Jeda antara dunia fakta dan fiksi (prelude)


Mungkin banyak yang mendengar ungkapan ini, siapapun yang ingin menjadi penulis dengan tahu artinya menjadi penulis siapa saja bisa menjadi penulis. Tentu saja hal itu bisa benar. Kita bisa sepakat ketika mengetahui bahwa seseorang itu untuk menjadi penulis membekali dirinya dengan banyak bekal materi maupun non materi, yang semuanya itu diarahkan pada satu titik : untuk menjadi penulis.

Seorang penulis terkenal pernah berkata, bahwa seorang penulis harus membentuk dunianya dengan percepatan yang tidak seperti dunia kebanyakan. Ia harus mengajak orang-orang lain mengajak ke dunia imaginasinya dan menjadikan mereka sebagai apresiasiator. Percepatan dalam hal ini, sangat menentukan keberhasilan seseorang itu mendapat public dan audien dari karya yang ia tulis. Bahkan, bisa dikatakan nonsen sekali bila seorang penulis tanpa audience. Ia bisa dikatakan menjadi penulis, tapi seorang yang terjebak di dalam imaginasinya sendiri.

Fiksi dan fakta sebenarnya tak banyak perbedaannya. Tidak seekstrem yang orang bayangkan sebagai dua kutub yang berbeda. Apalagi dengan menganggap bahwa yang satu adalah nyata dan lainnya adalah kebohongan yang tidak ada gunanya.

Sebuah contoh misalnya, seseorang merasa kehilangan kunci mobil. Ia berpikir telah menaruhnya di meja. Dan ia mencarinya di tempat itu berkali-kali tapi tidak ketemu. Ternyata ia akhirnya menemukan kunci itu di saku kemeja.

Itulah fiksi. Ia telah mengembangkan sebuah fiksi bukan. Kita tak perlu keberatan dengan tawaran sebuah karya fiksi. Apalagi sebagai suatu sastra. Fiksi tentu saja sangat mempengaruhi fakta dan sebaliknya. Ada manfaat yang bisa diambil bahkan dari orang yang apatis sekalipun terhadap fiksi.

Sebenarnya saya pun hendak mengajak para penulis yang bergelut dengan ranah imaginasi itu untuk menulis sebuah karya sastra yang akan bergema sepanjang masa. Sebuah master piece. Bukan karya biasa yang akan terlupakan oleh sinetron, kesibukan dan hal semacamnya. Namun karya itu haruslah mempunyai daya kekuatan dan memberi wawasan akan pengetahuan akan kehidupan manusia.

Usaha itu perlu sebuah kerja keras. Tidak hanya usaha keras penulis. Ia pun harus berada di dunia yang membantu percepatan dirinya untuk menulis karya master piece itu. Semua akan berkelindan menjadi satu kesatuan yang indah. Pada akhirnya dunia itu tidak terpisah menjadi kutub eksterm antara fiksi dan fakta. Dunia itu adalah sebuah dunia rahasia di antara dunia nyata dan imaginasi. Menjadi bagian darinya bukan lagi sebuah paksaat ataupun rekreasi fantasi yang menarik namun telah menjadi kesadaran indah untuk hidup dalam dunia rahasia itu. Di sini, kita akan tercengang dengan berbagai jawaban yang berbeda dengan apa yang biasa kita temukan dan resepsi. Di dunia inilah para penulis berhasil membuat sebuah karya yang master piece.

Tentu saja hal itu sangat abstraksi. Tapi saya sama sekali tidak keberatan jika ada hipotesis yang lain, yang mungkin akan melengkapi bagi dunia rahasia itu. Dunia rahasia antara penulis dan pembaca. Sebuah kenikmatan di dalamnya karena kita menjadi bagian dari penciptaan itu sendiri. Saya juga mengatakan bahwa di sini pengarang tidak mati.

Dan saya juga terkejut ketika mengetahui hal kecil ini. Sebuah peristiwa peristiwa kecil hingga mengapa Indonesia ini bisa menjadi pengisap rokok terbesar di dunia. Setelah diadakan survei oleh para ahli, diteliti bahwa konsumen terbesar di Indonesia yang membentuk konklusi bahwa Indonesia menjadi penghisap rokok terbesar dunia adalah kenyataan bahwa dari segi terkecil pembeli rokoklah yang membuat angka itu menjadi menakjubkan. Bukan toko atau pembeli rokok besar yang membuatnya, tapi pembeli rokok ketengan yang menjadikan semua itu bisa menjadi sebegitu nyata. Rokok telah menyentuh angka menakjubkan itu.

Dan bukankah ini, sebuah kesimpulan yang bagus buat dunia sastra kita. Ternyata sebuah kesuksesan yang besar itu dipengaruhi intensitas terkecil yang telah kita lakukan dengan setia itu. Sudahkah kita sebagai penulis buku melakukan hal itu dalam kehidupan berkarya yang sangat kita cintai ini? Para penulispun sebenarnya bisa belajar pada kisah rokok itu.

gambar diambil dari sini

6 thoughts on “Jeda antara dunia fakta dan fiksi (prelude)

  1. Dalam kesempatan yang super indah ini saya pengen mengucapkan Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan kesalahan, mungkin selama ini ada kata-kata yang tidak berkenan di hati saat memberi komentar-komentar.

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Semoga kita kembali dalam keadaan yang Fitri lagi. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s