2012, Bali Desa Mbangun Desa!

dimuat tanggal 14/12/2011 di Opini harian joglosemar

Apa yang menjadi kegentaran manusia sejalan perkembangan ekonomi dan arah kemajuan industri. Hal itu merupakan sterotip dari masyakarat berkembang, yang melulu berkiblat pada industri. Namun seringkali kita sendiri malah kesingsal dalam kemajuan industri yang ingin merata dan mampu menjangkau pelosok-pelosok daerah.
Hal itu terlihat benar pada percepatan ekonomi di daerah yang lambat karena ramai-ramai orang berduyun ke kota. Dengan spirit ‘demi mencari sesuap nasi’, ataupun demi mewujudkan mimpi, semua orang pergi ke kota hingga desa dan segala potensinya menjadi sesosok perawan kesepian.
Hal senada pernah diungkapkan oleh Mama Laurent, seorang peramal yang dulu terkenal di Indonesia ini, yang meramal bahwa pada tahun 2012 semua orang akan berkiblat ke desa dengan potensi pertanian yang menjadi komoditi mahal.
Ya, tentu saja itu hanya ramalan. Kita belum bisa memastikan apakah benar akan terjadi seperti itu, ataukah memang kota akan bertambah lebih baik pertumbuhannya dan menjadikan tempat ideal bagi seluruh tujuan kebahagiaan manusia, atau malah akan terjadi sebaliknya. Sebenarnyapun segala bentuk apapun dari usaha untuk menganalisis dan mencari jawaban bersama bagi kebahagiaan manusia bersama dalam bidang ekonomi dan industri sebenarnya beberapa prosen dari hal itu mengandung unsur forecast atau ramalan. Ya, tentu kita bisa mengambil hal positif dari wacana ini.
Pertanyaannya, potensi pertanian di desa seberapa jauh bisa menguntungkan?
Filosofi petani, dari asal kata tani, dalam bahasa Jawa bermaksud filosofis agar ngratani atau merata. Jadi usaha tani itu memang tak bertujuan untuk membuat kaya, tapi hanya sekedar mencari cukup dan bisa mencukupi kebutuhan dalam arti filosofis, yang sebenarnya hal itu sangat bermakna dalam. Kita juga bisa belajar dari petani. Mereka bekerja menggarap sawah ladang mereka demi mencukupi berbagai tuntutan kebutuhan yang beraneka ragam, yang tak bisa direduksi menjadi kebutuhan sandang, pangan, papan saja. Asalkan bisa untuk memenuhi lubang kebutuhan itu saja bagi mereka sudah cukup. Soal menjadi kaya semua rejeki toh sudah diatur Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak perlu korupsi agar kaya. Tidak usah rakus karena manusia juga tak pernah bisa kenyang. Mereka bahagia karena bekerja sekaligus beramal ibadah.
Kembali ke Desa
Produksi pertanian memang seringkali dianak tirikan ketimbang hasil produksi industri misalnya. Seringkali pasar sendirilah yang membuat sepi dari permintaan hasil pertanian, karena pasar global sendiri di Indonesia lebih menghendaki kita sebagai konsumen dan mengimport produk luar negeri. Hal itu jelas sekali membuat para petani Indonesia kelimpungan ketika hasil produksi mereka sama sekali tak dijamah dan tak dilirik. Peredaran dari hasil produksi itu hanya berkisar dari daerah dan pasar lokal. Tak ada yang bisa diharapkan dari hasil produksi pertanian.
Namun hal itu tak selalu seperti itu tepat. Di beberapa daerah hasil dari komoditas pertanian mereka mampu menembus pasar lokal dan luar negeri. Seperti di Kabupaten Karanganyar, Wonosobo, utamanya di beberapa daerah yang berada di kawasan dekat dengan pegunungan, produk pertanian mereka mampu membuat terobosan jauh. Di beberapa dataran rendah yang baik dari sistem irigasinya juga berhasil membuat daerah mereka survive sekaligus surplus dari hasil pertaniannya. Otomatis dari harga yang mampu mereka kuasai ini di berbagai bidang lain mereka mampu mengikuti percepatan dari jaman dan kemajuan.
Ajakan kembali ke desa memang tak begitu populis (selain ketika pilkada saja), disebabkan lebih karena selama ini desa hanya digambarkan sebagai tempat sepi, tenang, dan pantas dijadikan sekedar villa peristirahatan. Adapun perkembangan desa selama ini mulai menggeliat namun lebih ke arah pembangunan pemukiman tanpa pengkajian positif, yang berdampak pada penataan pemukiman seringkali malah mengurangi areal untuk produktivitas pertanian. Selama ini di beberapa tempat di pinggiran maupun desa mulai dilirik para pengusaha tapi sekedar menjadikan sebagai gudang produksi atau sebagai pabrik-pabrik yang makin mendesak lahan pertanian dan merusak ekosistem desa dengan limbah dan polusi mereka. Atau dengan kata lain, peminggiran tempat usaha dan pabrik-pabrik itu hanya sekedar menghindari dari tindakan penalti dari undang-undang.
Semoga saja, pihak-pihak terkait ketika melihat desa sebagai tempat produksi bisa lebih mengkaji penataan kondisi dan situasi agar tetap menguntungkan dan tidak merusak kemaslahatan hidup lingkungan dan masyarakat. Di tahun-tahun mendatang hal itu kita bisa lihat kecenderungan apakah yang akan terjadi pada beberapa daerah pinggiran maupun pelosok desa.
Pemerintah, pengusaha dan utamanya masyarakat harus gigih berjuang untuk mewujudkan bahwa desa bukan sekedar vila peristirahatan, tapi mampu mewujud sebagai intan berlian yang bisa sangat mahal harganya setelah kita menggosok dan membersihkannya dari debu dan lumpur yang melekat.
Desa dan Program Pengentasan Kemiskinan
Kita bisa mengambil nilai positif dari sekedar ramalan Mama Laurent di atas. Yang penting sebagai seorang pengusaha atau petani kita harusnya berani bertindak dan bisa membuat persiapan, analisis, untuk mewujudkan bahwa usaha pertanian bisa menjadi komoditas yang menjanjikan.
Sebagai jawaban dari program pengentasan kemiskinan misalnya, desa seharusnya mampu memberi lebih banyak ketimbang kota. Semua bahan produksi dan pangan kadang berasal dari desa. Tak dipungkiri, lahan-lahan itu hanya dikeruk sampai habis, lalu berpindah tempat dan tak ada pertumbuhan baru lagi. Begitu saja yang terjadi. Hal itu tentu harus dirubah.
Desa mempunyai kondisi yang lebih bisa diterima seharusnya untuk peningkatan bidang kerja khususnya pada bidang pertanian. Dari pertanian agrobisnis yang sekarang ramai. Di kabupaten Karanganyar bahkan mencanangkan kota Karanganyar itu sebagai kota Anthurium. Dan hal itu beberapa berhasil walaupun temporer, antara lain mampu mengimbangi percepatan ekonomi. Bahkan sekarang dikatakan orang Karanganyar bisa membeli apapun hanya dengan daun.
Hal itu tentu saja tak harus sekedar berakhir menjadi fenomena temporer belaka sebenarnya, jika masih ada tindak lanjut dan pengembangan untuk pertanian agrobisnis semacam itu. Banyak petani dan para pekerja biasa yang beralih ke pertanian dan mereka ternyata lebih mujur. Jadi bukan sebuah alasan bahwa iklim pedesaan yang sepi itu juga disebut sebagai sepi kegiatan ekonomi.
Beberapa kritik juga perlu ditindaklanjuti pemerintah, terutama dari penyebaran dan subsidi pupuk yang kadang tidak merata, dan adanya beberapa oknum yang suka mencari keuntungan sendiri dengan menimbun pupuk.
Sosialisasi pertanian dengan Kelompencapir yang dulu pernah diadakan mungkin bisa diadakan kembali agar para petani itu mampu berkembang dan saling berbagi ilmu. Hal ini tentu akan meningkatkan produktivitas kerja mereka. Dan semakin banyak lahan yang digarap dan tidak nganggur pastilah akan menyerap tenaga kerja juga.
Dan kesimpulan dari ramalan Mama Laurent bahwa kota pada 2012 nanti akan remuk dan para perantau harus pulang dan menjadi petani, kita bisa setuju, tentu dengan catatan dari sekarang kita berusaha melihat kembali ke desa, memanfaatkan kembali lahan-lahan kosong dengan tanaman produksi maupun pangan, dan bertekad dengan gigih bahwa program kemiskinan sekalipun akan terjawab dengan cara pertanian terpadu dan komprehensip sejak dari sekarang.
Ayo Indonesia bisa..!

Andri Saptono
Aktif di Komunitas Pembaca Karanganyar (TASCAKRA)

One thought on “2012, Bali Desa Mbangun Desa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s