Suami untuk Farida

dimuat di Lombok Post 11/6

Farida menangis lagi. Tersedu-sedu sampai terguncang. Hingga tangan Ayahnya memegang pundaknya. Ayahnya keluar dari mobil tak tega demi melihat pemandangan yang menghibakan itu.
“Ayo kita pulang, tak baik menangis di kuburan.”
“Aku hanya ingin mengadukan semua kesedihan ini Ayah.”
“Kubur ini tak akan bisa memberi jawaban. Ayo kita bicarakan ini di rumah. Tak ada masalah yang tak punya jalan keluar.”
Kata-kata Ayahnya bagi cambuk bagi Farida yang sudah tenggelam dalam kesedihan itu. Ia masih mengusap air matanya ketika mengikuti Ayahnya ke dalam mobil.
Sepulang dari kuburan, Pak Rosidi memanggil istri dan kedua adik Farida yang lain. Aji masih kuliah di kedokteran dan Umi masih di semester pertama psikologi. Farida, adalah anak tertua. Ia menikah dengan Rustam, lelaki yang hobi bercocok tanam itu. Farida agak buruk rupa. Bibirnya sumbing. Itulah salah satu hal yang membuat seluruh keluarga bahagia ketika Rustam yang polos dan lugu itu mau mempersunting Farida. Tetapi kebahagiaan Farida hanya seumur jagung. Ketika Rustam pulang dari sawah dengan sepeda motornya, sebuah bus keparat menabrak dan meninggalkannya sekarat di tengah jalan. Rustam mengalami pendarahan hebat di kepala. Kemungkinan sembuh sedikit sekali. Andaikata sembuh, ia pasti mengalami gegar otak parah. Continue reading

Belati Si Bromocorah

dimuat di Lombokpost

beruangsemenanjung.blogspot.com_

Kabar burung yang beredar pendatang baru yang tinggal di ujung komplek perumahan ini adalah seorang bromocorah. Ia pernah beberapa kali merampok toko emas dan sekali membunuh seorang preman di Jakarta. Kepulangannya ke Solo karena menjenguk adiknya yang ditahan karena kasus terorisme. Mengenai adiknya sendiri, setahu kami, dia jarang terlihat di rumah. Ketika sekali dua kali lewat ia hanya menyapa dan memberi salam. Tidak ada yang mencolok kecuali cara berpakaian ia berbeda dari orang kebanyakan. Namun ini kan soal selera sebenarnya. Jika dia bercelana cingkrang dan senang memakai baju koko itu merupakan pilihan dia.

Karena adiknya sudah di penjara, kami tak terlalu khawatir dengan hal itu. Tapi kami lebih memikirkan tentang si bromocorah dari Jakarta itu. Ketika ia datang ke warung memesan kopi, kami ingat bagaimana sikapnya yang mengesankan kewaspadaan tinggi. Seakan ia buron polisi yang sedang melarikan diri. Matanya sesekali melirik kami dengan tajam. Di lengannya terlihat tato dan beberapa bekas luka di lengannya. Tampaknya semua itu bekas perkelahian yang kejam bukan karena jatuh main sepedaan.

Continue reading

Peziarah Lawu

dimuat di Solopos (2/4)

Bayu sedang tidak tertarik mitos Sendang Drajat sekarang. Alih-alih ia hanya butuh berhenti sebentar di sendang itu untuk membasahi tenggorokan yang kering setelah pendakian 4 jam tanpa henti dari Cemoro Sewu dan terus menerus diterpa cuaca buruk sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, ia bersyukur berhasil mendaki sejauh ini meskipun belum sampai ke puncak. Sejenak ia teringat saat Mamanya melarangnya habis-habisan melarangnya mendaki Lawu.

“Bayu kan laki-laki, Ma. Biarin aja. Lagipula dia bersama teman-temannya,” bela Ayahnya.

“Sama saja. Tetap sama berbahayanya! Pokoknya tidak boleh,” Mamanya ngotot.

Bayu merasa berdosa karena membohongi Mamanya. Sebenarnya ia hanya sendirian. Bisa dikatakan Bayu terdorong ke puncak Lawu ini lantaran sebuah pesan misterius dari mendiang kakeknya. Kalau diibaratkan layang-layang, pesan Kakeknya adalah angin yang menerbangkan dirinya hingga sejauh ini.

Ya, kakek Bayu adalah semasa hidupnya adalah seorang penganut teosofi kejawen. Kakeknya itu senang melakoni laku hidup dengan prihatin dan tirakat, seperti berpuasa tujuh hari atau kadang melakukan ziarah ke puncak gunung untuk bertapa. Kakeknya meminta Bayu mengembalikan sebuah Lingga untuk diletakkan di puncak Argo Dumuling . Batu berbobot tiga kilogram, yang sekarang berada di dalam tas ransel Bayu itu, adalah simbol kesuburan dalam ranah agama kuno.

Begini pesan yang tersurat secara eksplisit untuk Bayu itu.

Kepada cucuku kelak…
Kalau tiba waktunya, antarkan batu Lingga ini ke puncak Argo Dumuling di puncak gunung Lawu. Di sana ada sebuah batu besar, letakkan batu itu di atasnya. Seseorang yang telah lama menunggu akan mengambilnya. Saat itu janjiku telah terpenuhi.

Ada urusan apa kakeknya harus mengembalikan lingga itu ke gunung Lawu masih menjadi misteri bagi Bayu. Kakeknya banyak mempunyai koleksi benda-benda antik di rumah. Setelah meninggal dunia, semua benda pusaka itu dirawat Ayahnya. Namun ayahnya hanya menyimpan benda-benda itu seperti koleksi barang antik. Barulah ketika Bayu tertarik membuka beberapa buku-buku lawas yang ditulis kakeknya, ia tak sengaja melihat sebuah pesan yang tertindih sebuah batu lingga. Continue reading

Nyala Mata Ibu di Mata Akik Kamidi


Gosip menggosip, gunjing menggunjing adalah sebagian keahlian para ibu-ibu warga kampung Gaum. Gosip murahan tentu yang digemari para ibu-ibu itu. Tidak di arisan atau belanja sayur di warung, gosip itu telah menjadi bara yang membakar rumah, kampung, bahkan langit sekalipun!

“Kasihan Yu Saerah, Simboknya Kamidi itu sekarang buta. Harta anaknya yang segudang penuh ndak bisa membuatnya melek lagi!”

“Tak perlu kasihan. Itu kan akibat polah tingkahnya dulu sewaktu muda?”

“Emang dia ngapain, Yu?”

“Masak belum dengar sih? Dia kan punya perjanjian dengan jin Bandungan!”

Begitulah, gosip murahan disebar dan diberitakan seakan sebuah makanan dari langit untuk warga kami. Puncaknya sebagian warga menuduh bahwa Yu Saerah punya ingon-ingon[1] jin yang sekarang mengambil matanya.

***

Sebagai anaknya, Kamidi, merasa tidak terima Simboknya difitnah sedemikian keji. Dia ngudarasa[2] di sarasehan kampung yang digelar setiap malam Purnomo Sidhi[3] itu.

“Bapak-bapak yang saya hormati, saya di sini ingin mengutarakan kegundahan saya. Sebagian bapak-bapak ini mungkin sudah tahu, atau malah seluruh kampung ini sudah tahu. Tolong nasehati istri-istri panjenengan semua! Jangan suka menggunjing dan mengghibah Simbok saya! Malah, kalau boleh dikata ini sudah jatuh fitnah dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Peserta sarasehan itu sama kasak-kusuk. Continue reading

Ampo

dimuat di Republika
ujan-55f99a08179373c90d894bd9
Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran ini yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

“Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijasahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?”

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktifitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin mengambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji di sini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti jaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijasah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat hanya pelajaran umum saja. Continue reading

Kisah Deswita Mencari Pembunuh Suaminya

Dimuat di Tabloid Nova
mqdefault
Rumah yang doyong ke kiri dan mau rubuh itu adalah rumah seorang perempuan yang konon cantik luar biasa. Perempuan yang tak pernah kenal takut dengan para lelaki. Oh, nama perempuan itu adalah nama yang sakral. Jangan kau sebut di hadapan para lelaki yang pernah dipercundanginya. Jangan kau menyalakan kembali bara di dalam dada mereka.

Memang jika kau menyebut nama perempuan itu di depan mereka, buru-buru mereka akan membantah, atau mencari-cari celah bahkan tak segan mengarang bahwa perempuan itu seorang pendusta, pezina dan tak tahu malu.

Lalu bibir para lelaki itu tak akan henti mencibir, meludah sesudah menyebut nama perempuan itu.

“Deswita itu sudah kusumpah tak akan pernah berbini sampai mati! Tunggu saja kelak di masa tuanya, ia akan merangkak-rangkak ke kaki setiap pria yang lewat di depan rumahnya, sekadar mau tidur dengannya.”

“Tubuhnya kelak akan reyot seperti kayu lapuk, lalu saat itupula ia akan merasa bahwa waktu muda ia menyia-nyiakan kesenangan yang hendak ditawarkan padanya. Tapi, penyesalan pun tak akan berguna baginya.”

Menurutku tak ada lelaki yang mengucap baiknya tentang Deswita. Semua menganggap Deswita seakan musuh, seakan seteru yang harus dibunuh, atau kalau tidak dibunuh harus ditawan dan dijadikan budak miliknya.

Aku sendiri perempuan yang hidup bersama suamiku. Sepanjang hidup kami menikah, suamiku tak banyak bicara tentang Deswita. Walau kudengar dulu, ia pernah juga datang kepada dirinya, dan menawarkan diri menjadi suami. Deswita yang saat itu jadi kembang desa dan banyak dikerubuti para pemuda, menolak suamiku. Mungkin karena suamiku adalah seorang pemuda biasa, yang sekedar buruh di kota. Wajah suamiku pun tak terlalu tampan. Tak banyak pula yang bisa diberikan.

Tetapi aku yakin Deswita bukan orang seperti itu, yang mata duitan, yang melihat para lelaki karena uang dan harta yang akan ia terima sebagai mahar perkawinan. Aku merasa hal itu sedikit benar. Karena ketika aku menikah dulu, makin banyak kuketahui perangai suamiku yang asli. Yang dulu ramah, sekarang mulai kasar. Yang dulu suka memberi hadiah, kini selalu tak segan membentak hanya karena aku meminta sesuatu. Bagiku perubahan itu tetap kuanggap sebagai sesuatu hal yang harus kuterima karena aku istrinya. Sebisa mungkin menyabarkan diri. Mencoba menerima apa adanya suamiku. Karena dengan mengimbangi itulah perahu perkawinan kami tak akan mudah karam diterpa gelombang.

Namun kadang aku menjadi selalu ingin tahu tentang Deswita. Ada rasa kagumku yang makin membesar ketika lewat rumah yang mencong ke kiri mau roboh itu. Ketika lewat hanya kutandai dapurnya yang mengepulkan asap pertanda ada kesibukan di dalamnya. Atau di sore hari, kudengar suara orang memecah kayu, barangkali untuk memasak esok hari. Deswita memang jarang keluar. Dan hal inilah membuat aku penasaran ingin berkunjung padanya.

Hari itu minggu sore kubawakan sayur beserta lauk kambing untuknya. Sengaja pula aku mencari lena suamiku yang kini sedang pergi ke rumah ibunya. Alasanku ingin mampir dan membawakan makanan ini memang kurang terpuji. Aku adalah orang baru di kampung ini yang dibawa dari rumah orang tuaku. Karena mendengar kemashyuran Deswita itulah aku ingin mencari tahu bagaimanakah sebenarnya perempuan yang menjadi kembang desa yang dulu pernah diincar suamiku dan para pemuda di kampung, yang kini namanya jatuh menjadi celaan seluruh kampung. Apakah memang benar begitu kenyataan yang sebenarnya? Karena aku sendiri tidak yakin bahwa mulut orang kampung mengandung kebenaran dalam menilai Deswita.
Continue reading

Topeng Monyet Pilkada

dimuat di litera Joglosemar

“Kalian tahu pekerjaan yang kita lakukan semalam pasti akan lebih berguna di kota. Kabarnya persaingan politik di Ibu kota lebih panas. Kita pasti akan mendapat uang banyak dari setiap juragan yang kita temui,” kata si pemimpin topeng monyet itu sambil menghembuskan rokok.

Rombongan pengamen larang-topeng-monyet-jokowi-halangi-rakyat-cari-makan-halaltopeng monyet itu makin bergegas. Mendung gelap menggantung alamat hujan deras. Lima belas menit mereka harus sudah sampai di desa sebelah. Kliwon, kera mereka yang bersepeda motor kayu ditarik oleh si pemimpin rombongan sendiri, seorang tua yang berambut putih sekitar umur lima puluhan yang sering dipanggil mbah Mbesur, karena memperlambat perjalanan, kini rantai itu digulung sedangkan si Kliwon ganti naik ke pundak si lelaki tua itu.

Dua orang anak kecil di belakangnya membawa peralatan musik yang sederhana. Bagong, yang bertubuh gendut membawa kendang untuk ditabuh ketika memanggil orang-orang mendekat. Bendot, yang lebih kurus membawa kenong. Baik kendang maupun kenong fungsinya sama.

Seorang lagi bertubuh kurus tinggi yang biasa menyembunyikan wajahnya di balik topi yang juga digunakan sebagai pelindung panas itu, membawa peralatan si Kliwon ketika beraksi: sepeda motor dari kayu, payung, dan juga sebuah meja kursi kecil –semua properti itu diikat menjadi satu biar mudah dibawa.

Tak ada yang bicara selama berjalan bergegas itu. Si Kliwon yang duduk di pundak mbah Mbesur karena sudah bosan memainkan topi si pemimpin rombongan yang sudah berwarna tanah itu, kini matanya terus-terusan memandangi jalanan di depan yang serasa tak berujung.

Ternyata hujan lebih cepat turun dari perkiraan mereka. Untunglah ada sebuah gardu poskamling yang kosong dan terbuka. Mereka masuk ke dalam. Semua peralatan segera dibawa masuk agar tidak rusak. Napas ngos-ngosan setelah berlomba dengan hujan yang menderas

Si Kliwon berputar-putar hingga membuat tali itu kusut sendiri. Mungkin ia bosan di dalam gardu yang sempit itu dan ingin bermain hujan di luar. Anclung yang menyandarkan punggung batuk-batuk sebentar.

“Mungkin sampai malam hujan ini baru reda,” ujarnya.

Memang benar langit begitu hitam. Si pemimpin rombongan juga melihat hal itu. Terpaksa malam ini mereka harus tidur di gardu keamanan desa ini.

“Kau lapar, Gong? Bendot, kamu juga lapar tidak?” tanya mbah Mbesur pada Bagong dan Bendot. “Kalau lapar, kalian bisa kau buka bungkusan itu. Aku sama Anclung nanti belakangan.” Continue reading