Cita-cita Hafiz Quran

Imran ingin saat naik kelas lima ini sudah dapat hafalan tiga juz terakhir Alquran. Ia akan sungguh-sungguh bekerja keras untuk itu. Termasuk mengurangi waktu bermainnya agar hafalannya tidak cepat menguap karena terlalu banyak permainan daripada hafalan di otaknya hilang daripada cepatnya daun kering yang terbakar. Imran ingat Nabi Muhammad pernah bersabda, kalau hafalan Alquran yang tidak dijaga itu lebih cepat.

Untuk itu Imran rajin mengunjungi ustaz-ustaz yang hafiz Quran. Ia meminta saran mereka bagaimana cara cepat dan tepat menjadi hafiz Quran. Alhamdulillah Ayah dan Ibunya pun memberi dukungan.

“Sudah dapat berapa juz Imran sekarang?” tanya Ustaz Abu Bakar di masjid. Ustaz Abu Bakar seorang hafiz muda yang kebetulan tinggal di perumahan yang sama.

“Baru dua juz Ustaz. Target Imran akhir bulan ini dapat tiga juz.”

“Amin. Ayo tingkatkan lagi. Boleh kok Imran setor hapalan sama Ustaz. Nanti Ustaz bantu untuk membetulkannya kalau ada yang salah.”

“Insya Allah Ustaz.”

Dengan senang hati Imran menerima tawaran Ustaz Abu Bakar. Sore itu ia sudah mulai menyetor hafalan pelajaran Imran yang gagal. Ibu guru wali kelas Imran datang ke rumah pada sore itu menemui Ayah Ibu Imran.

“Sekolahan dan saya sendiri sebagai gurunya tidak ingin Imran tinggal kelas. Target sekolahan adalah tidak boleh ada anak yang tinggal kelas karena akan mempengaruhi reputasi sekolah. Dan sebenarnya saya percaya Imran itu bukan anak yang bodoh. Karena itu untuk beberapa pelajaran yang nilainya kurang saya mohon Bapak Ibu mau mengingatkan Imran untuk menambah lagi waktu belajarnya.”

“Kami berterima kasih atas perhatian Ibu. Kami juga akan coba mengarahkan yang terbaik untuk Imran,” jawab Ayah Imran berterima kasih untuk perhatian Ibu guru itu.

Setelah wali kelas Imran pergi, Ayah dan Ibu Imran mendiskusikan tentang masalah tersebut.

“Apa saran Ibu sekarang setelah mendapat keterangan wali kelas Imran tadi?”

“Entahlah Yah. Ibu rasa Imran sangat bersemangat sekali menghafal Quran. Kita tidak bisa menyalahkan dia.”

“Iya, aku juga memahami itu Bu. Coba kita nanti bicara pada Ustaz Abu di mesjid saja. Mungkin beliau punya saran yang lebih baik.”

Setelah selesai salat Maghrib, Ayah dan Ibu Imran menyempatkan diri untuk menemui Ustaz Abu Bakar.

“Mohon waktunya sebentar Ustaz. Ada yang ingin saya tanyakan. Tepatnya kami ingin meminta saran.”

“Silakan. Ada apa? Kiranya ada yang penting sekali.”

Ibu dan Ayah Imran duduk di berhadapan dengan Ustaz Abu Bakar. Ayah Imran lalu bercerita tentang kedatangan guru sekolah Imran dan keluhan Imran bisa tinggal kelas karena ada beberapa mata pelajaran Imran di sekolah yang jatuh.

Ustaz Abu Bakar mengangguk, “Saya mulai paham.”

“Terus apa yang harus kami lakukan Ustaz?”

“Saya pikir, kita harus objektif pada permasalahan ini. Kita melihat ada dua kepentingan, yaitu kepentingan sekolah dan kepentingan Imran sendiri.”

“Tolong jelaskan Ustaz.”

“Begini, kepentingan sekolah mengharuskan semua murid lulus tidak boleh ada yang tinggal kelas. Sedangkan pada Imran, dia mempunyai kepentingan ingin menjadi hafiz Quran. Imran meluangkan banyak waktu untuk menghafal Alquran sehingga nilai mata pelajarannya beberapa ada yang jatuh. Dan kita juga tahu kalau menghafal Alquran yang baik itu dimulai sejak dini.”

“Saya paham semua itu Ustaz. Terus apa langkah kami?”

“Sebenarnya kalau kita memaksakan Imran agar lulus sekolah dengan semua nilai baik dan hafal Quran sekaligus itu pasti ideal sekali. Tapi senyatanya tidak begitu. Mungkin sebaliknya kita harus merelakan Imran tinggal kelas jika mungkin nanti nilainya jatuh karena waktunya habis untuk menghafal Alquran. Tapi sebenarnya yang kita harus benahi adalah pandangan tentang anak tinggal kelas itu anak yang bodoh. Kadangkala itu adalah pilihan. Meskipun Imran akan tinggal kelas, tapi bukan berarti Imran bodoh. Justru kita harus bersyukur anak seusia dia punya motivasi untuk menjadi hafiz Quran. Sebenarnya sebagai seorang muslim kita harus yakin kalau pendidikan terbaik bagi putra putri kita adalah Alquran. Jadi kita malah harus mendorongnya agar bersemangat terus mengkaji Alquran,” kata Ustaz Abu Bakar dengan tersenyum.

“Dan tentu Bapak dan Ibu lebih paham yang mesti dilakukan. Jangan khawatir. Semoga Allah memberi yang terbaik pada Imran meskipun Imran tinggal kelas.”

“Iya Ustaz. Sebenarnya saya punya pikiran begini. Tidaklah mengapa Imran gagal di kelas. Kalau sekolahan keberatan dengan anak yang tinggal kelas kita bisa sekolahkan Imran di pondok Tahfiz Quran saja.”

“Saya juga setuju Ustaz. Mungkin itu yang terbaik bagi Imran agar ia tidak terbebani dengan kukrikulum dan tetap fokus dengan cita-citanya,” sahut Ibunya.

Ustaz Abu Bakar mengangguk.

“Alhamdulillah. Saya senang mendengarnya kalau Bapak Ibu bersepakat bagitu. Kita harus yakin Allah pasti memberi terbaik pada hamba-Nya yang ingin mempelajari ilmu-Nya.”

7 thoughts on “Cita-cita Hafiz Quran

    • Sebelumnya, selamat atas dimuatnya tulisan ini, kang. Pean ini memang produktif sekali. Salut!

      Soal tiga kata itu, kata hafiz dan ustaz saya temukan dalam KBBI terbitan 2008. Sepertinya, huruf arab ke-17, “dhot”, selalu diganti menjadi huduf “z” dalam bahasa Indonesia.
      Hanya saja yang aneh, kata “tahfiz” tidak sy temukan dalam KBBI edisi itu. Apa ada KBBI yang lebih baru lagi dan memuat kata itu ya?🙂

  1. Cerita antara Imran, Ustaz dan Ortunya Imran yang jadi “manusia2 langka” di jaman kini. Manusia2 langka seperti inilah yang menjadi harapan akan masa depan bangsa.

    Spirit back to Qur’an, Insya Alloh Masa depan kan cerah …. buwat Imran jangan takut tinggal kelas😉

  2. Subhanalloh…mgkin satu tempat yg masih menyimpan smgt seperti itu adalah: Gontor. Dmn lulusannya tdk ikut UN dan rata2 kesulitan melanjutkan k PTN, krn ditolak scr administratif.

    • Ada yang lebih berani, seperti ma’had yang tak pernah mau menerima ‘uang subhat pemerintah’ dan tak mewisudakan lulusannya demi sebuah ijazah… dan faktanya di mata pemerintah mereka dianggap radikal dan teroris..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s