Promo Novel baru “Lari dari Pesantren” sodara-sodara

Sebuah novel anak anggitan saya baru saja terbit. Alhamdulillah, saya masih diberi rejeki Allah dapat menulis sebuah novel anak islami. Dan kali ini saya beri judul “Lari dari Pesantren”

Biar penasaran, ini saya cuplikan dari book trailernya yang dibikin sahabat saya Nikotopia, seorang penulis skenario yang lagi melambung…..

dan kalau mau lebih jelas lagi sila tengok di halaman promo buku di blog ini
https://atmokanjeng.wordpress.com/promo-novel-lari-dari-pesantren/

Slamet…Slamet….Slamet…

Cerkak Andri Saptono*
kepacak ana jagad jawa Solo Pos 18/7

Swara telepon mbrengkal turuku sing ora angler. Karo ngelapi iler tak saut hape sing ana meja. Tak sawang nomer kantor sing murup abang iku. Tumon, jam papat esuk kantor nelpon aku?
“Halo…” Suara satpam Marzuki mangsuli dhisik.
“Ana apa pak Marzuki? Saiki isih jam papat lho pak!”
“Ngapunten pak. Ketiwasan. Kahanan kantor ketiwasan…”
“Ketiwasan apa? Ngomong sing cetha pak!”
“Nyuwun pangapunten sak derengipun. Kantor nembe mawon dibabah maling, pak!”
Aku meneng sedhela. Nata ambegan supaya landung. Warta iki ora warta biyasa. Apa maneh warta kantormu kebabah maling. Nanging, tetep tak wangsuli kanthi kalem.
“Ya, uwis pak. Aku tak budhal rana saiki. Rasah grusa-grusu dhisik!”
“Nggih, pak. Nyuwun pangapunten sak ageng-agengipun. Kula ampun dipecat nggih pak.”
Tak tata ambeganku. Tak jawab nganggo jawaban sing nglegani satpamku kuwi. “Yen sampeyan ora katut masalah iki, mestine aku ora bakal mecat pak Marzuki. Nggih ta?”
“Nggih Pak. Leres.”
Tak tutup hapeku. Alon-alon medhun saka dipan jalaran lara migren ana sirah marakne rada kliyengan. Banjur tak untal pil sing gedhene sak driji saka Sin She sing jarene luwih ampuh ketimbange aspirin.
Nalikane teka kantor, wis akeh wong sing kemruyuk neng kono. Katon polisi nalekne pita kuning pembatas, supaya wong sing ra berkepentingan ora mlebu. Apa maneh kantorku iki celak karo dalan gedhe, wong-wong sing pengin weruh pada teng pecungul pengin nonton.
Pak Marzuki, sing ngerti aku wis teka, marani nganti kedandapan. Raine pucet nalikane laporan marang aku. Continue reading

Peran dan Fenomena Pondok Tahfizhul Qur’an di Indonesia

Walaupun ujian nasional dan pengumuman kelulusan belum mulai, sudah banyak bermunculan spanduk dan baliho penerimaan siswa baru (PSB), khususnya SMP dan SMA. Baik itu sekolah negeri, swasta, hingga pondok pesantren seakan berlomba menjaring calon murid sebanyak mungkin. Semaraknya spanduk semacam ini juga mengindikasikan banyaknya jumlah madrasah/sekolah yang ada. Pun, menunjukkan pula bahwa madrasah/sekolah sudah tidak didominasi oleh sekolah negeri lagi. Di Solo raya misalnya, banyak bermunculan pondok pesantren yang mampu bersaing dengan sekolah formal. Dari pondok pesantren modern hingga pondok pesantren berbasis enterpreuner. Hal ini berbeda dengan image pondok pesantren di jaman dulu, yang lebih terkenal sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal atau seperti isu yang dihembuskan sebagian kalangan, bahwa pondok pesantren adalah sarang teroris. Continue reading

Kisah Kemuliaan Wanita

SKSR

Wanita mempunyai kedudukan mulia dalam kehidupan manusia. Ditegaskan dalam Al-Hadits, yang pertama kali harus dimuliakan adalah ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian bapak. Hadits ini masyhur dan tak ada perbantahan ulama.
Buku Secangkir Kopi dan Sepotong Roti (SKSR) mengejawantahkan pekerjaan mulia para perempuan, khususnya seorang ibu atau perjuangan seorang ibu. SKSR merupakan buku kumpulan kisah perempuan yang ditulis dari beragam profesi perempuan. Tidak melulu ibu rumah tangga, namun semuanya berwatak satu: peran seorang ibu dalam menyokong kehidupan ini.
Pilihan ini ditegaskan oleh Widi Astuti, yang menceritakan pilihannya untuk menjadi full time mother. Padahal dulu, dia adalah seorang wanita karier yang sukses. Gaji dan pengalaman yang menantang di luaran. Tapi Widi merasa bangga dengan pilihannya karena pekerjaan seorang ibu lebih jauh mulia dan berpahala daripada seorang wanita karier biasa yang akhirnya lebih banyak meninggalkan peran seorang ibu.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjadi seroang ibu. Dalam kisah To Be A Great Mommy, Nicole bercerita perihal dirinya yang ditinggal ibunya, dan harus mengasuh adiknya Kyle yang baru kelas 2 SD. Ketika ditinggal pada usia yang muda, 14 tahun, Nicole telah belajar banyak dari ibunya. Ketika ia menikah dan akhirnya mempunyai anak, ia mempunyai semangat dan berharap dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarganya. Seperti tuturannya, “Ini bukan soal berapa lama kau hidup mendampingi orang yang kaucintai, tapi tentang betapa banyak manfaat dan ilmu yang kaubagi kepada mereka.” Ia mendapat intisari hidup dari pengalaman dan perannya sebagai seorang ibu. Dan semua itu tak lain ia dapat dari ibunya dahulu. Continue reading

Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

dimuat di Solo Pos 27/4

Bank-Plecit-Dilarang-Masuk-Padukuhan-Jambon-1-370x277
Desa dan Bank Plecit
Istilah bank plecit, atau lintah darat dulu lebih masyhur dikenal daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawari pinjaman dengan cepat, dan tanpa administrasi yang ribet –cukup dengan jamiman fotocopy KTP saja. Penampilan mereka pun nyaris stereotif sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil tagihan kepada para nasabahnya. Biasanya mereka lebih suka menyamperi ibu-ibu yang bergerombol entah sedang petan kutu atau sekedar nangga. Begitulah realita yang terjadi di desa saya, dan beberapa desa lainnya di Karanganyar.
Desa menjadi tujuan para bank plecit beroperasi. Seperti desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara tetapi dengan bunga yang mencekik leher. Ibu-ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan selebihnya masuk menjadi nasabah para setan kredit itu.
Pertumbuhan koperasi simpan pinjam baik yang berbadan hukum resmi atau abal-abal semakin banyak di Jawa khususnya. Terutama bank plecit hanya ingin mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa. Kenyataan di lapangan, penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang seringkali kesingsal dengan perubahan jaman. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para Bank Plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya. Continue reading

Dia yang Menanti Suami di Stasiun Ini

brumbung2
dimuat di Solo Pos

Perempuan itu selalu datang ke peron stasiun ini setiap senja. Sudah sebulan ini aku menandai perempuan itu selalu datang sendirian ke tempat ini. Dari penampilannya tentulah ia dari kalangan menengah ke atas. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Mobilnya pun sedan BMW keluaran Eropa. Tetapi, kedatangannya setiap hari ke stasiun ini membuatnya terlihat aneh dan mencurigakan.
Ah, memang melihat orang cantik yang berperilaku aneh memang menarik. Barangkali ia adalah seorang seniwati. Kau tahu seniman atau seniwati seringkali melakukan sesuatu yang nyleneh bagi sebagian orang, tetapi dari perspektif lain ia ternyata sedang membuat mahakarya besar. Atau barangkali ia seorang peneliti yang sedang mengadakan penelitian di stasisun ini. Tapi, penelitian apa yang dilakukan di stasiun ini? Apakah ada yang istimewa dengan stasiun ini?
Mungkin saja. Stasiun ini banyak diabadikan dalam karya sastra. Aku sering membacanya dalam koran minggu terbitan nasional itu. Atau kudengar juga pernah nama stasiun ini dijadikan sebuah buku novel.
Oh, kau belum tahu nama stasiun kereta ini. Namanya stasiun Biru. Jangan kau tanya mengapa stasiun ini diberi nama Biru. Kulihat juga cat tembok di sini tak semua berwarna biru. Beberapa tanda prosedur komplek yang penting juga berwarna merah. Dan semua tampak wajar seperti stasiun lainnya di Indonesia ini. Tapi mungkin dahulu orang yang menamakannya suka dengan kata Biru. Jadi ia menyebut itu dan begitulah semua terjadi. Dan seperti kata Shakspeare, apalah arti sebuah nama. Aku lebih cocok dengan ungkapan yang terakhir ini.
Kembali ke perempuan itu. Senja ini ia datang seperti biasa. Kupikir aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mungkin ada yang bisa kubantu. Maksudku, aku merasa ia seperti mencari sesuatu. Dan bukankah sesama manusia sebagai makluk sosial harus selalu membantu yang lain. Jujur, aku pun tak bertendesi apapun.
Kali ini kudekati ia. Ia sedang menekuri hapenya. Melihat inbok di layar android yang tak lekas dijawabnya.
“Permisi mbak… saya lihat mbak sebulan ini setiap hari ke sini…ehm, apakah mbak ini sedang mencari sesuatu? Mungkin ada yang bisa saya bantu.”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya memang cantik. Tapi aku mengalihkan perhatianku dari wajahnya yang rupawan itu. Dan aku sempat bersirobok dengan matanya yang menatapku. Astaga, mata itu tidak seperti melihatku. Mata itu kosong.
“Barangkali ada yang bisa saya bantu. Saya petugas kebersihan di sini.”
Perempuan itu masih diam. Aku masih menunggu jawaban darinya. Dan memang terasa segan jika berbicara dengan seseorang tapi tak ditanggapi. Sepertinya aku yang jadi pengganggu di sini.
“Apakah saya menganggu anda? Maafkan saya kalau begitu. Saya akan pergi.” Continue reading

Wajah Kemiskinan

images

Dokter Jarwo sedang memeriksa seorang pasien di bilik yang bersekat kain berwarna gelap itu saat seorang perempuan tua tiba-tiba datang menyeruak kain itu dan terbata-bata berkata kepadanya.

“Tolong dokter, anak saya….anak saya akan segera melahirkan. Saya minta bantuannya dokter.”

Tapi dokter Jarwo tak menanggapi segera orang tua itu. Ia menengok pada asistennya, seorang suster yang kemudian segera tergesa minta maaf pada dokter Jarwo atas ketelodorannya.

“Suster tadi ngapain saja? Aku tak mau mentolerir pengganggu saat sedang praktek.”

“Maaf, dokter, saya kecolongan. Sebelumnya dia sudah saya tahan; saya katakan kalau dokter sedang memeriksa pasien; tapi dia memaksa.”
“Sudah, sudah cepat bawa dia ini keluar ke ruang tunggu.”

Pandang mata dokter Jarwo tak melihat sama sekali akan perempuan tua yang digelandang perawat pembantu itu menuju ke ruang tunggu. Dari luar bilik tedengar cekcok antara suster dan perempuan tua itu. Sejenak dokter Jarwo menghela napas, minta maaf kepada pasien hamil yang sedang berbaring di ranjang untuk gangguan sebentar itu.
Pemeriksaan berlanjut. Continue reading