HARAKIRI (sebuah novel)

Harakiri adalah novel pertama saya. Tidak pernah terbayangkan dalam benak akan meramu novel sejenis ini. Tentunya berkaitan itu saya sangat mengharapkan atas kritik dan saran untuk novel-novel saya selanjutnya. Selamat membaca

Harakiri, kisah pelaku harakiri paling dikenang – andri saptono
13,5 x 20,5 cm HVS 70 gr
248 halaman
Rp. 35.000

Detik melambat. Ini adalah saatnya.Lord Asano menggenggam pedang dengan dua tangan dan menggumankan doa singkat ketika mengarahkan ujung pedang di bagian bawah perut sebelah kiri. Rasa nyeri yang luar biasa seakan menancap lebih dulu pada otaknya saat dia menusuk pedang itu ke perut. Napasnya tersengal-sengal. Pandangannya menggelap saat dia menunduk dan melihat sekilas saja darah bercipratan dari perutnya membasahi permadani. Ia tak sempat tersengal lebih lama lagi ketika sang kyukashu yang mengenali tanda-tanda itu segera memenggal Asano dengan satu tebasan pedang panjang…
– Kisah 47 Ronin

Tangan kirinya telah menggenggam sarung pedang pendeknya. Sementara tangan kanannya menghunus senjata itu. Ia merasa tak perlu terburu-buru melakukannya. “Tak ada sesal!” Nobunaga akhirnya berkata keras-keras.Tusukan itu menembus perut dengan kuat. Kemudian diiringi dengan sayatan membujur dari tenaga yang tersisa, Nobunaga memuncratkan darah ke lantai yang memantulkan api yang berkobar di ruangan itu…
– Kisah Oda Nobunaga, Si Bodoh dari Owari

Aku tak boleh gagal, katanya pada Morita selaku kaishakunin. Dia sudah lama membayangkan gerakan itu, dan sudah pula melatihnya. Kini sekaranglah saat terakhirnya.Lalu Mishima berteriak lantang, “Tenno Haika Banzai!” Itu adalah komando bagi dirinya sendiri untuk menyobek perutnya, dan juga menjadi tanda bagi Morita untuk mengayunkan pedang memenggal kepalanya…
– Yukio Mishima, Si Penulis Samurai

Tak ditemui buku ini di toko-toko di tempat anda?
Cukup pesan saja secara langsung!
Caranya?Cukup dengan 3 langkah mudah
1. Kirim uang seharga buku ke :Yudhi Herwibowo BNI 46 Cab Kentingan Solo 0100679407(GRATIS ONGKOS KIRIM!)
2. Sms konfirmasi pada nomor : 0271.7016320 atau 081 2264 0769. Sekaligus untuk memberikan alamat pengiriman buku.
3. Tunggu, dan dalam waktu tak lama buku akan segera sampai ditujuan!

Epilog

Suasana taman yang hening seakan bersatu dengan wangi bunga sakura yang mekar. Di hadapan seluruh pasukan samurai Lord Tamura, Lord Asano, akan mempertanggungjawabkan hukumannya, yang akan ia lakukan dengan cara yang bermartabat, seppuku.

Tiga tikar telah diletakkan di halaman dan ditutupi selembar permadani putih. Lord Asano dibimbing untuk duduk di tengah permadani di depan meja kecil. Di atas meja itu ada pedang berukuran dua puluh tiga sentimeter. Nampak berkilat ketika ditimpa cahaya yang sesungguhnya juga memperlihatkan ketajamannya yang luar biasa.

Lord Asano mengambil pedang itu, memerhatikannya dengan seksama. Maut sekarang begitu dekat, satu hembusan napas saja. Namun aneh membayangkan kegentaran dari Lord Asano sang pelaku seppuku. Raut wajahnya datar meskipun ia tahu hukuman apa yang akan ia jalani. Merobek perut sendiri untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya –jika memang hal itu bisa disebut kejahatan. Kira memang pejabat yang tamak akan uang. Ia menyerangnya karena Kira telah memulai lebih dulu melukai harga dirinya sebagai samurai. Kesalahannya hanyalah dia telah mengotori kediaman sang Shogun dengan pertumpahan darah.

Detik seakan melambat ketika pembacaan keputusan telah berakhir. Ini adalah saatnya. Lord Asano menggenggam pedang dengan dua tangan dan menggumamkan doa singkat. Tangannya kemudian bergerak cekatan menyingkap keseluruhan kimono putih pemberian Lord Tamura disaksikan berpasang mata saksi yang terpesona oleh gerakan tangkas itu, walaupun sejatinya adalah hukuman mati yang tengah mereka akan saksikan.

Seluruh napas Lord Asano berhenti ketika ujung pedang menusuk di bagian bawah perut sebelah kiri. Bersamaan itu rasa nyeri yang luar biasa seakan menancap pada otaknya. Sadar tak ingin menunda lagi dan membuat dirinya sendiri tersiksa, ia robek perutnya melintang ke arah berlawanan, menyemprotkan darah kental membanjiri paha dan permadani.

Napas Lord Asano tersengal-sengal. Pandangannya mulai menghitam dalam sekejap. Ia tak sempat tersengal lebih lama, ketika sang kyukashu, orang yang bertugas memenggal kepala pelaku harakiri, telah mengenali tanda-tanda itu segera memenggal kepala Asano dengan satu tebasan panjang.

12 thoughts on “HARAKIRI (sebuah novel)

  1. Salam hangat untuk para sahabat
    Semoga kita selalu bersemangat
    Merangkai kata menyusun kalimat
    Persaudaraan bloger indonesia semakin kuat

    sedj

    • tiap kisah membawa amanat yang berbeda,
      maksudnya masih dalam topik HARAKIRI , RITUAL bunuh diri yang diagungkan bangsa jepang..
      bagi mereka kehormatan dan harga diri layak dipertaruhkan dengan nyawa…tentu sudut pandang ini banyak berbeda dengan diri kita..inilah yang menariknya…

      selamat membaca.
      nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s