Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

dimuat di Solo Pos 27/4

Bank-Plecit-Dilarang-Masuk-Padukuhan-Jambon-1-370x277
Desa dan Bank Plecit
Istilah bank plecit, atau lintah darat dulu lebih masyhur dikenal daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawari pinjaman dengan cepat, dan tanpa administrasi yang ribet –cukup dengan jamiman fotocopy KTP saja. Penampilan mereka pun nyaris stereotif sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil tagihan kepada para nasabahnya. Biasanya mereka lebih suka menyamperi ibu-ibu yang bergerombol entah sedang petan kutu atau sekedar nangga. Begitulah realita yang terjadi di desa saya, dan beberapa desa lainnya di Karanganyar.
Desa menjadi tujuan para bank plecit beroperasi. Seperti desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara tetapi dengan bunga yang mencekik leher. Ibu-ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan selebihnya masuk menjadi nasabah para setan kredit itu.
Pertumbuhan koperasi simpan pinjam baik yang berbadan hukum resmi atau abal-abal semakin banyak di Jawa khususnya. Terutama bank plecit hanya ingin mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa. Kenyataan di lapangan, penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang seringkali kesingsal dengan perubahan jaman. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para Bank Plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya. Continue reading

Dia yang Menanti Suami di Stasiun Ini

brumbung2
dimuat di Solo Pos

Perempuan itu selalu datang ke peron stasiun ini setiap senja. Sudah sebulan ini aku menandai perempuan itu selalu datang sendirian ke tempat ini. Dari penampilannya tentulah ia dari kalangan menengah ke atas. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Mobilnya pun sedan BMW keluaran Eropa. Tetapi, kedatangannya setiap hari ke stasiun ini membuatnya terlihat aneh dan mencurigakan.
Ah, memang melihat orang cantik yang berperilaku aneh memang menarik. Barangkali ia adalah seorang seniwati. Kau tahu seniman atau seniwati seringkali melakukan sesuatu yang nyleneh bagi sebagian orang, tetapi dari perspektif lain ia ternyata sedang membuat mahakarya besar. Atau barangkali ia seorang peneliti yang sedang mengadakan penelitian di stasisun ini. Tapi, penelitian apa yang dilakukan di stasiun ini? Apakah ada yang istimewa dengan stasiun ini?
Mungkin saja. Stasiun ini banyak diabadikan dalam karya sastra. Aku sering membacanya dalam koran minggu terbitan nasional itu. Atau kudengar juga pernah nama stasiun ini dijadikan sebuah buku novel.
Oh, kau belum tahu nama stasiun kereta ini. Namanya stasiun Biru. Jangan kau tanya mengapa stasiun ini diberi nama Biru. Kulihat juga cat tembok di sini tak semua berwarna biru. Beberapa tanda prosedur komplek yang penting juga berwarna merah. Dan semua tampak wajar seperti stasiun lainnya di Indonesia ini. Tapi mungkin dahulu orang yang menamakannya suka dengan kata Biru. Jadi ia menyebut itu dan begitulah semua terjadi. Dan seperti kata Shakspeare, apalah arti sebuah nama. Aku lebih cocok dengan ungkapan yang terakhir ini.
Kembali ke perempuan itu. Senja ini ia datang seperti biasa. Kupikir aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mungkin ada yang bisa kubantu. Maksudku, aku merasa ia seperti mencari sesuatu. Dan bukankah sesama manusia sebagai makluk sosial harus selalu membantu yang lain. Jujur, aku pun tak bertendesi apapun.
Kali ini kudekati ia. Ia sedang menekuri hapenya. Melihat inbok di layar android yang tak lekas dijawabnya.
“Permisi mbak… saya lihat mbak sebulan ini setiap hari ke sini…ehm, apakah mbak ini sedang mencari sesuatu? Mungkin ada yang bisa saya bantu.”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya memang cantik. Tapi aku mengalihkan perhatianku dari wajahnya yang rupawan itu. Dan aku sempat bersirobok dengan matanya yang menatapku. Astaga, mata itu tidak seperti melihatku. Mata itu kosong.
“Barangkali ada yang bisa saya bantu. Saya petugas kebersihan di sini.”
Perempuan itu masih diam. Aku masih menunggu jawaban darinya. Dan memang terasa segan jika berbicara dengan seseorang tapi tak ditanggapi. Sepertinya aku yang jadi pengganggu di sini.
“Apakah saya menganggu anda? Maafkan saya kalau begitu. Saya akan pergi.” Continue reading

Wajah Kemiskinan

images

Dokter Jarwo sedang memeriksa seorang pasien di bilik yang bersekat kain berwarna gelap itu saat seorang perempuan tua tiba-tiba datang menyeruak kain itu dan terbata-bata berkata kepadanya.

“Tolong dokter, anak saya….anak saya akan segera melahirkan. Saya minta bantuannya dokter.”

Tapi dokter Jarwo tak menanggapi segera orang tua itu. Ia menengok pada asistennya, seorang suster yang kemudian segera tergesa minta maaf pada dokter Jarwo atas ketelodorannya.

“Suster tadi ngapain saja? Aku tak mau mentolerir pengganggu saat sedang praktek.”

“Maaf, dokter, saya kecolongan. Sebelumnya dia sudah saya tahan; saya katakan kalau dokter sedang memeriksa pasien; tapi dia memaksa.”
“Sudah, sudah cepat bawa dia ini keluar ke ruang tunggu.”

Pandang mata dokter Jarwo tak melihat sama sekali akan perempuan tua yang digelandang perawat pembantu itu menuju ke ruang tunggu. Dari luar bilik tedengar cekcok antara suster dan perempuan tua itu. Sejenak dokter Jarwo menghela napas, minta maaf kepada pasien hamil yang sedang berbaring di ranjang untuk gangguan sebentar itu.
Pemeriksaan berlanjut. Continue reading

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner

bancakan-bisnis-jabarcom

dimuat di Solo Pos (14/2)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.
Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup. Continue reading

MARTIR

Karomah ilmu khodam_e1

“Kalian tidak mungkin bisa mengeksekusi orang yang punya karomah ini, meskipun kondisi kalian sangat terdesak dan nyawa menjadi taruhan. Sudah terbukti di lapangan, hampir semua rencana yang tersusun rapi -berdasar teori konspirasi yang canggih sekalipun- akan koyak moyak kalau kita langsung memuntahkan timah panas padanya. Ada strategi khusus untuk menyingkirkan orang yang punya karomah seperti ini!”
Sejenak Sang Komandan menyulut rokok dalam-dalam. Gemeretak kretek terbakar. Hampir bersamaan juga asap mengalir dari kedua hidung besar hitam Sang Komandan berwajah codet itu.
“Lalu kita harus bagaimana, Komandan? Tentu ada cara lain?” tanya si bawahan yang bertubuh raksasa.
“Peraturan pertama! Jangan pernah mengeksekusi langsung mereka. Kita harus membuat ‘orang berkaromah ini’ keluar terlebih dulu dari ‘hidayahNya’. Kalian paham maksudku?”
Kedua bawahan yang sama kekarnya itu sama menggeleng, alamat tidak tahu.
“Buat mereka terjatuh dalam kesalahan pikiran mereka sendiri. Kita hancurkan mereka dari dalam. Hanya cara iblis inilah yang sudah teruji di lapangan.”
Ψ
Pondok Al Ikhlas target operasi kami. Jumlah santri berjumlah sekitar 200-an. Kegiatan harian akan menyibukan mereka sehari-hari. Saat itulah aku akan datang dengan menyamar menjadi tukang kebun yang minta pekerjaan atau penjual pakan ternak menawarkan rumput pada mereka. Jika satu pintu gerbang sudah dibuka, aku akan mudah masuk. Selanjutnya aku akan memperkeruh suasana, lalu dengan mudah memancing ikan besar yang sudah megap-megap itu. Tak kusangsikan inilah rencana paling brilian abad ini!
Ψ
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja Ustadz: bersih-bersih kebun, mencari pakan kambing- yang penting dapat makan dan tempat tinggal.”
“Saya minta maaf, saya tidak bisa membantu saudara. Di sini semua pekerjaan sudah dikerjakan anak-anak.”
“Tolong Ustadz, saya mau tidak dibayar asal masih dapat makan.”
“Maaf, sekali lagi anak muda, semua anak di sini diharuskan bekerja, biar menjadi latihan bagi mereka mencari penghidupan setelah keluar dari pondok. Itulah sebabnya hampir semua pekerjaan sudah kami tangani sendiri. Kami hanya punya kebun-kebun yang sampahnya kami biarkan menjadi pupuk kompos atau menjadi humus bagi tanah. Untuk kambing-kambing itu cukuplah kami berikan makanan berfermentasi, sehingga siapapun tidak perlu untuk mencarikan rumput setiap hari.”
“Tapi Ustadz, saya butuh sekali pekerjaan -apa saja asal dapat makan sudah cukup.”
“Anak muda, kamu bersikeras sekali. Mengapa tidak mencoba di tempat lain? Di warung-warung, atau mungkin di bengkel-bengkel pinggir jalan itu yang butuh tenaga.” Continue reading

Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya

index
dimuat di joglosemar Slogan ‘Karanganyar Maju dan Berbudaya’ memberikan dorongan dan konsistentensi yang kuat untuk membentuk perilaku positif. Mungkin “Maju dan Berbudaya” menegasikan slogan sebelum Karanganyar Tentram, yang lebih identik dengan stagnan, dan kurang progresif. Karanganyar berbenah di era kepemimpinan YU-RO (Yuliatmono dan Rohadi Wibowo). Kemajuan infrastruktur menjadi ukuran yang ingin ditampilkan dari di bidang pembangunan, terutama jalan dan berbagai tempat publik. Peremajaan gedung-gedung diagendakan sebagai bagian dari modernisasi wajah Karanganyar. Relokasi pasar Jumat yang kemarin menimbulkan penolakan tetap dijalankan demi pembangunan ke arah kemajuan dan maslahat kota Karanganyar, yang kini diwujudkan dengan open space di sekitar alun-alun Karanganyar. Masyarakat Karanganyar pasti mengamini kalau pemimpin kali ini adalah tipe yang gigih ingin memajukan pembangunan Karanganyar. Pun, slogan berbudaya getol dicanangkan Karanganyar. Perlindungan terhadap cagar budaya dengan menggelar pameran cagar budaya yang digelar pada acara milad Karanganyar kemarin. Rencana pembangunan sekolah pariwisata yang bernilai 4 milyar yang kelak akan menjadi jualan kota Karanganyar yang berada di lereng gunung Lawu, yang banyak memiliki aset pariwisata, yang tentu kelak akan menambah pemasukan pendapatan daerah. Dan Karanganyar masih memiliki banyak tempat wisata indah lainnya yang tentu saja menuntut perhatian pemerintah Kabupaten untuk merawat dan tidak rusak berbagai kepentingan oknum yang opurtunis. Pujian akan tetap ada untuk YU RO dan kritikan masih akan terus berlangsung selama keduanya memimpin Karanganyar –minus pro kontra kepemilikian tempat wisata Grojogan Sewu yang masih belum kelar dan plagiatisme logo Karanganyar Maju dan Berbudaya yang menjiplak SEA Games ke-26 yang dilaksanakan di Palembang. Continue reading

Tragedi Rok Mini

images
Ratna buru-buru melepas jilbab yang ia kenakan, ia masukkan dalam tas. Jilbab itu hanya akan menutupi rambut yang lurus indah yang baru saja ditreatment paling mahal di salon. Apalagi sebentar lagi Hengki datang menjemputnya.

Ya, Hengki adalah seorang pekerja advertising sukses. Gajinya setiap bulan puluhan juta. Ratna sudah jatuh cinta kepada Hengki sejak SMA. Dan sekarang Hengki mau mengajak makan malam. Ini sungguh kebahagiaan luar biasa untuknya. Kalau Hengki nanti tidak nembak duluan, ia tak akan malu menyatakan cinta padanya, putus Ratna.

Mobil Avansa itu berhenti tepat di depan Ratna. Ratna mengembangkan senyuman. Hengki yang tampan itu turun dari mobil seperti sesosok pangeran dalam sinetron.

“Maaf, sudah lama nunggu?” tanyanya penuh simpati membuat Ratna melambung.

“Ah, nggak. Baru aja kantor selesai kok,” jawab Ratna dengan tetap memasang senyum.

Tak apa sedikit berbohong. Padahal sudah setengah jam lalu kantor tutup.

Hengki dengan gentleman membuka pintu mobil, membiarkan Ratna masuk. Di dalam mobil Ratna masih diam, tapi tangannya sesekali menyentuh rambut yang tergerai indah itu.

Hengki memperhatikan itu. “Tumben jilbabnya dilepas.”

“Ah, iya. Sekarang cuaca kan panas sekali. Pasti ini karena global warming ya.”

“Oh, gitu. Tapi bagus kok kalau dibiarkan tergerai seperti itu. Kamu cantik.”

“Ah, biasa saja kok.”

Sebenarnya batin Ratna melambung ke langit ke tujuh.

“Betul. Sumpah deh.” Hengki bersikeras, membuat Ratna makin melambung ke langit ke delapan. Ia tersenyum menatap ke depan, dan merasa makin senang ketika Hengki memegang jemari tangannya lalu dicium tepat mulutnya. Bagi wanita artinya itu adalah pengaguman tingkat tertinggi terhadap wanita.
Continue reading