Guru Menulis sebagai Agen Masyarakat Adiluhung untuk Mengcounter Berita Hoax di Lini Massa

Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik, masyarakat dijejali informasi yang begitu deras mengalir sampai ke pojok-pojok kamar tidur melalui berbagai media massa. Informasi, menurut Peter F Drucker, sudah bersifat transnasional yang tak ada lagi batas-batas nasional. Dengan sifat transnasional tersebut, informasi global, melemahkan dan menghancurkan identitas nasional kemudian menggantikannya dengan identitas kebudayaan baru. Artinya juga, informasi (pengetahuan) yang menjadi faktor penentu bagi eksistensi masyarakat baru yang disebutkan sebagai masyarakat pascakapitalis. Dalam masyarakat baru tersebut sumber sumber ekonomi dasar bukan lagi modal, (kapital) sumber daya alami bukan pula tenaga kerja, tetapi pengetahuan. Kekuatan informasi itu pula yang juga diyakini oleh Alvin Toffler sebagai The Highest Quality Power, lebih tinggi daripada Money Power dan Muscle Power.

Nah dalam kondisi milineal seperti inilah membanjirnya informasi dalam banyak hal membuat masyarakat tidak berdaya. Apalagi informasi dan berita hoax merupakan salah satu ekses negatif yang tumbuh subur di generasi milenial jaman ini mengalahkan variabel-variabel komunikasi lainnya.

Secara definitif, hoax adalah pemberitaan palsu untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mereka mempercayai dan meyakini sesuatu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. (wikipedia).

Masyarakat Indonesia pun gemar merayakan hoax. Seperti pernah terjadi pada kasus meninggalnya Uje. Adanya penampakan foto awan yang berbentuk sosok orang berdoa di atas tempat kecelakaan sang ustadz gaul itu. Akibatnya, tanah dan tempat kematian Uje dikeramatkan, diambil, dan dibawa pulang sebagai jimat dan media kesyirikan. Bahkan hal itu berlanjut kepada sengketa permasalahan kubur Uje karena banyaknya peziarah yang ingin ngalap berkah kepada almarhum.

Contoh lainnya adalah berita hoax pengungsi Rohingnya diduplikasi hampir sebagian besar oleh muslimin Indonesia dan menjadi trending topic di lini massa. Dari istri presiden Turki yang datang ke Aceh. Tapi beberapa dari berita tersebut adalah berita hoax semata.

Sebenarnya tidak hanya Indonesia saja, dari luar negeri juga sering terjadi dan parahnya langsung diimpor oleh media Indonesia. Misalnya kejadian yang belum lama terjadi, media Arab dan Israel digemparkan dengan berita seorang biarawati El Savador yang melahirkan Isa Al Masih. Beberapa koran dan media digital Indonesia ikut melansir berita tersebut dengan tajuk Isa Al Masih telah lahir. Diberitakan sebelumnya biarawati asal El Salvador berusia 31 tahun tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil dan tiba-tiba melahirkan seorang bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram. Pun hal ini berkaitan dengan kematian Ariel Sharon, fenomena Arab Spring (peperangan besar yang sekarang melanda sebagian negara di Timur Tengah dan perang besar di Suriah). Diramalkan anak biarawati itu adalah Isa Al Masih yang akan memimpin dunia untuk membunuh Dajal. Menurut Rabi Yahudi, yang bernama Yatsahaq Kaduri, dengan hadirnya Dajjal akan terjadi perang sengit antara para pengikutnya dan penentangnya. Sepertiga penghuni bumi akan terlibat dalam perang yang berlangsung selama tujuh tahun ini. Kaduri percaya semua penentang Dajjal akan tewas dan akan muncul kekacauan hebat.

Namun sehari kemudian dilansir klarifikasi kelahiran “Bayi Imam Mahdi” itu adalah hoax semata. Setelah mendapat pelbagai respon luar biasa dari masyarakat Arab, biarawati yang bernama Roxana Rodriguez itu akhirnya mengaku bahwa ia telah melanggar sumpahnya untuk hidup selibat. Ia mengaku melakukan hubungan seksual dengan seorang lelaki ketika ia tidak tinggal di biara. Selama ini ia menutupi aib itu di gereja hingga aibnya terbongkar ketika anaknya lahir. Akibatnya masyarakat balik mencaci maki perempuan yang ‘tidak jadi melahirkan Imam Mahdi’ itu. Continue reading

Advertisements

Tragedi Cinta dalam Sastra


(Resensi Kumcer Balada Bidadari, Yuditeha)
Resensi andri saptono*

Judul buku : Balada Bidadari (kumpulan cerpen)
Penulis : Yuditeha
Penerbit : Kompas
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 133 hlm

Menulis adalah menjauhi rasa sakit dan merayakan cinta (Atmokanjeng)

Menulis cerpen sastra yang bertemakan cinta tragedi adalah pekerjaan ganda sekaligus. Penulis diharuskan berpikir dan juga merasakan nasib tragedi cinta para tokohnya. Yuditeha, dalam antologi cerpen, Balada Bidadari (2016), yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini, menulis kisah cinta para tokohnya yang terkadang di luar logika sekaligus berusaha memasukkan empati di dalamnya. Penulis seperti ini memang tidak banyak yang berhasil, Yuditeha sedikit saja yang berusaha ajeg agar cerpen itu menarik dibaca juga tidak sepi makna.

Cerpen yang terbaik dalam antologi ini, Rusmiyati, mengisahkan balada cinta seorang penari wayang orang. Ia jatuh cinta pada seorang tokoh pejabat yang menurut Rusmiyati adalah sosok Arjuna baginya. Rusmiyati pasrah saja ketika ia hamil dan tak bisa menuntut apa-apa dari sang kekasih itu karena lelaki itu sudah berkeluarga. Konflik ini menjadi tidak biasa, karena justru orang lainlah, sang aku tokoh, yang memposisikan sebagai kacamata norma dan nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri. Padahal, Rusmiyati, melakoni cinta yang “bermasalah” itu dengan berbunga-bunga.

Lebih menarik, adalah Yuditeha bermain-bermain dalam dekonstruki cerita rakyat yang sudah terkenal di Jawa. Ada dua cerita rakyat di antologi ini yang juga bertemakan cinta. Kisah Sangkuriang dengan dongeng Tangkupan Perahu (digubah menjadi Lelaki Sampan), dan kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari (Balada Bidadari). Ketika cerita ini digubah menjadi kisah kekinian, Yuditeha membuat alur yang gotik. Bidadari dengan sayap patah, patung, seniman patung, cemburu, pertengkaran menjadi warna yang suram. Atau ketika Sangkuriang yang awalnya flamboyan menjadi murung justru ketika ia bertemu “cinta sejatinya”, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Dari kedua cerpen ini Yuditeha lebih menekankan unsur psikologis pada konflik antar tokohnya bukan pada kesaktian tokoh yang biasanya menjadi daya pikat dari cerita rakyat.
Continue reading

Meruwat Kemerdekaan Indonesia: Sejahtera Tanpa Korupsi

Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan indonesia
untuk kedua kalinya!

Hal-hal yang mengenai
hak asasi manusia
utang-piutang
dan lain-lain
yang tak habis-habisnya
INSYA ALLAH
akan habis
diselenggarakan
dengan cara saksama
dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret 1992
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh – siapa saja

Prolog
Sebuah sajak parodi berjudul Proklamasi, 2 yang digubah penyair Hamid Jabbar menjadi cerminan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kita ternyata masih sering sarapan pagi bersama televisi yang menyiarkan berita korupsi yang makin menggurita. Korupsi yang sejatinya menggagalkan makna kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap 17 Agustus ini.
Barangkali, kita memerlukan semacam seremonial yang besar. Yang lebih megah dari sekadar peringatan tujuh belasan dan upacara bendera. Kita memerlukan sebuah ritual luar biasa daripada gegap gempita dentuman meriam di istana negara. Kita memerlukan sebuah ruwatan massal, yaitu ruwatan kemerdekaan Indonesia dalam jiwa sanubari sendiri. Ruwatan sejatinya lebih dari merawat, tetapi mengembalikan hakikat dan martabat kemerdekaan Indonesia yang sejati.

Negara Siaga Korupsi
Di negeri yang konon terkenal subur serta gemah ripah loh jinawi ini, entah mengapa korupsi terjadi setiap hari. Kita lantas bertanya, apa yang salah dengan negeri ini?
Sungguh, Indonesia mendapat peringkat ketiga dalam kuantitas kejahatan korupsi yang menyaingi negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada 8 Maret 2010 PERC (Political & Economic Risk Consultancy) menempatkan Indonesia pada ranking pertama dari 16 negara terkorup di Asia Pasifik. Pada periode tahun 2001-2009, jumlah uang yang dikorupsi mencapai Rp 73,07 triliun. Namun total nilai hukuman finansial yang dijatuhkan kepada pelaku hanya Rp 5,32 triliun atau 7,29 persen dari total dana yang dikorupsi. (infokorupsi.com). Selama kurun waktu 2016, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan 17 operasi tangkap tangan (OTT) tersangka kasus tindak pidana korupsi. Hingga yang paling menghebohkan di awal tahun 2017 ini kasus korupsi E-KTP, yang merugikan negara hampir 2,3 trilyun. Bahkan, di tingkat desa penulis sendiri ada indikasi penggunaan Dana Desa (DD) yang tidak tepat. Mulai dari potongan PPH, PPN, dan potongan administrasi lainnya sebesar 16,5 %, yang menyunat bantuan Dana Desa tersebut.
Sungguh mempertanyakan banalitas korupsi adalah seperti menuduh kepada diri sendiri bahwa korupsi telah menjadi milik kita semua. Seperti yang disampaikan oleh Cak Nun, barangkali karena kita terlalu sibuk membangun teknologi eksternal sehingga lupa membangun dengan arif bagian teknologi internal. Jelasnya lagi yang ia maksud dengan term eksternal dan internal dalam konteks korupsi sejalan dengan yang disampaikan oleh Tamrin Amal Tomagola. Dimulai dari hal kecil tatkala kita bekerja tidak sungguh-sungguh atau seorang anak yang khawatir mendapatkan nilai buruk saat ulangan di sekolah, memilih untuk menulis contekan daripada belajar giat. Waham korupsi sejak dini ini jika kemudian menjadi kaidah bersama di kalangan peserta didik, sejak di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pun korupsi menggagalkan makna kemerdekaan seperti pesan para founding father daripada bangsa ini. Sebagai rakyat kita hanya membayangkan jika uang yang dikorupsi tersebut digunakan untuk investasi, paling tidak hasilnya akan memberi peluang kerja bagi orang miskin dan hasil produksinya dapat mendorong angka pertumbuhan ekonomi.
Data yang diluncurkan oleh BPS BPS (Biro Pusat Statistik) mengenai angka kemiskinan maka kita akan memperoleh informasi bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 berjumlah 31,02 juta orang (13,33 persen). Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen. Arti dari semua ini adalah betapa uang yang sejatinya didistribusikan untuk rakyat telah dimakan habis para koruptor bangsat itu!
Ya, begitulah nasib kita. Bahkan ada sebuah anekdot lucu mengisahkan nasib generasi Indonesia di jaman sekarang. Konon, kekayaan kita sejatinya tak akan habis untuk tujuh turunan, namun sayang disayang, generasi kita adalah keturunan ke delapan. Begitulah, sungguh malang nasib kita, baik kekayaan atau kemerdekaan di atas kaki sendiri, itu pun sudah tak kita miliki.

Membangun Gerakan Sosial antikorupsi
Dalam rangka memberantas korupsi, dunia internasional telah menandatangani deklarasi pemberantasan korupsi di Lima, Peru pada tanggal 7-11 September 1997 dalam konferensi anti korupsi yang dihadiri oleh 93 negara. Deklarasi yang kemudian dikenal dengan Declaration Of 8th International Conference Against Corruption diyakini bahwa korupsi mengerosi tatanan moral masyarakat, mengingkari hak-hak sosial dan ekonomi dari kalangan kurang mampu dan lemah. Konferensi tersebut juga mempercayai bahwa memerangi korupsi adalah urusan setiap orang dari setiap masyarakat. Memerangi korupsi mencakup pula mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai etika dalam semua masyarakat. Karena itu sangat penting untuk menumbuhkan kerjasama diantara pemerintah, masyarakat sipil, dan pihak usaha swasta.
Hal ini pulalah yang membuat Presiden Jokowi keroyo-royo mencanangkan revolusi mental kepada bangsa ini, yaitu revolusi yang bertumpu pada tiga nilai, yaitu integritas, etos kerja, gotong royong. Artinya pula, presiden sebenarnya ingin semua warga masyarakat republik indonesia ini harus direvolusi mentalnya. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mendukung program revolusi mental berkenaan dengan program antikorupsi adalah gerakan sosial antikorupsi. Gerakan sosial antikorupsi ini harusnya juga diinisiasi oleh semua institusi di negara ini. Entah itu pemerintahan, pendidikan, usaha dan bisnis, ataupun pariwisata misalnya. Pun seyogianya gerakan semacam ini tentu bisa menjadi pioner bagi gerakan-gerakan antikorupsi lainnya. Entah itu mungkin akan dilanjutkan mendirikan sekolah non-formal antikorupsi, membentuk paguyuban petani antikorupsi, mendirikan pengusaha antikorupsi, komunitas aparatnegara anti korupsi, dsb. Dan harapan kita semua kelak gerakan sosial antikorupsi di masyarakat ini bukan sekedar seremonial belaka atau ritual tahunan dalam rangka menyambut HUT kemerdekaan bangsa Indonesia ini.
Masyarakat sebenarnya mengharapkan hukuman yang lebih keras dan tegas terhadap koruptor agar tercipta efek jera. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang diperbarui dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatur hukuman mati bisa dijatuhkan kepada pelaku korupsi apabila tindak pidana itu dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan UU yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Namun, dalam Rancangan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diajukan tahun 2008, ketentuan hukuman mati bagi koruptor tak dikenal. Sejumlah ketentuan berkaitan dengan ancaman hukuman lebih ringan dari UU sebelumnya.
Mungkin agar wacana hukuman mati kembali mencuat, dukungan terhadap pelaksanaan hukuman mati hendaknya harus dilontarkan kembali seperti Majelis Ulama Indonesia, NU, Muhammadiyah, atau organisasi agama di Indonesia ini agar lebih berperan dalam pemberantasan korupsi. Kisah Nabi Muhammad SAW yang akan memotong tangan Fatimah binti Muhammad seandainya putrinya itu mencuri, bisa menjadi sebuah pembelajaran yang amat berharga bisa disampaikan lewat kultum (kuliah tujuah menit) di masjid atau di saat tabligh akbar agar wacana antikorupsi ini tidak mengendor. Selain juga bagaimana mengefektifkan kembali organisasi keagamaan ini mensosialisasikan pesan sosial antikorupsi dalam setiap kesempatan yang ada.

Epilog
Mungkin malam ini, di hampir di seluruh sudut desa dan kota di Indonesia, sebagian besar warga masyarakat Indonesia sedang menggelar tirakatan malam kemerdekaan. Mencoba menggali makna dan tujuan proklamasi kemerdekaan sekaligus berdoa untuk kemerdekaan yang sejati untuk negeri ini. Dan dalam hening dan khusuk doa, marilah kita sejenak menanamkan pada diri sanubari untuk mewaspadai penyakit korupsi dalam diri kita. Gerakan sosial antikorupsi harus diinisiasi di semua lini. Dimulai dari keluarga harus betul menanamkan sikap selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja agar tidak tercipta mental koruptor. Dan dalam ranah bernegara mari kita dukung bersama lembaga pengawas terhadap tindak pidana korupsi (KPK) dan mendukung ormas keagamaan untuk menjadi pelopor yang terus menghasung umatnya untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Barangkali, itulah bentuk ruwatan massal yang diperlukan oleh jiwa bangsa kita yang sakit ini. Ruwatan hati sanubari kita sendiri yang akan memberikan dampak positif bagi lingkungan kita dan utamanya negara Indonesia tercinta ini. Walhasil, kelak kita bisa berharap negara Indonesia ini akan benar-benar menjadi negara gemah ripah, lohjinawi, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Semoga.

Back to blog again!

Sudah lama tidak menulis di blog. Beberapa kegiatan yang menarik terlewatkan dari blog. Padahal seharusnya ini bisa menjadi postingan yang menarik.

Baiklah, sekarang aku sudah membuatnya di androidku. Semoga saja ini bermanfaat.

Salam

Air Mata Orang Tua teruntuk Anaknya

dimuat di Solopos

Sanyoto melihat malam ini cuaca terang. Langit bersih. Kelihatannya ia bisa mengeluarkan becaknya malam ini. Tubuhnya masih bisa dipaksa. Demi kontrakan dan yang terpenting bisa membayar uang syahriah (uang bulanan) anaknya yang di pondok. Yang terakhir ini ia harus prioritaskan lebih dari yang lain. Baginya anak adalah investasi dunia akhirat.

Sanyoto salin baju tebal. Kaos kaki panjang ia pakai. Handuk kecil terlilit di leher. Untuk berjaga-jaga ia juga mengantongi balsem di saku.

Sanyoto biasa mengetem di perempatan Papahan. Terkadang masih ada satu dua penumpang saat malam begini. Lumayan, bisa buat tambahan membeli lauk. Namun, akhir-akhir ini pendapatannya berkurang. Tukang becak kalah bersaing dengan ojek online atau taksi yang bersliweran. Untunglah sesekali ada saja penumpang yang minta diantar ke PKU Muhammadiyah itu.

Khusus untuk orang yang ingin ke PKU, entah itu menjenguk orang sakit atau menunggu pasien, Sanyoto tak pernah menarik tarif. Mau dikasih berapa saja ia mau. Alhamdulillah, cara ini membuatnya tidak kemaruk. Toh, rejeki sudah diatur.

Sanyoto sudah hampir sampai di tempat biasa ia ngetem. Dia menyebrang agak lama karena kondisi tubuhnya yang masih belum sehat benar. Kawannya tukang becak yang lain, Parjo, ternyata tidak ada. Kata Yu Darmi, bakul sate lontong lesehan itu, Parjo sedang punya hajat mengkhitankan anaknya.

“Sudah kelas enam, anaknya pengin disunat,” ujar Mbok Darmi yang sibuk mengemasi dagangannya.
Sanyoto ingat kemarin saat ngobrol dengan Parjo. Soal anaknya yang sudah minta khitan dan niatan Parjo menyekolahkan anak semata wayangnya itu ke pondok. Biar anaknya punya landasan agama yang baik. Kalau di sekolah umum, kurang banyak porsinya, cerita Parjo.

“Mbok Darmi, saya bisa titip ya mbok? Sebentar…”
Sanyoto bergegas turun dari becaknya menuju ke sebuah warung kelontong. Di sana ia membeli amplop. Setelah itu uangnya yang hanya selembar lima puluh ribu itu ia masukkan di amplop. Sedianya uang itu untuk nambah biaya kontrakan. Tapi, mas Parjo yang mengkhitankan anaknya lebih membutuhkan. Biar bisa diberikan hadiah untuk anaknya walaupun tak seberapa. Continue reading

Suami untuk Farida

dimuat di Lombok Post 11/6

Farida menangis lagi. Tersedu-sedu sampai terguncang. Hingga tangan Ayahnya memegang pundaknya. Ayahnya keluar dari mobil tak tega demi melihat pemandangan yang menghibakan itu.
“Ayo kita pulang, tak baik menangis di kuburan.”
“Aku hanya ingin mengadukan semua kesedihan ini Ayah.”
“Kubur ini tak akan bisa memberi jawaban. Ayo kita bicarakan ini di rumah. Tak ada masalah yang tak punya jalan keluar.”
Kata-kata Ayahnya bagi cambuk bagi Farida yang sudah tenggelam dalam kesedihan itu. Ia masih mengusap air matanya ketika mengikuti Ayahnya ke dalam mobil.
Sepulang dari kuburan, Pak Rosidi memanggil istri dan kedua adik Farida yang lain. Aji masih kuliah di kedokteran dan Umi masih di semester pertama psikologi. Farida, adalah anak tertua. Ia menikah dengan Rustam, lelaki yang hobi bercocok tanam itu. Farida agak buruk rupa. Bibirnya sumbing. Itulah salah satu hal yang membuat seluruh keluarga bahagia ketika Rustam yang polos dan lugu itu mau mempersunting Farida. Tetapi kebahagiaan Farida hanya seumur jagung. Ketika Rustam pulang dari sawah dengan sepeda motornya, sebuah bus keparat menabrak dan meninggalkannya sekarat di tengah jalan. Rustam mengalami pendarahan hebat di kepala. Kemungkinan sembuh sedikit sekali. Andaikata sembuh, ia pasti mengalami gegar otak parah. Continue reading