Badrun Belum Mati

dimuat di joglosemar
jagoan_tulen_by_braja2000-d392t19
“Hanya orang lapar yang mengerti artinya kemiskinan. Kalau pada pilkades kali ini si calon lurah, bilang dia memahami warga miskin di desa ini, padahal dia selama ini bergelimang harta, tidak pernah lapar hingga terpaksa puasa, maka jangan percaya omongannya. Orang seperti itu hanya pembohong!!”
Badrun berkoar di tengah lapang. Orang-orang berkerumun. Mereka percaya apa yang dikatakan Badrun karena dia orang yang selama ini masih bisa dipercaya, masih jujur, tidak brengsek seperti lainnya.
Di kesempatan pilkades kali ini Badrun menuntut para lurah yang terpilih nanti mau memberi subsidi orang miskin. Toh, pendapatan desa selama ini sudah sangat banyak dan hampir tak pernah ditujukan untuk pembangunan desa sendiri. Entah kemana uang itu semua. Hal ini baru ketahuan dari informasi sebuah LSM yang menyelidiki korupsi para aparat desa.
“Lihatlah pajak tanah, pajak kendaraan, semua mahal tapi kita harus tetap bayar. Tapi semua uang pajak itu mereka tilap di kantong sendiri, mereka korupsi! Karena itu orang miskin harus dapat subsidi! Perjuangkan subsidi!”
Orang-orang ikut meneriakkan kata subsidi. Suara itu bergemuruh terdengar menyeramkan bagi yang kontra revolusi.
Dan memang ada beberapa orang yang tak suka Badrun bicara terlalu tajam seperti itu. Mereka buru-buru menghubungi polisi lewat sms, karena itu yang paling aman dan lebih mudah. Membubarkan kerumunan Badrun tanpa mereka harus turun tangan sendiri. Mereka memang tidak akan berani terang-terangan menentang Badrun. Masih ingat dalam ingatan ketika itu seorang mata-mata mengendap-endap di rumah Badrun, menguping pembicaraan beberapa pemuda yang berkumpul di rumah Badrun. Konon, Badrun ingin menggerakkan warga untuk menuntut lurah yang kedapatan korupsi itu memperlihatkan anggaran belanja desa dengan transparan. Walaupun sebelumnya jelas terbukti salah dengan adanya beberapa transaksi fiktif yang ujungnya masuk ke kantong lurah sendiri. Badrun mengumpulkan teman-temannya, pemuda-pemuda militan, untuk berdemo. Namun, urung hal itu terjadi. Tiba-tiba karena takut, si calon lurah mengundurkan diri. Entah karena apa, tak ada yang tahu. Sementara orang yang ketahuan itu dipukuli Badrun hingga babak belur dan masuk rumah sakit.
Sekarang, ketika si lurah itu mundur, akan diadakan pilkades baru. Ada tiga orang calon. Seorang wanita dan dua orang laki-laki. Semua asli penduduk daerah. Semua terlihat sehat secara fisik. Yang perempuan cantik dan duanya adalah laki-laki yang berwibawa, dalam arti, badan tampak subur, wajah halus seperti seorang priyayi, pokoknya pantas kalau difoto menjadi seorang lurah desa, walaupun itu semua belum tentu pilihan rakyat dari orang-orang yang berkualitas bagus.
Badrun sendiri ingin mengawal pilkades itu berjalan lancar. Oh, ia tak punya motivasi terselubung. Semua murni ia perjuangkan demi rakyat, yang tentu akan kembali pada dirinya. Namun, sayangnya hanya satu orang Badrun. Ya, Badrun itu sendiri. Padahal kabarnya, sudah banyak preman disebar untuk menyingkirkan Badrun.
Badrun sendiri juga bukan tanpa perlindungan diri. Selama ini ia dikenal jago ilmu bela diri, makanya tak ada berani preman yang duel dengannya, paling banter keroyokan, dan itu sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. Namun, sekali lagi, berita penyingkiran Badrun cukup membuat Badrun sendiri berpikir kritis. Konon, para preman itu tak lagi main tangan kosong. Apalagi sudah bisa ditebak mereka pasti kalah jika berhadapan langsung dengannya. Preman itu pun kini dilengkapi dengan pistol dan sejenisnya.
Desas-desus itu santer terdengar. Kawan-kawan Badrun mencoba menasehati agar hati-hati, walaupun dalam hati mereka keder juga jika berhadapan dengan preman. Anehnya, justru Badrun malah tertawa.
“Kalau jatahnya berkalang tanah mengapa harus takut. Tidak perlu kita kecil hati, perjuangan adalah obor kekuatan kita.”
Teman-temannya mengangguk. Mereka sendiri tak sekuat dan setangguh Badrun. Tapi, terpaksa mereka ikut, karena Badrun yang berani menghadapi preman-preman pilkades.
Dua hari sebelum pesta demokrasi itu digelar, kasak-kusuk rencana pembunuhan Badrun makin santer. Keluarga Badrun mencoba menasehati Badrun agar menyingkir dulu. Teman-teman juga tak ketinggalan, mereka lebih suka Badrun selamat dulu daripada diterjang peluru preman-preman itu. Beramai-ramai mereka membujuk Badrun agar menghindar dari preman, atau setidaknya menyingkir dulu.
“Kau tahu kami menginginkan engkau menjadi pemimpin di desa ini kelak. Kalau kau mati bagaimana? Keadilan di desa ini lebih sulit tercapai daripada jika kau ada.”
Badrun tak suka mendengar rencana mereka. Ia bersikeras akan mengerahkan warga.
“Kita akan tetap datang. Jangan seperti kemarin, ada intimidasi di kelurahan oleh para preman. Akibatnya yang terpilih lurah preman. Tidak, kita akan datang mengawal semua itu.”
“Kan sudah ada polisi di sana nanti.”
“Beberapa mereka adalah polisi bayaran, tak ada artinya senjata dan seragam mereka. Mata keadilan mereka sudah buta.”
Keputusan Badrun sudah bulat. Tak ada yang bisa menghentikan. Dari yang tak punya nyali, dikuat-kuatkan berani. Dari yang tak punya keberanian, coba didorong temannya agar menjadi kuat.
“Baiklah, semua sudah sepakat. Untuk sehari semalam ini kita akan berjaga di kampung ini. Atur jadwal ronda keliling. Waspadai para kader yang keliling kampung yang mencoba memengaruhi opini warga dengan uang. Tangkap mereka kalau perlu.”
Begitulah, ronda keliling pra pilkades itu diadakan. Badrun tetap mengawal mereka. Ia terus menerus memotivasi agar orang-orang itu tidak ciut nyali.
Malam itu, di tempat lain, empat orang preman berpakaian hitam sudah masuk ke dalam mobil. Di dalam mereka saling berbagi informasi, senjata dan peluru.
“Ada informasi sasaran di tengah cakruk warga. Kita langsung drop ke sana. Kunci sasaran. Tembak. Lalu kita segera meloloskan diri.”
Ketiga anak buahnya mengangguk. Operasi kali ini cukup jelas. Singkirkan Badrun!
Dengan cepat mobil itu melaju di tengah kampung, mengagetkan para pejalan malam. Terus melaju dengan kencang, menuju arah yang dituju. Sebuah cakruk tampak ramai dan terang benderang. Dengan perhitungan yang tepat mobil itu mengerem mendadak, berdecit bannya. Dari pintu van seketika membuka, seperti adegan dalam film laga saja, tiga moncong senjata mengarah pada sosok gagah di tengah warga itu. Letusan peluru dan desing mesiu membuat orang kocar-kacir, dan tentu saja berhasil merobohkan sosok di tengah mereka itu.
Seketika mobil van itu tancap gas, terus meluncur di jalanan, tak peduli lobang jalanan, tak peduli dengan pagar penghalang. Berusaha meloloskan diri dari kejaran warga.
“Langsung kembali ke markas untuk alibi.”
Si sopir mengangguk. Dengan tangkas ia membelokkan mobil van itu ke jalan besar. Jalanan kini lapang membentang. Ketika menengok di belakang tak ada lagi yang mengikuti. Aman.
***
Orang-orang di cakruk sudah bisa menguasai diri. Salah seorang segera menghubungi rekan-rekan mereka.
“Buruan sudah masuk umpan Bos. Kita baru diserang. Mobil van baru keluar satu menitan. Warna merah dan mereka bersenjata rakitan.”
“Baik, pelaku sudah teridentifikasi. Aku akan ikuti mereka. Kamu persiapkan teman-teman untuk datang bersamaku.”
Setelah melaporkan peristiwa, kelompok kecil itu menyusun barisan. Mereka kini membawa beragam senjata. Ada parang, linggis, bambu, dan segala macam benda yang bisa dijadikan senjata. Teriakan mereka berderap mengguncang malam hingga semua orang keluar dari rumah, beberapa bergabung dan sebagian mengunci diri.
***
Di dalam rumah petak sempit, yang penuh sarang laba-laba, cahaya lampu bolam berayun dihembus angin. Empat orang menghadapi minuman bir masing-masing. Senyum puas dan tawa terbahak mengisi rumah petak itu.
“Operasi sudah kelar. Waktunya pesta!”
“Kita akan kemana bos? Seratus juta ini cukup lezat buat ke lokalisasi. Hahaha…”
“Tenang saja, setelah ini kita langsung berkemas. Kita akan pergi dari daerah ini selamanya. Kita cari tempat lain lagi yang empuk. Hahaa…”
Sementara di belakang pintu dengus napas kemarahan sudah hampir meledak. Tapi lelaki cerdik itu masih mampu menahan diri. Ia mengunci semua pintu dengan palang dari luar, diperkirakan semua tak akan ada yang bisa meloloskan diri. Ia kini tinggal menunggu waktu.
Ya, dia Badrun yang belum mati. Badrun yang ada di cakruk hanyalah umpan, sebuah sterefoam yang dibuat semirip dirinya. Badrun yang itulah yang berhasil mereka bunuh.
Badrun tersenyum menyeringai mendapatkan kemenangan di depan matanya. Ia kini menunggu teman-temannya datang. Jika keempat penjahat ini melawan ia pun sudah menyiapkan beberapa bom molotov yang siap dilempar. Namun, itu rencana terakhir. Ia tetap berpikir bijaksana, menyerahkan mereka ke polisi adalah jalan yang lebih aman. Dan ia akan menunggu waktu itu tiba. Tidak lama. Sebentar lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s