Sang Subuh Dan Sepasang Sandal Jepit

pernah dimuat di Harian Joglo Semar
Subuh itu, mbok Dirah dan Nawang sibuk berkemas akan pergi ke pasar. Ia sudah menyiapkan bakul untuk membawa nangka landa dan beberapa lembar dahan pisang yang akan dijualnya nanti di pasar. Selain itu, hari ini memang berbeda dari biasanya; jika biasanya mbok Dirah berangkat pergi ke pasar hanya sendirian, pada minggu pagi ini ia akan berangkat bersama cucunya itu. Sedianya, cucunya yang baru bersekolah di SD itu akan dibelikannya sebuah topi sekolah.

Tentu hasil penjualan dari sebuah nangka landa saja dan beberapa lembar dahan pisang itu tak akan cukup untuk membeli sebuah topi sekolah baru. Mbok Dirah juga akan membawa si blorok yang masanya sudah produktif bertelur yang akan dijualnya nanti untuk tambah membeli topi sekolah cucunya.

Matahari belum terbit sama sekali. Jalanan dari lereng rumahnya menuju jalan besar yang akan mengatarkannya ke pasar masih gelap pada subuh saat mereka berdua keluar dari rumah yang berdinding bambu reyot, yang merupakan tempat tinggal berdua mbok Dirah dan cucunya. Mbok Dirah dan Nawang masing-masing membawa sebuah obor sebagai penerang jalan.

Nawang memang yatim piatu. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Tentang ayahnya hanya tersiar kabar kalau ia meninggal di Jakarta karena suatu penyakit. Gadis manis yang baru menginjak sekolah kelas dua SD itu mendapatkan beasiswa di sekolahnya dan hal itu yang membuat mbok Dirah makin sayang dan mau melakukan apa saja agar cucunya bisa bersekolah. Setidaknya harapan mbok Dirah ke depan ia bisa menyekolahkan sampai lulus SMA. Setelah itu ia tak tahu bagaimana caranya agar cucunya bisa melanjutkan untuk sekolah lagi. Apalagi pernah ia dengar dari tetatangga sekarang banyak anak lulusan SMA di desa yang ngganggur. Anak pak lurah saja yang kuliah sampai sekarang masih ngganggur. Tapi tentu itu berbeda dengan keadaannya. Keluarga pak lurah itu balung gajah, biarpun mereka tak bekerja mereka masih tetap kaya dan masih berkecukupan hidupnya.

Mdok Dirah hanya menggantungkan hidup pada pekerjaan menjual hasil kebunnya ke pasar atau kalau ada yang disebut celengan adalah beberapa ekor ayam yang dipeliharanya di belakang rumah. Itupun beberapa kali ada yang mati terserang penyakit dan ada yang dimakan musang yang berhasil menjebol kandang bambu ayam-ayamnya itu. Pada akhirnya ayam-ayam itu tak bisa terlalu diharapkan pada saat sekarang ini. Hanya ketika musim tanam padi telah mulai sesekali mbok Dirah disuruh jadi buruh tandur. Dari hasil semua itu ia sedikit beririt untuk biaya sekolah cucunya itu. Kasihan anak itu jika tak bersekolah, ia malah jadi semakin minder sama teman-temannya, ujar mbok Dirah menjawab teman buruh tandurnya suatu kali. Tetangga-tetangganya itu menyarankan agar cucunya tak usah sekolah tapi disuruh ikut bekerja di sebuah pabrik roti di sebelah desa itu yang memang banyak menampung anak-anak dari desa. Upahnya bisa untuk mereka memperbaiki rumah atau membeli baju baru.
Tapi mbok Dirah merasa cucunya itu punya kepintaran dan ingin dijadikannya pengharapannya kelak. Dan untunglah di sekolah cucunya itu mendapatkan beasiswa. Jadinya ia tak terlalu berat membayar biaya sekolah cucunya itu sampai lulus sekolah SD nanti.

Mereka sudah mulai menuruni lereng dan harus menyebrang sungai yang airnya kering. Bisanya bila musim hujan mbok Dirah tak akan lewat kali ini melainkan memutar jalan yang akan bertambah jaraknya untuk ke pasar. Tapi pada musim penghujan dan banjir sungai itu akan juga memberi berkahnya bagi orang-orang desa. Mereka biasa membuat bubu yang akan mereka pasang di saluran-saluran air yang menuju ke pematang untuk memerangkap berbagai ikan dari ikan lele hingga belut yang nyasar ke pematang-pematang sawah.

Nawang mencangking sandal jepit baru miliknya yang kemarin diberikan oleh mbok Dirah. Ia bukan takut sandal itu jadi kotor, tapi ia takut sandal itu akan terbenam lumpur dan jika tak hati-hati saat ditarik bisa putus. Ia tak mau merepotkan lagi simboknya itu. Kemarin dulu ia merasa setengah hati ketika ia minta simboknya itu untuk membelikan seragam baru.

“Biar Nawang yang manjat pohon nangkanya, mbok,’ kata gadis kecil itu mencoba mengambil hati simboknya. Gadis itupun seperti kera saja tak takut tergelincir pohon nangka yang licin itu. Ia memanjat dua buah nangka yang masak dan berbau harum. Dua buah nangka itu yang satu akan dibagi-bagikan mbok Dirah pada tetangganya dan satunya lagi akan dijualnya ke pasar. Mbok Dirah merasa juga harus ingat tetangga yang pastilah juga mengharap-harap karena buah nangka yang masak itu menyebar ke segala penjuru di bawa angin. Dalam kesusahan ia juga sering minta bantuan dan dengan kepunyaaan yang remeh-remeh itulah ia berharap bisa membalas kebaikan para tetangganya itu.

“Besok simbok mau ke pasar sekalian, kamu ikut aku nduk, nanti tak belikan kamu topi sekolah. Aku lihat topi kamu itu sudah dua tahun tak diganti. Benangnya yang buruk ada yang robek-robek.”

“Iya, mbok,” jawab Nawang gembira.
“Sekalian nanti kamu minta uang sama pak Joyo, untuk upah buruh tandur kemarin. Uangnya itu buat kamu untuk membeli sandal. Masak mau ikut ke pasar kamu akan pakai sandal butut itu.”

“Tak apalah, mbok. Sandal ini kan tidak penting, aku bisa jalan kaki saja biar sandalnya tidak jebol.”
Mbok Dirah tertawa pada ujaran cucunya itu. “Kamu ada ada saja. Sekarang itu tak ada yang mau nyeker ke pasar, kalau ada itu yang dari simbokmu itu karena terlanjur jari-jarinya mblegar dan ngapal. Malah eman-eman sama sandalnya kalau dipakai.”

Begitulah Nawang hati-hati sekali dengan sandal swallownya itu. Bila ia pergi ke kali ia melepasnya di pinggir kali dan saat akan berjalan lagi ke daratan barulah ia memakai sandalnya lagi. Kata mbok Dirah, cucunya itu memang pinter nastiti ngati-ngati, yang sudah menjadi tua dalam usianya yang baru enam tahun itu. Mungkin karena Nawang sudah terbiasa melihat bahwa ia bukan orang kaya dan tak punya orang tua yang membuat ia menjadi begitu hati-hati dan gemi. Oleh sebab itu mbok Dirah tak mau menyakiti cucunya itu. Ia akan selalu menuruti kemauan cucunya agar hati cucunya bisa senang.

Sesudah menyebrang kali Nawang mencuci kakinya dan baru berani memakai sandalnya itu lalu mengejar simboknya yang telah berjalan duluan.

Sudah lebih sepasar ini Nawang tak ikut ke pasar. Terakhir kalinya ia ikut ke pasar sewaktu ia minta dibelikan baju seragam sekolah dan ikut membantu simboknya itu membawakan beberapa ekor ayam jago yang akan ia dijual untuk membeli seragam sekolah. Dan nawang juga terkenang saat itu ketika ia melihat seorang lelaki gila yang bertelanjang dada di pasar. Lelaki gila itu sering membuat kesal para pedagang dengan keinginannya meminta beberapa kerat makanan. Tapi orang-orang itu tak ada yang meladeninya. Akan menjadi kebiasaan kalau terus-terusan diberi makanan, begitulah pendapat orang-orang. Dan Nawang sendiri merasa jatuh kasihan pada orang gila itu. Lelaki gila itu segera mengambil makanan itu dari tangan gadis itu dan berlari sembunyi. Nawang merasa gembira. Sebenarnya ia merasa orang gila itu tak terlalu menakutkan seperti yang dikatakan oleh teman-teman sekolahnya yang pernah melihatnya.

Matahari yang sinarnya malu-malu muncul baru terlihat menyembul dari pojok celah gunung Lawu. Mbok Dirah mematikan obornya dan menyembuyikan ke semak-semak. Nanti kalau pulang ia akan mengambilnya lagi. Ia merasa harus berhemat dalam segala hal agar uangnya bisa ia gunakan untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan membiayai Nawang sekolah.

Setelah perjalanan melewati lereng desa akhirnya mereka sampai di jalan raya. Dari jalan raya itu keduanya masih harus berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk sampai ke pasar. Begitulah setiap hari mbok Dirah pergi ke pasar yang pilih tidak naik angkot.

“Kau mau istirahat, nduk?” tanya mbok Dirah pada cucunya yang malah menggeleng pasti, meyakinkan kalau ia masih kuat berjalan.

Dan pada minggu sepert ini Nawang senang melihat kegiatan orang-orang yang berjalan-jalan dengan keluarganya atau anak-anak kecil yang bersepeda ramai-ramai dengan teman-temannya di sepanjang jalan. Ada juga dilihatnya gadis sebaya-sebaya dirinya yang bersepeda mini. Nawang senang melihat hal-hal indah seperti itu. Tapi ia tak punya keingian untuk memilik yang seperti dimiliki oleh gadis-gadis yang dilihatnya itu. Ia sudah senang apabila boleh membonceng atau belajar menaiki sepeda miliknya Lusi, anaknya bu Joyo yang juga temannya sekelas itu. Ia memang paling terlambat belajar naik sepeda dan sering diejek teman-temannya, tapi ia senang bisa berkesempatan meminjam dan belajar menaiki sepeda itu.

Saat itu mbok Dirah dapat melihat mata cucunya yang bersinar tak lepas melihat permainan anak-anak orang kaya itu. Ia hanya bisa menghela napas. Tapi, hatinya ditahan-tahankannya untuk tak menangis. Ia juga menanggung rasa kepiatuaan anak gadis itu. Dalam hatinya suatu hari ia berharap anak itu akan menjadi pintar dan bisa menjadi cahaya bagi jamannya. Mbok Dirah selama ini melihat kepasrahan dan ketabahan Nawang dalam menjalani hidupnya. Dengan kerja keras dan kepintarannya belajar, ia yakin cucunya itu kelak akan bisa menjadi orang besar.

Akhirnya mereka sampai juga di pasar Tunggul itu. Segera nangka landa masak itu menjadi rebutan pembeli dan juga si blorok yang besar yang sedang masanya bertelur. Saat mbok Dirah sedang menawar beberapa jajanan pasar untuk dibawa pulang, Nawang merasa ingin kencing. Ia memang lupa tadi kencing di rumah, karena kebelet ingin segera pergi ke pasar.

Tapi Nawang terkejut ketika saat mau kencing itu ada penjaga yang membentaknya karena ia belum membayar uang kebersihan. Sebenarnya dalam hati Nawang tak rela untuk menyerahkan uang seribu rupiah hanya sekedar untuk kencing. Ia menengok-nengok sebentar, dilihatnya apakah ada semak-semak dimana ia bisa kencing di situ.

Hal itu membuat si penjaga WC kesal.
“Cepat bayar kalau mau kencing. Kalau tak mau bayar silakan ngompol saja di celanamu itu,” bentak lelaki itu kasar.
Akhirnya merasa tak ada pilihan Nawang terpaksa membayar uang seribu.

Nawang langsung pergi ke kamar mandi. Ia kencing agak lama karena sejak berjalan dari rumah ia sudah menahannya. Sandal yang ia pakai ia lepas di luar seperti kebisaaannya selama ini.

Saat kencing itu samar-samar terdengar dari luar orang bertengkar mulut. Dari suaranya Nawang tahu kalau si penjaga WC itu sedang bertengkar dengan seseorang. Si penjaga itu seperti membentak orang gila yang nekat nyelonong ke tempatnya. Nawang tersenyum, ia merasa puas kalau penjaga WC yang galak dan kasar itu dikerjain si orang gila.

Saat Nawang keluar pertengkaran itu sudah rampung. Tapi saat itu juga Nawang kaget karena ia sudah tak mendapati lagi sandalnya di depan WC.

Nawang sedih Sandalnya hilang. Ia tak tahu apa yang akan dikatakan pada simboknya nanti. Sambil menangis Nawang mencari sandal barunya itu. Nawang mengatakan pada penjaga WC yang galak itu kalau sandalnya hilang.

“Makanya jangan suka menaruh barang di sembarangan tempat. Salah sendiri kalau sandalnya diembat maling!” jawab penjaga WC itu juga lebih ketus lagi.
“Tapi saya tadi menaruhnya di sini”
“Coba cari lagi siapa tahu mungkin saja kamu lupa,” kata pengunjung lain yang saat itu mau mandi.

Nawang mencarinya sampai lelah dan ia memang tak menemukanya. Ia merasa sedih dan takut pada simboknya. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada simboknya yang sudah bersusah payah membelikan sandal tapi ia malah menghilangkannya. Ia takut simboknya tidak akan percaya lagi padanya.

Nawang hanya bisa menceritakan semuanya dengan tak bisa menahan tangis kalau sandalnya hilang saat di WC.

“Iya sudah sudah jangan nangis lagi, malu dilihat orang,” mbok Dirah menenangkan cucunya itu. “Nanti kita beli lagi sandal yang baru.”
Nawang menghentikan tangisnya patuh pada simboknya.

“Tidak mbok, nggak usah Nawang dibelikan sandal baru. Nggak apa apa pulang nyeker. Nawang di rumah masih punya sandal yang lama kok.”

Mbok Dirah geleng-geleng. Ia merasa iba dan haru. Ia pun menuruti apa yang diinginkan Nawang. Mereka sama berdua keluar dari pasar dengan nyeker.

Sesaat mereka keluar dari pasar seorang gila melintas. Lelaki itu tertawa-tawa sambil membawa rentengan benda-bermacam-macam yang merupakan hartanya. Di antara harta kekayaannya itu yang terdiri dari beberapa kaleng bekas dan juga baju rombengan ada sebuah tali yang mengikat sepasang sandal kecil berwarna ungu. Sebuah sandal jepit berukuran kecil dan masih baru memang.

6 thoughts on “Sang Subuh Dan Sepasang Sandal Jepit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s