Love Bird

Love-Birds
dimuat di majalah Respon bulan Oktober

Sepasang burung love bird cantik hadiah dari saudara sepupu Luna yang tinggal di Papua. Berbulu hijau mangga dan paruh warna semangka. Sebuah kado pernikahan yang lucu. Mereka tak pernah mengira akan mendapatkan sepasang burung cantik itu, alih-alih tak tahu bagaimana memelihara sepasang love bird. Konon dengan memelihara burung love bird akan membuat ikatan cinta pasangan menjadi langgeng.

“Burung itu mahal lho Mbak, jual aja. Harganya bisa sampai 6 juta seekor. Kalau sepasang begini, wah, itu bakalan lebih mahal,” pendapat adik perempuan Luna, yang tampaknya hanya tertarik dengan uang.

Luna tak akan menjualnya, hal itu menjadi keputusan. Adam, suaminya sendiri hanya mengangkat bahu. Terserah kau, katanya. Ia memang sedang sibuk untuk menyelesiakan tesis yang ia targetkan selesai di tahun ini.

Luna menjadi sibuk sendiri dengan burung love bird. Ia mulai gemar browsing love bird di jejaring sosial Kaskus atau facebook. Bagaimana pola makan mereka. Bagaimana cara memandikan mereka. Ia juga berencana pergi ke pet shop di kotanya agar bisa mendapat informasi yang jelas.

“Ayolah temani aku ke sana,” pinta Luna pada suaminya.

“Kenapa tidak cari di internet saja. Tinggal browsing ke Mbah Google, pasti ketemu.”

“Ah, itu tidak akan membuatku lebih paham. Kita lihat saja langsung mereka yang punya.”

Adam terpaksa manut diajak pergi ke pasar burung. Sesampai di sana, Luna langsung mencari penjual tempat burung love bird.

“Mau cari love bird Mbak? Kalau yang ini sepuluh juta sepasang. Atau mau yang impor. Selisihnya cuma dua juta kok,” belum sempat bilang apa-apa Luna sudah ditawari burung.

Adam segera menjawil lengan istrinya.

“Eh, kita jual aja yang di rumah. Kayaknya punya kita lebih bagus daripada yang ini. Pasti lebih mahal, gimana?”
Luna mendengus untuk menyatakan sikapnya. Ia berlalu pergi dari pedagang itu karena kesal.

“Kan Mas Adam sudah dengar sendiri. Sudah kuputuskan aku tidak akan menjualnya,” ucap Luna saat mereka berkeliling.
“Eh, siapa yang maksa. Gitu aja sensitif.”

“Habisnya Mas Adam yang mulai.”

Adam hanya mengedikkan bahu. “Emangnya mau cari informasi apa sih?”

Luna mengatakan rencananya untuk menangkar love bird di rumah. Untuk mengisi waktu luang.

Adam hanya tertawa saja dengan ide itu.

“Kamu tak serius kan? Aku tak percaya kamu bisa.”

“Eh, mau dibuktikan. Berani taruhan berapa?”
Adam tampak berpikir.

“Oke saja. Siapa takut. Bagaimana kalau jika aku menang kamu mau mijitin aku selama sebulan.”

“Tapi bagaimana kalau aku menang?”

“Terserah kamu minta apa?”

“Ehm, aku pikir dulu deh….”

“Ya sudah, artinya kita sepakat.”

Mengenai taruhan itu Luna yakin pasti menang, walaupun belum memutuskan apa yang menjadi permintaannya. Tapi semua informasi tentang love bird sudah ia dapatkan. Tinggal melakoni hari-hari itu saja.

Namun kesibukan baru itu menyita waktu Luna. Suaminya yang telat dibuatkan kopi menggerutu.

“Sekarang kau lebih sayang pada burung itu daripada suamimu sendiri. Mana nih kopinya?”
Luna yang kini terus menambah koleksinya tampak cuek. “Biasanya kan buat sendiri. Aku lagi sibuk nih, tanggung…”
Adam menggelengkan kepala. Semua ini gara-gara love bird. Tapi, ia tahu sifat istrinya. Jika punya kemauan, ia pasti akan mewujudkan. Dalam hati, Adam menyesali tentang taruhan itu. Ia membayangkan rumahnya penuh love bird. Tidak hanya di halaman, tapi juga di ruang tamu, di garasi, di kamar tidur, di manapun!

Adam menghela napas mengenyahkan bayangan itu. Karena itu tampaknya menakutkan. Istrinya bersuamikan love bird setiap hari.

Luna sendiri merasa asik dengan hobi baru itu. Tak terasa waktu bergulir cepat, hingga sebulan ini berlalu. Koleksinya makin bertambah saja. Setiap kali ia membuat keputusan membeli love bird bahkan tak mengatakan pada suaminya.

Adam yang merasa kelimpungan. Jika setiap hari begini, rumah tangganya akan kacau. Suatu kali Adam mencoba menegur Luna. Istrinya sudah melebihi batas. Bayangkan koleksinya yang baru sebulan saja kini sudah bertambah lima ekor. Sementara rata-rata love bird itu harganya minimal enam juta sepasang.

“Menurutku burung ini tak mencerminkan cinta sama sekali,” sindir Adam.
Luna hanya tertawa. Raut wajahnya tetap ceria sambil menyemproti burung koleksinya, tak peduli sindiran itu.
Adam merasa kesal.

“Apa kau tak takut koleksimu akan menghabiskan tabunganmu?”

“Tenang saja Mas, aku sudah menghitung semuanya.”

Adam menghela napas. “Maksudnya juga waktumu yang kau sia-siakan itu.”

Sebenarnya Adam ingin bilang waktunya juga disia-siakan Luna demi love bird. Tapi, ia menahan diri agar tak membuat istrinya tersinggung.

Luna kelihatannya benar-benar habis untuk mengurusi burung. Adam sendiri yang kena imbasnya. Ia tak konsentrasi menyelesaikan tesisnya. Biasanya ketika malam, ketika ia lembur mengerjakan paper itu, istrinya yang menemani atau membuat kopi dan menyuguhkan makanan ringan. Sekarang semua ritual itu hilang habis oleh hari-hari Luna mengurusi love bird itu. Ketika malam ia memelototi film discovery chanel tentang love bird atau browsing di internet, mencari file-file love bird.

Adam berpikir harus menghentikan itu semua. Ia tak akan tenang jika setiap hari begini. Juga tak akan membuatnya bisa merampungkan tesis itu.

Di meja makan, Adam mencoba menyinggung hal itu sebelum ia berangkat ke kantor.

“Apa bisa kita bicara sebentar?”

“Tentang love bird kan?”

Sikap Luna yang asal-asalan membuat Adam kesal.

“Kau sudah berlebihan Luna. Itu yang mau kukatakan.”
“Lantas?”

Adam mengernyitkan dahi. Ia tak percaya istrinya akan berkata begitu.
“Aku serius.”

“Aku juga serius kok. Kamu sendiri yang ingin taruhan itu kan? Masih ingat?”
“Ini bukan soal taruhan kita lagi. Kau dan love bird-mu itu. Apapun itu!” Adam meradang. “Kau harusnya tahu dan menghargaiku. Sejak love bird itu ada, kau menghabiskan semua waktumu untuk nya, sementara tugasmu sebagai istri…! Oh, aku tak percaya akan mengakan ini.”

Adam bangkit dari meja makan, meninggalkan makanannya yang belum habis. Ia berangkat dalam diam, menahan marah. Luna benar-benar membuatnya marah kali ini.

Di rumah Luna mengamati burung-burung itu. Ia mencoba mengingat kembali awal sebuah love bird itu ada. Keinginannya yang kuat terutama. Dan saat itu tampaknya suaminya tak keberatan.

Apakah memang benar suami itu egois. Selalu ingin menang sendiri.

Ataukah aku yang terlalu egois?

Sebenarnya ia meniatkan memelihara love bird sekedar mengisi waktu. Tapi literatur love bird mengajaknya lebih dari itu. Banyak filosofis yang menarik yang bisa ia dapatkan. Jika Adam marah, pasti itu persoalan karena dia belum paham semua itu saja.

Tapi ia ingat perkataan Adam yang keras di meja makan. Biasanya suaminya itu tak pernah berkata seperti itu. Ya, ia mengenal Adam. Suaminya adalah orang yang paling sabar yang pernah ia temui. Orang yang paling ia sayangi, setelah orang tuanya.

Sejenak gamang Luna dengan apa yang dihadapinya. Ia harus memutuskan.

Luna akhirnya memutuskan. Tugas istri adalah mengabdi kepada suaminya, mencari ridho suaminya, yang artinya menjalankan roda rumah tangga dengan bijaksana. Love bird memang menarik, tapi ada yang lebih ia mesti jaga, cinta dan keharmonisan antara dia dan Adam. Buat apa memelihara love bird jika burung cinta itu berarti kemarahan dari suaminya.

Ia tahu dirinya mengalah untuk dicintai. Bukan mengalah karena ia kalah.

Luna menjual semua burung love bird itu. Kejutan, beberapa love birdnya terjual lebih mahal dari yang ia beli. Pembeli itupun senang sekali mendapatkan burung-burung yang bagus.

“Mengapa ini tidak dijual juga nyonya?” tanya si pedagang.

“Oh, itu hadiah pernikahan dari adik sepupu saya dari Papua. Jadi tidak saya jual Pak.”

“Oh, sebuah kenang-kenangan pernikahan.”

“Bukan hanya itu, burung love bird itu akan selalu mengingatkan saya kalau ada yang harus saya pelihara dalam perkawinan kami,” jawab Luna diplomatis.

“Boleh saya tahu?”

“Cinta kami yang sebenarnya. Burung love bird itu hanya simbol. Tak akan mampu menggantikan cinta kami berdua.”
Si pedagang mengangguk, dalam hati ia kagum dengan si penjual love bird yang ditemuinya ini. Burung love bird hanyalah simbol cinta, tak lebih.

Karanganyar, maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s