Tersesat di Pasar Tiban

dimuat di cerita kita Suara Merdeka

Pagi yang bening. Embun masih enggan berpisah dengan pucuk daun. Kukuruyuk ayam jago di halaman membuka pagi ini yang cerah ini. Nisa baru saja merapikan selimutnya. Hari ini adalah hari libur. Ia memang bangun agak terlambat. Namun ia sudah sholat subuh sejak tadi.

Ya, hari ini hari libur. Ada banyak rencana yang ingin ia kerjakan. Jam delapan nanti ia bersama Ani mau pergi ke pasar tiban di kota.

Pasar tiban itu apa ya dan Nisa mau beli apa di pasar tiban sana?

Pasar tiban itu adalah pasar yang ramai pada hari libur saja. Para pedagangnya bukan pedagang tetap, tapi mereka berdatangan dari berbagai tempat dan menggelar dagangan atau lapak di sana.

“Nanti Nisa libur kan?” tanya Umi yang membawa sayuran mau memasak di dapur.
“Iya Mi. ada apa?”
“Kebetulan, Abi mau pergi ke rumah nenek. Nanti Nisa ikut sama Abi. Umi tidak bisa ikut karena mau membantu Ibu Rahmah yang baru saja melahirkan adik kecil.”
“Ehm…tapi Umi…” Nisa bingung. Ia kan punya rencana mau pergi ke pasar tiban di kota.
“Ada apa? Apa Nisa punya rencana lain.”
“Iya sih Mi. Nisa sudah janji mau pergi sama Ani ke pasar tiban di kota nanti siang. Bagaimana dong?”

Ibunya sejenak berpikir.
“Begini saja, nanti kalian berdua bonceng sama Abi. Setelah dari rumah nenek kalian bisa minta antar Abi ke sana.”
“Oke deh, Nisa bilang dulu ke Ani.”

Nisa segera memberitahu Ani di rumahnya. Untungnya Ani senang-senang saja dengan ajakan Nisa.

“Rumah nenekmu dimana Nis?”
“Di desa agak jauh dari kota. Tapi di sana pemandangannya indah kok. Ada sawah yang luas di dekat rumah nenek.”
“Wah, aku juga pingin lihat sawah yang luas itu. Kita kan di kota, mana ada sawah di dekat rumah kita?”
Keduanya tertawa.
Pagi itu Nisa dan Ani sudah bersiap membonceng ke rumah nenek Nisa.
“Pegangan yang erat ya?” kata Abi.
“Ya Abi…”jawab keduanya serempak.

Nisa dan Ani membonceng ke belakang. Dan benar saja di perjalanan pemandangan ke desa begitu indah. Apalagi pagi itu bersinar cerah. Awan biru membentang di atas hamparan sawah hijau. Para petani bekerja dengan cangkul dan caping nampak giat sepagi itu.

Akhirnya mereka sampai di rumah nenek Nisa. Rumah nenek Nisa memang kecil. Tapi rumah itu luas halamannya. Di halaman banyak pohon mangga dan rambutan serta duku. Hanya sayang saat itu belum musim buah. Mereka pun juga tak bisa ikut ke sawah bersama nenek mereka.

Namun yang penting keadaan nenek Nisa baik-baik saja. Abi cuma menitipkan uang dan beberapa potong pakaian untuk nenek dan adik ibu Nisa yang menjaga nenek.

Setelah itu mereka meluncur ke pasar tiban. Nisa merasa senang akan segera pergi ke pasar tiban. Sudah lama ia dan Ani ingin ke sana namun tak pernah jadi. Untung kali ini Abi mengantar mereka.

Sampailah mereka di pasar tiban. Ramai benar keadaan di pasar. Para penjual yang sibuk menawarkan dagangan, berteriak-teriak kepada pembeli yang lalu lalang. Banyak juga yang sekedar melihat-lihat tidak membeli.

“Wah, ramai sekali pasarnya,” gumam Ani takjub.
“Iya benar.”
“Kalian di dekat Abi ya. jangan jauh-jauh. Nanti bisa tersesat di keramaian begini.”
“Iya Abi.”

Keduanya asyik melihat-lihat. Saking asyiknya pegangan Nisa lepas karena datang kerumunan yang mendesaknya. Saat itu Abi juga sedang fokus menawar kepada seorang penjual.

Sadarlah kalau Ani dan Nisa telah terpisah dari Abi mereka. Mereka celingak celinguk hampir mau menangis.

“Kemana Abi?”
“Iya, kita tersesat Nisa. Bagaimana nih?” Ani ikut panik.

Baru akan beranjak hendak mencari Abi, tiba-tiba tangan mereka terasa ditarik oleh seseorang. Kaget Nisa tangannya ditarik itu.

“Nisa? Mau kemana kalian?”
Sejenak Nisa melihat siapa perempuan yang menariknya. Ternyata tante Rita yang tinggal sebelah rumah dengan Nisa. segera Nisa dengan terisak menceritakan kalau ia terpisah dengan ayahnya.

“Sudah tenang. Nanti ayahmu akan bertemu kalian. Tante akan menelponnya. Ia pasti membawa handphonenya.”
Benar saja kemudian sudah tersambung dengan suara Abi.
“Kami di dekat penjual mainan di ujung pasar. Bisa ke sini. Kami tunggu ya,” kata tante Rita menjelaskan.
“Ayah kalian mau ke sini. Sebentar lagi pasti datang,” hibur tante Rita tersenyum agar anak-anak itu tidak sedih lagi.
“Terima kasih tante.”

Akhirnya Abi datang juga. Dia merangkul anak-anak itu dengan gembira, setelah sebelumnya sangat khawatir kehilangan mereka.

“Terima kasih, sudah menjaga anak-anak dik Rita.”
Tante Rita mengangguk. Ia juga merasa senang bisa menolong.
“Bagaimana kalau kita beli es krim bersama-sama di sana? Sekalian bersama Tante Rita,” ujar Abi tiba-tiba.

Nisa dan ani sejenak berpandangan. Masih takut kalau Abi marah kepada mereka.

“Bener kalian tidak mau es krim nih?”
Nisa dan Ani tersenyum. Mereka mengangguk.

Sambil makan es krim dengan lahab, Abi menasehati mereka agar menjaga diri di tempat keramaian. Jangan sampai terpisah dengan orang tua. Untung saja tadi ada tante Rita yang menolong mereka.

Nisa dan Ani patuh kepada Abi. Mereka berjanji tidak akan main lagi sendirian di pasar. Dan sekali lagi mereka berterima kasih kepada Tante Rita telah menolong tepat waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s