Awas Si Budi (Riba) Di Sekitar Kita!!


Kebetulan rumah dekat dengan masjid. Meskipun kalau dhuhur masjid sepi, dan terkadang sholat jadi sholat munfarid karena tidak ada orang yang datang, aku tetap memilih untuk sholat di masjid. Hadits nabi, “Sebaik-baik sholat adalah di rumah, kecuali sholat fardhu.” Maka siang itu sejenak aku melepaskan diri dari kepungan duniawi untuk menghadapNya.

Ketika hendak berwudhu, kulihat tak jauh dari masjid, beberapa ibu tetanggaku sedang mengerumuni seorang lelaki muda yang mungkin sebayaku. Wajah pemuda itu bersih dan menarik, malah bisa dibilang rupawan. Jaket kulit hitam, sepatu pantofel, dengan tas officer yang bermerek. Ia sedang menulis sesuatu di buku kecil dengan ibu-ibu yang memerhatikannya dengan seksama. Ia mengangguk ketika seorang ibu bicara padanya sambil mengulurkan beberapa lembar uang ribuan.

Selanjutnya ia bergiliran mencatat satu persatu setoran dari ibu-ibu itu. Pemuda itu dari sebuah koperasi simpan pinjam. Namun di kalangan kami lebih dikenal sebagai bang plecit. Pemuda rupawan bang plecit itu bernama Budi.

“Bu Jumadi kemana? Minggu ini nggak kelihatan lagi?!” tanyanya pada ibu-ibu itu kurang senang. Aku berpikir seharusnya pemuda itu harus bersikap hormat dan berbicara dengan ramah kepada para wanita yang mungkin seumur ibunya itu.

“Katanya pergi ke rumah saudara mas Budi. Saudaranya ada hajatan mantu..”

“Sudah nunggak dua kali. Kalau tiga kali nggak beres akan didenda.” Katanya sambil geleng kepala karena kesal. Kekesalannya bertambah ketika salah seorang anak balita dari ibu-ibu itu melempari batu sepeda motor (merk) yang sangat khas bang plecit itu.

“Eh, sana pergi! Bukan mainan itu. Ayo pergi!!” hardiknya.

Si ibu menarik anaknya yang masih merengek ingin melempari sepeda motor yang menurutnya seperti belalang tempur di film baja hitam itu.

Dari kejauhan aku hanya bisa mengelus dada. Kasihan ibu-ibu itu harus berurusan dengan para rentenir. Si Budi itu meminjamkan uang kepada para ibu-ibu dengan bunga yang tinggi. Hampir 12 %. Istilahnya ngrolasi. Ia meminjamkan 100 ribu rupiah tapi yang akan ia dapat adalah 120.000.

Ibu-ibu itu terpaksa berurusan dengan mereka karena tuntutan kebutuhan hidup yang semakin membengkak sementara pendapatan keluarga atau suami mereka sangat pas-pasan. Gaji satu bulan cukup hanya untuk makan. Untuk kebutuhan sampingan terpaksa harus berhutang kiri dan kanan. Beberapa memilih harus berurusan dengan para rentenir seperti si Budi.

Si Budi telah selesai mencatat semua setoran minggu ini. Ia akan datang lagi seminggu kemudian. Selanjutnya para ibu-ibu bubar dari tempat itu. Dan si Budi naik ke kendaraannya lalu pergi.

Selesai sholat aku kembali memikirkan apa yang telah kulihat, yang aku sering dapati di desaku ini. Ya, desaku ini termasuk banyak menjadi sasaran pada rentenir. Mungkin perhitungan rentenir itu profesi kebanyakan warga desaku adalah buruh dan karyawan pabrik yang gajinya pas-pasan, mereka akan mudah mencari korban untuk memutar uang kotor mereka. Hal itu terbukti sering terlihat di tempat pengumuman atau ditembok tiang listrik mereka menempelkan tulisan seperti ini untuk menjerat korbannya.

ANDA BUTUH DANA SEGAR!
CUKUP FOTOKOPI KTP,
SATU JAM UANG CAIR!!
HUB. BUDI (0856538XXXXX)
ATAU DATANG SAJA DI KOSPIN KAMI
DIJAMIN MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH ….

Ah, kenyataan seperti ini lebih pahit dari yang terlihat. Rentenir sejatinya bukanlah penolong. Melainkan penjahat yang ingin jadi pahlawan. Mereka sama sekali tidak berniat membantu orang yang ingin berhutang atau berniat baik untuk meminjami uang berapapun kita minta. Namun anehnya hal ini marak terlihat di sekitar kita.

Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Apa yang telah diharamkan oleh Alloh pastilah banyak mudharotnya bagi manusia itu sendiri. Bagi yang sudah terlanjur terjerat, tiada yang lebih selamat selain bertaubat dan memohon ampun lalu berusaha keluar dari riba.

عن جا بر رضي الله عنه قال : ” لعن رسول الله : اكل الر با و مو كله وكاتبه و شا هديه, وقا ل : هم سواء ” رواه مسلم

“Laknat Rasululloh saw. Bagi pemakan riba dan penerimanya dan penulis dan saksinya. Dan beliau bersabda: semua sama saja dosanya.” (HR. Muslim)

Juga ditekankan untuk menjauhi riba dan meninggalkannya karnea dosanya yang amat besar. “Riba mempunyai tujuh puluh tiga pintu, paling ringannya semisal bahwasanya seorang lelaki menikahi ibunya. Dan sesungguhnya paling besarnya riba adalah melanggar kehormatan saudara muslim, (HR. Ibnu Majah, Hakim, Tamami dan shahih)

Dalam sistem perekonomian, riba ini sendiri juga solusi yang amat buruk dan kejam. Namun kenyataannya pemerintah yang berwenang sendiri membiarkan koperasi simpan pinjam macam beginian tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Pada akhirnya rakyat makin terpuruk dalam kesulitan ekonomi karena para lintah darah ini makin beroperasi dengan bebas.

Indonesia memang gudang masalah. Hampir di segala bidang usaha pemerintah terlihat nangung dan kompromistis dengan hal-hal yang membuat manusia tergelincir ke perbuatan dosa. Seperti contohnya, sebagian anggota dewan ingin melegalkan tempat judi, alasannya pemasukan dari judi itu bisa digunakan untuk pembangunan sekaligus untuk mengatur tempat perjudian agar tidak menyebar ke mana-mana. Padahal mungkin saja dengan relokasi seperti ini, pencucian uang akan sangat mungkin terjadi, dan banyak para aparat yang memanfaatkan pelegalan tempat judi.

Atau kisah pengharaman rokok. Kalaulah tahu rokok itu amat berbahaya dan lebih banyak mudharotnya pemerintah harus ambil tindakan tegas. Tidak bisa pleya-pleye (mengutip kopral cepot). Kesehatan lebih mahal daripada pemasukan untuk pemerintah tetap dengan mengorban kesehatan seluruh bangsa. Usaha yang kompromistis ini biasanya mudah ditebak, yaitu dengan tidak jadinya penutupan perusahaan rokok. Dan lain sebagainya.

Kembali ke kisah si Budi di atas. Marilah kita kuatkan diri dan keluarga kita agar berusaha menjauhi riba. Alloh dan rasulNya telah memberikan tuntunan yang terbaik. Dan janganlah kita malah mencari keburukan yang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al Baqoroh)

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Al Baqoroh)

Sebagai saudara muslim, kitapun harus saling memberikan pertolongan. Dan yakinlah bahwa Alloh pun akan memberikan kemudahan bagi kita. Karena jika kita meringankan kesulitan saudara kita Alloh pun akan memberikan keringanan kepada kita saat kita berada dalam kesulitan.

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

280. Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Al Baqoroh)

Di suatu kisah dalam hadits, ada seorang pedagang yang masuk surga karena ia biasa menangguhkan hutang dan memberi keringan kepada para pembelinya. Ketika akhirnya si peminjam itu benar-benar tidak mampu mengembalikan, ia mengikhlaskan hutang itu. Dan semua itu perbuatan yang tidak sia-sia, karena Alloh dengan kemurahanNnya telah menjadikan si lelaki yang baik itu menjadi ahli jannah.

وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

281. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al Baqoroh)

Wallohu ‘alam bishowab

4 thoughts on “Awas Si Budi (Riba) Di Sekitar Kita!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s