadi hanya ngelantur. Kalau dipanjangkan lagi ia akan malah jadi nggrantes. Malah kesambet jin penunggu sungai ini hingga orang gendeng, tidak waras.

Kasno bangkit berdiri. la harus memindahkan batu itu sebelum tengah hari yang panas. Dengan tenaga yang Kasno mulai memasukan batu-batu itu ke dalam Kemudian ia meletakkannya di atas bahunya. Pelan-pelan ia mulai mendaki ke atas daratan. Memerlukan menahan napas setiap ia mengangkat sekarung batu itu. Tapi, saat hampir mencapai daratan, Kasno merasa tiba-tiba pandangannya menggelap. Kasno ambruk dengan sekarung batu menumbukya.

Kasno terguling ke bawah mencebur kali. Bajunya dan kotor oleh lumpur. Napasnya tersengal dengan menyedihkan.
Kasno mencoba bangun dari terlentang itu. Pandangannya masih berkunang-kunang. Tapi ia mencoba bertahan. Kasno menelan ludahnya sekedar untuk membasahi rokan. Merem melek matanya berusaha untuk tetap Ah, ia memang sudah tak kuatlagi mengusung batu. la sudah kehabisan tenaga. Jumlah kalori yang dibakar buat itu sudah tak tersisa lagi. Karena inilah ia sampai sebelum sampai di daratan. Ya, sejak seharian ini ia makan. Isterinya tak mau menyiapkan sarapan kalau ia mendapat uang untuk mendaftar sekolah si Thole. Istrinya memang berperangai keras dan kasar. Dan ia yang mengalah, harus sabar.

Kasno merasa sial sekali. Ketika berangkat tadi ia juga mbawa perbekalan minum. Sekarang usaha satu-Kasno untuk bertahan cuma bisa menelan ludah. Kasno menelan ludah dengan rakusnya. Tapi sialnya, mana ludah, yang berkali-kali ditelannya justru tak ‘uat rasa hausnya hilang malah membuat Kasno muntah

Huooeekkkk…Huoeekk!

Kasno jatuh terlentang tepat kepalanya membentur sebuah batu kali yang keras. Matanya melotot, seketika kejang-kejang. Ayannya kumat. Gara-gara stress, gara-gara kondisi badan yang tidak tidak fit. Namun, di tempat itu tak ada orang. Padahal orang kena ayan, sangat berbahaya sekali bila dekat dengan air atau sungai. Jika tercebur ia bisa apatserangankramotakmendadak. Kasno terus berguling-guling sambil kejang-kejang. Kakinya menyepak batu-batu dengan keras. Jiwanya tampak tersiksa. Wajahnya merah pucat seperti wajah orang mati. Tak jauh dari tempatnya, satu meter lagi air sungai yang mengalir.
Kematian terasa begitu dekat.

“Ya, Allah.Kasno…!!”

Teriak suara dari atas kali. Orang itu setengah baya, biasa memandikan kambing di sungai. Ketika melihat Kasno kena ayan, ia segera meloncat turun. Diangkatnya Kasno ke atas ke tempat lebih kering. Karena lelaki itu sudah tahu perihal penyakit Kasno, cuma dibiarkan saja agar serangan itu reda. Benar juga, tak lama kemudian, Kasno mulai berhenti kejang-kejang. Gerakannya melemah. Wajahnya berangsur berwarna darah.

“Alhamdulillah, syukurlah aku cepat ke sini. Oalah, No. Kamu orang jangan seperti itu lagi,” rintih orang tua itu prihatin.

Kasno sendiri tak mendengar rintihan orang tua itu. Lima menit kemudian baru kesadarannya pulih. la terkejut ketika meliat sosok di depannya. Dia Pak Jiman, yang punya piaraan kambing banyak itu.

“Aku di mana Pak?”

“Untung tadi aku cepat ke sini. Aku lihat kamu kejang-kejang di bawah sana, dekat air. Untung aku masih sempat ngonangi kamu.”

Kasno baru menyadari apa yang terjadi. la pun berterima kasih kepada orang baik hati di depannya itu.
“Lho kamu sudah tak kerja di pabrik lagi to?”

“lya, Pak. Sekarang nganggur. Pinginnya tadi cari batu, siapa tahu bisa dijual. Tapi malah megap-megap napasnya.”
Pak Jiman mengangguk.

“Kebetulan aku sedang membutuhkan pegawai buat angon kambingku selama sebulan. Soalnya aku mau ke Jakarta, buat persiapan naik haji. Kalau kamu mau, kamu bisa kerja di rumahku, angon kambingku. Bagaimana?”

Berbinar mata Kasno. Angon kambing tak masalah, yang penting dapat uang.

“Benar Pak?”

“Masak aku bohong sih.”

Tentu saja Kasno menerima tawaran itu. Segera saja ditinggalkannya batu-batu itu di kali.

“Lho, kamu nggak jadi mengumpulkan batu lagi.”

“Biar saja Pak. Nanti sekalian pas menggembala kambing di sini, saya akan kumpulkan lagi. Yang penting saya harus kerja dulu biar dapat uang.”

Mereka berdua ke rumah PakJiman, dimana ratusan kambingnya sudah menunggu. Kasno jadi merasa bahwa sebenarnya ada kekuatan tertentu yang selalu menolong manusia yang dilanda kesulitan. Dan dipikir-pikir, dia jada ingat apa kekuatan itu. Tuhan, ya Tuhan Allah SWT yang menolongnya. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Yang diperlukan hanyalah bersabar saja. Allah itu tak akan memberi beban yang tak kuat ditanggung hamba-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s