That’s The Story

Lelaki tak pernah tidur pada hatinya ketika mencintai seorang perempuan. Bahkan malam pun ia akan berselimut gelisah berharap akan segera terjaga bersama matahari terbit. Siklus tidurnya rusuh. Peri-peri tidurpun akan kerepotan untuk menenangkan dirinya. Berapa banyak lulabis dilantunkan mereka tapi tak membuat para lelaki itu rebah dalam lelapnya tidur.

Dan perempuan yang mendamba seorang lelaki akan terus menenun harapan pada setiap sudut hatinya. Ia akan mengitari kebun dan taman menyerap wangi keindahan bunga agar lekat pada dirinya. Ia tiba-tiba seperti kupu-kupu yang pesolek dan terbang kian kemari. Dari sudut matanya ia berharap akan menatap lelaki yang didambanya itu. Siang dan malam, para perempuan tak akan lelah bersaing dengan taman bunga, dengan sinar rembulan purnama demi menaklukkan hati seorang lelaki yang rusuh dalam tidurnya.

Dan peri cinta terbang kian kemari. Ia bekerja keras agar bisa mempertemukan keduanya dalam satu taman asmara. Ia pun harus meminta saudara-saudaranya untuk membantunya karena manusia-manusia ini adalah pemalu serta pemberani, dua hal yang kadang entah mengapa begitu mudah bertemu pada manusia.

Di satu taman asmara seorang pemburu dikisahkan bertemu dengan seorang putri yang sedang bersedih. Si pemburu hendak berlari mengejar buruannya tapi ia malah menjumpai si putri yang sedang bertopang dagu di sudut taman hanya berteman dan berbicara dengan bunga. Dikisahkan mereka kemudian bertegur sapa. Lalu si pemburu mengajak si putri untuk pergi ke sebuah danau di tengah hutan yang indah.

Si pemburu dan si putri saling jatuh hati. Happy life after forever. That’s the story.

Entah mengapa, semua kisah itu begitu melekat pada kita. Alih-alih memberi penghiburan pada para pembaca, tapi yang terjadi terkadang memberi semacam ilusi yang memabukkan. Jika takarannya lebih berat lagi maka, kisah-kisah seperti ini jadilah seperti alkohol yang bisa membuat ketagihan. Lambat-laun orang akan menjadi pemurung dan pengkhayal yang hebat. Beberapa hal positif yang didapatnya mungkin ia akan memutuskan menjadi seorang pengarang novel. Tapi beberapa lainnya akan menjadi lebih buruk lagi – ia tak lagi menyukai kenyataan di depannya namun mencari ilusi pengharapan pada kisah-kisah seperti ini. Entah itu di dapat dari buku novel roman picisan, atau sinetron di tivi yang memang menjual roman murahan seperti itu. Apa yang terjadi terjadilah….

Pada hematnya lagu, buku cerita dan film yang dijadikan hiburan manusia membuat manusia cepat terlempar dari dunianya yang asli ke dunia rekaan atau imaginasi. Ada yang mengatakan sungguh tak menyenangkan mengikuti imaginasi manusia. Mungkin itu ada benarnya. Tapi imaginasi pun kadang diperlukan dalam beberapa hal, seperti penciptaan karya dan membuat tamsil untuk pengajaran. Manusia mempunyai akal dan perasaan. Ia bisa memilih untuk menjadi buruk atau menjadi yang terbaik di dunia ini dengan memahami tamsil yang ia terima.

Masyarakat kita di Indonesia ini, sebagian besar tampaknya untuk memilih menjadi yang pertama. Mereka pilih menjadi seorang pelamun hebat yang bertemperamen tinggi. Emosional, pemarah dan beberapa kharakter yang ada dalam bagian antagonis sebuah film. Kita bisa saksikan sendiri begitu banyak realita menunjukkan hal itu.

Kini banyak kisah bunuh diri karena putus cinta. Sang pangeran ternyata berkhinat dengan wanita lain. Atau kisah cinta yang habis-habisan (semua sudah diberikan kepada sang kumbang jalang tapi si kumbang tetaplah si kumbang jalang!). Anak SMP hamil di luar nikah.
Di jalanan, kita saksikan anak-anak bergaya punk dan hidup menggelandang. Berkaos oblong dengan judul bercetak tebal merah yang marah: PASUKAN BABI NERAKA! Mereka me-nonsens-kan keluarga. Tidak percaya dengan sistem apapun. Kata mereka : F**##K OFF SISTEM! Bahkan kita lihat anak-anak perempuan juga ada di antara mereka, dengan dandanan yang naudzubillah…

Pertanyaannya, apakah kita ini memang salah pendidikan. Dan mungkin saja yang harus disalahkan – mungkin bisa menteri pendidikan, orang tua kita, pemerintah atau mungkin diri kita sendiri.

Agama Islam adalah rahmatan lil alamin, keselamatan dan anugrah bagi alam semesta ini. Islam mengajarkan menjadi orang yang pertengahan. Cukup dan tidak berlebih-lebihan. Segala hal, dalam segi kehidupan ini telah diatur dengan sempurna. Semua yang hak dan benar diberi tempat. Dan semua yang batil dan keliru juga diberi tempat. Manusia memilih yang hak atau batil.

Mungkin para ahli dan para pengajar Islam lainnya lebih paham daripada saya tentang Agama Islam dan pendidikan. Saya tahu hanya sedikit, di dalam Islam dikatakan, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mau mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. Ya, kita pun tahu, bahwa Al Quran adalah landasan hidup yang benar. Jalan terang yang benar. Dan padanya tidak ada yang batil. Semua lengkap dan comprehensif. Padanya kita akan menemukan kebahagiaan dan ketentraman.
Rasulullah sendiri pernah merasa berat dadanya, merasa sedih, bahkan merasa putus asa karena penolakan oleh kaumnya yang senang dengan budaya jahiliyah. Namun beliau tidak membenci dan mengutuk mereka sebelum berdakwah kepada kaumnya itu. Begitu juga diri kita, seharusnya kita tidak melaknat manusia yang notabene masih saudara kita, masih kerabat kita karena kekilafan mereka sebelum kita memberi nasehat. Pada nasehat itu terdapat kebaikan dan ridho Allah kepada manusia.

Mari kita saling bernasehat menasehati sesama saudara kita🙂

8 thoughts on “That’s The Story

  1. pertama: pendidikan kita lebih mirip dengan pola sekuler yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan sehari-hari

    kedua: masyarakat beranggapan bahwa pendidikan hanya di sekolah, hanya tentang teori-teori

    ketiga: komersialisasi pendidikan menjadikannya kering dari ajaran moral dan etika, yang ada hanya bagaimana “mencari uang”

    semoga ada kesadaran untuk berubah, salam sukses…

    sedj

  2. miris melihat begitu banyak novel cinta picisan ya pak, tp itulah yg disuka,,,kadang penulis jg menuruti selera konsumen.
    dan saya pernah baca, penulis yg baik itu sesungguhnya yang ketika pembaca membaca ceritanya maka akan mempengaruhi karakter baik pembaca agar muncul…
    salam

    • wa’alaikum salam…
      tentu bukan karakter antagonisnya ya…
      karena kita sendiri sebenarnya kalau boleh mengakui terlalu banyak tumpukan emosi diri kita yang kita jadikan buku…dan bukan ilmu atau gagasan dan ide kreatif yang menjadikan kita sebagai manusia sempurna..
      makasih sudah mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s