Kabar Baik Atau Kabar Buruk Duluan ?

Apa yang ingin anda (dan saya) ingin dengar lebih dulu?

Kabar baik dulu atau kabar buruk dulu?

Kabar baik mungkin. Karena setelah itu kita bisa bersiap-siap atau pura-pura mendengar kabar buruk selanjutnya.

Atau malah kabar buruk dulu, agar setelah itu kita bisa tersenyum, tertawa melupakan rasa pahit yang kita kecap sebelumnya.

Hanya saja kita tahu bahwa kabar baik dan buruk datang pada kita silih berganti. Kadangkala datang dari keluarga kita, tapi juga kadang kala sahabat-sahabat kita.

Islam mengajarkan bagaimana kita menjadi orang pertengahan (moderat). Tidak lepas kendali ketika mendapat kesenangan ataupun menjadi hilang kendali ketika mendapat berita buruk (musibah).

Baiklah, saya mencoba mengawalinya dengan kabar baik. Bukan apa-apa. Ini masalah prioritas saja. Sekaligus permohonan maaf, karena baru upadate blog saya, padahal saya baru saja kejatuhan duren (menang kontes kecubung tiga warna).

Sekali lagi, saya bersyukur kepada Allah telah memberikan kabar baik ini. Tidak lupa terima kasih saya kepada sohib-sohib blog (Sedjatee dan Curusetra). Tanpa kalian, Atmo Kanjeng bukan siapa-siapa. Harapan saya semoga saya bukan orang yang lepas kendali atau malah pusing kejatuhan duren itu.

Sekarang, saya musti bernapas dulu. Kabar yang kedua adalah kabar yang tidak bisa kita namakan baik. Tapi, selalu ada hikmah dari kabar semacam ini. bahkan membuat kita menjadi orang yang tiba-tiba ingat bahwa diri kita adalah manusia yang hanya bisa berencana.

Teman penulis, Sanie B Kuncara, baru-baru ini harus menjalani kemoterapi kanker payudara. Sosoknya yang hangat, dan selalu menularkan semangat itu, tengah berjuang untuk menghadapi rasa sakit. Saya percaya ia adalah orang yang tabah dan kuat, dan saya memang melihat itu dari beberapa pertemuan kami dan terakhir di mengurai cerpen Anak Arloji- Kurnia Effendi di Balai Soejatmoko kemarin.

Saya juga percaya, bahwa kita sebagai seorang teman, mempunyai cukup empati dan simpati yang akan menjadikan Sanie yang tengah berjuang melawan sakitnya itu, menjadi ingat bahwa ada teman dan keluarga di sekitarnya, yang akan berada di dekatnya. Apa yang ia berikan kepada kita sungguh terlalu banyak. Bahkan, sebagian dari diri kita kadang merasa tidak terima mengapa ia harus menerima rasa sakit itu.

Ada cara pandang yang baik yang saya ambil. Saya percaya ketika seseorang diberi kesulitan atau cobaan, Allah tengah menjadikan dirinya menjadi sosok yang lebih baik lagi. Cobaan itu adalah semacam program akselerasi Tuhan yang mempercepat kita akan menjadi orang yang lebih besar dari sebelumnya. Dan kita bisa mempercayai hal itu.

Islam mengajarkan ketika kita mendapat kesenangan kita disunahkan mengucap Alhamdulillah. Dan ketika mendapat cobaan atau musibah, mengucap inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.

Semua kembali kepada Sang Maha Kuasa. Kepadanya kita bersandar. Atas rasa suka dan duka ini.

Maaf, bila saya harus membagi berita sedih ini di tengah kebahagiaan anda.

11 thoughts on “Kabar Baik Atau Kabar Buruk Duluan ?

  1. selamat buat hasil lombanya, dan semoga mbak sanie segera diberi kesembuhan, aamiin…

    do the best…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s