MUKADIMAH PAGI BAGI SETIAP MUSLIM

99 inspirasi pagi - andri

Judul buku          : 99 Inspirasi pagi untuk setiap muslim,
Penyusun            : Muhammad H Bashori
Penerbit              : Al-Qudwah Publishing
Tahun terbitan  : Maret, 2014
ISBN                      : 978-602-7929-74-6
Tebal                     : 308 hlm, 17.5 x 23.5 cm
Cover                    : soft cover
Harga                    : 75.000,-

 

Percakapan saya dengan seorang pembaca buku yang merupakan teman dekat saya dan saya kenal dia sebagai pembaca buku-buku bagus, mereka akan membeli buku jika:
 

  1. Judulnya menarik
  2. Penulisnya terkenal
  3. Kaver dan sampulnya bagus
  4. Harganya murah
  5. Isinya sesuai yang dibutuhkan

 
Sebuah buku bagus memang tidak harus mencirikan 5 hal di atas. Selera pembaca terkadang tidak dapat diduga dengan mudah. Trend dan tradisi pasar juga mempengaruhi seberapa besar buku bagus dapat kita baca.

 
Dan buku yang saya resensi ini adalah salah satu buku yang saya anggap menarik dan pantas untuk diresensi.

 
Dilihat dari judulnya : Menilik judulnya yang panjang: 99 Inspirasi Pagi Untuk Setiap Muslim! Ditambah tagline ‘Awali Pagi Anda dengan Membakar Semangat” buku ini menjanjikan sesuatu yang bahagia dan mencerahkan seperti sebuah pagi. Jika ingin lebih meruncing lagi, yaitu sejumlah angka 99, pasti hidangan atau apapun ini (seperti yang digambarkan dengan seduhan kopi) saya berhusnuzhon pastilah akan mengenyangkan dan memuaskan jiwa kita.

Mengawali pagi dengan 99 Inspirasi  pagi untuk Setiap Muslim - Al Qudwah
Mengawali pagi dengan 99 Inspirasi pagi untuk Setiap Muslim – Al Qudwah

Pun dari segi penampakan ukuran buku yang tidak biasa, jelas menyiratkan bahwa buku ini adalah buku yang luar biasa (308 hlm, 17.5 x 23.5 cm). Ukuran ini bagi penerbit membutuhkan sebuah pertaruhan penerbit agar bisa diterima oleh pembaca Indonesia, baik dari segi harga maupun kualitas. Berkompromi dengan hal ini tentu juga bukan sebuah hal remeh temeh untuk mempertimbangkan kualitas sebuah buku. Di lapak dunia maya buku ini dijual dengan harga diskonan. Dari harga 75.000 menjadi 63.000,-. Sebuah harga yang setimpal untuk buku bagus semacam ini.

 
Mengenai penyusun sendiri (saya lebih suka menyebutnya penyusun daripada penulis karena beberapa alasan yang akan saya sampaikan di belakang), Muhammad H Bashori, meskipun terhitung masih timur, beberapa pengalamannya di dunia tulis menulis memperlihatkan ia bukan seorang amatir. Karyanya dimuat di penerbit dan koran nasional maupun lokal. Latar belakangnya yang berasal dari pesantren memberikan jaminan kepada kita bahwa ‘ilmu’ yang akan ia bagikan dalam buku ini bukan sekedar pepesan kosong belaka dan mengapa ia memilih jalur non fiksi di sini. Sekilas saya cuplikan berita tentang sang penyusun buku ini:

 
… pendidik di Ma’had al-Ishlah Paciran, Lamongan sekaligus pimpinan redaksi majalah al-Ishlah. Lulus di IAIN Walisongo Semarang dan lulus tahun 2012. Penulis ‘Ilmu Falak Praktis’ dan ‘Peradaban Tanpa Penanggalan, Inikah Pilihan Kita? Diterbitkan di Elexmedia Komputindo).

 
Penulisan buku ini terlihat mengacu kepada buku-buku inspiratif populer, semisal ‘Chicken Soup for The Soul’ atau buku ‘Bukan untuk Dibaca’ yang populer dan lebih dari 9 kali terbit. Gambar kavernya yang mengetengahkan seduhan kopi hangat mengepul, seperti menyiratkan bahwa ‘kopi hangat’ ini berkhasiat menghangat pagi para pembaca, khususnya para pembaca muslim karena isinya juga lebih tendensius kepada muslimin di Indonesia.

 
Sasaran pembaca yang mendekati dari buku 99 inspirasi pagi untuk setiap muslim ini tentu sangat variatif, karena bahasannya ringan dan sederhana, tetapi tidak kalah bernas. Mayoritas umat muslim di Indonesia lebih bisa terjangkau karena buku ini pun terkesan ‘inspiratif dan tidak ekslusif’ seperti misalnya buku fikih dan semacamnya. Penulis mungkin ingin memberikan sebuah sajian yang lengkap dalam sebuah buku. Maka buku ini disusun dengan 99 bahasan, yang beraneka ragam. Namun inti dari semua bahasan itu terpusat untuk memperbagus karya dan amalan kita. Pun hendaklah amalan itu tidak sekedar bernilai duniawi tetapi juga ukhrawi (akhirat).

 
Penerbit ini yaitu Al Qudwah merupakan lini dari penerbit Ziyad Visi Media Group yang berkantor di Jl. Banyuanyar Surakarta. Ada beberapa lini yang berbeda di penerbit ini dan tiap lini menampilkan jenis-jenis buku yang berbeda pula dengan lini lainnya. Sekilas dari istilah ada istilah Qudwah Sebelum Dakwah yaitu bermakna ‘apa-apa yang telah engkau ikuti dan engkau biasa dengannya dari kebaikan.’

 
Adapun mengenai isi dari buku ini dapat kita tilik sejauh pembacaan saya.

 
Ketika tiba saya membaca halaman pertama, penyusun buku ini menyapa jiwa kita dengan ‘Allah ingin datangkan pelangi’. Mengetengahkan tentang ‘pledoi syukur kepada Allah’. Dirangkai dengan bahasa yang ringan dan populer membuat mudah pemahaman pembaca akan maksud bahasan ‘Allah ingin datangkan pelangi’.

 
Dirangkai kemudian dengan bahasan kedua, ‘Cara Allah Menyayangi Hambanya’ penyusun buku ini memberikan persepsi yang menarik tentang ‘cara Allah’ yang terkadang berbeda dengan ‘keinginan manusia’ dalam memenuhi keinginannya. Sebuah quote dicetak tebal di situ:

 

“Jika Allah MENCINTAI seorang hamba, Allah ilhamkan kepadanya KETAATAN. Allah biasakan ia dengan QANA’AH (menerima apa adanya). Allah karuniakan untuknya PEMAHAMAN AGAMA. Allah menguatkannya dengan KEYAKINAN. Allah mengilhamkan kepadanya ketaatan dan selalu memberinya petunjuk.

 

Ini  jelas merupakan sebuah quote yang super yang dapat membangkitkan semangat kita dalam beramal shalih.

 
Pada pembahasan ketiga ‘Hatinya Serapuh Kaca’ Muhammad H Bashori mendedahkan tentang makna perempuan dalam kehidupan seorang lelaki. Banyak kata indah bertaburan di halaman ini, bahkan judulnya sudah puitis. Beberapa terkesan menggurui mengingat ia sendiri masih muda dan belum menikah. Tentu pengalaman dan referensi otentik memperkaya dan lebih mempertajam tulisan. Tapi, bagaimanapun penyusun sudah memberikan bunga rampai pengantar tentang memahami seorang perempuan. (yah, masih sebagai pengantar :) )

 
Bahasan ke-4 dan ke-5 membidik tentang cinta. Cinta di sini kaitannya dengan hasrat seksual dan cinta yang lebih langgeng daripada sekedar hawa nafsu manusia.  Pembahasan kemudian berlanjut kepada ‘memprovokatori untuk menikah’ bagi para jomblo yang sedang galau. Terlihat kesan pengalaman si penyusun dalam bahasan ini dan juga bahasan ‘edisi ngomporin berjilbab’ dalam gaya bahasa yang dipaparkan.

 
Pada bahasan selanjutnya yang beraneka ragam, masing-masing bahasan ini selalu diberi quote yang ditebalkan dan dibuat menarik. Kata bijak dipilih dan terkadang diberi ilustrasi yang proporsional, membuat pembahasan lebih mengena. Bahasan tentang mendorong agar kita berkarya dan menulis karena ‘sebuah karya tulis’ akan lebih panjang umurnya daripada si penulis itu sendiri. Jika ia bisa menjadi amal shalih, tentulah amal ini akan mengalir sepanjang masa sampai hari kiamat dan bisa menjadi syafaat bagi si penulis.

 
Benang merah daripada tulisan ini adalah inspirasi untuk setiap muslim. Bagaimana menjadi seorang hamba yang bisa berkarya dan memberi manfaat di dunia dan juga akhirat. Kelebihan dari buku ini adalah pembahasan yang ringkas dan sederhana sehingga pembaca tidak perlu berlarut-larut dalam prolog atau pembahasan fikih yang penuh iktilaf (perbedaan pendapat). Semua isi dari bahasan ini disajikan secara populer sekaligus semacam buku tazkiyatun nafs bagi seorang muslim.

 
Sejumlah 99 pembahasan dipaparkan dalam buku ini. Sebagian saya ketahui bahwa penyusun, mengambil kisah atau menyadur ulang dari buku atau kisah buku lain. Artinya penyusun tidak menulis sendiri. Hal ini cenderung rentan dianggap sebagai pembajakan karena tidak ada keterangan tentang sumber tulisan. Contoh dalam hal ini adalah kisah Ibrahim Bin Adham dan tanya jawab seorang pendeta dengan seorang muslim dalam bahasan ke-91 ‘Kebenaran Islam’. Juga bahasan ‘Haruskah Hati menciptakan Jarak’ penyusun bukanlah orang yang menggali ide ini sendiri, melainkan mengambilnya dari tempat lain.

 
Saran saya, sebaiknya penyusun memberi keterangan darimana ia memperoleh sumber tulisan ini. Hal ini lebih menyelematkan daripada misalnya sekedar menyusun pembahasan yang tidak ada sumber referensinya. Apalagi cap plagiat atau pembajak merupakan sesuatu yang harus dibayar mahal oleh seorang penulis.

 
Pun secara struktur buku ini dapat dikritisi, yaitu tidak ada tema atau kategorisasi setiap tema di dalam buku, misalnya tema cinta kasih, parenting, atau seksologi. Jika ini bisa ditampilkan, tentu akan lebih mudah bagi pembaca untuk segera menuju pada topik bahasan. Apalagi di dalam buku ini ada 99 bahasan yang masing-masing berbeda dan terkadang tidak setema antara bab satu dan selanjutnya.

 
Sasaran dalam buku ini juga tidak terlalu spesifik. Dalam satu sisi ada kelemahan dan juga kelebihan. Kelemahannya adalah buku ini sepintas akan dipandang sebagai buku tebal yang referensial, tetapi ketika kita membuka halamannya kemudian, ternyata bahasan di sini lebih ringan daripada penampakan dan ketebalan buku. Juga beberapa bahasan terkesan filosofis yang membuat berkerut kening para pembaca. Tetapi di bahasan lain bahasa pengarang terkesan sangat populer dan teenlit, sehingga bagi pembaca yang serius, ini merupakan sebuah ‘gangguan’. Jadi akan lebih proporsional misalnya, jika gaya bahasa pun disamakan sehingga dapat menemukan pembaca yang tepat untuk buku semacam ini.

 
Berbagai kekurangan dalam buku pasti tetap ada. Seperti peribahasa Tak ada gading yang tak retak’ buku ini pantas disanjung karena ia mempunyai tujuan yang jelas dalam berbagai kebaikan dan menuju jalan lurus yang sama (Islam). Kekurangan hanya bersifat temporer dalam bentuk gaya bahasa ataupun penulis, dan hal itu dapat ditebus dengan hikmah yang didapat dari membaca 99 bahasan dalam buku indah ini.

 
Ya, buku ini memberikan motivasi, memperbarui inspirasi dan menyehatkan jiwa kita. Ini seperti sebuah paduan yang sempurna agar kita lebih produktif dan mempunyai mood yang baik. Pagi hari seorang muslim hendaklah diisi dengan hal-hal yang bercahaya seperti ini. Apalagi pagi adalah momen yang indah dan penuh harapan. Tidak peduli hari yang kita hadapi adalah mendung, cerah atau gerimis, sebab pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut dengan kehidupan.

 
Jadi mari kita awali pagi kita, kita buka lembaran kehidupan kita dengan ‘99 Inspirasi Pagi untuk Setiap Muslim’ karena hidup adalah pilihan kita untuk berbahagia. Salam.

Menumbuhkan Sense of Crisis pada Masyarakat

dimuat di joglosemar

ritual-bersih-desa-dusun-nglurah-tawangmangu-karanganyar

Di setiap penanggalan bulan Sura (baca: Muharam) desa saya melaksanakan sebuah ritual Bersih Desa. Tujuan ritual Bersih Desa adalahuntuk memberikan penghormatan kepada arwah leluhur desa, dengan perwujudan menanam kepala kambing atau memberi sesaji kepala seekor kambing di tengah desa, sementara keempat kakinya harus ditanam di empat penjuru desa(papat kiblat lima pancer). Selebihnya sisa daging kambing yang diberikan kepada ‘danyang’ itu akan dimakan beramai-ramai entah diolah menjadi gulai atau tongseng untuk warga 2 RT.

Hanya saja, pelaksanaan ritual Bersih Desa pada tahun ini agak berbeda. Dengan sebab alasan bertentangan dengan agama, beberapa pemuka desa mengatakan sudah tidak akan memberikan sesajen lagi kepada ‘danyang’. Artinya, kepala dan kaki kambing tersebut tidak akan disajenkan tetapi akan dimasak semua untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai sedekah bersama. Pembelian seekor kambing yang mewajibkan setiap warga membayar 30 ribu/kk pada setiap bulan Sura ini, akan dibagikan lagi kepada masyarakat. Continue reading

Jakarta – Kent Ridge

dimuat di analasisadailycom

P6200140-1024x768
Selalu menarik memandang wajah kota Kent Ridge, Singapura di kala gerimis. Gedung dan manusia bertabir putih oleh hujan. Di jalanan orang berpayung bening atau berponco sampai mata kaki, bergegas seakan tak ingin kedahuluan oleh hujan yang sewaktu-waktu turun lagi. Pepohonan poplar dan bougenvil bergerak-gerak ditiup angin menggugurkan daunnya menambah warna kemuraman kota dengan empat musim ini.

Barangkali kota ini adalah wajah masa depan yang beruntung bisa dilihat sebagai Jakarta 2020 nanti. Sungguh, kota ini patut diberi pujian. Bangunan perumahannya rapi dan elok. Jalanan bersih dari sampah dan banjir. Hanya dedauan poplar dan bougenvil yang semarak tumbuh di pinggir jalan, mengotori jalanan ketika dihembus angin. Namun itu tak perlu dikhawatirkan. Meski masyarakat terlihat individualistis justru setiap warga merasa harus membuktikan kalau mereka punya kepedulian terhadap lingkungan, terutama kebersihan. Pun mobil penyapu sampah selalu siaga menyapu bersih jejak sampah setiap pagi.

Aku sendiri berasal dari Jawa, tepatnya dari Solo. Sudah setahun lebih aku tinggal di asrama mahasiswa National University of Singapore ini sebagai mahasiswa beasiswa. Bekerja di sebuah restoran Indonesian Food milik Mr. Sanyoto yang buka dari jam delapan pagi hingga jam sepuluh malam. Aku diperbolehkan mengambil paruh waktu, semata agar bisa tetap mengikuti kuliah. Tak terhingga rasa terima kasihku pada mereka karena semua itu. Continue reading

Rhapsody Petang Hari

Tetiba petang merambat malam tanpa terasa. Hendramasih berada di kantor. Ia yang terakhir. Semua pekerja lainnya sudah bergegas pulang. Takut kedahuluan hujan yang mulai sering turun di awal November ini.
“Krinnnnngg….. kring……kringg..!!”
Handphonenya berdering. Nadya, istrinya, yang menelpon. Pasti segera menyuruhnya pulang.
“Halo! Mas, cepat pulang ya. Jangan nglembur lagi. Aku takut di rumah sendirian nih.”
“Iya, ini aku hampir selesai. Tidak ada lemburan kok.”
“Jangan mampir-mampir lagi.”
“Iya!”
Telepon ditutup Hendra. Agak kesal juga. Istrinya mulai sering baper di awal kehamilannya. Ditambahi pula omongan tetangga bahwa rumah kontrakan mereka berhantu.Tapi, mau gimana lagi. Ia tak bisa pulang sekarang. Kantor menjelang akhir tahun selalu repot.Pekerjaanyang diamanahkan kepada dirinya makin menumpuk.
Ah, rasanya ia pun mulai ikut-ikutan baper.
Diliriknya jam di dinding. Sudah setengah enam. Magrib sudah menjelang. Hendra menghela napas. Pekerjaan belum terlihat berkurang.

***
Nadya berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu. Tangannya mengipas-ngipassobekan kardus untuk mengusir peluh yang meleler di dahi dan lehernya. Maklum rumah kontrakan baru sempit. Udara gerah.Suaminya yang belum pulangmenambah kesal.
“Pasti nglembur lagi. Apa tidak pekerja lain sih selain mas Hendra!” gerutunya.
Dijangkaunya jus dingin di atas meja. Sengaja ia nekad minum es saat hamil 3 bulan pertama ini walaupun dilarang oleh dokter. Taktahan dengan udara gerah.
Diteguknya es jus itu hingga tandas.
“Aduh,kenapa lama sih. Sabar ya adek. Ayah, sebentar lagi pulang kok,” katanya kepada perutnya sendiri yang membuncit.
Continue reading

Resensi buku Tolak Bala, Menepis Bencana dengan Lantunan Doa

Foto0666

Judul Arab          : Raddul Bala’ Biddu’a
Penulis               : Musthofa Syaikh Ibrahim Haqqi
Penerbit              : Darul Hadhoroh Lin Nasyr Wat Tauzi Riyadh
Penerjemah         : Ibnu Abdil Jamil, Arif Munandar
Cetakan Indonesia : September 2006
Penerbit                 : Wip (Wacana Ilmiah Press)

Manusia dan ujian (bala) adalah saling beriringan. Darul dunia (negeri dunia) ini sejatinya adalah tempat ujian bagi manusia. Sedangkan jannah adalah tempat tak ada lagi ujian, namun merupakan kampung pembalasan bagi orang beriman. Sebaliknya, neraka adalah tempat kesudahan bagi manusia-manusia yang tidak beriman.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : amat baik perkara seorang muslim itu. Apabila dia diberi kesusahan dan ia bersabar, maka ia mendapatkan pahala atasnya. Dan apabila dia diberikan kemudahan kemudian dia bersyukur, maka pahalanya atas hal tersebut.
Dari hal di atas, kita bisa melihat pula pola yang terjadi pada orang-orang shalih, nabi dan para syuhada lainnya yang merupakan kekasih Allah, orang yang sangat dicintai Allah. Mereka juga tak lepas dari yang namanya ujian dan bala. Namun yang membedakan merkea dengan manusia biasa adalah bahwa mereka mampu menyikapi adanya bala dan ujian itu dengan tindakan yang proporsional (baca: sesuai syariat Allah). Artinya, tindakan tersebut mampu mengembalikan ridha Allah kepada merka atau bahkan bisa meningkatkan derajat keimanan mereka menjadi lebih baik lagi. Dan hakikatnya Allah sendiri memberikan ujian kepada manusia adalah untuk mereka menjadi lebih baik tingkatannya.

Disebutkan dalam hadits, bahwa seorang yang tidak bisa beramal kebaikan. Melainkan ia diberikan cobaan hingga ia bersabar dan ia mencapai derajat yang tinggi karena rahmat Allah taala. Jadi ia menjadi hambanya yang mulia justru karena ujian yang diberikannnya itu.

Buku terbitan WIP (Wacana Ilmiah Press) ini memberikan poin-poin penting kepada kita bagaimana kita bersikap menghadapi ujian dan bala yang terjadi pada diri kita. Ketika saya membuka buku ini saya langsung mendapatkan jawaban dari kerumpegan yang terjadi pada hidup saya. Kemudian saya mengambil sikap untuk beristigfar dan berdoa memohon diberikan kemudahan dan kelapangan akan persoalan pada hidup saya.

Jadi artinya ketika membuka buku ini pertama kali, kita pun akan mendapatkan solusi dari Syaikh Ibrahim Haqqi.
Ada beberapa bab penting di dalam buku ini. Dimulai dari pengertian bala secara bahasa dan secara syarak. Kemudian aplikasi dalam al quran dan assunah, tentang solusi mengatasi bala dan doa-doa yang dianjurkan. Lebih meruncing lagi, tentang bagaimana cara memanjatkan doa yang sesuai sunnah, apa faedah doa, implementasi doa berkeanaan dengan cobaan, beberapa persoalan terkait dengan cobaan.

Kemudian diberikan ilustrasi bagaimana para nabi adalah kekasih Allah sedangkan mereka juga tidak semata hidup lempeng-lempeng saja. Mereka juga diberikan ujian dan cobaan. Sekaligus diberikan pemaparan bagaimana mereka berdoa dan membuat ridha Allah dengan keteguhan iman mereka.

Pada bab akhir, kita diberikan tuntunan beberapa doa yang dilantunkan oleh rasulullah saw, seperti doa tertimpa bencana dan kesusahan, doa untuk meraih khusnul khatimah, doa saat melihat orang lain tertimpa doa, dan potret doa para salaf. Sekaligus juga diberikan tentang buah dari doa tersebut.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca indonesia ini. Pelbagai ujian dan kesusahan silih berganti mendatangi negeri ini. Sudah saatnya kita menggerakan diri untuk kembali mencari ridha Allah taala. Marilah kita beristigfar atas segala kesalahan yang kita perbuat. Istigfar ini juga menjadi jalan kemudahan bagi kita agar doa kita diterima. Kemudian juga berdoa sungguh-sungguh, terutama di waktu yang mustajab, insya Allah segala hajat dan kesusahan kita akan diberikan jalan oleh Allah yang maha penyayang. Bahkan Allah mencela orang yang enggan berdoa sebagai orang yang sombong. Dan sebaliknya Allah mencintai hambaNya yang menadahkan dua tangan kemudian melantunkan doa dengan lirih serta berharap serta yakin doanya akan terkabul.

Saya cuplikan beberapa doa untuk mendatangkan rejeki dan harta serta melunasi hutang.

اللّهُمَّ اجْعَلْ أَوْسَعَ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدِ كِبَرِ سِنيِّ وَانْقِطَاعِ عُمْرِي
“Ya Allah, jadikanlah anugerah rezeki-Mu yang paling lapang untukku saat usiaku tua dan menjelang penghabisan umurku.” (HR. Hakim)

اللّهُمَّ فَارِجُ الهَمِّ, وَكَاشِفُ الغَّمِّ, وَمُجِيْبُ دَعْوَةِ المُضْطَرِّيْنَ, رَحْمَانُ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ وَرَحِيْمُهُمَا أَنْتَ تَرْحَمُنَا فَارْحَمْنِي بِرَحْمَةِ تَغْنِينِي بِِهَا عَنْ رَحْمَةِ مِنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, Dzat yang melapangkan kesedihan, Penghilang kesusahan dan yang mengabulkan doa orang-orang yang terdesak. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang di dunia dan akhirat, Engkau yang mengasihi kami, maka kasihanilah diriku dengan kasih sayang yang membuatku tidak membutuhkan lagi kasih sayang selain Engkau.” (HR. Hakim)

Mengapa Air Mancur Laser di Karanganyar?

dimuat di joglosemar

Karanganyar berbenah, mematutkan diri sebagai kota kabupaten yang moncer dan modern. Segala upaya pembangunan dipusatkan di tengah kota agar bisa ada center area yang modern dan menarik. Kini pembangunan air mancur modern model Wing of Times mulai diagendakan. Pembangunan itu memerlukan dana besar, 2,5 milyar. Sungguh, ini adalah sebuah angka yang besar untuk pembangunan sebuah air mancur yang konon terinspirasi dari air mancur di Singapura. Masyarakat diharapkan akan datang ke tempat ini dan menonton air mancur ini. Karep besar ini ingin membuktikan bahwa Karanganyar lebih modernis dan maju, tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya, dan air mancur ini tentu lebih hebat dari sekedar air mancur di Gladak itu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di kota ini, memang selama ini pembangunan alun-alun sebagai public space terus digalakkan. Dari mulai perobohan kantor perpustakaan Karanganyar dan gedung informasi yang keduanya dipindahkan dari tempat tersebut. Yang agak memprihatinkan adalah nasib Perpustakaan Daerah Karanganyar yang masih nebeng di aula kelurahan Cangakan. Setelah sebelumnya perpustakaan ini sempat nebeng juga di bangunan bekas Rumah Sakit Kartini Lawas.

Bagi masyarakat pecinta buku dan ikut tergabung dalam komunitas Pakagula Sastra di Karanganyar, saya masih merasa belum paham mengapa keberadaan perpustakaan di Karanganyar masih sulit untuk diterima. Dalam artian, tidak mempunyai gedung sendiri, padahal pustakawannya juga ada, kemudian pegawainya juga ada beberapa. Namun mengapa pusat informasi dan pengetahuan tersebut selalu harus bernasib memprihatikan. Sejak saya ikut pertama kali menjadi anggota perpustakaan Karanganyar ketika masih di alun-alun Karanganyar yang menginduk gedung Kodim, saya terbiasa dengan keluhan bahwasanya banyak buku baru tidak bisa terdisplay karena tidak muat atau karena tempatnya kurang representatif. Tapi, inipun terus berlanjut, selepas dari bupati Rina Iriani yang terjerat korupsi, nampaknya perpustakaan daerah masih belum bisa diwujudkan dengan baik di Karanganyar. Dengan ini pula indikator kemodernan dan kemajuan suatu kota sebenarnya bisa dipertanyakan. Atau memang pemerintah sekadar mengejar keindahan artifisial yang tidak substansial dan emoh dengan perpustakaan yang kisut dan berdebu itu. Continue reading

Supeltas: Sepele Nanging Gedhe Khasiate

Supeltas: sepele nanging gedhe khasiate
Supeltas: sepele nanging gedhe khasiate

Ketika jam ngantor pagi atau berangkat sekolah, kita hampir tak bisa memilih lagi jalanan mana yang tidak terkena macet. Statiska kemacetan per tahun menunjukan grafik peningkatan. Arogansi pengendara motor alias si raja jalanan, terutama yang membuat jalanan akhir-akhir ini makin semrawut. Begitu pula aktivitas pemakai jalan lain yang tidak mengindahkan peraturan, seperti angkutan bus yang ‘berhenti di sembarang tempat’ ketika menurunkan penumpang. Fakta inilah yang menyebabkan harga selembar nyawa seakan menjadi murah dan sia-sia di jalanan.

Pesona Supeltas

Di Solo kehadiran para Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas) yang membantu kelancaran lalu lintas seperti di perempatan Coyudan, bundaran Baron, bundaran Purwosari, Lawang Gapit sebelah barat, dan beberapa ruas jalan yang ‘belum layak’ dipasang trafigh light yang justru kemacetannya luar biasa dan sering terjadi kecelakaan, amat signifikan membantu mengurai kemacetan dan mengurangi angka kecelakaan. Pengakuan terhadap peran positif mereka juga kerap menimbulkan simpati elemen masyarakat, seperti pemberian ‘saweran’ hingga bingkisan oleh beberapa elemen masyarakat pada moment-moment tertentu, misalnya ketika bulan Ramadhan.

Dari relasi yang menarik inilah yang membuat pekerjaan supeltas bahkan bernilai ibadah. Jika dianalogikan (kiyas) dengan menyingkirkan duri dari jalan saja sudah dianggap shodaqoh, apalagi para supeltas ini, yang sukarela mengatur jalanan yang sama sekali tidak sesederhana seperti yang kita lihat, baik keruwetan dan tingkat stress tinggi di jalanan. Apalagi seperti yang kita lihat jalanan setiap hari bukan makin longgar atau lancar, tetapi sebaliknya, jalanan berubah menjadi area parkir, bursa mobil, atau tempat berjualan kaki lima.

Butuh Pelatihan dan Pengembangan
Sekilas bisa dilihat menjadi Supeltas sangat diperlukan fisik yang kuat, yang tahan berpanas-panas di jalanan. Namun sebenarnya mereka juga memerlukan keahlian untuk mengendalikan lalu lintas. Karena tanpa keahlian dan pengamatan yang cerdas itu, jalanan hanya akan menjadi ruwet dan membuat jalanan tambah macet. Tetapi andaikan mereka dibekali lagi dengan ketrampilan mengatur lalu lintas alangkah sangat membantu peran supeltas itu sendiri. Tentu hal ini harus mengikutsertakan aparat polisi dalam pembinaan dan memberikan pelatihan kepada para Supeltas.

Di Solo, kerjasama antara polisi dan supeltas ini di beberapa tempat di Solo memang sudah terlihat, namun akan lebih bernilai plus lagi, andaikan Supeltas ini mendapat perhatian dan pembinaan dari Polisi karena peran mereka yang positif dalam membantu ketertiban di jalanan. Atau mungkin kehadiran mereka bisa diadopsi oleh daerah lain yang selama ini mempunyai masalah kemacetan lalu lintas.

Profesi supeltas memang sebuah hal remeh, namun mereka memberi kemanfaatan yang luar biasa. Orang Jawa bilang, sepele nanging gedhe khasiate!

sumber gambar: surakarta.go.id