KISAH SEPENGGAL TANAH SURGA; Menyelamatkan Lahan Kritis

gundul

Kata, Anis Matta, dalam orasinya tidak lama ini dalam milad organisasi partai politiknya, Indonesia adalah sepenggal tanah surga. Ya, kenyataan ini memang tidak bisa dinafikan. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu ditegasi lagi, memang Indonesia dulu adalah sepenggal tanah surga. Tapi itu dahulu. Sekarang, Indonesia adalah biografi luka hingga kiamat tiba, kata seorang penyair Hamid Jabar.
Wah, ini tentu saja bukan sebuah ejekan atau sikap pesimistis semata. Kenyataan ini sebaliknya hendak mengajak kita untuk bersikap positif dan arif. Tidak hanya kepada diri saya pribadi tetapi juga orang lain, yang masih mengaku cinta Indonesia, untuk mengembalikan kisah sepenggal tanah surga ini.
Indonesia bukanlah lantunan lagu-lagu Koes Plus jaman dulu, yang mengatakan tongkat dan batu jadi tanaman. Tapi, Indonesia sekarang yang makin gersang dan banyak luka menganga ini yang harus kita benahi.
Saya yakin Tuhan memberikan bumi dan isinya ini untuk kita olah dan kita ambil manfaatnya. Tidak hanya menikmati saja, tetapi mempunyai peran mengolah dengan baik.
Seperti diberitaan Republika Online, Eksploitasi hutan dan lahan secara masif pada satu dekade terakhir ini menyisakan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dianggap remeh. Sekitar 33 juta lahan di seluruh Indonesia dinyatakan dalam kondisi kritis.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Hadi Daryanto, mengatakan sebagian besar titik-titik lahan kritis tersebut terletak di Pulau Jawa dan Sumatra. Di Pulau Jawa sendiri, Provinsi Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah lahan kritis terbanyak. “Di Jawa dan Sumatra banyak, terutama di Jawa Barat,” kata dia, Ahad (11/3).
Tingginya angka lahan kritis ini, menurut Hadi, disebabkan karena budaya masyarakat yang lebih menyukai menanam tanaman yang cepat menghasilkan. Akibatnya, banyak lahan yang semestinya menjadi resapan air beralih fungsi menjadi area pertanian. “Budaya bertani itu bagus, tapi harus dibarengi dengan menanam pohon,” ujarnya.

Apa sih lahan kritis itu
Ternyata tanah dan lahan mempunyai arti berbeda. Dalam bahasa Inggris tanah disebut Soil. Sedangkan menurut Dokuchaiev, tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga, terdiri dari lebar, panjang, dan dalam, merupakan bagian paling atas dari kulit bumi.
Adapun lahan dalam bahasa Inggrisnya land. Lahan merupakan lingkungan fisis dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Lingkungan fisis meliputi relief (topografi), iklim, tanah, dan air. Sedangkan lingkungan biotik meliputi hewan, tumbuhan, dan manusia. Jadi kesimpulannya, pengertian lahan lebih luas dari tanah.
Lahan kritis adalah lahan yang telah mengalami kemerosotan kesuburannya atau lahan yang dalam proses kemunduran kesuburan baik secara fisik maupun kimia dan biologi. Berdasarkan tingkat kerusakannya, lahan kritis dapat dikelompokkan menjadi lahan kritis potensial, lahan semi/hampir kritis dan lahan kritis.

Penyebab Lahan Kritis.
Terjadinya lahan kritis disebabkan antara lain oleh 7 (tujuh) faktor yang disingkat dengan PASEMIS.
P=Pengurasan kesuburan ( perladangan berpindah/ penebangan hutan tidak terkendali, pemupukan yang tidak memadai;
A=Api/pembakaran yang tidak terkontrol;
S=Sapi (pengembalaan ternak secara lepas dan berlebihan);
E=Erosi, hanyutnya tanah termasuk lonsor;
M=Modal kurang/miskin; I= Ilmu/informasi kurang; dan
S=Sosial/faktor dan status tanah yang komplek, kesadaran dan motivasi kurang.

Lebih detailnya ini nih :
Penebangan hutan yang tidak terkendali yang diikuti perladangan berpindah akan berakibat hutan menjadi lahan terbuka, sehingga butiran hujan akan langsung memapar tanah menyebabkan butiran tanah akan hancur dan terlepas. Selain itu jika butiran tanah terlepas maka air akan menghanyutkan humus dan unsur hara tanah. Jika humus dan unsur hara tidak ada kesuburan tanah akan hilang pula.
Api alias pembakaran yang tidak terkontrol terutama dalam persiapan lahan akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar daripada manfaat yang didapat. Pembakaran akan menghilangkan sumber bahan organik dan humus tanah, terganggunya kehidupan dan kegiatan jasad renik, hilangnya unsur hara tertentu seperti Nitrogen, dan menurunnya fungsi penyimpangan dan penyediaan air serta hara.
Sapi (pembiaran ternak sapi yang dilepas di daerah lereng serta populasi yang cukup banyak) akan menyebabkan tanah dan rumput penutup tanah rusak. Disamping itu ternak yang diumbar akan merusak tanaman pertanian dan ekologi penghijauan yang ada.
Erosi merupakan peristiwa pelepasan butiran tanah dan pengangkutan butiran tanah oleh air dan angin. Erosi yang tidak terkendali mengakibatkan hilangnya lapisan atas tanah, hanyutnya unsur hara tanah, terjadinya pendangkalan sungai, waduk dan muara sungai.
Modal untuk pembibitan pada lahan kritis yang kurang akan mempengaruhi kemampuan petani untuk membeli saprodi usahataninya, terutama pupuk. Kurangnya pupuk juga mempercepat mundurnya kesuburan tanah, sehingga secara perlahan-lahan akan menjadi kritis.
Ilmu/informasi yang kurang menyebabkan lahan dikelola secara tradisional atau seadanya, sehingga produktivitas menjadi berkurang. Bahaya kemunduran kesuburan akan semakin tinggi akibat kurang tepatnya pengelolaan tanah dan tanaman.
Sosial atau faktor dan status tanah yang komplek, kesadaran dan motivasi yang kurang juga akan mempercepat lahan menjadi kritis. Tanah nagari atau kas desa sering tidak dikelola secara baik. Belum adanya aturan yang jelas tentang pembagian hasil bila seseorang menanam tanaman keras/ tahunan pada tanah ulayat/nagari sehingga penggarap hanya mau menanam tanaman semusim. Secara umum, tanah ulayat dan nagari ini mempunyai kelerengan yang tajam yang selalu terancam erosi dimusim hujan bila tidak ada tanaman tahunan sebagai pengendali erosi.
Bukan Tanggung Jawab Pemerintah Saja
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Banten, tahun 2013 menargetkan gerakan tanam sebanyak 8.000.000 pohon guna pelestarian hutan dan lahan juga peningkatan ekonomi masyarakat, kata Kepala Bidang Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak Ahmad Yusup.
Gerakan penghijauan tersebut disebabkan wilayah Kabupaten Lebak merupakan daerah resapan air juga kawasan konservasi sumber daya alam. Oleh karena itu, kata dia, tahun ke tahun gerakan tanam meningkat, baik dilakukan pemerintah maupun swadaya masyarakat. Gerakan tanam 2012, kata dia, mencapai 6.000.000 pohon dan tahun ini ditargetkan 8.000.000 pohon.
Di samping itu, kata dia, gerakan penghijauan memiliki nilai ekonomis yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari hasil produksi tanaman kayu-kayuan. Adapun, kata dia, bibit tanaman yang akan disebar jenis tanaman keras, di antaranya albazia, manglid, mahoni, jabon, pulai, jati, dan tanaman hortikultura.
Tanaman tersebut, selain melestarikan hutan dan lahan juga menghasilkan pendapatan ekonomi.
Solusi lain
Sebenarnya ahli dan peneliti di Indonesia sangat banyak. Mereka menguasai bidang dan kenal dengan struktur tanah serta kondisi geografi yang ada. Semuanya itu tak terlepas koordinasi antara pemerintah dan anggota masyarakat, serta lembaga swadaya yang konsern di bidang penyelamatan lingkungan.
Secara garis besar ada beberapa hal yang bisa dilaksanakan untuk menanggulangi lahan kritis yaitu dengan Konservasi Lahan Kritis. Menurut Len Bahri, beberapa cara memperkuat konservasi tanah dan air dapat dilakukan melalui:
(a) Pengaturan pola tanam yang tepat;
(b) Pengolahan tanah menurut kontur;
(c) Gunakan Bahan organik;
(d) Letakkan sisa tanaman/mulsa sepanjang kontur;
(e) Diversifikasi usahatani termasuk tanaman pohon;
(f) Pemeliharaan atau pembuatan hutan diatas lereng;
(g) Perlindungan tanah dengan tanaman penutup tanah; dan
(h) Ternak dikandangkan.

Konservasi Lahan Kritis Serta Pemanfaatan Lahan Kritis
Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.
Dalam tulisan ini akan diuraikan salah satu metode konservasi lahan kritis yang bisa mengembalikan kelestarian lingkungan dan efisiensi penggunaan dana dalam program ekstensifikasi dan perbaikan produktivitas, yaitu dengan Metode Vegetatif.

Metode Vegetatif
Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi. (Sundari STT)

Aplikasi Metode Vegetatif :

A. Sistem Pertanaman Lorong

Sistem pertanaman lorong adalah sebuah sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.

B. Sistem Pertanaman Strip Rumput

Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.

C. Tanaman Penutup Tanah

Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah.

Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.

Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu : (a) jenis merambat (rendah), contoh ; Colopogonium moconoides, Centrosome sp, Ageratum conizoides, Pueraria sp, (b) jenis perdu/semak (sedang) contoh ; Crotalaria sp, Acasia vilosa, (c) jenis pohon (tinggi) contoh ; Leucaena leucephala (lamtorogung), Leucaena glauca (latoro lokal), Ablizia falcataria, (d) jenis kacang-kacangan contoh Vigna sinensis, Dolichos lablab (komak).

D. Mulsa

Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.

Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasi dan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.

E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape)

Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satu landscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.

F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah

Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.

G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat

Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.

Pertanian konservasi sangat sedikit mengganggu tanah melainkan memberi kesempatan flora dan fauna tanah yang ada untuk tumbuh subur secara alami. Flora dan fauna tanah tersebut akan membusukkan sisa tanaman yang dijadikan penutup tanah oleh petani sehingga akan menambah nutrisi pada tanah dan meningkatkan struktur humus tanah. Selain itu pertanian konservasi mampu memanfaatkan hujan dengan lebih baik sebab tanah yang ditutupi oleh sisa tanaman akan menyerap lebih banyak air hujan dan mengalami lebih sedikit penguapan. Saat curah hujan rendah lahan akan menangkap kelembaban yang ada di udara. (Sundari, SST (penyuluh pertanian BBPPTP) dalam Tabloid Sinar Tani nomor 3428)

Kesimpulan yang bijak itu
Segala usaha yang terbaik dilakukan untuk menyelamatkan bumi Indonesia ini. Tidak hanya konservasi tanaman tetapi banyak hal yang dimulai dari diri kita sendiri, tentunya dengan dimulai dengan kesadaran memahami, dan mencari ilmu serta informasi bagaimana cara menyelamatkan lahan kritis khususnya dan bumi Indonesia ini umumnya.
Tanpa adanya rasa peduli dari diri kita sendiri, sangat mustahil semua wacana yang baik sekalipun dapat tercapai hasilnya. Semua hasil penelitian harusnya ditindak lanjuti dan diberi penghargaan sebagai hasil karya anak bangsa. Gerakan penanaman bibit pada lahan kritis harus diprioritaskan. Ya, kita tahu hal ini bahwa semakin lama lahan di Indonesia rusak karena ulah manusia. Entah itu dengan dalih untuk pemukiman rakyat, atau penanaman lahan pangan yang tidak bijaksana, sehingga mengambil alih hutan rakyat. Dan banyak hal yang sepertinya kurang disadari oleh para penduduk Indonesia, bahkan pemerintah sendiri seakan merasa tenang saja, jika seluruh lahan di Indonesia ini tidak produktif dan rusak.
Namun apapun usaha kita saya yakin semua akan mendapat hasil walaupun tidak serta massif. Bahkan lomba ini sekalipun adalah langkah strategis untuk mengenalkan lebih banyak lagi tentang konservasi lahan kritis menjadi lahan potensial. Dan semoga saja, semua usaha ini diganjar luar biasa oleh Rabb Pemelihara Bumi ini. Insya Allah
Wallahu A’lam bish showab

Sumber :
Diolah dari berbagai sumber,
Sundari, SST (penyuluh pertanian BBPPTP) dalam Tabloid Sinar Tani nomor 3428 dan Republika Online, juga sumber2 lain.

One thought on “KISAH SEPENGGAL TANAH SURGA; Menyelamatkan Lahan Kritis

  1. This is a comment to the admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. I have found a company which offers to dramatically increase your traffic to your website: http://voxseo.com/traffic/ They offer 1,000 free visitors during their free trial period and I managed to get over 30,000 visitors per month using their services, you could also get lot more targeted visitors than you have now. Hope this helps🙂 Take care.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s