Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner

bancakan-bisnis-jabarcom

dimuat di Solo Pos (14/2)

Fenomena kuliner Indonesia berwatak paradoksal. Salah satu ungkapan Jawa menandai hal ini, yaitu keplek ilat, yang berarti sifat suka njajan di warung. Ungkapan ini merupakan ekspresi kegemasan para ibu rumah tangga, terutama di desa Jawa, terhadap kegemaran sang suami yang lebih mantep kalau njajan di warung. Memang agak kasualistik, kalau tempat warung jajan si suami itu ternyata bakul-nya berwajah ayu dan menarik perhatian –mungkin janda kempling- yang membuat para lelaki itu betah nongkrong di warung seharian daripada menikmati makanan rumahan istri-istri mereka.

Tulisan ini mencoba ‘memperbincangkan’ gaya hidup kuliner para keplek ilat ini serta bisnis kuliner yang telah mereduksi tentang gaya hidup makan makanan sehat ala rumahan.

Bisnis kuliner harus diakui mereduksi tentang gaya hidup keluarga dalam bersantap makanan. Bisnis kuliner memajang berbagai menu makanan, entah itu dari makanan khas desa, mancanegara, hingga makanan yang cukup ekstrim disantap (dalam hal ini contohnya, warung kawi usa, atau iwak asu, yang menjual daging anjing). Gaya hidup yang konsumtif tentu mengamini bahwa seorang petualang kuliner semacam pak Bondan, harus mencoba mencicipi semua tempat jajanan warung yang unik dan eksotis di seluruh Indonesia ini. Ongkos untuk menikmati makanan seperti ini cenderung mahal dan borjuis. Sementara sikap hidup yang bersahaja dan sederhana, yang dicontohkan oleh orang-orang besar di jaman dulu, tentu amat berbeda dengan gaya hidup keplek ilat seperti ini. Contohnya founding father yang kebanyakan pelaku gaya hidup sederhana dan bersahaja. Mereka adalah orang rumahan yang suka hidup prihatin dan berpuasa misalnya. Mahatma Gandhi, Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tidak sempat lagi memanjakan lidah atau mengenyangkan perut karena sibuk mengurusi hal-hal besar dalam revolusi-revolusi yang mereka perjuangkan.
Pun bisnis kuliner saya percaya menjauhkan orang dari kualitas makanan rumahan dan kebersahajaan serta makanan sehat ala rumah. Fakta memang menunjukkan di jaman sekarang, tempat kuliner bergeser secara substansial. Tempat kuliner atau warung yang unik dan khas, menjadi tempat nongkrong, meeting, hangout, kencan, dan pertemuan bisnis. Tempat kuliner bukan sekadar sebuah warung tempat membuang bosan para keplek ilat yang jenuh dengan masakan rumah atau karena tertarik dengan janda kempling si empunya warung. Di warung orang-orang sekarang membangun bisnis, jaringan, hingga konon tempat menemukan pasangan hidup. Continue reading “Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner”

Laku Keplek Ilat dan Bisnis Kuliner

MARTIR

Karomah ilmu khodam_e1

“Kalian tidak mungkin bisa mengeksekusi orang yang punya karomah ini, meskipun kondisi kalian sangat terdesak dan nyawa menjadi taruhan. Sudah terbukti di lapangan, hampir semua rencana yang tersusun rapi -berdasar teori konspirasi yang canggih sekalipun- akan koyak moyak kalau kita langsung memuntahkan timah panas padanya. Ada strategi khusus untuk menyingkirkan orang yang punya karomah seperti ini!”
Sejenak Sang Komandan menyulut rokok dalam-dalam. Gemeretak kretek terbakar. Hampir bersamaan juga asap mengalir dari kedua hidung besar hitam Sang Komandan berwajah codet itu.
“Lalu kita harus bagaimana, Komandan? Tentu ada cara lain?” tanya si bawahan yang bertubuh raksasa.
“Peraturan pertama! Jangan pernah mengeksekusi langsung mereka. Kita harus membuat ‘orang berkaromah ini’ keluar terlebih dulu dari ‘hidayahNya’. Kalian paham maksudku?”
Kedua bawahan yang sama kekarnya itu sama menggeleng, alamat tidak tahu.
“Buat mereka terjatuh dalam kesalahan pikiran mereka sendiri. Kita hancurkan mereka dari dalam. Hanya cara iblis inilah yang sudah teruji di lapangan.”
Ψ
Pondok Al Ikhlas target operasi kami. Jumlah santri berjumlah sekitar 200-an. Kegiatan harian akan menyibukan mereka sehari-hari. Saat itulah aku akan datang dengan menyamar menjadi tukang kebun yang minta pekerjaan atau penjual pakan ternak menawarkan rumput pada mereka. Jika satu pintu gerbang sudah dibuka, aku akan mudah masuk. Selanjutnya aku akan memperkeruh suasana, lalu dengan mudah memancing ikan besar yang sudah megap-megap itu. Tak kusangsikan inilah rencana paling brilian abad ini!
Ψ
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja Ustadz: bersih-bersih kebun, mencari pakan kambing- yang penting dapat makan dan tempat tinggal.”
“Saya minta maaf, saya tidak bisa membantu saudara. Di sini semua pekerjaan sudah dikerjakan anak-anak.”
“Tolong Ustadz, saya mau tidak dibayar asal masih dapat makan.”
“Maaf, sekali lagi anak muda, semua anak di sini diharuskan bekerja, biar menjadi latihan bagi mereka mencari penghidupan setelah keluar dari pondok. Itulah sebabnya hampir semua pekerjaan sudah kami tangani sendiri. Kami hanya punya kebun-kebun yang sampahnya kami biarkan menjadi pupuk kompos atau menjadi humus bagi tanah. Untuk kambing-kambing itu cukuplah kami berikan makanan berfermentasi, sehingga siapapun tidak perlu untuk mencarikan rumput setiap hari.”
“Tapi Ustadz, saya butuh sekali pekerjaan -apa saja asal dapat makan sudah cukup.”
“Anak muda, kamu bersikeras sekali. Mengapa tidak mencoba di tempat lain? Di warung-warung, atau mungkin di bengkel-bengkel pinggir jalan itu yang butuh tenaga.” Continue reading “MARTIR”

MARTIR

Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya

index
dimuat di joglosemar Slogan ‘Karanganyar Maju dan Berbudaya’ memberikan dorongan dan konsistentensi yang kuat untuk membentuk perilaku positif. Mungkin “Maju dan Berbudaya” menegasikan slogan sebelum Karanganyar Tentram, yang lebih identik dengan stagnan, dan kurang progresif. Karanganyar berbenah di era kepemimpinan YU-RO (Yuliatmono dan Rohadi Wibowo). Kemajuan infrastruktur menjadi ukuran yang ingin ditampilkan dari di bidang pembangunan, terutama jalan dan berbagai tempat publik. Peremajaan gedung-gedung diagendakan sebagai bagian dari modernisasi wajah Karanganyar. Relokasi pasar Jumat yang kemarin menimbulkan penolakan tetap dijalankan demi pembangunan ke arah kemajuan dan maslahat kota Karanganyar, yang kini diwujudkan dengan open space di sekitar alun-alun Karanganyar. Masyarakat Karanganyar pasti mengamini kalau pemimpin kali ini adalah tipe yang gigih ingin memajukan pembangunan Karanganyar. Pun, slogan berbudaya getol dicanangkan Karanganyar. Perlindungan terhadap cagar budaya dengan menggelar pameran cagar budaya yang digelar pada acara milad Karanganyar kemarin. Rencana pembangunan sekolah pariwisata yang bernilai 4 milyar yang kelak akan menjadi jualan kota Karanganyar yang berada di lereng gunung Lawu, yang banyak memiliki aset pariwisata, yang tentu kelak akan menambah pemasukan pendapatan daerah. Dan Karanganyar masih memiliki banyak tempat wisata indah lainnya yang tentu saja menuntut perhatian pemerintah Kabupaten untuk merawat dan tidak rusak berbagai kepentingan oknum yang opurtunis. Pujian akan tetap ada untuk YU RO dan kritikan masih akan terus berlangsung selama keduanya memimpin Karanganyar –minus pro kontra kepemilikian tempat wisata Grojogan Sewu yang masih belum kelar dan plagiatisme logo Karanganyar Maju dan Berbudaya yang menjiplak SEA Games ke-26 yang dilaksanakan di Palembang. Continue reading “Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya”

Karanganyar (belum) Maju dan Berbudaya

Tragedi Rok Mini

images
Ratna buru-buru melepas jilbab yang ia kenakan, ia masukkan dalam tas. Jilbab itu hanya akan menutupi rambut yang lurus indah yang baru saja ditreatment paling mahal di salon. Apalagi sebentar lagi Hengki datang menjemputnya.

Ya, Hengki adalah seorang pekerja advertising sukses. Gajinya setiap bulan puluhan juta. Ratna sudah jatuh cinta kepada Hengki sejak SMA. Dan sekarang Hengki mau mengajak makan malam. Ini sungguh kebahagiaan luar biasa untuknya. Kalau Hengki nanti tidak nembak duluan, ia tak akan malu menyatakan cinta padanya, putus Ratna.

Mobil Avansa itu berhenti tepat di depan Ratna. Ratna mengembangkan senyuman. Hengki yang tampan itu turun dari mobil seperti sesosok pangeran dalam sinetron.

“Maaf, sudah lama nunggu?” tanyanya penuh simpati membuat Ratna melambung.

“Ah, nggak. Baru aja kantor selesai kok,” jawab Ratna dengan tetap memasang senyum.

Tak apa sedikit berbohong. Padahal sudah setengah jam lalu kantor tutup.

Hengki dengan gentleman membuka pintu mobil, membiarkan Ratna masuk. Di dalam mobil Ratna masih diam, tapi tangannya sesekali menyentuh rambut yang tergerai indah itu.

Hengki memperhatikan itu. “Tumben jilbabnya dilepas.”

“Ah, iya. Sekarang cuaca kan panas sekali. Pasti ini karena global warming ya.”

“Oh, gitu. Tapi bagus kok kalau dibiarkan tergerai seperti itu. Kamu cantik.”

“Ah, biasa saja kok.”

Sebenarnya batin Ratna melambung ke langit ke tujuh.

“Betul. Sumpah deh.” Hengki bersikeras, membuat Ratna makin melambung ke langit ke delapan. Ia tersenyum menatap ke depan, dan merasa makin senang ketika Hengki memegang jemari tangannya lalu dicium tepat mulutnya. Bagi wanita artinya itu adalah pengaguman tingkat tertinggi terhadap wanita.
Continue reading “Tragedi Rok Mini”

Tragedi Rok Mini

Cap Ji Ki

cerkak kepacak ana harian solo pos, kamis 20/10

1807Capjiki
Dina prei isih ana seminggu luwih. Nganggur neng ngomah ora duwe pagaweyan, apa maneh nunut maratuwo ya rasane susah. Ditambahi sisan kahanan yen dhuwit ana dompet kari sepuluh ewu –isa tekan ngendi? Paling, ditukokne susu formulane genduk wae mung sak klemetan.

Kaya esuk bar subuh iki aku ngamplo karo momong genduk sing lagi umur sesasi. Bayi abang kuwi isih merem melek ngedot saka kempong. Iki ya kahanan ora kepenak maneh. Ketimbang nangis gendhuk diwenehi dot susu formula. Jalaran wayah esuk ngene ki bojoku wis mbantu pagaweyane ibune ana mburi, yaiku bisnis laundry dadakan saben mangsa riyaya. Tur bisnis laundry isih nggunakne mesin cuci manual alias dikumbah nganggo tangan. Amarga kuwi mokal isa disambi karo momong gendhuk.

Mikir kahanan ngene ki, aku ya dadi ngrambyang tekan ngendi-ngendi. Ngetung dhuwit THR lan dhuwit gaji sing wingi wis diwenehke perusahaan, lan saiki wis ora ana turahe. Mangka dina sasi ngarep isih dawa. Terus aku kudu piye? Tambah nggrantes yen kelingan aku sing nunut ana ngomahe maratuwo.

Nanging, maknyut aku kelingan impen dek bengi kae. Impen-impenan nyedaki subuh, utawa kasebut puspa tajem. Jarene para tuwa, impen ana wayah puspa tajem akeh sing maujud lan dadi kasunyatan.

Bener, yen impen iki dadi kasunyatan aku bakal ora nggrantas maneh… nanging, ora, aku ora mungkin nglakoni perkara kaya ngono. Tur, bener orane durung pesthi. Gek mengko ora dadi kasunyatan, terus aku malah rugi pindho. Wis ora nembus, dhuwit sepuluh ewu mau dadi ketut bablas.

Ya, pancen ndhek subuh impenanku katon nyata banget. Sakwijining dina, nalika awan, aku ketemu karo pawongan wadon ana pinggir dalan. Umure setengah tuwa, nanging pakulitane alus katon prawan umur pitulas. Kaya mengkono marakne sosok solahe tambah keibuan. Pas kuwi aku lagi momong gendhuk sing ana gendhongan pit ontelku. Amarga diceluk, aku terus mara marang dheweke.
Continue reading “Cap Ji Ki”

Cap Ji Ki

Patologisme kepada Bunga

sonnenblume(1)

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.
Continue reading “Patologisme kepada Bunga”

Patologisme kepada Bunga

Parkir dan Perilaku Borjuis

dimuat di joglosemar 09/8

 Untitled

Jalanan nan mulus di Solo kala pagi selalu mengundang kaum berduit untuk memanjakan diri bersama keluarga. Bermobil bersama dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos oblong untuk mencari sarapan pagi yang menyehatkan. Semua anggota keluarga diajak serta sebagai sebuah pencitraan keluarga yang harmonis dan mapan. Pun di sana akan bertemu dengan kolega, saudara, ataupun teman kencan. Dengan mobil keluaran terkini turun di sebuah restoran yang terkenal dan penuh sesak. Setelah memarkirkan kendaraan di pinggir jalan dan ditemani dengan senyum tukang parkir, bersama melenggang santai di tengah jalan ramai mengabaikan lalu lintas yang macet seolah merekalah tokoh utamanya. Di restoran, kolega atau teman kencan yang sedang menunggu mereka, sambil menunggu pesanan datang sibuk memainkan gadget keluaran terbaru atau iseng mengamati pejalan dan pengendara sepeda motor yang bersungut-sunggut menunggu tukang parkir rampung menyebrangkan para pengunjung restoran yang amat terkenal di Solo itu.

Narasi gogolian (dinisbatkan kepada Nikolai Gogol, penulis Rusia) itu selalu memenuhi ruang kepala saya ketika berangkat pagi ke kantor dari Karanganyar menuju Solo dengan bermotor. Pemandangan yang menyebalkan dari gaya hidup borjuis dari kelas menengah ke atas yang suka pamer di sepanjang jalan arteri dengan mobil-mobil mereka. Borjuisme muncul dari perilaku parkir warga kota, terutama pada gaya hidup kalangan menengah keatas, di mana mereka sering terlihat showoff di restoran-restoran laris yang tidak mempunyai tempat parkir khusus. Mereka bermobil ke restoran bersama keluarga –meskipun jarak rumah sangat dekat- lantas memarkir mobil sembarangan, misal yang terjadi di depan soto seger Mbok Giyem, di jalan Bhayangkara Solo. Padahal, area parkir Lotte Mart tak jauh dari tempat itu dan memungkinkan untuk jumlah mobil yang banyak alih-alih parkir di bahu jalan yang menganggu lalu lintas kendaraan.

Di kota Solo, banyak tempat ruas jalan utama harus dipotong untuk berbagi dengan parkir mobil. Dimulai di Gandekan, Coyudan, kawasan Matahari Singosaren hingga ke Jl. Slamet Riyadi, area pasar Gedhe Solo hingga jl. Urip Sumoharjo, belakang Kantor Pos Indonesia, Warung Soto Seger Mbok Giyem di jalan Bhayangkara itu. Semakin lama jalan di Solo makin sempit karena bahu jalan dipakai untuk berbagi dengan parkir mobil.

Saya menyebut ini borjuisme. Dan perilaku ini makin marak terjadi dan menjadi fenomena tersendiri. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah hilangnya perasaan empati dan pembenaran pelanggaran ketertiban di tempat umum. Pada kasus yang sedikit berbeda adalah pemakaian area kosong di depan benteng Vantesburg untuk area pakir. Lagi-lagi ini adalah pemandangan kota akhir-akhir ini. Tidak hanya di kawasan benteng Vansterbug, hampir di banyak tempat strategis juga menjadi tempat parkir dadakan.

Konon ada rencana pemkot Solo untuk mensterilkan jalan Slamet Riyadi (Purwosari-Gladak) dari area parkir. Harapan kita agar hal ini segera terwujud. Entah itu penetapan Perda (Peraturan Perda) yang mengatur khusus tentang hal itu ataupun proyeksi pembuatan kawasan parkir yang luas, elegan, dan sekaligus nyaman di kota Solo ini.

Lantas menjadi pertanyaan kita keberadaan tukang parkir liar itu apakah memang dari pihak resmi Dishubkominfo (Departemen Perhubungan Komunikasi dan Inforfamasi) ataukah sekedar tukang parkir liar dan preman saja? Karena sekilas terlihat mereka sama sekali tidak memakai seragam dan cenderung memacetkan lalu lintas. Sekaligus ini juga sentilan kepada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo apakah mereka berani menindak tukang parkir liar seperti ini? Hatta pelaksanaan pengawasan yang disertai dengan penegakan hukum yang tegas merupakan langkah yang penting dalam pengendalian parkir untuk mempertahankan kinerja lalu lintas.

Pengendalian Parkir

Kota yang padat harus diiringi dengan pengendalian parkir yang bagus pula. Pengendalian parkir ini dilakukan untuk mendorong penggunaan sumber daya parkir secara lebih efisien serta digunakan juga sebagai alat untuk membatasi arus kendaraan ke suatu kawasan yang perlu dibatasi lalu lintasnya. Pengendalian parkir merupakan alat manajemen kebutuhan lalu lintas yang biasa digunakan untuk mengendalikan kendaraan yang akan menuju suatu kawasan ataupun perkantoran tertentu sehingga dapat diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja lalu lintas di kawasan tersebut.

Pengendalian parkir harus diatur dalam Peraturan Daerah tentang Parkir agar mempunyai kekuatan hukum dan diwujudkan rambu larangan, rambu petunjuk dan informasi. Untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan yang diterapkan dalam pengendalian parkir perlu diambil langkah yang tegas dalam menindak para pelanggar kebijakan parkir. (wikipedia)

Pemerintah harusnya mulai mengantisipasi lahan parkir ini yaitu dengan cara membuat lahan parkir umum yang luas. Tujuan semua ini untuk mengontrol parkir liar dan pembuat kemacetan di jalananan. Solusi pembuatan tempat parkir seharusnya bisa dilakukan. Pemerintah membangun area yang luas dan representatif. Bukan hanya itu saja agar mengurangi kemacetan tempat parkir itu dikelola per jam. Mereka harus membayar perjam. Tetapi sebaliknya pemerintah juga membuat angkutan umum adalah sesuatu yang mudah dan terjangkau. Dengan beginilah kemacetan bisa terhindari dan praktek parkir liar tidak akan terjadi lagi.

Selain itu banyak tempat tertentu yang berada di pinggir jalan atau tempat strategis hanya mangkrak. Mengapa tidak tenmpat seperti itu jadi parkir umum. Pasti akan lebih bermanfaat daripada membiarkan mangkrak tak terpakai. Dengan dibangun tempat parkir yang besar dan representatif tentu akan menjadi keuntungan bagi pemkot sekaligus pengendalian kendaraan di Solo bisa menjadi lebih bagus.

Parkir atau Pajak.

Sebuah kenyataan bahwa kita hidup sebagai penduduk Indonesia ini semuanya tak luput dari kewajiban membayar pajak atau restribusi. Walaupun sebenarnya ungkapan restribusi sendiri adalah ungkapan yang tidak tepat. Pasalnya, di manapun kita berada selalu saja kita harus memberikan restribusi tanpa kita bisa menolaknya, karena ketidakmampuan membayar itu membuat diri kita tidak berhak untuk berada di tempat tersebut.

Mungkin bisa sangat utopis jika berharap bahwa jalanan raya kota Solo adalah milik umum dan bebas dari restribusi apapun. Artinya jalanan adalah tempat bebas yang haram ditarik restribusi apapun dan ini diperlukan pengelolaan tata jalanan dengan intansi dan pihak terkait. Artinya pengelolaan itu dilakukan oleh pemkot dan diberikan sepenuhnya kepada masyarakat luas, bukan untuk mencari keuntungan dari jalanan ini. Semisal menjadikan jalanan sebagai tempat parkir dan kita wajib memberikan andil di sini.

Kita tahu jalanan tak akan cukup representatif untuk menjadi tempat parkir. Dalam Islam, disebutkan bahwa tidak boleh untuk berhenti di bahu jalan karena jalanan adalah tempat lewat hewan dan manusia. Artinya juga, tempat parkir adalah sebuah kawasan tersendiri yang dibuat untuk mengumpulkan kendaraan-kendaraan yang tidak boleh mengganggu lalu lintas di jalan. Harus ada tindakan tegas dari pihak yang berwajib. Semisal pengawasan parkir dengan penilangan pelanggaran parkir oleh Polisi Lalu Lintas, pemasangan gembok roda sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi pelanggar terhadap larangan parkir ataupun penderekan terhadap kendaraan parkir sembarangan.

* Pekerja kantoran yang harus berangkat pagi melewati Solo menuju sebuah penerbit di Sukoharjo. Aktif di komunitas Pakagula Sastra.

Parkir dan Perilaku Borjuis