Paradok Pabrik Gula Tasikmadu

9_Loko_uap_melewati_depan_PG_Tasikmadu
Paradok Pabrik Gula Tasikmadu
Oleh Andri Saptono

Riwayat pabrik gula Tasikmadu yang dulu didirikan oleh KGGPA Mangkunegoro IV pada tahun 1871 yang sekarang berganti PTPN IX tidak bisa dipungkiri memang lagi cenderung berorientasi pada kegiatan agro wisata Sondokoro-nya. Publikasi iklan yang giat ditunjang berbagai pembangunan wahana rekreasi di dalam komplek pabrik makin meneguhkan citra pabrik gula Tasikmadu yang ingin mengembangkan wahana rekreasi sebagai pemasukan penting selain tetap memproduksi gula sebagai hasil utama. Malah cara produksi gula yang sebagian masih memakai alat-alat kerja tempo dulu menjadikan salah satu daya tarik pabrik gula Tasikmadu yang bisa dijual. Namun pabrik gula Tasikmadu juga menyajikan sebuah paradok. Seakan ingin menampilkan keeksotikan sebuah pabrik gula peninggalan jaman kolonial dengan wahana agro wisatanya tapi proses buangan limbah pabrik gula itu sendiri kurang mendapat perhatian yang memadai. Pabrik gula yang kini sedang menggiatkan salah satu wahana agro wisata Sondokoro-nya sebaliknya juga mengotori wahana tersebut dengan asap dan debu dari cerobong asap yang mengepul rendah.
Kita memang kurang menyadari atau kerap mengabaikan bahaya-bahaya dari polusi cerobong asap. Di desa sekitar yang masih satu kelurahan dengan pabrik gula Tasikmadu juga mendapat imbas yang buruk dari cerobong asap itu. Tak ayal setiap selesai musim giling setiap rumah akan memanen debu di plafon setiap rumah. Setiap orang yang melintas di dekat kawasan pabrik tak jarang sering kelilipan debu dari asap pabrik. Hal ini tentu sangat tidak nyaman dan cenderung berakibat berbahaya. Sikap masyarakat sekitar yang abai, mungkin karena sudah terbiasa dan merasa urip (baca: bekerja) dari bekerja di pabrik gula tersebut seharusnya tidak boleh kita lantas membuat sebuah apologi untuk tidak bersikap kritis.
Haruslah dibuat cerobong asap yang ideal untuk menggantikan cerobong asap yang terlalu rendah itu. Sebagaimana sebuah cerobong asap dari sebuah pabrik gula yang membuang trilyunan bahan kimia berbahaya seharusnya tak membuat kita menjadi sembrono, karena bukankah saudara-saudara kita sendiri yang akan memanen resiko berbahaya dari sikap kesembrononan itu.
Hal ini juga harus menjadi perhatian utama bagi pemerintah kota Karanganyar yang baru saja mendapat penghargaan Adipura dan dikenal sebagai kota hijau Anthurium kalau tidak ingin langit kota suram dan setiap hari menjadi mendung asap karena cerobong asap pabrik gula Tasikmadu yang mengepul rendah itu.

2 thoughts on “Paradok Pabrik Gula Tasikmadu

  1. foto-fotonya cukup tajam dan jelas, tapi coba cari thema atau cerita yang sedang trend, dan berikan ulasan yang menyentuh.

    • makasih saran dan kritiknya….memang ini lagi belajar menulis atau bisa dikatakan sedang menyuarakan kegelisahan…jadi mungkin agak berbeda dengan jenis tulisan yang seperti anda maksudkan yang bisa “menyentuh”..
      sip…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s