TV FREE DAY


dimuat di Joglosemar

Wacana ini tentu bukan latah karena ada car free day. Atau karena dorongan para pembenci sinetron yang gemes dengan aroma yang ditawarkan production house entertainment di media televisi Indonesia tercinta ini. Titik pijak ide ini, adalah survei bahwa referensi penelitian ilmiah menunjukkan referensi dari buku masih menjadi rujukan pertama, kedua adalah surat kabar atau koran, dan yang ketiga adalah internet. Ini menjadi pertanyaan mengapa Televisi dengan keragaman acara yang tinggi dan media video yang lebih atraktif masih dipertanyakan keakuratannya validitasnya dalam penelitian ilmiah?
Sekilas televisi menjadi sangat relevan dalam kehidupan kita. Televisi memberi segala macam informasi. Apa yang kita butuhkan ada dalam kotak bernama televisi itu. Dari iklan kecantikan, acara kesehatan, olahraga, ilmu pengetahuan, hiburan hingga tausyiah keagamaan. Pun ada yang khusus menjadi portal berita selama 24 jam kehidupan manusia. Apalagi di bulan romadhan, televisi ikut mewarnai hari-hari orang Indonesia dengan beragam acara religi, yang beberapa dipaksakan agar bisa sesuai dengan religiusitas romadhan, bulan untuk menggembleng diri, menahan hawa nafsu, namun fakta yang terjadi bisa sebaliknya, khususnya untuk sinetron-sinetron religi itu. Lainnya televisi hendak menjadi media kajian dan dakwah lewat tausyiah-tausyiah dari para ustadz dan kyai. Dan ironisnya, acara ini belum mampu menjadi acuan terbaik orang belajar agama, khususnya Islam. Tengok saja ketika jeda iklan, apa yang terjadi adalah paradok luar biasa. Nyaris tanpa filter dari produser acara. Adalah sangat tidak konsisten jika setelah mengaji ilmu tentang ayat hijab, lantas ada iklan yang centang perenang membuka aurat. Atau taruhlah kajian yang membicarakan tentang keutamaan shodaqoh, tetapi iklan yang ditampilkan adalah anjuran konsumerisme yang tanpa batas. Bukankah seperti itu yang terjadi di televisi kita sekarang?
Dalam seminar sehari, media dalam wawasan kebangsaan di Karanganyar, seorang dosen Fisip UNS, yang biasa menggawangi acara Jagongan Sar Gedhe di televisi lokal di Solo ini, memaparkan kegiatan televisi yang telah menjadi kemestian dalam rumah kita. Tidak hanya tatkala kita membutuhkan hiburan dan informasi, namun ketika kita sedang terluang dari kegiatan apapun, ternyata berada di depan televisi menjadi sebuah pilihan kegiatan yang lebih sering kita lakukan dalam era sekarang ini. Sadar atau tanpa sadar, diri bertumbuh kembang dengan televisi sebagai input akan beragam hal. Namun televisi tidak hanya membuat pintar, tapi kadang membuat cemar. Pilihan yang beragam yang lebih membuat kita tercerabut dari orientasi dan prioritas dari beragam iklan televisi, atau tampilan yang terlalu seronok yang membiaskan akan inti dari keberbutuhan kita yang membutuhkan jawaban.
Senang atau tidak senang, televisi telah berada di sekitar kita dengan beraneka jualan yang terus memborbardir. Penonton bukanlah orang yang punya otoritas akan tontonan itu. Sebaliknya ia adalah korban dari apa yang dijejalkan oleh televisi. Diri kita dibentuk oleh televisi baik fisik maupun psikis.
Televisi kita
Menurut Noam Chomsky, profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts, peran media massa tidaklah netral. Menurutnya, semua media massa telah menyebarkan informasi yang telah mengalami filterisasi. Secara historis, media telah terbukti sangat efisien untuk membentuk opini publik. Berkat perlengkapan media dan propaganda, telah diciptakan atau dihancurkan gerakan sosial, pembenaran perang, kemarahan akibat krisis keuangan, didorong beberapa arus ideologi lain, dan bahkan telah memberikan fenomena media sebagai produsen realitas dalam jiwa kolektif. Mendorong kebodohan, mempromosikan rasa bersalah, mempromosikan gangguan, atau membangun masalah buatan dan kemudian ajaib, memecahkan mereka, hanya beberapa taktik.
Jika seekor tikus berada di depan televisi kita, terus menerus selama delapan jam pastilah ia akan menjadi lebih bodoh dari seekor tikus lainnya, bukan menjadi pintar. Apalagi manusia. Apa sebab? Kita bisa melihat tayangan televisi kita. Pada awal pertama kita melihat tontonan yang sepertinya cocok bagi kegiatan pagi. Kuliah subuh dan sejenisnya. Hal itu ternyata sangat kontradiksi. Dari awal pertama yang ditampilkan ketika tayangan adalah iklan dan iklan. Pada posisi hati kita yang siap menerima sepenuhnya akan pencerahan ternyata kita lebih dicerahkan oleh iklan yang kata-katanya lebih membujuk dan persuasif daripada khotbah pagi sang mubalig dan mubalighoh.
Ketika siang berita kriminal dan berita sejenisnya yang berbau tangkap, berbau curanmor, berbau pemerkosaan, pasar kebakaran menjadi penghias dan peneman sarapan pagi. Saat itu tubuh kita sepenuhnya butuh rehat, butuh penyegaran, dan ternyata ketika hampir semua tempat dipenuhi dengan televisi sebagai bagian dari pelayanan, kita akan menerima semua berita itu dan kita yang sedang menyantap hidangan. Jadilah diri kita orang yang paling hipokrit dalam sejarah manusia. Kita makan hidangan sambil melihat darah tercecer di televisi, kita menikmati es krim ketika melihat berita pemerkosaan. Kita menjadi orang lain yang tak pernah kita sadari yang lebih buruk daripada seorang penjahat hipokrit alias para pejabat-pejabat terhormat, yang senang pelesir ke luar negeri dengan dalih studi banding dengan uang rakyat.
Ketika malam, kita melihat tontonan bagi anak-anak dan keluarga yang tercermin dari sinetron Indonesia, yang tak kunjung menemukan ujung simpulnya. Tidak mendidik namun menjadi kita orang yang bosan dengan diri kita sendiri. Bosan dengan rumah kita. Bosan menjadi orang Indonesia. Bosan menjadi orang jelek. Lalu menjadilah kita orang yang paling buruk dari kisah manusia.
Jika kita hendak mencari suguhan televisi alternatif justru malah datang dari stasiun televisi lokal yang konsisten memberikan informasi dan minim eksploitasi kapitalisme – untuk tidak mengatakan belum terjamah gurita kapitalisme lewat iklan-iklan yang sangat mahal itu. Televisi-televisi lokal pertumbuhannya begitu cepat. Dari yang berbasis budaya, eksklusifitas agama, hingga yang memberi informasi seputar masyarakat sekitar yang otomatis lebih mengena di hati para pemirsa di daerah.
Matikan televisimu
Kapan televisi menjadi sebuah acuan akan berita dan informasi dan kabar dan juga hiburan yang akan menjadi kita menjadi manusia? Bukan sebuah dagangan. Bukan sebuah tujuan sasaran yang menjadi kita beradab. Beranikah kita menjadi orang yang bersikap untuk memilih yang terbaik. Misal, ketika ada car freeday. Mengapai kita tak membuat yang semacam itu untuk perubahan yang lebih baik dari komisi penyiaran dan para insan pertelevisian itu. Kita buatlah televisian free day dan kita gunakan untuk membaca buku atau sejenisnya. Satu hari saja dalam seminggu matikan televisi kita demi sebuah keadaan yang lebih baik.
Semoga saja kita bisa menjadi orang yang baik dengan televisi yang baik.

gambar diambi dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s