PURNAMA KEGELAPAN *


Sanyoto datang dengan tangan kosong di Astana Randu Songo kali ini. Ia tidak membawa kembang tujuh rupa, tidak rokok klembak menyan, tidak juga dupa China. Ia selalu datang sendiri seperti dipesankan eyang Singodimedjo, sang juru kunci Astana Randu Songo yang flamboyan itu. Dan sekarang adalah kedatangan Sanyoto yang ke empat kali di tempat pekuburan para kerabat raja Surakarta Hadiningrat ini.

Sinar bulan menjadi bercak-bercak cahaya karena terhalang dahan pohon randu alas yang lebat. Bau tanah pekuburan bercampur bunga kamboja menusuk hidungnya saat memarkir sepeda motornya di dalam pemakaman. Sanyoto teringat pertama kali datang ke tempat ini. Ia sontak merinding masuk ke area pemakaman, meskipun saat itu ia tidak sendiri. Baru setelah dua tiga kali kedatangannya kemudian ia merasa Gusti Panembahan Aryo Dipo yang menguasai tempat ini tidak berkeberatan dengan kedatangannya.

Sanyoto mendapati Eyang Singodimedjo, sang kuncen makam bersila di depan makam bercungkup Gusti Panembahan Aryo Dipo. Ia harus menunggu selesai sang kuncen makam yang sedang berwawasan sabda dengan tuannya di alam lain itu.

Puntung rokok kretek ketiga baru ia injak dengan sepatu pantofel itu ketika sang kuncen makam menghampirinya.

“Aku dapat kabar besok akan terjadi gerhana bulan. Tepat tengah malam kamu bawalah ayam cemani. Paling baik yang baru sekali bertelur. Aku kira lakumu sudah mendapat jawaban Gusti Panembahan. Kamu beruntung!”
Sanyoto mengangguk menangkap kalimat terakhir yang diucapkan juru kunci itu.

“Artinya kalau Gusti Panembahan berkenan tidak sampai satu minggu permintaan kamu pasti dipenuhi – kamu pasti akan diangkat pegawai di pabrik gula Tasikmadu!” lanjut Eyang Singodimedjo tersenyum.
Sanyoto tertular senyum berbinar juru kunci itu dia pun ikut tersenyum. Kabar baik itu akhirnya datang.
“Iya Eyang. Saya pasti datang besok!”

Sudah sepuluh tahun Sanyoto kerja di pabrik gula Tasikmadu ini sebagai pegawai kontrak. Ia dipanggil setiap pabrik gula ini musim giling tebu. Namun ketika giling kali ini ia melihat banyak pegawai baru, padahal setahunya pabrik tidak pernah membuka lowongan kerja, Sanyoto berinisiatif mencari tahu agar ia segera diangkat menjadi pegawai.

Ia merasa tak punya pilihan banyak. Pekerjaan ini sangat ia harapkan. Betapa tidak. Anaknya tiga. Dua yang paling besar sudah menginjak bangku SMA dan SMP. Sedangkan yang paling kecil duduk di bangku SD. Biaya sekolah melambung tidak tanggung-tanggung. Usaha dari membuat batu bata tidak seberapa karena hampir sepanjang tahun ini hujan menghancurkan seluruh bata yang ia jemur. Masih untung ia terdaftar sebagai pekerja kontrak di pabrik gula Tasikmadu ini yang masih memanggilnya saat musim giling mulai.

“Kau kira mereka begitu saja diangkat pegawai? Sudah jadi rahasia umum! Kamu tahu kan si Yuzril anak kemarin sore yang kerja di Bagian Instalasi Gilingan itu. Baru dua tahun sudah diangkat jadi pegawai. Kamu nggak perlu nggumun!” cetus Maman, si tukang las teman karib Sanyoto.

Sebenarnya Sanyoto tahu akan hal-hal seperti itu. Sudah jadi rahasia umum, seperti yang kang Maman bilang. Dimana saja. Tidak hanya di pabrik gula. Di perusahaan-perusahaan lain juga. Dulu sewaktu pernah kerja di pabrik tekstil, ia ditawari jadi pengawas kalau mau membayar dua juta.

“Ini kesempatan kamu. Lumayan kalau bisa jadi pegawai di pabrik gula ini. Ada pensiunnya.”
“Aku tidak punya koneksi kang? Kalau kang Maman dulu sama siapa?”
Maman tersenyum mencibir. “Kalau nanti kuberitahu, kamu jangan bilang orang lain ya?”
“Pasti kang. Mosok, aku mengkhianati kang Maman.”
“Aku dulu minta bantuan Eyang Singodimedjo. Hampir semua pegawai di sini datang ke sana. Aku tidak bohong. Kalau aku bohong biar digilas mesin gilingan ini!”
Selesai Maman bicara tiba-tiba dikejutkan suara benturan besi yang keras. Semua menengok ke arah suara. Giling tebu harus dihentikan karena sebuah besi seperti garpu yang beratnya hampir satu kwintal patah dan menjadi slilit di mesin molen gilingan.
“Itu buktinya kalau aku tidak bohong!” kata Maman sambil berlari mendekat ke arah tempat kejadian. Mereka segera menyiapkan alat las untuk memotong besi slilit itu.
“Bukti apa kang?”Sanyoto penasaran.
“Kamu lihat sendiri kan bukan aku yang digilas mesin giling, tapi besi carrier itu.”

Sanyoto menghela napas. Ia sudah kepalang tanggung sekarang. Dan ia sudah di depan kuncen astana Randu Songo ini untuk melancarkan peruntungannya.

Lelaki tua kuncen Astana Randu Songo itu sekarang mengusap warangka keris yang berlumut dengan karat di sekujur penampangnya.

“Aku akan terus di sini untuk menemukan jodohku. Ini adalah warangka keris kyai Sangkelat yang dulu pernah dibawa raja Mataram ketika melawan kompeni. Warangka ini sudah kupegang selama tiga puluh lima tahun lebih.”

Sanyoto lebih banyak mendengarkan daripada menimpali karena setiap kali ia membuka mulut rasa dingin tambah merasuk pertanda sudah lewat tengah malam.
“Kau tahu berapa umurku sekarang? Kau pasti akan salah mengira.”
Sanyoto tersenyum. Wajah lelaki di depannya itu belum banyak kerut yang tumbuh. Warna kulitnya pucat kontras dengan pakaian hitam yang ia pakai.
“Enam puluh tahun, Eyang,” baru kali ini Sanyoto bicara. Suaranya terdengar lirih dan gemetar.
Juru kunci itu tertawa. “Ngawur kamu! Aku sudah hampir seumur dengan Randu Songo yang ditanam di astana ini.”

Sanyoto sendiri tak ingat berapa umur Randu Songo yang berjajar di pinggir astana itu. Kalau menurut perhitungan matematis, tebal kambium yang membuat besar lingkar pohon Randu setiap 2,5 cm menunjukkan bertambahnya umur pohon sebesar satu tahun. Dengan lingkar pohon sekarang bisa jadi umur Eyang Singodimedjo itu adalah 80 tahun.

“Kau pasti tidak percaya kalau kubilang tepat sasi Suro nanti adalah peringatan hari jadiku yang ke seratus lima puluh?”
Sanyoto mengangguk walaupun hatinya menyangkal ada orang yang berumur lebih dari 100 tahun di jaman sekarang ini.
“Jasadku baru akan mati kalau kyai Sangkelat itu sudah bersamaku. Entah kapan waktunya itu. Mungkin seratus tahun lagi. Dua ratus tahun lagi. Dan selama itu aku akan tetap hidup sebelum bertemu jodohku!”
Bulu kuduk Sanyoto seakan melihat sosok yang ia hadapi ini bukan manusia biasa. Mungkin jin yang menjelma manusia atau barangkali manusia yang tidak bisa mati karena telah membuat perjanjian dengan iblis.
Eyang Singodimedjo tertawa. Giginya rapi berbaris. Beberapa adalah gigi palsu yang akarnya berwarna kuning karena tembakau rokok kretek.
“Jadi kalau kau benar-benar meminta tolong padaku, aku harap kau akan terus mengingat ini. Jangan pernah macam-macam di tempat ini!”
“Iya mbah,” jawab Sanyoto gemetar.
***
Setiap keberadaan pabrik gula kuno peninggalan Belanda selalu diselubungi misteri. Kisah-kisah mistik yang terus dihidupkan oleh para pekerja maupun para penduduk di sekitar pabrik gula Tasikmadu itu. Tidak bosan-bosannya mereka mengulang cerita kejadian-kejadian aneh yang tidak masuk akal di tempat ini. Dari sesaji sembilan kepala kerbau saat giling pertama kali dimulai. Tentang kematian beberapa pegawai yang tergilas mesin giling -hingga sehari itu produksi ampas tebu berwarna merah darah- yang semua itu disebabkan hari pertama kerja si pegawai tidak memasang takir sesaji. Sebagian cerita itu jelas dilebih-lebihkan, namun hampir semua orang tak ada yang ingin membantah.

Sanyoto tidak masuk kerja shif malam karena pekerja kontrak hanya masuk pagi. Tapi kedatangannya di pabrik gula malam ini karena suatu urusan yang penting. Tas plastik hitam di tangan kanannya ia kepit agar tidak berayun mencurigakan. Namun tetap saja hal itu tak banyak berbeda. Pakaian yang ia kenakan terlalu mencolok kalau tidak boleh dibilang aneh. Ia mengenakan ikat kepala kuning gading. Pakaiannya kemeja hitam legam. Tidak memakai celana tapi memakai jarit bermotif sidolurik. Ia nampak seperti seorang panembahan jaman kerajaan tempo dulu berjalan tanpa alas kaki seperti itu.

Para pegawai yang masih berjaga berkasak-kusuk melihat Sanyoto lewat. Tapi mereka tidak nampak terkejut sekali dengan hal itu. Sudah sering mereka melihat orang-orang yang melakukan ritual seperti Sanyoto.
Sanyoto menuju ke bawah pipa cerobong asap besar yang berada di komplek pabrik gula Tasikmadu. Tempat ini ditengarai sebagai punjer atau pusat pabrik gula Tasikmadu. Konon katanya, pipa cerobong asap besar berwarna putih pucat ini adalah jalan lain menuju ke alam gaib.

Seperti sebuah keanehan ketika tiba di bawah pipa cerobong asap ini suara gemuruh proses giling tebu yang membahana tiba-tiba lenyap. Yang ada angin berhembus keras menerpa tubuhnya.

Ya, semua itu memang sebuah kesengajaan dalam arti yang sebenarnya. Ketika jaman dulu tidak ada blower untuk meniup api perapian mesin uap agar stabil maka dibuatlah lorong-lorong di bawah tanah yang kemudian mengalirkan angin untuk meniup perapian mesin uap.

Namun Sanyoto tak terlalu peduli memikirkan hal itu. Pertama uluk salam gedruk bumi tiga kali. Dibakarnya dupa China disamping sesaji kepala dan kaki ayam cemani yang telah disembelih eyang Singodimedjo yang ia taruh tepat di bawah pipa cerobong asap beralas daun pisang gepok. Komat-kamit Sanyoto membaca rapal mantra dari Eyang Singodimedjo dan mengulangi rapal mantranya hingga sepuluh kali. Setelah nanti selesai ia harus mencium cerobong asap itu tak peduli meski cerobong asap itu berselimut debu.

Dikatakan di tempat ini sering muncul hantu orang Belanda yang bertubuh raksasa. Kalau hantu itu menghampiri salah seorang pekerja di pabrik gula ini, maka hidup orang yang melihat hantu itu akan beruntung. Entah ia akan diangkat menjadi pegawai atau dapat nomer butut. Orang-orang semakin percaya saja ketika memang banyak pegawai yang tiba-tiba jadi kaya di pabrik gula ini. Mereka dikatakan beruntung karena melihat penampakan hantu orang Belanda itu.

Sanyoto sekarang sudah selesai melaksanakan ritualnya. Suanana sepi dan gelap. Ia berpikir mengapa tempat ini dibiarkan gelap karena semua bagian di pabrik ini terang benderang. Tapi Sanyoto senang karena kegelapan membuat orang tidak melihat kalau ia sedang melakukan ritual.

Ia juga ingat pesan eyang Singodimedjo. Selesai tugasnya ia harus menatap pada langit purnama. Jika ia melihat bayangan wajah hitam besar di langit sedang menatapnya, itu tandanya doanya telah terkabul. Namun jika hal itu bukan yang terjadi, ia harus meningkatkan persembahannya dengan melakukan ritual lain.
Sanyoto menghela napas. Ia gugup. Jika ia tidak berhasil kali ini, ia tahu akan melakukan pertaruhan yang lebih besar dengan mengorbankan istrinya untuk bersetubuh dengan jin Gusti Panembahan Aryo Dipo.
Sanyoto tidak bisa membayangkan bila hal itu yang terjadi.

Angin berhembus. Bau dupa China samar-samar pergi dari tempat itu. Sanyoto memberanikan menatap bayangan hitam besar di langit yang mengitari pipa cerobong. Tapi, di bawah langit purnama jelas sekali kalau bayangan hitam itu hanyalah asap, bukan sesosok wajah hitam manapun.

Sanyoto gemetar. Dadanya sesak ketika ingatannya meruang ke astana makam panembahan dan istrinya yang akan bersetubuh dengan jin Gusti Panembahan agar keinginannya tercapai. Ia ingat istrinya yang tidak ia duga dengan mudah setuju untuk dijadikan tumbal.

“Terlanjur basah, mas. Kalau mas Sanyoto tidak keberatan, aku juga tidak masalah,” katanya saat itu enteng.
Sanyoto merasakan pening dan sesak napas. Bumi di bawah kakinya terasa amblas ke bawah. Ia ambruk pingsan di tempat itu tak kuat menanggung beban pikirannya.

dimuat di Tabloid Cempaka

3 thoughts on “PURNAMA KEGELAPAN *

  1. kalo kang andri yang nulis,, saya terhipnotis
    saya merasa melihat setiap langkah sanyoto
    saya merasa merinding ikutan masuk Randu Songo
    saya melihat juga ambruknya sanyoto di bawah cerobong
    mantaps…..

    sedj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s