BELAS KASIH KEHIDUPAN

dimuat di koran Joglo Semar 24/6

Jalanan mengembun air mata. Jeritan panjang klakson mobil-mobil pribadi, truk gandengan, angkot, bis kota, menyentak-nyentang jantung Sanyoto yang berdebar kencang. Setiap langkahnya diburu waktu. Dan waktunya kini diburu oleh suara tangis anaknya yang sedang terbaring di bangsal puskesmas.

“Ia harus dirujuk ke rumah sakit Pak. Jangan sampai terlambat. Sakitnya tidak sekedar demam,” ujar istrinya dengan mata sembab.

Wajah anaknya yang pucat terkilas, makin menggerus hatinya. Tajam sengatan matahari tak hiraukan lagi. Diburunya bis kota yang sedang berhenti itu dan meloncat ke dalamnya.

Mata-mata jengah seakan mengecam dirinya, pengamen yang hidup dari uang recehan para penumpang bis kota.

“Selamat siang penumpang bis Semoga Jaya… perkenankan saya mengamen sekedar mencari rupiah untuk makan dan pengobat bagi kehidupan kami. Orang-orang yang papa di jalanan.”

Sebuah lagu didendangkannya dengan suara parau, suara kemiskinan yang menjadi warna hidupnya. Suaranya mengiba, meminta simpati.

“Lebih baik di sini… tempat kita sendiri…”

Sebuah lagu dari Ian Antono menggema di dalam bis yang pengap. Para penumpang hanya mengacuhkan pandangan. Mereka kebanyakan anak muda dengan telinga tersumpal oleh headshet, mendengarkan lagu Inggris. Tak peduli dengan kehadiran seorang pengamen tua yang sudah mau udzur.

Satu lagu selesai sudah.

“Terima kasih penumpang semuanya… saya doakan selamat sampai di tujuan.. dan semoga selalu dikaruniakan kesehatan.”

Topinya ia lepas dan mulai berkeliling menadahkan tangan. Dimulainya dari depan hingga ke belakang. Ada yang menolak, ada yang melempar recehan hingga seribuan karena merasa kasihan kepada sosoknya yang renta. Setiap kali mendapat uang, Sanyoto menundukkan kepala, berterima kasih. Tak peduli yang mengasih itu anak muda. Tapi, ia mencoba untuk tidak meminta kepada anak sekolah. Mereka masih belum bekerja, uang masih sulit bagi mereka.

Turun dari bis satu naik ke bis yang lain. Siang kerontang tetap bertahan demi anak dalam ingatan yang kini sedang meregang kesakitan.

“Sabar Nak… sabar… tunggu Bapak..” batinnya di setiap langkah perjuangan itu.

Ia pun mencoba mengkhusukkan sholatnya dan berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar anaknya diberi kesembuhan. Ia akan berjuang demi hal itu.

Sore itu ia pulang. Dadanya berdebar saat memasuki halaman puskesmas yang lengang. Hanya ada si penjaga yang sedang menyapu.

“Assalamu’alaikum…” sapa Sanyoto dengan wajah kuyu.
“Oh, Mas Nyoto… ada apa kemari lagi?”
“Mau jenguk anak Pak… terpaksa istri tinggal sendirian… nggak bisa nemenin…”
“Lho bukankah, sudah dirujuk ke rumah sakit tadi siang…”
“Siapa yang bawa ke sana Pak?”
“Tadi sama Bu Dokter. Habis nunggu Mas Nyoto pulangnya sore. Terpaksa dibawa ke rumah sakit karena sakitnya tambah berat…”

Seakan berita itu angin hebat yang menampar tubuhnya hingga gemetar.

“Di rumah sakit mana Pak?”
“Di rumah sakit daerah di kota. Jadi belum tahu to?”

Bingung bagaimana ia harus segera ke sana. Kalau naik bis jurusan ke sana sudah tidak ada lagi kalau sore begini.

“Pak, apa saya bisa minta tolong?”
“Ada apa?”
“Bisa minta antar ke sana. Tolong sekali.. soalnya sudah nggak ada bis lagi yang lewat..”
“Oh, baiklah.”

Untunglah penjaga itu mau membantu. Dengan diantar sepeda tuanya Sanyoto memburu waktu yang makin berlari jauh darinya. Ia bayangkan betapa istrinya keingungan sendirian menunggu di rumah sakit. Dan uang siapa yang dibawanya sekarang. Ia sendiri sudah habis uangnya. Sekarang terpaksa mengamen seharian, berharap beruntung. Namun hasilnya pas-pasan saja. Itupun ia sudah mencoba mengirit makan cuma sekali.

Terasa lama perjalanan sampai ke rumah sakit. Sanyoto berharap anaknya baik-baik saja dan segera bisa pulang. Jika di sana lama, ia pun tak akan bisa membiayai. Ia sudah pasrah.

Turun dari sepeda, langsung Sanyoto bergegas bertanya pada suster penjaga.

“Dimana kamar anak saya Suster. Namanya Budi Mulya. Tadi siang dibawa ke sini.”
“Bapak siapa?”
“Saya ayahnya..”
“Sebentar ya Pak..” kata si suster mencari nama itu dalam buku. Ia tampak mengangguk sebentar.
“Di kamar berapa Mbak?” tanya Sanyoto tak sabar.
“Sudah pulang tadi siang Pak.”
“Kok sudah pulang Mbak. Lha wong katanya sakitnya tambah parah. Kok malah pulang…”
Suster itu menatap penuh simpati. “Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha ..”
“Apa dia baik-baik saja Mbak… Jangan katakan kalau dia… anak saya tidak mati kan Mbak?!”

Menggeleng tak percaya Sanyoto. Ia mundur perlahan. Air mata meleleh di pipi Sanyoto dengan deras. Ia terhenyak di kursi. Orang-orang melihati. Sanyoto menangkupkan tangannya, menahan kesedihannya dari tangisnya yang mau pecah.

Dengan hati yang hancur Sanyoto bangkit berdiri berjalan keluar. Pengertian itu masuk ke dalam hatinya. Anaknya sudah mati. Budi Mulya, anak lanangnya sakit tak bisa diselamatkan. Karena ia terlambat merujuk ke rumah sakit. Dan semua itu karena ia tak punya uang!

Sanyoto berjalan di jalanan yang mulai gelap oleh malam. Dunianya seakan amblas hilang. Tak ada lagi harapan.

Rasanya ia tak ingin pulang malam ini ke rumahnya. Ia tak akan sanggup menemui wajah istrinya. Betapa ia hanya lelaki tak berguna.

Ditatapnya malam yang bermunculan bintang. Dipahaminya kehendak Ilahi ini pada dirinya. Mengapa dia yang harus mengalami. Mengapa dirinya?

Tapi ia harus menerima takdir ini. Ya, hanya itu yang harus ia lakukan. Pasrah. Ia harus yakin anaknya berada di tempat yang lebih lapang sekarang. Tempat yang lebih baik daripada jika ia sembuh dan hidup melarat bersamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s