KISAH PELACUR, PENYAIR, DAN SEEKOR ANJING

:gusmel riyadh

Satu hal yang diketahui seorang penyair adalah ia mengetahui kematiannya lebih cepat. Ia berusaha menuju ke sana lebih cepat dari yang lain, meskipun kadang ia tak tahu cara yang lebih baik menuju ke sana, karena para penyair selalu berterus terang. Wajahnya menjadi makin cekung ketika menatap dunia yang ia lihat dengan enggan. Ia menjadi orang yang patut dikasihani, sehingga satu-satu kawan adalah seekor anjing yang setia menemani dan tidak pernah meminta sesuatu padanya. Ketika malam sehabis menghabiskan waktu bersama buku, karena ia tak pernah membiarkan waktu membuatnya bertopang dagu, penyair dan anjing itu mengajaknya berjalan-jalan. Sungguh aneh bagi beberapa orang, tidak ketika pagi seseorang mengajak anjing berjalan-berjalan. Mereka berdua membuat orang bertanya-tanya sekaligus merasa heran dengan kedekatan mereka yang mengherankan, bahkan ada juga yang terkejut ketika ia berpikir ketika melihat penyair yang kurus berjalan dengan anjingnya itu, mungkinkah kalau penyair itu kelak mati, sang anjing itu satu-satunya yang tetap bersama dia, karena tidak bisa menguburnya akan memakan tubuhnya sampai habis, agar mereka berdua tetap bersama.

Dan kini mereka berdua berdiri di bawah reklame rokok. Si anjing menatapi orang-orang yang lewat, sementara si penyair menghitung uang terakhir di sakunya.

“Tidak cukup untuk membeli sepotong roti untuk kita berdua,” katanya. “Aku khawatir kita harus berpuasa malam hari ini.”
Sang anjing diam seperti orang bodoh hanya terus menatap orang-orang lewat.
“Atau bagaimana kalau kita mencoba mengamen di suatu tempat. Siapa tahu kita bisa mendapat sesuatu untuk makan malam.”

Si penyair pergi bersama anjingnya. Anjing yang kelaparan sesekali membelok ke tempat sampah, atau akan berlari dulu kalau sampah itu berada di depannya. Si penyair merasa iba. Bahkan ia tidak bisa membuat seekor anjing bahagia apalagi membahagiakan seorang istri. Hal ini membuatnya teringat tentang kekasihnya yang telah ia tinggalkan dulu. Ia kasihan sekali pada perempuan itu. Ia terpaksa membuat perempuan itu terluka agar ia pergi meninggalkannya, karena ia tahu tak mungkin bisa membahagiakan perempuan yang sangat mencintainya itu.

Penyair itu tersenyum dengan ingatan tentang hal itu. Ia berharap telah melakukan hal yang benar meskipun ia tahu telah memilih jalan yang salah. Selama ini pastilah si perempuan itu mengenalnya sebagai seorang bajingan yang senang memeluk pelacur jalanan.

Mereka berdua di trotoar di mana banyak pejalan yang berlalu lalang. Si penyair mengambil buku sajaknya yang biasa ia kepit di balik jaket. Ia sejenak menelan ludah, membasahi tenggorokannya agar tidak terlalu kering, sekaligus ingat bahwa ia tidak minum apapun sejak tengah hari tadi.

Udara seakan bergetar ketika ia membaca sajak, atau sebenarnya tubuhnya yang bergetar karena lapar ketika ia mulai membaca sajak.
“Aku datang ke kotamu lewat tatapan senja…”
Suaranya lantang membuat si anjing terkejut dan mendongak pada tuannya.
“Ketika usia cinta telah begitu matang, ketika pucuk kembang telah merekah sempurna…”

Seorang lewat bergegas. Ia seorang penjual jasa asuransi. Ia paling tidak senang memberi uang kepada pengamen. Dan penyair ini lebih buruk lagi mengamen dengan syair, sesuatu yang baginya sangat tidak bernilai selain omong kosong yang tidak ada nilai uangnya.
“Sambut aku dengan kecupanmu, wahai bintang. Hapuslah dahaga yang sempurna akan cintamu ini…”

Seorang karyawan pabrik meludah pada anjing itu. Matanya merah pertanda ia habis mabuk. Matanya melirik tajam pada si penyair yang berbinar ketika membaca sajaknya itu. Si lelaki berjalan lagi sambil menghembus asap rokoknya pada malam yang dingin.

“Hidup ini tidak akan berhenti pada bualanmu!”
Penyair itu kali ini menghentikan membaca syairnya. Seorang pelacur berhenti di depannya sambil mengepit rokok, membuang muka padanya ketika si penyair melihatnya.
“Jangan bicara lagi atau kau akan tersedak dengan kata-katamu sendiri!” sambung si pelacur itu seakan mengingatkan.

“Jangan ganggu aku!” tegas si penyair tak ingin diganggu lagi. Lagi pula kedatangan pelacur ini pastilah akan membawa akibat buruk padanya. Ia mengingatkan kembali kisah masa lalunya ketika ia menggunakan pelacur itu agar kekasihnya membenci dirinya. Hanya saja, sekarang ia menyadari satu hal, bahwa ia sangat mencintai kekasihnya lebih dari mencintai hidupnya sendiri.

“Pergilah dari hadapanku, atau kubiarkan anjingku mencabik-cabik pakaianmu!” ancam penyair itu.
“Oh, benarkah? Aku bisa melihat hal itu. Ha haha…”
Penyair itu merasa geram, apalagi anjingnya itu kini tidak patuh menjalakan tugasnya. Si anjing telah berkhianat sekarang dengaan menjilati sepatu hak tinggi pelacur itu. Sebuah high heel merah seperti yang dulu diinginkan kekasihnya.

“Warna kegelapan telah melumuri langit malamku tanpa kehadiranmu, kekasihku…”
Lantang si penyair membusakan kata-kata pada keengganan yang mengekal pada suasana itu, terutama setelah kehadiran si pelacur itu.
“Aku yang datang bersama seekor anjing malang, memandangi rembulan malam kita yang bergantung di langit.”
Si pelacur mendecakkan lidah. Si penyair berusaha tak terganggu. Ia terus melanjutkan membaca puisinya. Sementara si anjing masih menjilati high heel si pelacur. Hewan itu akhirnya berhenti ketika si pelacur yang jenuh menyepak ekor anjing itu hingga meloncat.
“Turunlah engkau dari singgasanamu, lepaskah belenggu sepi dari jiwaku ini..

“Hei, kukatakan sekali ini saja padamu. Aku akan pergi dan tidak akan kembali ke kota ini!”
“Aku tak akan peduli meski engkau datang hendak membunuhku. Ambil yang pernah kau berikan padaku, kecuali cintamu! Biarlah ia menjadi pisau bagi kematianku..”
“Kau tidak mendengar ya!”
Si penyair mencoba tak peduli dengan gangguan itu. Seorang lewat melempar uang ke kakinya. Si anjing buru-buru menjilati koin itu. Si pelacur mencibir.
“Ini terakhir kalinya! Aku akan pergi. Terserah yang kau lakukan di kota ini!”
si pelacur melenggang kangkung dari tempat itu. Ia merapatkan jaketnya. Kegelapan segera menelannya. Ia sebenarnya hendak mengatakan kabar baik itu, kabar baik bahwa ia tidak akan melacur lagi, dan ia ingin mengajak si penyair itu pergi bersamanya. Ia sudah punya cukup uang untuk membuka sebuah usaha misalnya. Berjualan apalah. Menjual apalah. Atau membuka rumah makan kecil apalah. Ia akan senang seandainya si penyair itu mau menemani. Ia bisa menyewa rumah kontrakan kecil dengan uangnya itu. Mereka bisa membuka rumah makan kecil itu. Oh, si anjing itu tentu saja boleh ikut. Ia akan mengasihi si anjing itu seperti anjingnya sendiri. Bahkan, karena mereka tak mungkin punya anak lagi, ia akan menganggap anjing itu seperti anak mereka sendiri. Ya, seperti di televisi itu. Bukankah orang-orang barat, suka menganggap hewan peliharaan mereka seperti anak mereka sendiri. Bahkan, sampai melebihi anak mereka sendiri.

Tapi, si penyair itu tampaknya masih mencintai perempuan yang ia tinggalkan dulu itu. Seorang perempuan manis yang memang tak akan pernah bisa hidup dengan si penyair luntang-luntung itu. Ia mencoba membantunya kala itu untuk memisahkan mereka berdua. Si penyair itu sendiri yang awalnya mengatakan ide itu. Ia pikir ide penyair itu juga tidak buruk. Sebabnya, ia juga tahu hati wanita baik seperti perempuan malang itu hanya akan menemukan kegelapan dan kesuraman hidup si penyair lebih cepat dibalik kata-kata berbusa puitisnya itu.

Si pelacur menghela napas panjang. Ia tak tahu akan pergi kemana. Setidaknya jika ada si penyair itu ia akan bisa bertanya, atau meminta pertimbangan. Dan biasanya seorang lelaki akan berguna sekali dalam hal seperti itu. Tapi, tentu saja ia tak bisa berharap itu sekarang. Ah, andai saja penyair tengik itu mau ikut aku.

Apakah Tuhan telah benar-benar meninggalkanku? Aku hanya meminta sedikit saja darinya; seorang lelaki yang tak lagi diinginkan dunia selain liang kubur yang pasti tidak lama lagi akan mengambilnya itu!
Si pelacur mengulurkan rokok ke mulutnya. Ia nyalakan ketika seorang pemabuk mampir di tempatnya duduk.

“Minta rokoknya!”
Bau minuman keras murahan menghambur ke wajah si pelacur. Ia tahu telah terbiasa dengan hal seperti ini. Tapi entah mengapa hari ini ia menjadi kesal dan benci sekali pada orang semacam ini.
Apakah karena ia telah berpikir untuk menjadi baik, dan karena ia punya cukup uang serta tidak dalam keadaan kepepet lagi, membuat ia bisa melihat hal ini sama sekali berbeda seperti ketika ia sedang kelaparan dan membutuhkan uang dari para pelanggan yang menikmati tubuhnya?
“Hei, kau tidak dengar kataku! Aku minta rokoknya tahu!”
Si pelacur mendengus sambil melemparkan sebungkus rokoknya yang telah sisa itu begitu saja lalu bangkit pergi.

“Hei! Sundal mana koreknya!”
Perempuan itu menghela napas panjang. Ia mencoba menahan kekesalannya.
“Dasar sundal! Mentang-mentang punya uang sedikit sudah sombong! Besok pasti kau akan mengemis pada aku lagi sambil menjilati milikku!!”
Pelacur itu tidak pernah mengenal si pemabuk itu. Ia jambak rambut lelaki itu dan meludahinya. “Jaga mulutmu kalau bicara!”
Pemabuk itu lebih dulu terkejut sebelum menyadari apa yang terjadi. Tidak lama ia bangkit mengejar perempuan itu dan menamparnya. Si pelacur terjerambab ke trotoar. Menjerit kesakitan. Orang lewat membiarkan saja. Acuh tak acuh.
“Berani kau padaku!”

Si pemabuk balik menjambak si pelacur sambil menyeretnya tanpa ampun. Si pelacur meronta. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Nyeri sekali ketika sejumput rambutnya rontok dijambak pemabuk itu. Ia berusaha memancat ke trotoar agar kulit rambutnya tidak mengelupas.
Tak henti-hentinya si pelacur itu berteriak minta tolong. Namun sia-sia saja tak digubris orang-orang. Ia menangis.
Pemabuk itu melemparnya begitu saja seperti sekarung sampah ke sudut kegelapan sebelum kemudian ia membuka celananya. Si pelacur menangis.
“Kau akan membayar semua itu!”

Baru saja membuka celananya dan hendak mengencingi wajah si pelacur itu, sebuah suara salakan anjing membuatnya berpaling. Cepat sekali kejadian itu. Ia baru saja menoleh namun anjing itu telah melompat kearahnya.

Anjing kurus itu berusaha menerkam daging besar itu dengan seluruh kekuatannya yang gemetar. Taringnya yang tajam mengoyak lengan si pemabuk itu. Namun si pemabuk itu berhasil membanting anjing itu ke tembok dengan keras.

Tidak terima, ia menendang perut binatang itu hingga terlempar sejauh dua meter. Ia ambil tong sampah besar hendak ia pukulkan ke kepala binatang itu.

“Keparat!” si pemabuk tak mengira si pelacur itu masih hidup dan sekarang ia mengganduli lengan si pemabuk itu.
Keduanya terjatuh dan bergumul. Namun mudah saja, si pemabuk itu berada di atasnya. Ia menampari si pelacur itu. Ia menjadi sangat muak sekali pada si pelacur yang sejak dulu membuat tubuhnya lapar itu.
“Mampus kau anjing!!!” pemabuk itu mencekiknya.
Pi pelacur megap-megap. Pastilah tidak lama lagi ia mati jika Tuhan tidak segera menolong. Tiba-tiba saja, dan kejadian ini hampir tak bisa dipercaya, si penyair itu telah ada di antara mereka, meninggalkan percakapan yang mengesankan dengan seorang perempuan yang jatuh hati pada sajak-sajaknya. Tentu saja perempuan itu adalah kekasihnya yang dulu. Ia sungguh tidak mengira akan bertemu. Hampir saja ia menangis ketika Tuhan telah mengirimkan perempuan itu padanya, di saat ia sangat bersedih dan lapar bersama anjingnya. Dan apa yang ia bisa perbuat untuk merayakan kegembiraan itu. Si perempuan yang mantan kekasihnya itu tersenyum padanya. Ia mengatakan baru pulang dari tempat kerja di sebuah pabrik. Ia memberi alamat kostnya pada si penyair. Si penyair itu menerima dengan sungkan. Ia mengatakan akan datang. Dan ia pun pergi begitu saja dari hadapan perempuan itu yang sebenarnya untuk menyembunyikan kebahagiaannnya yang begitu tiba-tiba itu. Ia berjalan tak karuan. Ia ikuti begitu saja anjingnya yang berlari dengan cepat ke arah kegelapan. Sampai ia melihat apa yang terjadi.

Si penyair membantu si pelacur itu berdiri. Si pemabuk tergeletak entah hidup entah mati.
“Untunglah kau masih hidup”
“Terima kasih kau telah menyelamatkanku! Aku berhutang nyawa padamu!”

Si penyair mengernyitkan dahi tidak mengira ia sekarang telah menjadi seorang pahlawan dan membuat seseorang berhutang nyawa padanya.
“Anjingku….!” si penyair meloncat ke temannya yang tersengal-sengal dalam sakaratul maut. Ia membopong anjing itu seperti bayi kecil dalam pelukannya.
Si pelacur itu mendekatinya. “Aku juga berhutang nyawa pada anjingmu”
Si penyair berjalan keluar dari kegelapan itu masih membopong anjingnya yang tersengal-sengal. Si pelacur itu tetap berada di belakangnya. Si pelacur itu telah bersumpah akan mengikuti kemana orang yang telah membuatnya berhutang nyawa itu pergi kemana saja. Tak peduli ke ujung dunia sekalipun. Dan ia bersumpah akan mengatakan hal yang telah lama disimpannya itu. Ia akan mengajak si penyair membuka hidup baru. Mereka akan menyewa rumah kontrakan dan membuka sebuah warung kecil. Dan tentu saja dengan anjing-anjing kecil, karena mereka tidak akan memiliki anak nanti.

Perempuan itu tersenyum sambil mengelap asip darah di mulutnya. Ia tahu ia akan cukup bahagia dengan semua itu. Ia juga tahu si penyair itu akan bahagia dengannya. Bersama anjing-anjing kecil mereka juga.

3 thoughts on “KISAH PELACUR, PENYAIR, DAN SEEKOR ANJING

  1. Hai, Bung. Terimakasih sekali atas cerpen ini.
    Sebenarnya sudah lama saya tidak menulis puisi (lagi). Hehehe, menarik juga kisah ini. Tapi apa yang sebenarnya ada di pikiranmu sehingga mempersembahkan cerpen ini untukku?

    Aku kan ndak seperti penyair di cerpenmu itu, hehehehe…

    btw, di bagian pertengahan, aku sedikit bingung. di awal kau bilang penyair tdk peduli dgn pelacur itu lantaran masih mencintai pacarnya yang dulu. Tapi kenapa di awal sampai akhir dijelaskan bahwa pelacur itu adalah kekasihnya?
    hehehe, mohon pencerahannya…

    • tentu saja kau bukan penyair ini..
      ini cuma sekedar mengingatkanmu bahwa ada kebohongan menarik selain kejujuran yang cukup buruk jika kita ingin berikan pada orang lain.
      tak usah bingung…
      karena sudah cukup orang yang bingung..
      aku cuma memberikan ini buat kamu…karena kagum sama kamu bung..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s