Tawaran Pekerjaan

Dimuat di Tanjung Pinang Pos

Tawaran pekerjaan baru ini sungguh menarik bagi Parjo. Lebih mudah dan gampang dari pekerjaannya yang ia lakukan sekarang ini: menjadi kuli barang alias manol di pasar Klewer. Walaupun bisa mendapat banyak uang kalau sedang banyak langganan. Namun, tubuhnya yang mulai ringkih sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklum saja, usianya sudah hampir 60 tahun.
Hingga datanglah seorang perempuan setengah tua. Berpenampilan orang kaya. Mas-giwang gemerlapan di badannya. Pendeknya, perempuan yang tidak tidak cantik namun tidak juga jelek itu menyuruh Parjo mengusung barang-barang ke dalam mobil. Barang-barang itu berupa kain mori dan handuk kecil dalam jumlah banyak. Baru kali ini Parjo melihat perempuan itu. Parjo berharap perempuan itu jadi pelanggan tetapnya kelak.
“Nanti kalau datang lagi, biar saya angkat saja bawaannya, Bu. Tidak perlu manggil yang lain. Insya Alloh siap kok…”
“Nggih Mas. Ya, nanti kalau pas ke pasar ini lagi.”
“Ini buat apa banyak handuk dan kain mori begini, Bu?”
Perempuan itu tidak menjawab. Parjo tahu diri jika pertanyaannya diabaikan. Ia bertanya yang lain.
“Kalau rumahnya mana, Bu?”
“Saya di Karanganyar, Mas.”
“Lho, saya juga Karanganyar. Daerah mana Panjenengan kalau boleh tahu..”
Parjo mengenali plat mobil Avansa itu. Memang tanda kendaraan daerah Karanganyar.
“Saya di Papahan, Mas. Panjenengan mana?”
“Saya daerah Ngijo. Berarti utara desa panjenengan. Tidak jauh.”
“Nggih, keleresan. Apa sudah lama di sini? Berapa tahun?”
“Wah, sudah lama, Bu. Sudah lima tahunan. Ya, rejekinya di sini, mau gimana lagi.”
“Berarti uangnya banyak ya mas jadi manol di sini…”
“Ya, nggak banyak sih bu…tapi lumayan…
Setelah selesai mengusung ke dalam mobil semuanya, Parjo berdiri menunggu si empunya barang memberi upah seperti biasa. Si perempuan juga tahu diri.
“Ini uangnya mas. Cukup atau masih kurang ini?”
Selembar lima puluh ribuan. Tentu saja lebih dari cukup.
“Wah, saya ndak punya kembalian itu, Bu…”
“Wis, nggak usah, Mas. Buat sampeyan saja…”
“Maturnuwun. Mugi-mugi rejekinipun lancar…” seperti biasa Parjo berbasa-basi.
Sejenak si perempuan itu rupanya terkesan dengan Parjo.
“Eh, Mas. Panjenengan kan deket Papahan juga. Kalau ada tawaran pekerjaan di Papahan mau tidak?”
“Ehm, kalau cocok nggih purun to bu…”
“Ya, kalau mau jenengan harus stand by di sana lho… gimana?”
“Ehm, ya itu tadi. Kalau cocok saya nggih purun. Ibu sendiri pasti paham maksud saya…”
“Iya, aku paham maksudmu itu. Uang tho… Wis, soal itu. Aku bisa jamin. Berapa sehari paling banyak kamu dapat di sini?”
“300 an ribu bu, bersih…”
Parjo mengatakan itu, artinya 300 an ribu itu sudah tidak termasuk makan, minum dan yang lainnya.
“Baik. Aku juga kasih 300 ribu sehari.”
“Kok sama saja, Bu?”
“Bedanya, kamu itu tidak banyak keluar keringat. Paling satu kerjaan cuma 15 menit saja rampung. Wis, dijamin ora abot babar blas…”
Parjo tertawa. “Nyambut damel napa niku bu… nggih kula kepengin. Nanging niki halal to bu?”
“Ya genah halal to mas. Sing penting tidak merugikan orang lain. Gimana cocok mboten?”
Parjo garuk-garuk sebentar. Ia mengangguk.
“Nggih, kula purun…”
“Kudu metu saka manol ora papa?”
“Nggih..” ujar Parjo mantep.
Parjo kemudian pamit kepada bos manol di pasar Klewer itu. Sebelumnya, agak heran bosnya dengan keinginan Parjo yang mendadak itu.
“Beneran lho, Jo? Tidak ada petir tidak ada hujan, kok kamu tiba-tiba pengin berhenti..” ujar pak Kasmidi, bos manol itu.
“Nggih pak. Mumpung ada pekerjaan dekat rumah.”
“Ya, sudah kalau gitu. Aku juga tidak akan menghalangi kamu. Biar nanti aku cari ganti yang lain. Soalnya sing kepengin nglamar manol setelah Klewer direhab tambah banyak. Lha, anehnya kok kamu malah pengin keluar. Nanging, ya ora masalah. Muga-muga wae lancar lah…”
“Nggih, matur nuwun pak…”
“Ini ada sedikit amplop. Tolong diterima.”
“Nggih, matur sembah nuwun. Muga-muga gusti Alloh mbales langkung sae..”
Sesampai di rumah, Parjo segera mencari istrinya yang sedang berada di dapur. Istrinya sedang masak jam tiga sore ini.
“Tumben, jam segini sudah pulang, Pak?”
“Iya, tadi aku dikasih bonus ini dari pak Kasmidi.”
Parjo menyerahkan bonus dari pak Kasmidi karena telah menjadi pekerja lima tahun sebagai manol di pasar Klewer pada istrinya.
“Ini Bu, bonus dari pak Kasmidi.”
Sebuah amplop berisi uang seperti perkiraan Bu Parjo.
“Wah, banyak pak. Satu juta rupiah.”
“Semuanya satu juta setengah tadi. Aku ambil lima ratus, buat lunasin hutang di warung dan si Saidi.”
“Aslinya ini bonus apa tho pak ini?”
“Pokoke, itu kamu bawa. Eh, dimana anakmu?”
“Belum pulang sekolah. Sekarang kan Tarno itu pulangnya sore terus.”
Parjo melihat jam di dinding yang menunjuk angka tiga.
“Masih ada setengah jam, Bu. Penake yen ora ana bocah-bocah ngene ki..”
Parjo menghampiri istrinya, sambil mencolek pinggang istrinya yang subur.
“Lah Pak. Lha ini masih pakai celemek di dapur kayak gini, mau yang begituan… mbok nanti malam wae… arep selak ngapa to?”
Parjo menghela napas sambil mencep. Tidak berani ia memaksa istrinya.
“Yo wis. Sik, aku tak adus wae.”
“Yo, tak gawekne wedang saiki.”
Parjo mengambil handuk. Istrinya mengaduk wedang. Nampak perempuan itu ingin mengutarakan sesuatu.
“Pak, aslinya ini uang bonus apa to? Kok akeh men… ojo-ojo sampeyan ki diPHK.”
“Ora, ora ana sing diPHK. Nanging aku metu karepku dhewe…”
“Inna lillah… rak yo tenan to firasatku…”
“Ora ngono, Bu. mengko tak critani.. aku arep adus sik. Tenan wis. Sak critan apa rong critan saknjalukmu… hahaha…”
“Wong gemblung…dijak guneman tenanan kok…”
“Aku yo tenanan lho… pengin saiki po piye? Tak uculane handukku maneh…”
Parjo usil beneran. Handuknya dilepas. Telanjang bulat begitu sambil kembali menghampiri istrinya.
“Ah..kono…kono…saru pak! Yen disawang anakmu mulih sekolah…ooo…”
Parjo tertawa. Ia masuk ke kamar mandi. Tak lama suara jebur air menjadi orkes tunggal di kamar mandi itu.
***
Malam itu setelah Parjo minta jatah istrinya, keduanya berbincang di tepi ranjang. Istrinya membenahi rambut yang kusut masai setelah ‘perkelahian sebentar’ itu. Sedangkan Parjo asyik menyulut rokok kretek favoritnya.
“Tadi siang itu aku ditawari pekerjaan seseorang. Rumahnya deket di Papahan.”
“Terus bapak mau? Terus, manolnya dilepas gitu?”
“Iya. Limang tahun dadi manol capek, Bu. Kelihatan tidak ada peningkatan.”
“Iya pak. Aku paham maksud sampeyan. Lha terus kerjaannya apa pak?”
“Katanya di klinik. Kerjaannya enak. Aku cuman disuruh standbby di sana. Dan besok pagi aku harus sudah berangkat jam tujuh. Gajine 300 perhari.”
“Wah, banyak itu pak. Lumayan.”
***
Pagi itu Parjo jam tujuh sudah sampai di klinik itu. Klinik itu tidak mengesankan sebuah klinik. Nampak seperti rumah biasa. Hanya ada seorang perawat yang hilir mudik ketika Parjo datang pertama kali itu.
Parjo ingin mencari perempuan di pasar kemarin itu. Celingak-celinguk ia tidak melihatnya. Namun akhirnya, Parjo melihat juga perempuan itu.
“Mas sini…” panggilnya pada Parjo.
Parjo mendekat. Perempuan itu tampak berkeringat sepagi ini. Mungkin ia habis mengerjakan yang berat.
“Cepat ini mumpung ada pekerjaan, Mas. Sampeyan langsung ke kebon di belakang rumah ini ya! Nanti barangnya aku antar.”
Parjo masih belum ngeh. Barang apa yang akan diantar itu.
“Cepat, Mas…”
Parjo memutari rumah besar itu. Di belakang ada kebon tanah yang cukup luas. Di dekat keran air ada cangkul dan sekop serta ember. Parjo menebak-nebak kiranya garapan apa yang akan ia lakukan pagi ini.
“Mas Parjo ke sini…”
Lamunan Parjo terpecah. Perempuan itu memanggil. Di tangannya ada sebuah tembikar yang dibalut dengan kain jarit.
“Ini tolong dikuburkan segera ya. Di ujung kebon sana itu ya…”
Pak Parjo sejenak ragu. “Ini yang dikubur apa, Bu? Apakah ini ari-ari bayi?”
Parjo ingat dulu jaman tatkala anaknya yang satu-satunya itu lahir dia juga diberi tembikar berisi plasenta bayi atau ari-ari seperti ini. Dan dia menguburnya seperti pesan orang tuanya.
Perempuan itu sejenak mengamati Parjo.
“Iya. Ini plasenta bayi dan orok bayi.”
Mak glek, Parjo menelan ludah. Tubuhnya entah mengapa gemetar.
“Sampeyan tidak usah takut atau bingung. Segera kubur saja orok yang tidak dikehendaki orang tuanya ini…”
Parjo entah mengapa merasa tertipu.
“Jadi ini?”
“Ya Mas. Saya tidak akan bohong pada sampeyan. Di sini sampeyan kusuruh mengubur orok-orok yang diabortasi. Sehari paling 4 sampai lima kali. Sudah, sore hari ini gaji sehari sampeyan langsung kuberikan. Yang penting sampeyan bisa jaga rahasia.”
Parjo masih gemetar. Ia tidak pernah membayangkan akan melakukan pekerjaan seperti ini.
“Jaman sekarang kayak ini biasa mas. Yang penting tidak ada paksaan. Jadi, ini tidak merugikan siapapun. Lha wong sing mendapat anak malah tidak mau ngopeni kok..”
Parjo seakan merasa dadanya tertumbuk godam sebesar rumah. Betul-betul sesak. Bahkan kepalanya berdenyut terasa pening.
Mendadak ia mencium bau anyir darah dari dalam tembikar itu. Bau anyir darah persalinan.
“Maaf Bu. Saya mau muntah. Saya rasa saya tidak bisa melakukan seperti ini…” Parjo akhirnya bicara.
Parjo mengembalikan tembikar itu lagi. Ia berlalu dari tempat itu dengan tergesa. Sesampai di luar pintu gerbang rumah yang besar itu, Parjo mlipir ke selokan. Di sana ia sukses muntah-muntah dengan sepuasnya.

Advertisements

Ziarah Seekor Semut dan Kisah Seorang Pengarang

dimuat di Solo Pos (18/3)*

29313205_10211402378594658_3060407211944574976_n

Tuanku adalah seorang pengarang cerita. Dia duduk di meja komputernya tiga sampai empat jam sehari. Tetapi, tuanku tidak selalu mengarang atau membaca buku. Acapkali ia hanya memelototi layar monitor itu selama berjam-jam sedangkan pandangannya kosong menerawang entah kemana.

 

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku sendiri tidak tertarik dengan tulisannya selain ketertarikanku dan kaumku pada kopi yang biasa ia taruh di samping layar monitor. Kopi arabica adalah jenis kopi kesukaannya. Tetapi, aku dan kaumku menyukai kopi tuanku ini karena adanya gula yang dominan pada kopinya. Ya, agaknya tuanku ini penyuka kopi yang kental tapi manis.

 

Karena hal itulah kami berombongan datang ke gelas cangkirnya setelah kopinya agak dingin. Kami berlomba minum di telaga kopi dan baru pergi setelah kenyang. Tetapi sebagian teman kami tak bisa menahan diri. Mereka mati tenggelam dengan apa yang mereka inginkan.

 

Saat kembali pulang dari telaga kopi itu sesekali aku menyempatkan diri melihat ekspresi tuanku. Tuanku bernama Denipram. Dia sebenarnya tampan walaupun kantong di bawah matanya semakin menjadi gelap. Terkadang aku melihat berkas-berkas ketakutan di sana. Tetapi, kau tahu, para pengarang cerita adalah makhluk istimewa. Mereka biasa menghadapi kesunyian yang dalam. Tahan menghadapi kenyataan dan ketakutan yang tak mengenakkan. Wajarlah hingga wajah tuanku ini tampak lebih tua dari umur sejatinya.

 

Oh, hidup macam pengarang memang tak ideal. Tak sehat. Apa yang mereka pikirkan jauh lebih mendalam dari apa yang bisa mereka lakukan.

Continue reading “Ziarah Seekor Semut dan Kisah Seorang Pengarang”

Elegi Martha

dimuat di Magelang Express
Untitled
Martha mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Mimpi yang berakhir di alam nyata. Sebuah kenyataan yang tak pernah ia harapkan terjadi pada dirinya, pada pernikahannya.

Dini hari kerap ia terbangun dalam gelisah. Ketika dekap suaminya terasa tak nyata lagi. Siapakah ia yang berbaring di sampingnya? Wajah tampan lugu yang dikenalnya kini berbau perempuan sundal.

Oh, ia benci sekali kota penjajahan yang mengubah para perwira muda seperti suaminya. Kegelapan kota ini membinasakan cahaya terang suaminya hingga membuatnya lari ke gedung opera Marabunta hingga jatuh ke pelukan Mata Hari .

Martha tidak tahu apakah dia harus senang atau benci dengan mengetahui perselingkuhan suaminya yang terlalu dini ini. Bersyukur yang terasa absurd karena Tuhan karena telah menyelamatkan dari kebohongan palsu suaminya.

Pun tak pernah Martha membayangkan mengapa Tuhan membuatnya merasakan kepedihan kepadanya. Mencicipkan ujian dahsyat ini. Padahal tangannya tak pernah lelah mendoa. Seandainya Tuhan tidak memberinya hari celaka itu.
Ya, saat itu candik ayu terlihat memerah di atas gereja Kerk . Malam berangkat seakan lebih cepat. Sebuah simphoni Mozart mengalun dari rumah seberang amat menentramkan ketika ia berjalan bergegas itu. Entah rumah siapa. Sebuah rumah yang elok dengan halaman luas dan berumput jepang yang asri. Pastilah rumah seorang pejabat tinggi di Semarang ini.

Tatkala saat hendak berbelok ke arah kanal, tiba-tiba sebuah kereta hampir menabraknya. Martha bersyukur bisa menghindar lebih cepat jadi ia tidak tertabrak. Tetapi yang lebih membuatnya terkejut adalah ia melihat siapa penumpang yang turun. Dan dua orang penumpang yang itu turun itu adalah sang penari erotis Mata Hari bersama Ludwig, suaminya.

Benarkah yang ia lihat? Suaminya bersama dalam satu kereta dengan penari perut itu?

Marah dan berang hati Martha. Urusannya yang mahapenting untuk ke gereja Kerk terlupa seketika.
***
Sungguh di Semarang ini tak ada yang tidak mengenal Mata Hari! Martha juga tahu saat Mata Hari bersama suaminya pastilah ada yang tak beres. Di kota ini tak ada yang bisa menutupi bangkai perselingkuhan. Semua bau busuk akan tersebar dengan mudah. Dan benar saja lambat-laun teman-temannya di gereja mengatakan dengan terang-terangan maupun malu-malu.

Tetapi Martha sangat mencintai suaminya. Ia tak ingin berpisah dengan suaminya. Ia ingin melakukan sesuatu agar suaminya kembali kepadanya. Akhirnya Martha makin sering datang ke gereja. Memasuki bilik pengakuan dosa lebih sering dari biasanya. Dan hari pertama itu saat menceritakan semuanya, ia mendapat nasihat dari sang pendeta, bahwa apa yang ia terima ini adalah buah dari dosa lahir yang belum ditahirkan. Sang Pendeta menyuruh untuk memohon ampun kepada Tuhan. Continue reading “Elegi Martha”

Kesalihan Berkendara di Jalan Sebagian dari Iman

dimuat di Solo Pos

 thumbnail

Penulis                                  : M Faizi

Judul Buku                          : Celoteh Jalanan (Lucu, Segar dan Inspiratif)

Cetakan pertama             : Maret 2017

Penerbit                              : BasaBasi

Tebal                                     : 180 hlm; 14×20

 

Kita sering mendengar analogi seperti ini: hukuman neraka itu dianalogikan seperti seorang oknum yang mengendari kendaraan kemudian ia melanggar peraturan lalu lintas, misalnya tak bawa SIM. Karena tidak punya atau lupa membawa surat sakti tersebut, oknum itu tetap akan ditilang oleh polisi. Polisi dianalogikan sebagai hukuman akhirat, sedangkan pelanggaran bisa dianalogikan sebagai perbuatan dosa. Sadar atau tidak sadar, lupa atau tidak lupa, jikalau melanggar peraturan lalu lintas atau melakukan perbuatan dosa, dua-duanya akan mendapatkan hukuman.

Di dalam hadits banyak disinggung tentang adab-adab di jalanan, semisal menyingkirkan aral di jalanan atau tidak memakir kendaraan yang memakan bahu jalan, dan mengucapkan salam kepada orang yang berpapasan di jalan. Semua kesadaran ini jika dilakukan dengan niatan mengamalkan sunnah, insya Alloh, dia akan mendapatkan pahala atau ganjaran. Artinya pula, salah satu cara menakar iman dan pengamalan sunah tidak bisa dilepaskan dari variabel bagaimana dia bermuamalah di jalan.

Sejatinya buku Celoteh Jalanan, M Faizi ini bukan sekadar celoteh jalanan yang bising, memekakkan telinga, atau komentar tetnang kesemrawutan lalu lintas di Indonesia ini, sebaliknya buku ini merupakan refleksi seorang pengendara yang notabene adalah seorang kyai, seniman, penyair dan seorang pengamat yang mempunyai cara yang pandang linuwih dalam menyikapi keadaan. Continue reading “Kesalihan Berkendara di Jalan Sebagian dari Iman”

Ramalan Ibu tentang Keperawanan Seorang Pelacur yang Akhirnya Menjadi Istriku.

dimuat di joglosemarnews.com

Ramalan-Ibu-tentang-Keperawanan-Seorang-Pelacur-yang-Akhirnya-Menjadi-Istriku
Hari lahir ibuku istimewa. Ia lahir satu menit setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Soekarno. Tentang keistimewaan Ibuku itu, selain hari ulang tahunnya yang selalu ia rayakan bersamaan dengan hari kemerdekaan negrinya ini, sejak kecil Ibu mempunyai bakat yang bisa dikatakan luar biasa bagi warga desa kami. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa warga yang telah beberapa kali menggunakan jasa ibu.
Ya, Ibuku seorang peramal. Keahlian Ibu adalah meramal nasib orang. Beberapa orang yang pernah datang – dan sering sekali kembali lagi tentu- akan bertanya pada Ibu, hari baik apa yang akan digunakan untuk anaknya menikah, atau arah dan tempat mana yang baik untuk mendirikan toko? Lain kali mereka akan bertanya, bagaimanakah cara agar bisa membuat suami tetap lengket dan tidak akan jajan di Warung Bulak Adem yang ada di ujung desa –sebuah komplek pelacuran yang sengaja dilegalkan oleh pemerintah daerah kami. Tentu ramalan Ibuku memang tidak selalu tepat atau betul menjadi kenyataan.
“Aku hanya melihat apa yang bisa kulihat,” katanya menjawab para pelanggannya. “Takdir orang itu tak bisa dirubah. Aku tak bisa mendahului takdir Tuhan.”
Suatu kali ada seorang pelacur yang datang ke rumah. Seperti kuketahui, mereka biasa datang menggunakan jasa Ibuku agar pemasukan mereka lancar. Atau agar mereka tetap menjadi sang bunga mawar lokalisasi. Namun kali ini, Ibu tidak biasanya menyuruhku menyuguhkan air minum buat seorang perempuan lokalisasi. Ya, hal ini agak janggal. Sebelumnya Ibu tidak pernah menyuruhku berurusan dengan para pelanggannya. Tapi, aku hanya manut. Lagi pula aku sedang tak ada kesibukan. Pekerjaanku sendiri di ladang sebagai petani lombok sudah dapat sering kutinggal dan hanya menunggu panen.
“Lilik, kuperkenalkan pada tamu istimewa Ibu.”
Aku merasa heran, maksudku, tidak biasa sekali Ibu mengenalkanku pada pelanggannya. Dan sementara itu perempuan itu tersenyum simpul. Pupil matanya melebar. Mungkin ia agak terkejut juga dengan tajamnya pujian dari Ibuku. Ya, aku tak heran dengan kepandaian Ibuku yang satu ini. Ibuku tak hanya pandai memuji tapi juga pandai mensugesti para pelanggannya –yang karena dari hal itulah kami bisa makan setiap harinya.
“Lilik,” kataku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan perempuan itu.
“Maharani.”
Ia tersenyum manis. Ada lesung pipinya yang menarik.
Aku sejujurnya tak tahu maksud Ibu dengan memperkenalkan dengan salah satu pelanggannya. Sampai ketika perempuan itu pergi, Ibu mengajakku bicara. Dan Ibuku nyata berbinar ketika berbicara padaku kali ini.
“Ia akan menjadi istrimu kelak, Lik. Gadis itulah yang akan membuatmu bahagia.” Continue reading “Ramalan Ibu tentang Keperawanan Seorang Pelacur yang Akhirnya Menjadi Istriku.”

Balada Si Jantre Polan yang Dibakar Massa

Dimuat di koran Haluan

Jantung Sanyoto berdebar kencang melihat lelaki itu menginjakkan kaki di kios cukurnya. Sanyoto menelan ludah. Tenggorokannya kering tiba-tiba. Lelaki itu menatap gambar model potongan rambut di sebelah kaca besar seperti sedang memilih.
Ya, semua orang di pasar kenal dengan lelaki ini. Jantre Polan bromocorah pembantai berdarah dingin. Masih ingat Sanyoto saat lelaki itu menyilet telinga kacungnya sendiri. Dulu juga dia yang pertama kali menyiram bensin seorang pemabuk yang membuat onar. Padahal pemabuk itu seorang residivis yang disegani.

“Tidak ada yang mau dicukur, kan?”

Sanyoto mengangguk. Kata-kata sukar keluar dari lidahnya. “Ya, pak. Nggak ada sama sekali.”

Jantre Polan duduk akhirnya. Dan Sanyoto reflek menyelimutkan kain besar berbahan mori itu di pundak Jantre Polan.

“Mau potong gimana pak?” Sanyoto inisiatif bertanya.

Jantre diam. Sanyoto melirik ke mata tajam yang memandang dirinya di cermin itu. Diam tak ada jawaban.

“Kamu bisa adzan kan?”

“Apa pak?”

“Kamu bisa adzan?” ulang Jantre.

Sanyoto hampir tertawa. Ia tak paham pertanyaan itu. Tapi, ia takut untuk tertawa.

“Maksudnya pak?”

Continue reading “Balada Si Jantre Polan yang Dibakar Massa”

Anomali Monti

dimuat di Solo Pos

Sebuah anomali barangkali terjadi pada Monti. Monti, adalah anak pertama Mama yang mempunyai tubuh paling besar di antara kami. Jika dilihat dari foto keluarga, siapapun tahu ia sangat mirip Papa. Tetapi karena mentalnya yang terbelakang membuat ia terlihat sangat kontras dari semua anak Mama yang rata-rata berprestasi. Mbak Ira, terutama yang paling keras kepada Monti –untuk tidak aku katakan membencinya bahkan menuduh Monti hasil hubungan gelap Mama.

“Ia tidak mungkin mirip Papa. Sama sekali tidak! Monti adalah seorang idiot dan itu tak mungkin menurun dari Papa,” pendapat Mbak Ira dengan ketus.

Sejatinya aku tahu Mbak Ira hanya kecewa dengan Mama. Seperti yang berulang kali ia katakan, Mama selalu menekannya karena ia adalah satu-satunya anak perempuan di antara kami. Anak perempuan mempunyai kewajiban yang besar menurut Mama. Dan anehnya karena terlalu sering ditekan seperti itu alih-alih Mbak Ira membenci Monti satu-satunya anak “yang tak berguna” bagi keluarga.

Mamaku sendiri, di usianya yang senja tinggal bersama Monti di Jakarta. Aku tinggal di semarang, di studio sekaligus galeri kecilku. Ira tinggal di Jogjakarta dengan keluarganya karena dekat dengan rumah sakit ia berpraktek sebagai dokter. Kakakku, Agus, tinggal di istana negara, tempat ia bekerja. Edi, sedang menyelesaikan S3 nya di Australia. Ed, begitu biasa kami memanggilnya, pergi dari rumah melanjutkan studi setelah perkawinannya gagal. Ia mengatakan satu hal padaku sebelum ia berangkat.
Continue reading “Anomali Monti”