Catatan Kronis Pilkades Karanganyar

calon pilkades

Jika engkau ingin menjadi pemimpin, jangan pernah mengabaikan keharusanmu untuk melayani bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang kau pimpin. (Mario Teguh)

Rupanya semangat pragmatisme dan materialisme telah menjadi penyakit kronis dalam pelaksanaan pilkades di kabupaten Karanganyar. Praktek money politik terjadi nyaris melanda semua pilkades yang serentak dilaksanakan pada tanggal 20 Februari itu. Dari jor-joran bantuan agar mendapat simpati masyarakat, perjudian para botoh yang merusak citra pilkades untuk memilih pemimpin yang amanah, hingga ‘serangan fajar’ tim sukses yang ditujukan untuk mengubah suara pemilih. Apa yang sebagian disebutkan itu telah mengindikasikan bahwa pilkades yang jujur dan memakai hati nurani itu nyaris tidak ada. Dan pernyataan ini tentu saja bukan tuduhan tanpa bukti. Kalau mau, silakan cek pada setiap pilkades yang telah berlangsung itu. Bahkan di beberapa tempat, terjadi perkelahian antar pendukung, yang semuanya itu adalah sikap kebodohohan yang dibungkus fanatisme, yang harus kita enyahkan dari jiwa bangsa Indonesia ini. (Kisruh Pasca Pemilihan kepala desa, Kades Wukirsari Karanganyar Dilaporkan ke Polres, Joglosemar 24/2)
Janji-Janji Kampanye Hingga Serangan Fajar
Seorang pemimpin dipilih karena sikap amanah dan integritas. Sikap amanah bisa berarti seorang yang jujur dan bisa dipercaya untuk mengemban aspirasi rakyat. Sedangkan integritas adalah sikap seorang pemimpin yang bisa mengakomodir keragaman masyarakat sebagai modal pembangunan. Ketika kampanye berlangsung, nyaris tak ada kandidat yang mencoba memperlihatkan itikad baik tersebut. Sepintas hanya mengoarkan janji-janji belaka, yang konon akan dipenuhi ketika sudah terpilih. Artinya, sengaja atau tidak sengaja, si kandidat tersebut sudah mempunyai iktikad tidak baik menggantung janji-janjinya, lain tidak. Kita bisa menilai sendiri tipe kandidat semacam ini. Malah, beberapa kandidat membuat ‘serangan fajar’ yang licik untuk merubah opini publik. Namun ironisnya, banyak masyarakat bersikap oportunis dan aji mumpung, bersedia merubah suara dan pilihan mereka sekedar mendapatkan sejumlah rupiah.
Bukan hanya itu saja kebobrokan pesta demokrasi di tingkat desa. Pilkades yang serentak dilaksanakan itu agar terhindar campur tangan para penjudi, hal ini senyatanya tetap tak bisa dihindarkan. Para botoh merajalela sedangkan aparat keamanan selalu kalah sigap. Lalu ketika pilkades telah selesai, kita hanya bisa terheran-heran betapa sebuah pilkades bisa sekejap mengubah wajah sebuah desa yang mulanya rukun dan damai berubah menjadi mengerikan. Nilai dan kualitas moral dibanting dengan harga murah. Kepercayaan masyarakat dipolitisir oleh para kader semata untuk nominal rupiah. Praktek perjudian merajelala. Dosa komunal yang telah dilakukan ini saya yakin akan menentukan bagaimana wajah desa kita tercinta selanjutnya, terutama sesudah dipimpin kandidat terpilih. Apakah ia akan menjadi desa unggulan yang ramah dan bersih. Ataukah menjadi desa yang coreng moreng dan bobrok birokrasinya. Padahal kita juga meyakini setiap hasil akhir yang baik itu diawali dengan proses yang baik. Namun jika kita mengawali sebuah pilkades ini dengan cara dan proses yang buruk dan hancur-hancuran, apa yang mau diperoleh dari pilkades yang merupakan buah dari pohon demokrasi yang makin kelihatan centang perenang cacat dan celahnya ini.
Kembali Pada Nilai Moral
Ya, kita sadar bahwa kelemahan demokrasi adalah mengandalkan suara terbanyak. Padahal, suara terbanyak bukanlah suara Tuhan. Artinya keadilan tidak bisa dicapai dengan kebulatan suara terbanyak saja. Karena itulah kembali pada nilai moral harus menjadi landasan utama.
Kita harus menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin itu bukan karena dijago-jagokan untuk bertarung dengan kandidat lain, bukan karena prestise alias gengsi, atau bukan karena mencoblos itu lebih baik daripada golput, melainkan prosesi memilih pemimpin adalah sebuah pertanggung jawab secara moral kepada masyarakat dan kepada Allah SWT untuk memilih pemimpin terbaik dan menaatinya. Memilih pemimpin adalah kemestian dan tidak bisa dihindarkan, sekaligus hal terakhir inilah yang lebih hakiki untuk dilaksanakan, karena niscaya jika hal itu dilakukan, akan tercipta dengan sendirinya pemerintahan yang bersih dan disiplin yang sangat menunjang pembangunan baik di tingkat desa maupun pusat.
Rasulullah SAW pernah menasihatkan kepada Abdurrahman bin Samurah ra, bahwasanya untuk tidak meminta jabatan.
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah l dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (Hadits)
Senada dengan hal itu, ada istilah Jawa yang menuturkan kita sebagai manusia itu ojo nggumunan lan aja kagetan. Dalam konteks pilkades aja nggumunan berarti maknanya kita jangan silau oleh materi yang diiming-imingkan oleh calon oportunis seperti ini; entah itu berupa janji-janji kampanye dan praktek money politik. Kita harus tetap memegang nilai obyektifitas dalam memilih, yang kita dasari pada moral dan melihat dengan jeli siapa calon yang berkampanye. Jangan salah memilih ‘penjahat yang ingin jadi pahlawan’ dan jangan pula salah memilih pemimpin yang tidak punya kapabilitas dan integritas. Sedangkan istilah aja kagetan, bisa dimaknai untuk tidak bersikap kaget atau mudah tercengang dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Memahami peristiwa dengan memakai nalar yang cerdas dan bijak. Tidak menjadi orang yang reaktif, yang mudah termakan oleh isu atau pencitraan palsu yang kini marak terjadi ketika musim kampanye. Menjadi orang reaktif pada akhirnya hanya akan menjadikan kita buta hati. Tetapi kita harus menjadi orang yang responsif dan tanggap akan hal-hal yang berlangsung di sekitar kita. Dan tak kalah penting adalah menata hati kita dengan landasan iman yang kuat agar segala peristiwa yang terjadi tidak menggoncang iman kita dan menjadikan kita lemah dalam berpikir.
Pilkades yang sudah dilaksanakan di Sukoharjo dan di Karanganyar silam bisa menjadi pelajaran bagi kabupaten lain yang akan melaksanakan pesta demokrasi ini dan pelaksanaan pesta-pesta demokrasi yang lainnya. Sejujurnya, penamaan pesta demokrasi adalah ironi dan sindiran bahwa pilkades dan semacamnya, hanya akan menghabiskan banyak biaya yang berarti pemborosan. Padahal tujuan pilkades tidak seperti itu. Justru pilkades bertujuan memilih seorang pemimpin terbaik dari yang paling amanah. Kejujuran dan sikap amanah harus paling kita kedepankan. Dalam kosmologi Jawa, sikap ini digambarkan dengan dua istilah aja rumangsa bisa nanging bisa rumangsa. Kedua hal ini tentu saja berbeda jauh. Aja rumangsa bisa berarti jangan menjadi orang sok yang hobi memakai pencitraan publik. Tetapi bisa rumangsa, yaitu seseorang yang bisa menakar diri sendiri di hadapan orang lain, mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan merasa bertanggung jawab tidak hanya kepada diri sendiri, masyarakat, tetapi juga kepada Sang Maha Pencipta. Ya, takdir manusia adalah menjadi pemimpin atau khalifah di bumi. Artinya segala macam sumber daya manusia maupun sumber daya energi yang kita miliki adalah bertujuan untuk membentuk masyarakat yang gemah ripah loh jinawi dan memayu hayuning bawana, bukan menjadi manusia adigung adiguna di bumi manusia ini.
Wallahu a’lam bish showab.

dimuat di joglosemar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s