Kronik Ciu Bekonang


Siapa orang di Solo yang tak kenal dengan ciu Bekonang? Bahkan orang di luar Solo pun tahu akan ciu Bekonang dan mungkin pula pernah meminumnya. Penyelundupan ciu Bekonang ke luar Solo bahkan sering sekali terjadi, baik dalam jumlah puluhan liter hingga ratusan liter (JogloSemar, 29/5).
Yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, kejadian FPI menggruduk ke DPR sambil membawakan anggota DPR itu botolan ciu (JogloSemar, 6/9), adalah akumulasi kekesalan dan keprihatinan dari ormas Islam yang terkenal dengan prinsip nahi munkar tersebut karena banyak beredar ciu di tengah masyarakat untuk mabuk-mabukan, bahkan banyak korban ciu oplosan tewas sia-sia sering diberitakan di media massa
Namun alangkah ironisnya semua kekesalan karena banyak masalah musibah dikarenakan ciu oplosan, DPR malah bingung membuat regulasi untuk melarang penjualan ciu.. Hingga akhirnya September ini karena desakan dari warga maupun ormas yang prihatin dengan maraknya peredaran ciu di tengah masyarakat, yang juga mendapat dukungan dari sebagian besar fraksi di DPR disepakati perda yang baru yang bisa mengatur peredaran ciu agar tidak menyebabkan gangguan kambitmas. Ciu bisa diharapkan tidak akan beredar di tengah masyarakat, karena produsen ciu akan mengolahnya menjadi etanol atau alkohol murni.
Namun, tentu saja kesepakatan itu pun masih harus ditunggu bagaimana keefektifan hasil kerjanya. Toh ada beberapa pihak yang belum puas dengan perda baru tersebut. Dalih mereka selalu berpangkal pada berkurangnya aset pendapatan mereka karena tidak bisa lagi berjualan ciu. Dikhawatirkan cara-cara yang ilegal masih akan ditempuh dengan menjual ciu eceran kepada pembeli, yang artinya tanpa pengawasan yang bijak hanya akan menjadikan hukum berjalan di satu rel saja.
Kemashyuran Ciu Bekonang

Kemashyuran ciu Bekonang, di Sukorharjo Jawa Tengah, sudah setua daerah itu sendiri. Minuman ciu berbahan baku dari tetes tebu yang disuling dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dari keperluan yang bermanfaat bagi kesehatan, semisal dijadikan alkohol, pembuatan pupuk, hingga bobok kesehatan. Ciu jelas berbeda dengan arak, walaupun mempunyai cara fermentasi yang hampir sama. Ciu lebih berbahan dasar tetes tebu. Sedangkan arak bisa dari semua sari buah yang difermentasikan. Dan ciu Bekonang bukanlah sebuah jualan yang satu arah. Dari berbagai home industri yang ada di sana, beberapa memang menjualnya kepada industri, tapi ada juga yang menjualnya eceran kepada para pelanggan. Para pelanggan ini kemudian dijual kepada para pembeli. Para pembeli biasanya meminum ciu dengan oplosan yang lain. Sudah jamak orang mengenal berbagai istilah caprit (ciu + sprit), kidungan (ciu + rendaman janin anak kijang). Bahkan sering pula karena ambisinya ingin teler ciu, para peminum ini tak segan mencampurnnya dengan bahan-bahan lain yang berbahaya. Alih-alih mencampurnya dengan minuman soda lain, tapi malah mencampur dengan obat bodrek, atau lotion anti nyamuk. Dari temuan seperti inilah yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan karena ciu oplosan.
Memang penulis tidak mendapati data pasti berapa jumlah peminum yang mati karena minum ciu baik oplosan maupun tidak. Kadar alkohol ciu sendiri sudah tinggi. Kalau minum tanpa oplosan pasti sudah teler dan rasanya akan membakar tenggorokan. Hal ini bisa dibuktikan dengan kita menaruhnya di tanah lalu kita menyulutnya dengan api niscaya ciu itu akan terbakar. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hal iut masuk tenggorokan dan lambung kita. Beberapa peminum berat menyebutnya banyu kendel (minuman khusus pemberani), atau wedang cap ketek (karena kalau minum pasti mulutnya bersuara seperti seperti kera). Namun anehnya peminat ciu bekonang justru sangat beragam, baik dari kalangan pelajar remaja hingga mahasiswa, bahkan para peminum berat yang ingin merasakan sensasi minum ciu. Hal itu juga terbukti betapa ciu rela diselundupkan dengan lewat kereta api, atau travel yang mengangkut beratus-ratus liter jerigen ciu.
Legalitas yang dipertanyakan
Ciu Bekonang di jaman dulu sudah jauh berkembang di jaman sekarang. Dulu mungkin dikonsumsi sedikit orang saja, yang tujuannya untuk mabuk-mabukan. Sekarang beberapa home industri produsen ciu di Bekonang, yang sudah memiliki naskah kesepakatan dengan sebuah pabrik obat kimia di Karanganyar, mulai mengolah ciu menjadi etanol, atau alkohol murni yang kadarnya di bawah 90 %. Salah satunya adalah dengan dijual ke pabrik Acidatama Chemical Industri yang terletak di Karanganyar.
Namun tidak dipungkiri selama ini Ciu lebih sering dijual dan dikonsumsi masyarakat untuk teler. Penggunaan ciu untuk teler sudah membudaya di kalangan masyarakat, seperti di pesta hajatan atau acara orkes dangdut. Padahal mabuk-mabukan merupakan penyakit masyarakat yang harus diberantar karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dalam kisah novel John Steinbeck (Tortila Flat), dikisahkan bagaimana masyarakat Amerika pada jaman malaise dulu yang lari kepada minuman keras. Tokoh Dany dan kawannya-kawannya setiap hari menghabiskan waktu dengan minuman keras dan rela melakuan saja agar bisa minum walaupun harus harga diri mereka. Novel itu dengan jelas memotret ironi satir ketidakberdayaan manusia dalam mengatasi kehidupan. Dan karena minuman keraslah bermunculanlah berbagai kejahatan dan perzinaan. Contoh konkret yang terbaru adalah di Inggris lebih banyak orang meninggal disebabkan karena minuman keras dan bermunculan berbagai kasus kejahatan yang selalu tak lepas dari minuman keras.
Namun berada dibalik alibi industri rumah tangga dan mendapat ijin dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), yang pernah diberikan pada tahun 1981, ciu Bekonang bertahan dan terus beredar di kalangan masyarakat. Sementara itu aparat sendiri merasa rugi jika hendak benar-benar serius mengurusi home industri ciu sebelum perda yang baru yang mengatur tentang peredaran minuman alkohol. Alasan inilah mengapa razia ciu oleh aparat kepolisian hanya berada di permukaan saja, yaitu kepada para penjual eceran, dan tak pernah menyentuh pada produsennya. Pun biaya untuk razia sendiri terkadang lebih besar daripada denda yang didapat apalagi dalam proses penindakan tersangka ke dalam jeratan hukum kasus ciu harus dirujuk ke Laboratorium Forensik di Semarang untuk memastikan kadar alkohol yang terkandung di dalamnya.
Kebermanfaatan Lewat Pengawasan
Memang tak harus dipungkiri bahwa ciu Bekonang merupakan salah satu sumber pendapatan bagi warga di Desa Bekonang. Bahkan, produksi ciu ini juga dijadikan penghasilan utama dan mampu memberikan penghasilan yang sangat menjanjikan. Dalam sehari saja mereka bisa memproduksi hingga 250 jerigen. Dengan harga per jerigen Rp 120.000,- sementara itu harga jual kepada pembeli langsung setiap liter adalah 5.000,-
Sementara itu jika dibiarkan penjualan ciu Bekonang tanpa kontrol jelas membawa musibah yang lebih besar. Ciu Bekonang diminum untuk mabuk-mabukan yang dampaknya jelas mengganggu ketertiban umum dan dapat memicu adanya konflik.
Solusi terbaik adalah pengawasan oleh instansi terkait terhadap produk maupun pemasaran dan peredaran ciu Bekonang ini. Aparat polisi juga harus melakukan tindakan preventif dan represif seperti pengawasan dan kontrol yang berkelanjutan bagi produsen ciu, bahkan memberantasnya jika terbukti melakukan pelanggaran terhadap perda yang baru, yaitu menjual atau menyebarkannya ke masyarakat. Kalau perlu bahkan ditutup produsen yang tetap berbuat pelanggaran tersebut. Bukan malah aparat justru meminta upeti kepada produsen ciu Bekonang setiap bulan alih-alih menjadikan mereka sebagai sumber aset pemasukan.

dimuat di joglosemar 15/9/2012
tanggapan atas opini ini
wacana lokal suara merdeka : ciu bekonang dan dataran tortila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s