Balada Prasojo dan Hujan

dimuat di majalah Al-Mar’ah, edisi Januari
hujan
Hujan deras turun minggu-minggu ini memaksa para petani berdiam di rumah. Prasojo yang bekerja menggarap sawah dan tak memiliki pekerjaan lain, harus rela mengisi waktu senggangnya dengan memperbaiki alat-alat pertanian sembari mendengarkan radio yang terus melaporkan cuaca buruk.
Meskipun ancaman cuaca buruk membayang di benaknya, Prasojo tetap berharap panennya berhasil. Ia perlu banyak uang untuk melunasi hutang dan persiapan kenaikan kelas putrinya Balqis yang mulai bersekolah SD tahun ajaran bulan depan. Ya, Prasojo sangat sayang dan mendukung anak itu. Balqis adalah buah hatinya. Anak itu sudah pandai baca tulis, jauh di atas rata-rata temannya. Harapannya jauh di depan agar Balqis kelak tidak seperti dirinya, menjadi seorang petani yang hanya mengandalkan kebaikan musim. Ia harus mengenyam pendidikan tinggi.
“Apa kita bisa panen Pak? Hujannya setiap hari makin deras begini,” tanya istrinya sore itu melihat gerimis yang deras di halaman.
“Entahlah Bu. Biarlah nanti aku menengok ke sawah, melihat kemungkinan kita bisa panen atau tidak.”
Dari dalam terdengar suara Balqis yang sedang membaca Qur’an. Dia sudah Iqra lima sekarang. Hapalan doanya juga bertambah. Kadang-kadang Balqis memamerkan hapalannya ketika sedang berkumpul bersama saat malam. Balqis memang bikin sayang suami istri Prasojo.
“Ayah mau dibikinkan teh panas?” tawar Istrinya memecahkan lamunan Prasojo.
“Ya, bolehlah. Sekalian digorengkan ketela yang aku ambil dari ladang kemarin. Masih ada di gandog sedikit.”
“Kebetulan sudah aku cuci semua kok, Yah. Tinggal digoreng.”
Istrinya pergi ke dapur meninggalkan Prasojo yang tercenung memandangi hujan di halaman yang makin deras.
“Wah, hujan terus. Balqis tidak bisa TPA ke masjid,” ujar Balqis yang tiba-tiba sudah di beranda dengan tas akan berangkat ke masjid membuat Prasojo menengok. Prasojo tersenyum.
“Nanti biar diantar sama Ibu pakai payung.”
Tapi raut muka anak itu masih muram juga.
“Sudah dapat berapa hapalan surat pendeknya?” tanya Prasojo.
“Sudah sampai At Takatsur. Ayah mau dengar?”
“Boleh. Sudah seminggu ini Ayah kan tidak dengar hapalan Balqis.”
Balqis lalu melafalkan dengan grotal gratul bacaan At Takatsur hingga selesai. Sang Ayah bertepuk tangan, dan anak itu berlari ke pelukan sang ayah dengan pipi merona merah.
“Hebat kan Balqis?”
“Iya, anak Ayah memang hebat.”
Sebentar kemudian istri Prasojo keluar dengan segelas teh panas dan sepiring ketela goreng. Balqis yang lapar melihat ketela goreng langsung mencomot satu.
“Eh, nggak boleh makan sambil berdiri Balqis.”
“Eh, iya,” Balqis duduk di pangkuan Ayahnya dengan manja.
“Tapi kenapa sih Bu, anak-anak yang lain kalau makan sambil lari-lari dan boleh pakai tangan kiri. Tapi kalau Balqis tidak boleh.”
Prasojo mengusap kepala anak itu dengan sabar menjelaskan.
“Nabi Muhammad mencontohkan kepada kita agar makan dengan tangan kanan. Kalau makan sambil berlari bisa membuat aluran pernapasan kita tersumbat sehingga tersedak. Balqis tidak mau sakit kan?”
“Iya deh. Balqis tidak akan mengulangi,” ujar Balqis tersenyum.
***
Prasojo yang baru pulang dari sawah menengok padinya mengabarkan berita buruk. Hujan terlalu deras. Semua tanaman padinya roboh. Panen mereka benar-benar gagal. Istrinya ikut bermuram durja.
“Terus bagaimana kita akan membayar hutang kita Pak? Dan biaya naik kelas Balqis?”
“Kita pakai simpanan Ibu dulu. Nanti kalau ada uang kita beli lagi.”
“Sudah tidak ada lagi Pak. Simpananku sudah habis saat beli pupuk kemarin itu.”
“Kalau begitu terpaksa kita akan hutang tetangga Bu.”
“Sama siapa Pak? Tetangga kita yang kaya kelihatannya Pak RT saja. Tapi bukankah Pak RT itu rentenir?”
“Iya Bu, aku tahu. Tapi sama siapa lagi kita pinjam uang? Biar aku mencoba memberi pengertian kepada Pak RT, siapa tahu hatinya menjadi lunak dan mau meminjami kita tanpa riba.”
Dengan prasangka baik Prasojo datang ke rumah Pak RT. Di depan rumah ia disambut salakan anjing herder yang besar. Prasojo jadi keder. Namun, ia tak punya pilihan. Ia harus membawa pulang uang untuk membayar hutang.
Setelah dipanggilkan seorang jongos akhirnya Pak RT yang tambun itu keluar menemui Prasojo. “Maaf sama anjingku tadi Pak. Belum aku kasih makan, jadi agak galak dia.”
“Tidak apa-apa Pak.”
“Harganya mahal anjing herder itu. Kecil segitu aja sudah dua puluh juta. Makannya saja steak daging sapi setiap hari.”
Prasojo tersenyum kecut dipameri seperti itu.
“Oh ya ada apa kemari?” tanya Pak RT pura-pura lupa.
Prasojo menghela napas sebentar, dengan rasa segan ia menceritakan keluhannya pada Pak RT yang punya koperasi simpan pinjam itu. “Saya mau hutang satu juta Pak.”
“Oh, boleh. Tenang saja. Nggak usah khawatir. Mau buat apa to kalau boleh tahu?”
“Ya, untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah Balqis, Pak.”
“Bisa. Bisa. Nanti aku kasih”
“Dan apakah bisa kali ini untuk saya tanpa tambahan bunga, Pak? Saya janji tidak sampai satu bulan akan mengembalikan.”
“Maksudmu bagaimana?”
Prasojo menjelaskan. “Islam itu kan melarang riba …
“Tapi masalahnya kalau uang ini tidak dikelola seperti itu pastilah jadi beku,” Potong Pak RT. “Aku sendiri sebenarnya hanya ingin mempermudah, Pras. Orang-orang bisa meminjam dengan jangka sampai satu tahun dan bunganya sepuluh persen saja. Keuntungannya juga tidak aku pakai sendiri, tapi digunakan untuk memberi pinjaman orang lain juga. Tapi, itu terserah kamu. Kalau mau pinjam ditempatku kamu harus menerima syarat itu. Kalau nggak mau ya sudah! Habis perkara!”
Tak ada kesepakatan. Prasojo terpaksa kembali dengan tangan hampa. Mereka berdua bingung memikirkan cara apa lagi yang bisa dilakukan.
***
“Apa yang kita bilang! Makanya, kalau meninggalkan adat nenek moyang pasti celaka,” ujar Pardi kepada orang-orang di warung tentang gagal panen yang menimpa Prasojo.
“Mereka orang baru tapi dikandhani ngeyel . Aku sudah berkali-kali memperingatkan mereka, kalau mau panen berhasil sawah harus caos dhahar,” tukas seorang petani yang sawahnya dekat dengan milik Prasojo sambil mengaduk kopinya.
“Biar tahu rasa dia. Kemarin datang mau hutang uang padaku. Aku mau kasih, eh, tapi dia malah ndalil di depanku, kalau bunga pinjaman itu haram! Dasar sok alim!” timpal Pak RT yang kebetulan ada di situ. “Baru jadi ustadz kampung saja, sudah senang ceramahi orang tua. Kuwalat sendiri kalau mau merubah adat.
***
Balqis baru kali ini melihat Ayah Ibunya kelihatan susah. Ia juga mendengar apa yang mereka keluhkan. Tentang bayaran sekolah yang belum terlunasi, tentang panen yang gagal karena sawah tergenang hujan. Balqis jadi tergerak ingin membantu kesulitan mereka. Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Balqis teringat kisah yang diceritakan ustadz di masjid. Kisah itu menceritakan seorang petani yang sedang kesulitan keuangan seperti ayahnya. Petani itu kemudian mengirim surat kepada Tuhan agar Tuhan membantu ayahnya. Di kantor pos, surat itu dibaca oleh sang tukang pos yang heran ada alamat yang ditujukan kepada Tuhan. Setelah membaca isi surat itu sang tukang pos merasa iba dan ingin membantu petani itu. Tukang pos itu pun mengirim amplop balasan dengan uang walaupun tidak sejumlah uang yang dibutuhkan petani itu. Sampai di rumah, petani itu gembira mendapat balasan uang yang dimintanya dari Tuhan. Tapi betapa marah petani itu melihat jumlah uang yang ia minta tidak sesuai. Dengan marah si petani kemudian menulis surat lagi agar Tuhan kelak mengirimkan uang tidak lewat kantor pos agar tidak dicuri oleh tukang pos.
Balqis, tahu itu hanya cerita. Namun Balqis ingin mencoba. Barangkali saja ada seorang tukang pos yang baik yang mau membantu Ayahnya seperti dalam kisah Surat kepada Tuhan itu.
***
“Ibu lihat ini!!” teriak Pak Prasojo pada istrinya yang sibuk di dapur.
“Ada apa Pak?”
“Kau percaya ini semua?” Pak Prasojo gemetar dengan uang di tangannya.
“Bapak dapat uang sebanyak ini darimana?”
“Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu bagaimana? Bapak memegang uangnya sekarang.”
“Iya Bu, tukang pos itu yang mengantar ke sini. Dan di dalamnya ada uang satu juta, persis seperti yang kupegang ini.”
“Ini benar alamat kita Pak. Mungkin ini untuk kita Pak.”
“Tapi dari siapa Bu? Pasti si tukang pos itu keliru. Kalau keliru harus aku kembalikan.”
“Tidak Bu, tukang pos itu tidak keliru,” tiba-tiba Balqis datang menyela.
“Kamu tahu ini semua Balqis?” Ibunya terkejut bertanya.
Balqis lalu menceritakan kalau ia yang membuat surat itu dan mengirimkannya ke kantor pos.
Pak Prasojo menggeleng. “Ayah tidak ingin kita menjadi peminta-minta. Ini pasti uang si tukang pos itu. Ayo kita kembalikan padanya”
“Untuk apa Ayah? Bukankah Ayah sudah mendapat uang yang Ayah butuhkan?” Balqis bertanya.
“Kau tahu Balqis, Tuhan menyuruh kita bersabar. Dia juga memberi ujian kepada hambaNya, yang manakah hambaNya yang bertaqwa dan bersabar dalam ujian itu. Kita tidak boleh meminta-minta kepada orang walaupun kita sangat membutuhkan uang itu. Balqis paham?”
Balqis dan Ayahnya mengejar si tukang pos untuk mengembalikan uang itu. Tapi, ada satu yang tak diketahui Prasojo. Sebenarnya uang itu pun bukan milik si petugas pos. Petugas itu hanya bertugas mengantar karena alamatnya memang tertera jelas untuk Prasojo.

2 thoughts on “Balada Prasojo dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s