Berkompetisi Tanpa (Menjadi) Kompetitor

Business Executives Running in a Race

Persaingan dan Studi Kasus
Persaingan dalam usaha selalu tak terelakkan. Beragam cara ditempuh agar tidak hancur dalam pertempuran. Bahkan laku menghalalkan segala cara tak segan akan dilakukan untuk menjadi pemenang. Dari pelanggaran terkecil hingga pelanggaran kehormatan pihak lain yang mengundang jeratan pidana.

Sebenarnya ada satu kaidah indah yang bisa dipahami untuk memenangi persaingan itu atau minimal tidak kesingsal dalam kompetisi. Ya, dengan memahami bahwa kompetitor itu sebenarnya bukanlah kompetitor. Artinya adanya kompetitor tidak perlu harus kita takuti apalagi dimusuhi. Dengan memakai laku seperti ini kita akan lebih mudah mengelola perasaan saat menghadapi persaingan. Dengan cara begini pula jika tekanan persaingan menggencet kita, tak perlu kita merasa stress dan depresi.

Ada landasan besar yang dipakai untuk bisa sampai pada kepahaman di atas. Hal ini tidak bisa tidak harus diyakini. Kepahaman itu adalah pengertian bahwa sebenarnya rejeki manusia sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahaadil. Tugas kita hanya menjemput rejeki kita sendiri yang sudah ada, dan syaratnnya adalah tawakal. Pengertian tawakal sendiri hakikatnya memadukan antara laku kerja dan doa.

Ada sebuah kisah menarik dari sebuah usaha bimbel (bimbingan belajar) di Solo. Sebut saja bimbel ini bernama Smart Learning. Ketika akan memulai usaha bimbel tersebut, sang pemilik dan sekaligus pengajar ini sempat merasa galau dan bingung. Ia melihat banyak bimbel besar di sekitarnya. Jika ia membuka bimbel apakah tidak akan gulung tikar karena persaingan. Jangan-jangan bimbelnya nanti malah tidak laku?

Akhirnya dengan semangat dan keberanian seorang enterpreuner ia membuka bimbelnya. Kali ini ia membuat pilihan untuk tidak ikut bagian dalam persaingan. Ya, semua bimbel besar itu rata-rata fokus atau menarget anak-anak kelas siswa menengah pertama (SMP) dan siswa menengah atas (SMA) yang mau lulus, atau siswa yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi. Bimbel Smart Learning ini berbeda. Ia memilih “remah-remah” yang dibuang dari bimbel-bimbel besar itu. Mulailah ia membuka bimbel untuk anak-anak sekolah dasar (SD) yang selama ini luput dari bimbel-bimbel besar itu. Usaha ini pun berjalan lancar dan berkembang pesat hingga sekarang. Dengan laku seperti ini bimbel Smart Learning berhasil memenangi persaingan dengan tidak mencari persaingan. Hasilnya ia dapat fokus untuk mengembangkan bimbelnya dan dapat membuka cabang di kota lain.

Ada lagi contoh kisah sukses memenangi persaingan. Sebuah home industri penjualan parfum non original dalam botol kemasan 10 ribuan yang dipasarkan secara konsiyasi pada market-market lain. Usaha ini sudah ditekuni sejak lama. Pasang surut omset terus ada dan persaingan dengan kompetitor juga tak bisa dihindari. Tapi ada resep pintar yang membuat usahanya bisa terus berjalan dan tak terseret fluktuasi rupiah atau inflasi yang sempat melanda Indonesia. Resep itu adalah dengan menghindari konflik langsung dengan kompetitor lain.

Ia selalu menganggap bahwa pesaing bukanlah kompetitor yang harus ditakuti akan merebut lahannya. Dengan begitu ketika dalam satu tempat (outlet) tempat konsiyasi itu ada beberapa produk pihak pesaing, dan misalnya terjadi konflik harga atau perlakuan tidak adil dari sang pemilik outlet yang membuat produk tidak laku, maka ia memilih untuk menghindari konflik dengan cara pergi dari satu tempat itu untuk mengais rejeki di tempat lain. Hal ini lebih efektif untuk bertahan dalam persaingan daripada menghabiskan energi untuk konflik yang sia-sia.

Satu lagi kisah brilian adalah penjual mie sop noodles di Solo. Pemilik yang juga mahasiswa ini sengaja memilih customernya dari kalangan mahasiswa karena ia tahu sebagian besar mahasiswa adalah para pengonsumsi mie. Dari mie instan hingga mie ayam.

Akhirnya ia mencoba membuat mie khusus para mahasiswa ini. Tapi ada yang berbeda dari mie yang ia jual dengan kebanyakan mie yang sudah beredar. Ia memilih membuat mie sop noodle dan didirikanlah warung ala mahasiswa. Ia pun berhasil membuat gaya sendiri di antara penjual mie. Ia tak perlu bersusah payah mencari pelanggan karena kebanyakan mahasiswa adalah pecinta mie, yaitu tinggal mengubah cara pandang saja. Ia tidak perlu membuat mie yang sama dengan yang sudah ada. Tetapi mengarahkan pelanggan mie yang sudah ada untuk memilih mie yang ia jual – yang lebih fresh dan menarik dan bukan mie instan atau mie ayam yang tampak menjenuhkan.

Dari tiga kisah di atas ada beberapa kiat untuk menghadapi persaingan yang bisa diambil, terutama untuk para wirausaha menengah kebawah. Tidak perlu kita takut dan bingung dengan persaingan. Kita sebenarnya hanya perlu memilih kelas kita sendiri.

Tips sukses memenangi persaingan itu adalah :
1. Ambil celah dari pemain-pemain besar yang selama ini sudah mengepung kita. Kadang kala memakan remah-remah itu lebih mengenyangkan daripada ikut berebut roti utama.
2. Mengalah bukan berarti kalah. Tak perlu mengarakan diri pada konflik. Hindarilah konflik dan teruslah membuat perbedaan. Ingatlah bahwa rejeki itu sudah diatur. Ikhtiar kita adalah kerja dan berdoa. Insya Allah, jatah rejeki kita tidak akan salah tempat atau direbut pesaing kita.
3. Banyak bersedekah. Ada hal yang menarik bisa disimpulkan dari berkah sedekah ini. Bahwa semakin besar kekuatan kita, semakin besar tanggung jawab kita. Rasulullah bersabda, pada sebagian dari harta kita adalah hak orang miskin. Agar harta kita tidak menjadi fitnah bagi kita, maka kita harus bersedekah. Ustadz Yusuf Mansyur, membuat analogi menarik tentang berkah dari sedekah. Perhitungan untuk 10 – 1 = 9 … ini adalah matematika yang biasa kita terima. Tetapi matematika sedekah adalah sebagai berikut, 10 – 1 = 19… ini menggunakan dasar bahwa Allah membalas setiap 1X sedekah dengan 10 kebaikan.

Kerja Cerdas dalam Islam
Memang setiap kerja keras akan selalu berbuah kesuksesan dan kebanggaan. Namun kerja keras itu bakal mengunduh kebanggaan semu belaka jika kerja kerasnya semata berorientasi pada dunia semata dan melupakan kebahagiaan hakiki di alam akhirat. Bahkan, jika hasil kekayaan yang ia dapat malah digunakan untuk bermaksiat maka ia akan mendapat ganjaran siksa Allah di neraka, seperti bunyi ayat: Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka) (QS. Al Ghasiyah[89] 3-4)

Al Ikrimah dan as-Suddi, berkata, “Di dunia mereka kerja keras di jalan maksiat sehingga merasakan kepayahan di neraka dengan adzab dan kesengsaraan.”

Dalam Islam amal (kerja) yang diterima oleh Allah Ta’ala mempunyai dua syarat, yaitu ikhlas dan benar. Pengertian Ikhlas adalah bekerja semata untuk Allah dan untuk mencari ridha-Nya, sedangkan benar adalah sesuai dengan sunnah dan tidak melanggar kehormatan pihak lain.

Ketika kita sudah bekerja keras dan hasil jerih payah yang didapatkan belum mencukupi kebutuhan, jangan sampai kita berputus asa. Bahkan ketika mendapatkan dirinya dalam kemiskinan dan penderitaan serta kesempitan hidup, dia tetap terhibur dengan keyakinan, bahwa kemiskinan itu hanyalah sementara. Jika ia tetap beriman dan bersabar kelak takkan terasa semua penderitaan di dunia itu. Dengan ghirah semacam itu mereka akan selalu mendahulukan urusan yang paling besar: akhiratnya. Karena yang terbaik bagi seorang muslimin adalah tetap bersabar dalam menghadapi cobaan, sabar dalam ketaatan, dan sabar untuk tidak tergiur mengerjakan maksiat. Mereka itulah orang-orang cerdas, bahkan lebih cerdas daripada orang-orang kaya yang menjadikan dunia sebagai tujuan.

Konklusi
Persaingan adalah wujud dari sunatullah. Tidak mungkin dihindari tetapi bisa disiasati. Mengambil sikap legawa (menghindari konflik) dan tawakal adalah sebuah ikhtiar bijaksana yang bisa kita lakukan. Kita harus percaya bahwa jatah rejeki itu sudah diatur dan tidak akan salah tempat. Kita tinggal menjemput jatah rejeki kita di dunia ini dengan bekerja, berdoa, dan terus membuat inovasi baru. Dan yang terpenting adalah semangat kerja keras kita untuk kesuksesan dunia janganlah melupakan jatah kita di akhirat. Bersedekah adalah sebuah laku amal agar usaha kita di dunia mendapat berkah di sisi Allah. Artinya, semakin kita mendapat berkah dari hasil usaha kita, Allah pun akan terus menambahkan jatah kebaikan untuk kita.
Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s