MISTERI RUMAH BERHANTU

Aku tak percaya dengan hantu. Selama ini aku belum pernah melihat hantu. Dan kurasa hanya paranormal saja yang mengaku bisa melihat hantu –kalau mereka memang benar melihatnya.
Tapi aku penasaran ingin melihat hantu. Aku mencoba mencari tahu, mungkin ada penjelasan lain tentang hantu itu sendiri yang bisa lebih masuk akal.
Akhirnya aku menemukan sebuah rumah tua yang tak ditinggali. Orang-orang di sekitar tempat itu tak berani mendekat ke rumah itu baik siang maupun malam. Katanya rumah itu adalah tempat beranak pinak segala macam hantu.
Aku mencoba mengaitkan latar belakang sejarah rumah kosong itu. Dulu, ia ditinggali sebuah keluarga Demang. Masih bisa kulihat bekas sejarah yang ada pada rumah itu. Pendapa yang luas, yang mungkin di jaman dahulu menjadi pertemuan para bangsawan atau para pemuka desa. Ada istal kuda yang cukup luas. Namun anehnya di belakang rumah kulihat ada tiga buah sumur. Aneh nian, dalam sebuah pekarangan ada tiga buah sumur. Ini kucatat sebagai penanda pertama pada kecurigaanku.
Tentang sumur aku berteori bahwa air yang kita minum dan membuat hidup tentu mempengaruhi jiwa kita. Kalau air itu kotor dan mengandung penyakit mungkin akan lebih buruk lagi pada jiwa dan kesehatan kita.
Kulihat setiap sumur dan kondisinya. Aku menemukan ada dua sumur yang memang sangat tidak layak digunakan lagi. Mungkin juga di masa dahulu sumur itu sudah tidak dipakai. Di satu sumur yang masih bagus aku temukan bahwa memang sumur itu kelihatannya sumur yang dipakai. Akupun menciduk air dari sumur itu dengan timba kerekan. Kudengar suara deritnya yang menyayat hati seakan ia hendak bercerita padaku. Kucoba cicip air itu. Air itu meskipun bening ada terasa sebuah rasa yang aneh. Air itu berasa anyir seperti darah.
Kuperhatikan sekeliling mengapa sumur itu bisa berasa seperti ini. Ada sebuah banguan gudang di dekatnya. Saat baru beberapa langkah aku mau menuju pondok tiba-tiba terdengar teguran.
“Mau cari apa di kebun ini?” suara itu bertanya seperti marah.
Aku menengok. Kulihat seorang tua dengan parang terselip di pinggangnya. Tubuhnya yang masih kukuh berkeringat. Ia nampaknya sedang mencari kayu di tempat ini.
Aku masih diam saja. Mencoba mengamati orang ini.
“Hei, kutanya malah diam saja. Apa yang kaucari di rumahku ini?”
“Ehm, saya hanya menengok sumur itu pak.”
“Cepat pergi dari sini. Ada-ada saja bilang mau menengok sumur. Pasti kamu mau mencuri!”
“Tidak Pak. Sumpah, saya tidak ingin mencuri. Saya heran mengapa sumur ini berasa anyir darah?”
Sejenak lelaki itu menatap tajam padaku.
“Benar kamu bukan pencuri? Siapa kamu sebenarnya dan apa yang kaulakukan di rumahku ini?”
“Saya memang bukan dari daerah ini Pak. Saya diberitahu teman kalau rumah ini berhantu. Tapi saya heran dengan sumur yang berasa anyir darah ini.”
“Apa kau tak percaya kalau rumah ini berhantu. Atau memang kau ingin melihat hantu?”
“Selama ini saya memang belum pernah melihat hantu. Dan saya ingin melihatnya.”
Lelaki itu meneliti kesungguhan di wajahku.
“Ayo ikut aku. Akan kutunjukkan sesuatu!”
Aku ikut saja dengan lelaki itu dan merasa senang bahwa aku tak akan lagi diusirnya. Ia membawaku tidak jauh dari sumur itu ke sebuah gudang atau dinamakan gandok. Tapi terus di belakang gudang itu ia membawaku ke sebuah tempat gelap dan lembab. Ia menyalakan lampu hingga terang. Seketika aku merasa terkejut dengan banyak sekali jamur yang tumbuh di tempat lembab itu.
“Apakah semua jamur ini sengaja Bapak tanam?”
“Aku akan bercerita padamu. Kau dengarlah dulu.”
Aku mendengarkan lelaki itu bercerita.
“Dahulu kakekku adalah seorang demang. Ia mempunyai keluarga besar yang tersebar di wilayah ini. Beberapa orang di antaranya tersangkut dengan PKI. Suatu malam, para tentara itu datang ke rumah ini dan membantai semua saudara kakekku. Yang tinggal dan masih hidup hanya kakekku yang kemudian berlari ke tempat ini. Barulah setelah para tentara itu pergi, kakekku dengan kesedihan tak terkira menimbun semua mayat itu di tempat ini. Namun entah mengapa sejak saat itu banyak sekali tumbuh jamur di tempat ini. Dan ketika hujan ada air berwarna merah yang turun ke sumur yang berada di tempat itu. Karena sumur itu tidak jernih airnya maka dibuatlah hingga tiga sumur di belakang rumah ini. Tapi yang paling ujung itupun masih terasa anyir.”
Aku mengira air merah itu pasti bukan darah. Karena darah tidak mugkin mengalir dari orang sudah mati yang terkubur bertahun-tahun lamanya.
“Datanglah nanti malam, akan kutunjukkan sesuatu yang lebih menarik lagi.”
Aku terkejut atas tawaran itu dan tak bisa menolaknya. Artinya aku sudah dianggap teman oleh orang tua itu.
Malam itu aku datang lagi. Memasuki pintu gerbang tempat itu memang membuat bulu kudukku merinding. Tempat ini memang tak terjamah siapapun setiap harinya. Hanya orang tua itu saja yang mencari kayu dari pohon-pohon jati yang tumbuh besar di tanah ini.
Saat aku sampai di depan rumah kulihat lelaki itu tengah duduk di beranda pendopo berteman lilin kecil. Hanya itu satu-satunya cahaya yang ada. Takutku, kalau ternyata bukan lelaki itu yang sedang menungguku.
Tapi, ketakutanku memang tak beralasan. Lelaki itu menyambutku dengan senyum kecil.
“Tak kusangka kau berani datang lagi. Karena rasa penasaran ingin melihat hantu?”
“Maaf, saya tadi lupa mengenalkan diri. Sanyoto,” kataku padanya sambil menjabat lelaki itu tak peduli pada sindirannya.
“Kirman. Sebut saja pak Kirman. Usiaku sudah tujuh puluh lima saat november nanti.”
Aku mengangguk. Ia seusia ayahku.
Kamipun menuju ke tempat yang disebut gandok itu. Setelah aku diberi lilin satu kupegang erat-erat, takut kalau lilin itu akan padam dan tiba-tiba dunia menjadi gelap.
Memasuki tempat itu terasa kesunyian yang dalam dan bau jamur makin menusuk hidung. Ada bau anyir yang aneh yang berbeda dengan jamur biasa. Apakah karena memang tanah di bawahnya yang mengandung manusia-manusia yang tewas dibunuh itu?
“Lihatlah jamur-jamur itu?”
Aku betul-betul menyaksikan di atas kepalaku sendiri tepat di atas jamur itu membentuk bayangan putih panjang yang bergerak hidup. Entah spora atau entah binatang atau makluk apa ketika makluk itu tertitiup angin maka ia akan meliuk-liuk. Ada gerakan-gerakan menari yang dibuatnya. Tapi mengingat di bawah tempat itu ada kuburan tiba-tiba aku jadi merasa takjub dan merinding.
“Itulah yang mereka sebut hantu di rumah ini. Suatu saat ada seorang pencuri yang hendak mencuri di tempat ini. Ketika ia melihat hal ini, maka terbirit-birit lari si pencuri itu. Sejak saat itu tersebut tempat ini berhantu.”
“Apakah saya boleh melihat dekat benda putih itu pak?”
“Silakan. Tapi jangan terlalu lama di sana.”
Aku memberanikan diri maju ke depan. Aku berdiri di atas pekuburan dan sekarang tubuhku diselimuti oleh hewan-hewan kecil yang terbang ini. Mereka putih dan sangat lembut seperti udara atau berkas-berkas cahaya, tapi mereka berkumpul berwarna putih di atas tiap gundukan kuburan yang ditumbuhi jamur itu.
Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Makluk aneh ini seperti ingin mengajakku menari. Ada perasaan ringan yang membuatku ingin menari. Entah mengapa tanganku bergerak ringan dan aku merasa mabuk. Entah berapa lama aku berada dalam suasana itu.
Tiba-tiba lelaki itu menyentakku atau malah memukul tubuhku dengan keras. Aku terjerambab.
“Jangan terlalu lama. Kau bisa mati kalau tetap berada di disini! Jamur itu beracun!”
Aku mengucap istighfar berkali-kali. Hampir saja.
“Bukan hanya kau saja yang mengalami halusinasi seperti itu. Tapi beberapa orang yang pernah datang kemari semua ditemukan linglung. Mereka mengatakan dibawa ke tempat roh nenek moyang yang gaib. Namun sebenarnya mereka sedang berhalusinasi karena jamur ini.”
“Sekarang saya paham.”
Pak Kirman mengangguk.
“Kau percaya, bahwa seseorang yang mati syahid itu tubuhnya tidak akan busuk, bahkan darahnya masih mengalir.”
“Saya percaya itu Pak.”
“Ketika hujan, air sumur itu mengalir darah dari salah satu kuburan ini. Aku sendiri takjub dibuatnya karena yang mengalir itu benar-benar darah. Aku pernah membuktikannya sendiri dengan menggali kuburan itu sampai aku menemukan sebuah tubuh yang masih utuh. Tahu artinya itu?”
“Saya tidak tahu pak.”
“Lelaki yang dibunuh itu adalah syuhada, seorang syahid. Dia punya karomah. Kita bisa mempercayai kalau ada orang-orang tak bersalah yang dibunuh saat pembantaian di gudang ini. Memang saat itu jika seseorang sudah disebut PKI, mereka tak perlu bukti sama sekali untuk menghabisinya!”
Aku membayangkan sekelimut peristiwa itu terjadi. Memang di tempat ini dulu adalah kediaman rumah seorang demang. Pastilah banyak kegiatan warga terpusat di tempat ini dan mereka yang juga dibunuh di tempat ini.

dimuat di joglo semar
Karanganyar, 12 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s