<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>atmokanjeng</title>
	<atom:link href="http://atmokanjeng.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://atmokanjeng.wordpress.com</link>
	<description>ikut merayakan cinta dan menjauhi rasa sakit</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 02:20:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='atmokanjeng.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a38f84678d6a808df604365dda8ad203?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>atmokanjeng</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://atmokanjeng.wordpress.com/osd.xml" title="atmokanjeng" />
	<atom:link rel='hub' href='http://atmokanjeng.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sindikat Negeri Pengemis!</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/12/09/sindikat-negeri-pengemis/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/12/09/sindikat-negeri-pengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 09:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal coret]]></category>
		<category><![CDATA[essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang yang terbaik. Tangan di atas adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seseorang yang kadang-kadang diberi, kadang pula tidak (Mutafaqun alaih) Paradigma pengemis telah bergeser dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=669&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/12/pengemis.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/12/pengemis.jpg?w=455" alt="" title="pengemis"   class="alignleft size-full wp-image-670" /></a></p>
<p><em>Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang yang terbaik. Tangan di atas adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seseorang yang kadang-kadang diberi, kadang pula tidak (Mutafaqun alaih)</em></p>
<p>Paradigma pengemis telah bergeser dari keberadaannya semula. Ekses menjadi pengemis di jaman sekarang ini tidak melulu hanya karena desakan ekonomi saja. Namun ada pula berbagai latar belakang permasalahan yang membuat seseorang itu memilih menjadi pengemis. Misalnya, seseorang memilih menjadi pengemis karena penghasilan mengemis lebih banyak daripada menjadi karyawan atau seorang buruh yang sudah pasti mengeluarkan tenaga banyak tapi hasilnya nol kecil. Ada juga kisah seorang penjual tasbih karena tidak laku jualan tasbihnya kemudian memilih menjadi pengemis.</p>
<p>Keberadaan pengemis di Indonesia yang semakin banyak dan merata di berbagai tempat seperti sebuah borok kecil yang jika tidak segera disembuhkan luka ini akan bertambah menganga. Luka kemiskinan ini tidak bisa kita tiadakan begitu saja karena kita muak terhadapnya. Sebenarnya luka ini memperlihatkan betapa kecompang-campingan diri kita sebenarnya. Jangan-jangan pengemis telah menjadi terstruktural dalam setiap lini kehidupan dan jiwa bangsa ini.<span id="more-669"></span></p>
<p>Konon ada kisah lain tentang pengemis di tengah masyarakat Indonesia ini. Kebanyakan pengemis yang beredar di jalanan itu adalah orang-orang yang menyamar menjadi pengemis. Mereka beroperasi di jalanan dengan terorganisir. Kita sebut mereka sebagai sindikat pengemis. Sindikat ini sangat terorganisir. Sering kita lihat anak kecil batita pun sudah diikutkan dalam operasi mereka. Menjadi pengemis bagi para pengemis jejadian itu adalah sebuah pilihan karena kebodohan cara pandang mereka tentang kualitas kehidupan. Hidup sekedar pencapaian hari ini yang diukur dengan uang. Tak peduli pekerjaan apapun entah haram atau halal asal dapat uang. Mereka tidak mau bersusah-susah bekerja keras tapi cukup menjadi pengemis mereka sudah dapat uang banyak. Atau ada yang  berprinsip lebih baik menjadi pengemis daripada koruptor!</p>
<p>Film <em>Slumdog Millioner</em> yang mendapat pengakuan oscar itu juga mengisahkan problematika yang sama tentang negara-negara berkembang yang mempunyai penghuni para pengemis. Dikisahkan betapa rentan anak-anak yang miskin itu tercetak menjadi seorang pengemis. Di Indonesia nampaknya keadaan juga sama saja. Lihat saja ketika Grebeg Suro, atau ketika kirab di Gunung Lawu dan di tempat ziarah lainnya, kita akan melihat antrian pengemis yang panjang menunggu belas kasih kita. Mereka dengan berbagai pasang wajah dan ekspresi kemiskinan berusaha menarik simpati dan ternyata malah membuat kita terheran-heran, betapa kayanya sebagian dari para pengemis itu ketimbang diri kita sendiri. Mereka adalah cermin diri kita sendiri bahwa paradigma hidup kita bukan ditujukan untuk kualitas tetapi sikap primordial budak yang entah sampai kapan akan kita pelihara.</p>
<p>Kisah yang senada, pernah penulis melihat sebuah tulisan di sebuah perumahan. Tulisan itu bernada <strong>PENGAMEN, PEMULUNG, DAN PENGEMIS DILARANG MASUK!</strong> Kompak sekali para warga di perumahan itu untuk menolak ketiga kaum itu. Tidak hanya di tempat Pak RT saja tulisan itu ada, tapi di rumah warga lainnya juga dipasang. </p>
<p>Apa yang terbesit di hati saya kemudian, adalah pertanyaan mengapa pengemis juga dilarang masuk? Apalagi di bulan Ramadhan ini Islam menghasung umatnya untuk berbanyak-banyak bersedekah dan menjalani kebaikan. </p>
<p>Lantas andaikata ada pengemis datang ke rumah kita, mengapa kita harus menolaknya? Justru menjadi kewajiban kita untuk bersedekah kepada mereka. Ada sebagian hak orang-orang miskin itu pada harta-harta kita. Jika dilihat dari segi material, tentu rumah-rumah di perumahan itu pasti punya sekedar uang receh seribu rupiah atau nasi sepring dan lauk ala kadarnya untuk para pengemis itu.</p>
<p>Apa yang salah pada diri kita adalah persangkaan buruk jangan-jangan para pengemis yang datang itu hanya orang yang berpura-pura saja, atau takut mereka orang yang hendak berbuat jahat. Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menjadi orang yang terbaik, yang merasa lebih utama dengan tangan di atas daripada tangan di bawah. </p>
<p>Ketika kecil kita dibesarkan dengan sebuah kisah tentang orang kaya yang tamak dan si miskin yang baik hati. Suatu kali ada seorang pengemis yang datang pada keduanya. Di tempat si kaya, si miskin itu ditolak, merasa si pengemis akan mengotori lantai mereka, tapi di tempat si miskin si pengemis itu diberi dan dijamu. Setelah kenyang, si pengemis meminta tikar pada si miskin yang baik hati itu. Buat apa, tanya si tuan rumah. Si pengemis cuma berkata kalau dia ingin buang air besar. Si tuan rumah heran tapi ia pun memberikan tikar itu pada si pengemis. Kemudian apa yang terjadi. Si pengemis yang sebenarnya adalah seorang malaikat itu tidak menghadiahi kotoran kepada si miskin yang baik hati tapi emas yang banyak di tikar itu.</p>
<p>Tapi tentu saja kisah ini hanyalah sebuah gambaran kecil yang mengajarkan kepada kita kebaikan untuk bersedekah kepada si miskin. Barangsiapa memberi dan bersodaqoh hartanya tidak akan hilang karena Allah Ta’ala Maha Melihat hambanya yang berbuat kebaikan. Namun tampaknya kita pun harus bijaksana dan proporsional dalam memberi pengemis. Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw. suatu kali didatangi seorang peminta-minta yang biasa datang ke rumahnya. Pada hari ketiga, Nabi Saw. memberikan uang tetapi juga menyuruh si pengemis itu untuk membeli sebuah kapak. Oleh Nabi Saw. orang itu disuruhnya ke hutan untuk mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Si pengemis patuh. Sejak saat itu ia pun kemudian menjadi seorang manusia unggul yang mampu menafkahi diri dan keluarganya. </p>
<p>Dari kisah di atas bisa diambil hikmah bahwa Islam tidak mengharamkan mengemis, akan tetapi Islam lebih senang kepada orang yang kuat daripada orang lemah, orang yang berharta daripada berhutang, karena dengan begitu seseorang itu akan lebih banyak melakukan ibadah dan amal sholeh dalam kehidupannya untuk mencari keridhoaan Allah Ta’ala.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bishshowab.<br />
</em></p>
<p>dimuat di majalah Respon MTA edisi 258 #</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=669&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/12/09/sindikat-negeri-pengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/12/pengemis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pengemis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MISTERI RUMAH BERHANTU</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/13/misteri-rumah-berhantu/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/13/misteri-rumah-berhantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 08:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak percaya dengan hantu. Selama ini aku belum pernah melihat hantu. Dan kurasa hanya paranormal saja yang mengaku bisa melihat hantu –kalau mereka memang benar melihatnya. Tapi aku penasaran ingin melihat hantu. Aku mencoba mencari tahu, mungkin ada penjelasan lain tentang hantu itu sendiri yang bisa lebih masuk akal. Akhirnya aku menemukan sebuah rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=664&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/index.jpeg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/index.jpeg?w=455" alt="" title="index"   class="alignleft size-full wp-image-665" /></a></p>
<p>Aku tak percaya dengan hantu. Selama ini aku belum pernah melihat hantu. Dan kurasa hanya paranormal saja yang mengaku bisa melihat hantu –kalau mereka memang benar melihatnya.<br />
Tapi aku penasaran ingin melihat hantu. Aku mencoba mencari tahu, mungkin ada penjelasan lain tentang hantu itu sendiri yang bisa lebih masuk akal.<br />
Akhirnya aku menemukan sebuah rumah tua yang tak ditinggali. Orang-orang di sekitar tempat itu tak berani mendekat ke rumah itu baik siang maupun malam. Katanya rumah itu adalah tempat beranak pinak segala macam hantu.<span id="more-664"></span><br />
Aku mencoba mengaitkan latar belakang sejarah rumah kosong itu. Dulu, ia ditinggali sebuah keluarga Demang. Masih bisa kulihat bekas sejarah yang ada pada rumah itu. Pendapa yang luas, yang mungkin di jaman dahulu menjadi pertemuan para bangsawan atau para pemuka desa. Ada istal kuda yang cukup luas. Namun anehnya di belakang rumah kulihat ada tiga buah sumur. Aneh nian, dalam sebuah pekarangan ada tiga buah sumur. Ini kucatat sebagai penanda pertama pada kecurigaanku.<br />
Tentang sumur aku berteori bahwa air yang kita minum dan membuat hidup tentu mempengaruhi jiwa kita. Kalau air itu kotor dan mengandung penyakit mungkin akan lebih buruk lagi pada jiwa dan kesehatan kita.<br />
Kulihat setiap sumur dan kondisinya. Aku menemukan ada dua sumur yang memang sangat tidak layak digunakan lagi. Mungkin juga di masa dahulu sumur itu sudah tidak dipakai. Di satu sumur yang masih bagus aku temukan bahwa memang sumur itu kelihatannya sumur yang dipakai. Akupun menciduk air dari sumur itu dengan timba kerekan. Kudengar suara deritnya yang menyayat hati seakan ia hendak bercerita padaku. Kucoba cicip air itu. Air itu meskipun bening ada terasa sebuah rasa yang aneh. Air itu berasa anyir seperti darah.<br />
Kuperhatikan sekeliling mengapa sumur itu bisa berasa seperti ini. Ada sebuah banguan gudang di dekatnya. Saat baru beberapa langkah aku mau menuju pondok tiba-tiba terdengar teguran.<br />
“Mau cari apa di kebun ini?” suara itu bertanya seperti marah.<br />
Aku menengok. Kulihat seorang tua dengan parang terselip di pinggangnya. Tubuhnya yang masih kukuh berkeringat. Ia nampaknya sedang mencari kayu di tempat ini.<br />
Aku masih diam saja. Mencoba mengamati orang ini.<br />
“Hei, kutanya malah diam saja. Apa yang kaucari di rumahku ini?”<br />
“Ehm, saya hanya menengok sumur itu pak.”<br />
“Cepat pergi dari sini. Ada-ada saja bilang mau menengok sumur. Pasti kamu mau mencuri!”<br />
“Tidak Pak. Sumpah, saya tidak ingin mencuri. Saya heran mengapa sumur ini berasa anyir darah?”<br />
Sejenak lelaki itu menatap tajam padaku.<br />
“Benar kamu bukan pencuri? Siapa kamu sebenarnya dan apa yang kaulakukan di rumahku ini?”<br />
“Saya memang bukan dari daerah ini Pak. Saya diberitahu teman kalau rumah ini berhantu. Tapi saya heran dengan sumur yang berasa anyir darah ini.”<br />
“Apa kau tak percaya kalau rumah ini berhantu. Atau memang kau ingin melihat hantu?”<br />
“Selama ini saya memang belum pernah melihat hantu. Dan saya ingin melihatnya.”<br />
Lelaki itu meneliti kesungguhan di wajahku.<br />
“Ayo ikut aku. Akan kutunjukkan sesuatu!”<br />
Aku ikut saja dengan lelaki itu dan merasa senang bahwa aku tak akan lagi diusirnya. Ia membawaku tidak jauh dari sumur itu ke sebuah gudang atau dinamakan gandok. Tapi terus di belakang gudang itu ia membawaku ke sebuah tempat gelap dan lembab. Ia menyalakan lampu hingga terang. Seketika aku merasa terkejut dengan banyak sekali jamur yang tumbuh di tempat lembab itu.<br />
“Apakah semua jamur ini sengaja Bapak tanam?”<br />
“Aku akan bercerita padamu. Kau dengarlah dulu.”<br />
Aku mendengarkan lelaki itu bercerita.<br />
“Dahulu kakekku adalah seorang demang. Ia mempunyai keluarga besar yang tersebar di wilayah ini. Beberapa orang di antaranya tersangkut dengan PKI. Suatu malam, para tentara itu datang ke rumah ini dan membantai semua saudara kakekku. Yang tinggal dan masih hidup hanya kakekku yang kemudian berlari ke tempat ini. Barulah setelah para tentara itu pergi, kakekku dengan kesedihan tak terkira menimbun semua mayat itu di tempat ini. Namun entah mengapa sejak saat itu banyak sekali tumbuh jamur di tempat ini. Dan ketika hujan ada air berwarna merah yang turun ke sumur yang berada di tempat itu. Karena sumur itu tidak jernih airnya maka dibuatlah hingga tiga sumur di belakang rumah ini. Tapi yang paling ujung itupun masih terasa anyir.”<br />
Aku mengira air merah itu pasti bukan darah. Karena darah tidak mugkin mengalir dari orang sudah mati yang terkubur bertahun-tahun lamanya.<br />
“Datanglah nanti malam, akan kutunjukkan sesuatu yang lebih menarik lagi.”<br />
Aku terkejut atas tawaran itu dan tak bisa menolaknya. Artinya aku sudah dianggap teman oleh orang tua itu.<br />
Malam itu aku datang lagi. Memasuki pintu gerbang tempat itu memang membuat bulu kudukku merinding. Tempat ini memang tak terjamah siapapun setiap harinya. Hanya orang tua itu saja yang mencari kayu dari pohon-pohon jati yang tumbuh besar di tanah ini.<br />
Saat aku sampai di depan rumah kulihat lelaki itu tengah duduk di beranda pendopo berteman lilin kecil. Hanya itu satu-satunya cahaya yang ada. Takutku, kalau ternyata bukan lelaki itu yang sedang menungguku.<br />
Tapi, ketakutanku memang tak beralasan. Lelaki itu menyambutku dengan senyum kecil.<br />
“Tak kusangka kau berani datang lagi. Karena rasa penasaran ingin melihat hantu?”<br />
“Maaf, saya tadi lupa mengenalkan diri. Sanyoto,” kataku padanya sambil menjabat lelaki itu tak peduli pada sindirannya.<br />
“Kirman. Sebut saja pak Kirman. Usiaku sudah tujuh puluh lima saat november nanti.”<br />
Aku mengangguk. Ia seusia ayahku.<br />
Kamipun menuju ke tempat yang disebut gandok itu. Setelah aku diberi lilin satu kupegang erat-erat, takut kalau lilin itu akan padam dan tiba-tiba dunia menjadi gelap.<br />
Memasuki tempat itu terasa kesunyian yang dalam dan bau jamur makin menusuk hidung. Ada bau anyir yang aneh yang berbeda dengan jamur biasa. Apakah karena memang tanah di bawahnya yang mengandung manusia-manusia yang tewas dibunuh itu?<br />
“Lihatlah jamur-jamur itu?”<br />
Aku betul-betul menyaksikan di atas kepalaku sendiri tepat di atas jamur itu membentuk bayangan putih panjang yang bergerak hidup. Entah spora atau entah binatang atau makluk apa ketika makluk itu tertitiup angin maka ia akan meliuk-liuk. Ada gerakan-gerakan menari yang dibuatnya. Tapi mengingat di bawah tempat itu ada kuburan tiba-tiba aku jadi merasa takjub dan merinding.<br />
“Itulah yang mereka sebut hantu di rumah ini. Suatu saat ada seorang pencuri yang hendak mencuri di tempat ini. Ketika ia melihat hal ini, maka terbirit-birit lari si pencuri itu. Sejak saat itu tersebut tempat ini berhantu.”<br />
“Apakah saya boleh melihat dekat benda putih itu pak?”<br />
“Silakan. Tapi jangan terlalu lama di sana.”<br />
Aku memberanikan diri maju ke depan. Aku berdiri di atas pekuburan dan sekarang tubuhku diselimuti oleh hewan-hewan kecil yang terbang ini. Mereka putih dan sangat lembut seperti udara atau berkas-berkas cahaya, tapi mereka berkumpul berwarna putih di atas tiap gundukan kuburan yang ditumbuhi jamur itu.<br />
Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Makluk aneh ini seperti ingin mengajakku menari. Ada perasaan ringan yang membuatku ingin menari. Entah mengapa tanganku bergerak ringan dan aku merasa mabuk. Entah berapa lama aku berada dalam suasana itu.<br />
Tiba-tiba lelaki itu menyentakku atau malah memukul tubuhku dengan keras. Aku terjerambab.<br />
“Jangan terlalu lama. Kau bisa mati kalau tetap berada di disini! Jamur itu beracun!”<br />
Aku mengucap istighfar berkali-kali. Hampir saja.<br />
“Bukan hanya kau saja yang mengalami halusinasi seperti itu. Tapi beberapa orang yang pernah datang kemari semua ditemukan linglung. Mereka mengatakan dibawa ke tempat roh nenek moyang yang gaib. Namun sebenarnya mereka sedang berhalusinasi karena jamur ini.”<br />
“Sekarang saya paham.”<br />
Pak Kirman mengangguk.<br />
“Kau percaya, bahwa seseorang yang mati syahid itu tubuhnya tidak akan busuk, bahkan darahnya masih mengalir.”<br />
“Saya percaya itu Pak.”<br />
“Ketika hujan, air sumur itu mengalir darah dari salah satu kuburan ini. Aku sendiri takjub dibuatnya karena yang mengalir itu benar-benar darah. Aku pernah membuktikannya sendiri dengan menggali kuburan itu sampai aku menemukan sebuah tubuh yang masih utuh. Tahu artinya itu?”<br />
“Saya tidak tahu pak.”<br />
“Lelaki yang dibunuh itu adalah syuhada, seorang syahid. Dia punya karomah. Kita bisa mempercayai kalau ada orang-orang tak bersalah yang dibunuh saat pembantaian di gudang ini. Memang saat itu jika seseorang sudah disebut PKI, mereka tak perlu bukti sama sekali untuk menghabisinya!”<br />
Aku membayangkan sekelimut peristiwa itu terjadi. Memang di tempat ini dulu adalah kediaman rumah seorang demang. Pastilah banyak kegiatan warga terpusat di tempat ini dan mereka yang juga dibunuh di tempat ini. </p>
<p>dimuat di<a href="http://harianjoglosemar.com/berita/misteri-rumah-berhantu-56791.html"> joglo sema</a>r<br />
Karanganyar, 12 Maret 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/664/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=664&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/13/misteri-rumah-berhantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/index.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">index</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STOP PRESS!!! (PEMENANG LOMBA NOVEL DKJT 2011)</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/02/stop-press/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/02/stop-press/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 08:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal coret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[Selamat kepada sang pemenang<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=659&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/piagam-penghargaan-novel-dkjt-juara-pertama.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/piagam-penghargaan-novel-dkjt-juara-pertama.jpg?w=455&#038;h=321" alt="" title="piagam penghargaan novel dkjt juara pertama" width="455" height="321" class="aligncenter size-full wp-image-660" /></a></p>
<p>Selamat kepada sang pemenang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/659/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=659&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/11/02/stop-press/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/11/piagam-penghargaan-novel-dkjt-juara-pertama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">piagam penghargaan novel dkjt juara pertama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayembara Penulisan Cerpen Bagi Remaja Tahun 2011</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/sayembara-penulisan-cerpen-bagi-remaja-tahun-2011/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/sayembara-penulisan-cerpen-bagi-remaja-tahun-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 04:39:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2011, Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, mengadakan kegiatan Sayembara Penulisan Cerpen bagi Remaja. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi kepada generasi muda/remaja yang mempunyai minat, bakat, dan kemampuan dalam menulis karya sastra (cerpen). Melalui kegiatan sayembara ini, diharapkan nantinya generasi muda/remaja terpacu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=655&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2011, Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, mengadakan kegiatan Sayembara Penulisan Cerpen bagi Remaja. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi kepada generasi muda/remaja yang mempunyai minat, bakat, dan kemampuan dalam menulis karya sastra (cerpen). Melalui kegiatan sayembara ini, diharapkan nantinya generasi muda/remaja terpacu untuk menulis, utamanya menulis karya sastra (cerpen), dengan lebih baik dan bermutu sehingga akan lahir dan tumbuh penulis-penulis muda di negeri ini.<br />
PERSYARATAN<br />
1. Tema cerpen bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.<br />
2. Cerpen harus asli (bukan saduran atau terjemahan), belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan, dan belum pernah diikutsertakan dalam sayembara apa pun.<br />
3. Panjang karangan 5&#8211;8 halaman kertas kuarto atau A4.<br />
4. Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik rapi 1,5 spasi dengan huruf Times New Roman 12 atau Arial 11, dan tidak bolak-balik.<br />
5. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen.<br />
6. Cerpen yang dikirim kepada Panitia harus dilampiri biodata dan fotokopi KTP/Kartu Pelajar/surat keterangan lain yang menyatakan bahwa peserta masih berusia 13—19 tahun</p>
<p>HADIAH<br />
Enam pemenang sayembara akan mendapat piagam penghargaan dan hadiah sebagai berikut<br />
1) Pemenang I Rp6.000.000,00<br />
2) PemenangII Rp5.000.000,00<br />
3) Pemenang III Rp4.000.000,00<br />
4) Pemenang Harapan I Rp3.000.000,00<br />
5) Pemenang Harapan II Rp2.500.000,00<br />
6) Pemenang Harapan III Rp2.000.000,00<br />
Pajak hadiah uang sebesar 15% ditanggung oleh pemenang.</p>
<p>PENGIRIMAN NASKAH<br />
1. Peserta dari Provinsi Jawa Timur dapat mengirimkan naskah cerpen ke Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.<br />
2. Peserta wajib mengirimkan naskah cerpen dalam bentuk kopi keras (hard copy) sebanyak tiga eksemplar dan kopi lunak (soft copy) dalam format MS Word melalui cakram digital (CD) sebanyak satu buah.<br />
3. Khusus untuk kopi lunak, naskah cerpen juga bisa dikirim ke pos-el cerpenremajajatim2011@yahoo.co<br />
m<br />
4. Naskah cerpen diterima oleh panitia Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur paling lambat 20 September 2011 (cap pos).<br />
5. Peserta harus menuliskan alamat dengan jelas beserta nomor telepon dan pos-el agar mudah dihubungi. Di sebelah kiri amplop harap dicantumkan Sayembara Penulisan Cerita Pendek bagi Remaja.<br />
6. Cerpen yang masuk ke Panitia menjadi milik Panitia dan tidak akan dikembalikan.</p>
<p>Panitia Wilayah Provinsi Jawa Timur<br />
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur<br />
Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252<br />
Telp./Faks: 031-8051752<br />
Pos-el: cerpenremajajatim2011@yahoo.com</p>
<p>Informasi lebih lanjut silakan hubungi:<br />
Hero Patrianto (081330797120)<br />
Dian Roesmiati (085648604434)<br />
Awaludin Rusiandi (08123284659)<br />
Ai Siti Rohmah (085230030221)</p>
<p>Sumber: http://balaibahasajatim.org/jatim/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=13&amp;Itemid=2</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=655&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/sayembara-penulisan-cerpen-bagi-remaja-tahun-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lomba Cerpen Solo Pos</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/lomba-cerpen-solo-pos/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/lomba-cerpen-solo-pos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 04:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=651&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/08/174965_131858773570109_100002379619904_206032_3018336_o.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/08/174965_131858773570109_100002379619904_206032_3018336_o.jpg?w=455&#038;h=646" alt="" title="174965_131858773570109_100002379619904_206032_3018336_o" width="455" height="646" class="alignleft size-full wp-image-652" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=651&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/08/06/lomba-cerpen-solo-pos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/08/174965_131858773570109_100002379619904_206032_3018336_o.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">174965_131858773570109_100002379619904_206032_3018336_o</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paijo cidra tresna (II)</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/14/paijo-cidra-tresna-ii/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/14/paijo-cidra-tresna-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 09:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerkak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Bocah-bocah rombongan saka Jawa dadi krasan ana ngomahe pak RT. Tanggapan kulawargane Pak Sadikan uga semanak banget. Saya suwe pasrawungane wong sakrombongan cepet banget rakete. Apa maneh yen ana Rumini. Bebasan witing tresno jalaran saka kulina, Rumini dadi seneng marang Paijo. Pak RT Sadikan sajake ora nggondheli manawa Rumini gandheng karo Paijo. Karepe Paijo sakjane [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=645&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images1.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images1.jpg?w=455" alt="" title="images"   class="alignleft size-full wp-image-648" /></a><br />
  Bocah-bocah rombongan saka Jawa dadi krasan ana ngomahe pak RT. Tanggapan kulawargane Pak Sadikan uga semanak banget. Saya suwe pasrawungane wong sakrombongan cepet banget rakete.<br />
Apa maneh yen ana Rumini. Bebasan witing tresno jalaran saka kulina, Rumini dadi seneng marang Paijo. Pak RT Sadikan sajake ora nggondheli manawa Rumini gandheng karo Paijo.</p>
<p>Karepe Paijo sakjane mung biyasa wae, dianggep panglipur. Lan sarane Pak Wagiman, ora apa-apa kanggo nggangsarake rerakatene karo wong pedhalaman kono. Telung sasi wae, ora suwe, mangkgono jarene Pak Wagiman.</p>
<p>Ora krasa pambangunan mejid wis kari ngethungi dina. Seminggu maneh dikira-kira mesthi rampung. Mejid sing meh rampung iku katon magrong-magrong lan endah. Wernane biru, jobine tegel abang lan gendhenge ijo. Pelatarane amba dikupengi pager tembok sing dhuwur diwerna putih resik.<span id="more-645"></span></p>
<p>Paijo kandha karo Rumini yen dheweke enggal bali menyang Jawa.</p>
<p>“Ayo melu aku dolan menyang Jawa, Dhik? Kowe durung tahu saba menyang Jawa ta?”</p>
<p>Rumini ora bisa mangsuli. Yen karepe atine pengin melu menyang Jawa. Dheweke wis kadhung tresna karo Paijo.</p>
<p>“Mangke teng mrika kaleh sinten.”</p>
<p>“Ya, karo aku…”</p>
<p>Karepe Rumini yen ditembung utawa dijak rabi ya gelem. Nanging Paijo sajake ora arep kandha bab ngajak rabi.</p>
<p>“Mboten angsal kaliyan bapak, Mas. Kudu manut adat. Yen cah wedok arep lungan karo wong lanang kudu diningkah dhisik.”</p>
<p>“Ah, rasah ngono. Iki rak mung dolan. Mengko yen krasan, ya nggolek gaweyan utawa sekolah neng kana. Ora usah kudu rabi dhisik.”</p>
<p>Karepe Paijo supaya dheweke bisa medhot Rumini. Sebab bisa dadi gegeran yen nganti konangan Surti. Mesthi dadi perang paregrek kapindho.</p>
<p>“Lha panjenengan tresna aku mboten Mas?”</p>
<p>Mag dheg atine Paijo. Pitakonan iki sing diwedheni.</p>
<p>“Awake dhewe iki lak lagi proses tetepungan ta Dhik. Padha olehe etepungan iki kanggo golek cocog-orane dhisik, mongsok langsung rabi. Mengko yen kowe ngreti tibakna aku duwe pakulinan sing ora mbok senengi, terus kowe dadi gela. Tinimbang gela mburi rak luwung tetepungan dhisik ta?”</p>
<p>Rumini meneng wae. Bocah kuwi banjur mbrabak. Terus mlayu menyang kamar.</p>
<p>Paijo ora nututi. Malah seneng yen sesrawungane karo Rumini bisa pedhot. Dheweke bisa lunga saka Kalimantan. Apa maneh garapan wis beres lan dhuwite ya wis dibayar. Apa maneh dheweke uga wis kangen banget karo Surti.</p>
<p>Paijo wusanane mulih menyang Jawa. Pas pamitan karo Pak Sadikan lan kulawargane, Paijo ora kepethuk Rumini. Sajake Rumini nesu amarga Paijo lunga. Nanging Paijo ora nggagas. Dina kuwi dheweke lega bisa bali menyang Jawa.</p>
<p>***</p>
<p>Ditinggal Paijo Rumini nangis ora gelem meneng. Bapak ibune dadi susah. Sakjane kabeh ngreti yen nangise Rumini amarga ditinggal lunga Paijo.</p>
<p>“Karepmu kepiye ndhuk? Awakmu nganti kuru yen kowe nangis terus wegah mangan. Wong lanang sakliyane Paijo isih akeh.”</p>
<p>Nanging atine Rumini wis satus persen kanggo Paijo. Paijo kuwi tresna sing sepisane Rumini. Tresna sing sepisan kuwi ora gampang dilalekake. Nanging yen dadi gething uga angel diilangi saka ati.</p>
<p>“Mas Paijo sampun saguh ajeng ngrabi kula Pak.”</p>
<p>“Lhadalah. Kandamu bener ora ngapusi?!”</p>
<p>Pak Sadikan muring krungu kandhane anake wedok sing diapusi Paijo. Ora trima. Diceluk anake lanang. Dirembug bab kahanan kuwi. Karepe arep menehi pelajaran kanggo Paijo, sing wus ditulung malah menthung. Kudu diwales.</p>
<p>***</p>
<p>Paijo ana montor mabur mutah-mutah terus. Awake panas kaya geni. Sakjane pas mangkat ora ana tandha-tandha masuk angin. Kabeh kancane dadi repot ngurus Paijo. Apa maneh mutahe kuwi campur getih lan barang sing aneh-aneh. Ana silet, paku lan pines.</p>
<p>Kabeh dadi mikir yen iki jalaran amarga kena teluh. Iki mesthi teluhe Rumini sing dicidrani Paijo. Malah pas mudhun saka montor mabur larane Paijo tambah abot. Dhuwit celengan saka Kalimantan wis nganti entek kanggo golek tamba, nanging larane Paijo tetep durung bisa mari. Paijo sing biyen gagah lan bagus saiki kuru kari balung diwungkus kulit. Praupane sing bagus dadi rusak amarga lara binthul-binthul. Larane Paijo iku amarga kena teluhe wong Kalimantan sing digawe cidra Paijo. Nanging ana sing luwih wigati, yaiku sapa sing bakal tanggung jawab marang jabang bayi sing dikandhut Surti, sing saya suwe wetenge mundhak gedhe? Cuthel </p>
<p>tulisan dimuat di <a href="http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h49&amp;id=118970">jagad jawa solo pos</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=645&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/14/paijo-cidra-tresna-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertobatan Si Pencuri</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/13/pertobatan-si-pencuri/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/13/pertobatan-si-pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 03:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Se­per­ti­ga ma­lam ada­lah ke­ge­lap­an pa­ling ke­kal di la­ngit. Ha­nya be­be­ra­pa orang, yang ka­re­na hi­da­yah-Nya, bi­sa ba­ngun dan per­gi ber­wu­du. Se­o­rang sua­mi mem­ba­ngun­kan is­tri­nya de­ngan me­mer­cik-mer­cik­kan air ke wa­jah is­tri­nya yang ter­ti­dur pu­las. Sang is­tri ha­nya meng­ge­li­at. Na­mun sang sua­mi kem­ba­li me­nyu­ruh­nya ba­ngun un­tuk ber­wu­du. Me­re­ka sa­lat ma­lam ber­sa­ma. Tak­bir se­ra­sa me­ra­yu di ke­he­ning­an ma­lam. Sa­lat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=641&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/pencuri_medium.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/pencuri_medium.jpg?w=455" alt="" title="Pencuri_medium"   class="alignleft size-full wp-image-642" /></a><br />
Se­per­ti­ga ma­lam ada­lah ke­ge­lap­an pa­ling ke­kal di la­ngit. Ha­nya be­be­ra­pa orang, yang ka­re­na hi­da­yah-Nya, bi­sa ba­ngun dan per­gi ber­wu­du. Se­o­rang sua­mi mem­ba­ngun­kan is­tri­nya de­ngan me­mer­cik-mer­cik­kan air ke wa­jah is­tri­nya yang ter­ti­dur pu­las. Sang is­tri ha­nya meng­ge­li­at.<br />
Na­mun sang sua­mi kem­ba­li me­nyu­ruh­nya ba­ngun un­tuk ber­wu­du.</p>
<p>Me­re­ka sa­lat ma­lam ber­sa­ma. Tak­bir se­ra­sa me­ra­yu di ke­he­ning­an ma­lam. Sa­lat pa­ra mu­ja­hi­din yang rin­du ingin me­li­hat wa­jah-Nya. Su­jud ingin men­cium sur­ga-Nya. Se­ke­jap, sua­sa­na di mu­sa­la ke­cil da­lam ru­mah itu men­ja­di se­nyap dan da­mai. Hing­ga tak me­ra­sa sa­at itu se­o­rang pen­cu­ri me­nye­li­nap ma­suk ha­la­man. Lang­kah­nya se­ri­ngan ku­cing dan ia mem­ba­wa ling­gis ke­cil un­tuk me­ngung­kit jen­de­la.</p>
<p>Pen­cu­ri itu ber­ha­sil me­lom­pat ma­suk ke da­lam ru­mah. Se­je­nak ia me­na­jam­kan pan­dang­an dan mem­bang­kit­kan in­stui­si­nya, di ma­na­kah le­tak ka­mar yang me­nyim­pan har­ta ber­har­ga.</p>
<p>Pen­cu­ri itu ber­pi­kir. Ru­mah ini mi­lik se­o­rang gu­ru ne­ge­ri. Se­o­rang pe­ga­wai pas­ti bu­kan orang mis­kin. Pas­ti ada har­ta ber­har­ga ter­sim­pan da­lam le­ma­ri atau la­ci.<span id="more-641"></span></p>
<p>Ia kem­ba­li ber­jing­kat. Sa­at se­lang­kah ber­ja­lan ia men­de­ngar sua­ra orang sa­lat. Pen­cu­ri itu ter­se­nyum. Ke­sem­pat­an ba­gi­nya men­ja­rah se­mua ba­rang de­ngan le­bih be­bas, pi­kir­nya.</p>
<p>Pen­cu­ri itu ma­suk ke se­buah ka­mar. Ada tem­pat ti­dur, la­ci dan me­ja tu­lis. Ia mem­bu­ka la­ci me­ja itu. Na­mun ia ha­nya me­ne­mu­kan ben­da-ben­da re­meh yang tak ber­gu­na ba­gi­nya.</p>
<p>Ia la­lu per­gi me­nu­ju ke ka­mar lain­nya. Ia me­ne­mu­kan le­ma­ri pa­kai­an. Bia­sa­nya, di be­be­ra­pa tem­pat yang per­nah ia ja­rah, ba­nyak per­hi­as­an di­sim­pan di le­ma­ri pa­kai­an. Tak me­nung­gu aba-aba lang­sung ia meng­ob­rak-ab­rik isi le­ma­ri itu.</p>
<p>Ta­pi di si­ni pen­cu­ri itu ha­nya me­ne­mu­kan pa­kai­an dan pa­kai­an. Itu­pun je­nis pa­kai­an bia­sa, mu­rah dan tak cu­kup ber­har­ga se­ka­li­pun di­ju­al ke tem­pat lo­ak.</p>
<p>Orang ma­cam apa yang ting­gal di si­ni. Bia­sa­nya pe­ga­wai ne­ge­ri se­nang pa­kai­an-pa­kai­an ba­gus, ce­la­na-ce­la­na ma­hal, pi­kir­nya.</p>
<p>Pen­cu­ri itu ber­si­jeng­kat ke­lu­ar. Ma­sih ada dua ka­mar. Ia ma­suk ke sa­lah sa­tu­nya. Di si­ni pun ha­nya ada gu­dang tem­pat se­pa­tu, se­pe­da mo­tor bu­tut dan alat olah­ra­ga. Tak ada ben­da ber­har­ga. Sa­ngat tak mung­kin mem­ba­wa se­pe­da mo­tor bu­tut yang ter­kun­ci itu.</p>
<p>Pen­cu­ri itu se­per­ti hi­lang ke­sa­bar­an. Ia me­ra­sa ge­ram. Ia ke­lu­ar me­nu­ju ke ka­mar ter­akhir. Ia me­mu­tus­kan akan meng­am­bil ben­da apa­pun asal­kan la­ku di­ju­al.</p>
<p>Di ka­mar ter­akhir pen­cu­ri itu mem­be­ra­ni­kan di­ri meng­hi­dup­kan lam­pu. Se­ka­rang se­mua te­rang ke­li­hat­an. Se­mua la­ci dan le­ma­ri lang­sung ia ob­rak-ab­rik tak pe­du­li. Ta­pi la­gi-la­gi di ka­mar ter­akhir ini, ia tak me­ne­mu­kan ben­da ber­har­ga, ha­nya bu­ku dan bu­ku yang ba­nyak me­me­nuhi di ka­mar ter­akhir ini.</p>
<p>Pen­cu­ri itu se­ma­kin ke­sal. Ia be­lum men­da­pat­kan ben­da ber­har­ga apa­pun. Pa­da­hal ru­mah ini ru­mah se­o­rang gu­ru ne­ge­ri. Ma­sak tak ada yang bi­sa ia am­bil.</p>
<p>Na­pas­nya mem­bu­ru, der­de­tak tak ber­atur­an. La­ki-la­ki ting­gi be­sar itu ter­pak­sa ke­lu­ar tan­pa ba­rang ja­ra­han. Aman. Ia tak te­per­gok. Ta­pi ia ma­sih ke­sal tak meng­gon­dol apa-apa.</p>
<p>Ti­ba-ti­ba ia men­de­ngar sua­ra pin­tu di­bu­ka. Ia me­na­jam­kan te­li­nga. Di­li­hat­nya da­lam ke­ge­lap­an ter­nya­ta le­la­ki pe­mi­lik ru­mah ke­lu­ar de­ngan mem­ba­wa tas yang ter­li­hat be­rat. Pen­cu­ri itu me­ra­sa pe­na­sa­ran. Ia ingin meng­ikuti ke ma­na le­la­ki itu per­gi ma­lam-ma­lam be­gi­ni de­ngan men­jin­jing tas. Ia men­da­pati ter­nya­ta le­la­ki itu me­le­tak­kan se­buah bung­ku­san di de­pan pin­tu se­buah ru­mah mi­lik se­o­rang jan­da.</p>
<p>Ia ingin ta­hu apa yang di­ta­ruh le­la­ki itu. Ba­ru se­te­lah le­la­ki itu per­gi si pen­cu­ri ber­ha­sil men­de­kat. Isi bung­ku­san ada­lah be­ras, be­be­ra­pa te­lur ser­ta dua bu­ah mi in­stan. Dan di be­be­ra­pa tem­pat lain yang ju­ga di­da­tangi le­la­ki itu, en­tah itu di tem­pat orang jom­po mau­pun orang mis­kin di ujung ja­lan atau di ru­mah anak ya­tim, pen­cu­ri itu ha­nya me­ne­mu­kan ba­rang yang sa­ma.</p>
<p>Da­lam ha­ti ia mem­ba­tin, pan­tas­lah pe­ga­wai itu ti­dak pu­nya ba­rang yang ma­hal-ma­hal di ru­mah­nya. Pa­da­hal de­ngan ga­ji se­o­rang gu­ru ne­ge­ri, pas­ti­lah ia mam­pu be­li pa­kai­an ba­gus, per­hi­as­an atau ken­da­ra­an yang se­tiap ta­hun ba­ru.</p>
<p>Pen­cu­ri itu be­nar-be­nar ter­ce­kat ke­ti­ka me­li­hat le­la­ki der­ma­wan itu me­nu­ju ke se­buah ru­mah. Le­la­ki itu ju­ga me­le­tak­kan bung­ku­san yang sa­ma. Na­mun cu­kup la­ma si pen­cu­ri itu tak ber­kua­sa meng­ge­rak­kan ka­ki­nya, pa­da­hal un­tuk ma­suk ke ru­mah­nya sen­di­ri.</p>
<p>Pen­cu­ri itu akhir­nya mem­bu­ka bung­ku­san yang di­ting­gal­kan sang le­la­ki der­ma­wan di ru­mah­nya itu. Ti­ba-ti­ba en­tah meng­apa sa­at mem­bu­ka ba­rang itu da­da­nya men­ja­di se­sak. Ia se­ka­rang be­nar-be­nar me­nye­sal ham­pir sa­ja men­ja­rah ru­mah orang yang mem­be­ri­nya se­de­kah.</p>
<p>Ia me­na­ngis hing­ga ter­du­duk di de­pan pin­tu. Ha­ti­nya ba­sah de­ngan pe­nye­sal­an. Ia ber­to­bat ke­pa­da Tu­han dan me­mu­tus­kan se­jak de­tik itu ti­dak akan men­ja­di pen­cu­ri la­gi. Ia ber­syu­kur ke­pa­da Tu­han ka­re­na mem­be­ri­nya hi­da­yah le­wat se­o­rang der­ma­wan bu­kan je­ru­ji be­si hu­kum­an.</p>
<p>dimuat di <a href="http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h65&amp;id=118350">khasanah keluarga solo pos</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/641/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=641&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/13/pertobatan-si-pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/pencuri_medium.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pencuri_medium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pai­jo ci­dra tres­na (I)(ana can­dha­ke)</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/07/pai%c2%adjo-ci%c2%addra-tres%c2%adna-iana-can%c2%addha%c2%adke/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/07/pai%c2%adjo-ci%c2%addra-tres%c2%adna-iana-can%c2%addha%c2%adke/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 08:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerkak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[Bi­yen ana kan­dha yen wis mu­lih sa­ka pa­ran Pai­jo ba­kal nem­bung Sur­ti. Yen wis mlum­puk go­lek dhu­wit sa­ka ker­ja ngran­tau. Yen wis cu­kup ce­leng­ane. Ka­ya ngo­no ik­ra­re Pai­jo bi­yen. Mu­lih sa­ka Ja­kar­ta wis ora ta­han ngam­pet kang­ene ma­rang Sur­ti. Cah lo­ro do­lan ba­reng me­nyang ta­man ria. Sa­di­na wutuh cah lo­ro we­gah mu­lih amar­ga sa­ka kang­ene. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=638&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images.jpg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images.jpg?w=455" alt="" title="images"   class="alignleft size-full wp-image-639" /></a><br />
Bi­yen ana kan­dha yen wis mu­lih sa­ka pa­ran Pai­jo ba­kal nem­bung Sur­ti. Yen wis mlum­puk go­lek dhu­wit sa­ka ker­ja ngran­tau. Yen wis cu­kup ce­leng­ane. Ka­ya ngo­no ik­ra­re Pai­jo bi­yen.<br />
Mu­lih sa­ka Ja­kar­ta wis ora ta­han ngam­pet kang­ene ma­rang Sur­ti. Cah lo­ro do­lan ba­reng me­nyang ta­man ria.<br />
Sa­di­na wutuh cah lo­ro we­gah mu­lih amar­ga sa­ka kang­ene.</p>
<p>Cah lo­ro pa­dha ke­tam­ane as­ma­ra. Pai­jo nga­jak Sur­ti ngin­ep ho­tel. Sur­ti ma­nut wae. Wong tu­wa­ne Sur­ti sa­ja­ke uga ikh­las ka­ya­ta wis pes­thi yen jod­ho­ne Sur­ti ku­wi ge­nah Pai­jo.</p>
<p>Neng ho­tel ya mes­ti ora mung tri­ma ma­ngan lan tu­ru. Pai­jo uga nor­mal sak nor­mal-nor­ma­le lan Sur­ti, cah wed­hok wis ge­dhe, ora no­lak Pai­jo sing nga­jak ji­mak.<span id="more-638"></span></p>
<p>Mu­lih sa­ka ho­tel, Pai­jo ke­te­kan da­yoh neng ngo­ma­he. Pak Wa­gim­an nga­jak nyam­but ga­we Pai­jo me­nyang pe­da­lam­an Ka­li­man­tan ngga­rap mejid ana ka­na. Dhu­wi­te lu­ma­yan ge­dhe tur ga­we­ya­ne ora su­we, te­lung sa­si mes­ti ram­pung. Se­di­na di­ba­yar sa­tus ewu, li­pet pin­dho­ne ba­yar­an ana ing Ja­wa.</p>
<p>Pai­jo mi­kir. Dhe­weke wis sa­guh mba­kal nem­bung Sur­ti akhir wu­lan iki. Lan sak te­ru­se mes­thi ngrem­bug go­leg di­na sing apik.</p>
<p>“Pri­pun nggih Pak? Ku­la sam­pun sa­guh ajeng nem­bung Sur­ti akhir wu­lan ni­ki.”</p>
<p>“Ko­we rak bisa ales­an to. Sur­ti ora ba­kal mla­yu. Lha rak wis da­di si­sa­mu to?” se­mau­re Pak Wa­gim­an kan­ti nggle­ges. Sa­ja­ke wis ja­mak nger­ti yen Sur­ti ka­ro Pai­jo ku­wi run­tang-run­tung ka­ya wis da­di bo­jo­ne. Pan­cen adat bu­brah ka­ya nge­ne wis ja­mak ana ngen­di wae, ora mung ku­tha ning de­sa uga ngo­no.</p>
<p>“Pi­ye? Iya ja­wab­e iya, yen ora aku tak go­lek li­ya­ne. Nang­ing aku nya­ran­ke ko­we, em­an-em­an yen mbok tu­lak. Isa da­di ce­le­ngan sak­wi­se ko­we ra­bi.”</p>
<p>Pai­jo ngu­kur-ngu­kur si­ra­he sing ora ga­tel. Dhe­weke mi­kir.</p>
<p>“Yen cah pin­ter ora ba­kal nu­lak ke­sem­pat­an emas ka­ya nge­ne ki. Em­an-em­an ba­nget.”</p>
<p>“Nggih ku­la se­dya tu­mut Pak. Mang­ke ku­la sa­jar ri­yen ka­lih Sur­ti.”</p>
<p>“Lha ngo­no, da­di wong la­nang ku­wi ku­du ge­dhe ati­ne. Ra­sah su­sah-su­sah mi­kir bab wong wedok. Yen jod­ho ora ba­kal mla­yu.”</p>
<p>Pai­jo da­di man­tep ka­ro kan­dha­ne Pak Wa­gim­an. So­re ku­wi Pai­jo do­lan me­nyang oma­he Sur­ti. Neng nga­re­pe Sur­ti lan ba­pak ibu­ne, Pai­jo kan­dha yen dhe­weke arep lunga adoh me­nyang Ka­li­man­tan ngga­rap pro­yek mejid.</p>
<p>“Nggih ni­ki kang­ge ce­le­ngan ku­la mang­ke sak­bi­ba­re ni­kah pak bu…”</p>
<p>Ba­pak ibu­ne Sur­ti ya ora bi­sa kan­dha apa-apa. Wis ma­nut ka­ro cah lo­ro ku­wi. Nang­ing Sur­ti mbra­bak mri­pa­te. Dhe­weke wis ngam­pet su­we. Nang­ing arep ti­ba da­ta­ne kok ma­lah ana-ana wae. Tur dhe­weke wis mu­tah-mu­tah wingi so­re. Ala­mate yen dhe­weke ku­wi wis isi. Nang­ing diampet arep kan­dha ma­rang Pai­jo. Pas ba­pak ibu­ne lunga, Sur­ti la­gi wa­ni kan­dha saktenane.</p>
<p>“Mas, ku­la sam­pun isi.”</p>
<p>“Lho kok ce­pet ba­nget ta.”</p>
<p>Sur­ti mre­ngut.</p>
<p>“Mak­sud­ku ora ngo­no Dhik. Nang­ing pi­ye, aku wis ke­ba­cut sa­guh mang­kat ki. Sa­bar sik ya.”</p>
<p>“Nang­ing ko­we ku­du eling mas. Aja se­ling­kuh ma­rang wong we­dok li­ya ana ka­na.”</p>
<p>“Te­nang. Pa­pan pa­ga­we­yan­ku ana pe­dha­lam­an Ka­li­man­tan ka­na, apa ana wong wed­ok sing lu­wih ayu sa­ka ko­we neng ka­na? Ana­ne ma­can apa lu­tung. Mo­sok aku ge­lem ka­ro lu­tung we­dok?”</p>
<p>“Po­ko­ke ora oleh ne­ka-ne­ka. Yen ba­yar­an aja ding­go ma­in.”</p>
<p>“Te­nanga wae. Aku iki ngga­rap me­jid. Amal so­leh. Mu­ga-mu­ga bi­sa da­di ber­kah kang­go aku lan ko­we.”</p>
<p>Sur­ti da­di ayem are­pa sak­ja­ne ati­ne ra­da ge­la ni­ngka­he da­di wu­rung ma­neh amar­ga Pai­jo arep nglem­ba­ra me­nyang Ka­li­man­tan.</p>
<p>***</p>
<p>Pai­jo lan sak rom­bong­an mang­kat num­pak mon­tor ma­bur. Sak umu­re Pai­jo du­rung per­nah num­pak pe­sa­wat. Iki la­gi peng­alam­an se­pis­an. Bo­cah ku­wi ngan­ti we­gah tu­ru neng mon­tor ma­bur amar­ga peng­in na­mat­ke te­nan­an ru­pa­ne mon­tor ma­bur ku­wi.</p>
<p>Per­ja­lan­an me­nyang Ka­li­man­tan ora su­we. Sak­jam wis te­kan Ka­li­man­tan. Nang­ing yen arep neng pe­dha­lam­ane ku­du num­pak car­ter­an sing ado­he pa­tang pu­luh li­ma ki­lo­me­ter.</p>
<p>Da­la­ne ngli­wa­te alas pe­teng lan rung­gut. Omah war­ga arang-arang. Yen ana de­sa ya mung si­thik ba­nget. Ja­re­ne sing urip ana pe­dha­lam­an ku­wi su­ku Da­yak. Su­ku Da­yak sai­ki wis be­da ka­ro su­ku Da­yak bi­yen. Su­ku Da­yak ja­man sai­ki wis ngang­go klam­bi lan ra­ta-ra­ta oma­he apik-apik ana ing pe­da­lam­an ku­wi.</p>
<p>Pai­jo med­hun ana pe­da­lam­an sing ar­ane dae­rah Ko­la­ko­le, Ka­li­man­tan Ti­mur. Rong ki­lo ka­ro pe­dha­lam­an ku­wi wis ce­dhak ka­ro pe­si­sir Se­lat Ja­wa. Ka­beh rom­bong­an ngin­ep ana ngo­ma­he Pak RT Sa­di­kan. Lan nde­la­lah wae Pak RT ku­wi asa­le sa­ka Ja­wa nang­ing wis pi­rang pu­luh ta­hun ana ing pe­dha­lam­an Da­yak ko­no. Ana­ke ana lo­ro. Si­ji la­nang lan si­ji wedok. Sing la­nang ke­rep sa­ba neng alas nyam­but ga­we te­bang ka­yu di­dol me­nyang ku­tha. Me­na­wa ana­ke wed­ok ana ngo­mah. Sing ana­ke wed­ok iki sing ma­rai nggu­mun sak rom­bong­an. Je­ne­nge Ru­mi­ni, bo­ca­he ayu lan ke­nes. Umu­re la­gi ngan­cik 21 ta­hun. Lan amar­ga ora ke­rep ke­pe­thuk bu­jang sa­ka pa­ran, bo­cah ku­wi tam­bah ke­ma­yu sa­ku­wi­se ana­ne rom­bong­an ku­wi. </p>
<p>dipasang ana harian <a href="http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h49&amp;id=118220">solo pos</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/638/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=638&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/07/07/pai%c2%adjo-ci%c2%addra-tres%c2%adna-iana-can%c2%addha%c2%adke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/07/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LOMBA NOVEL REPUBLIKA 2011</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/27/632/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/27/632/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 10:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[silakan klik gambarnya untuk keterangan lebih jelas&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=632&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>silakan klik gambarnya untuk keterangan lebih jelas&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</em><em><br />
<a href="http://www.republika.co.id/iklan/novel/novel.html"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/06/novel.jpg?w=455" alt="" title="novel"   class="aligncenter size-full wp-image-633" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/632/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=632&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/27/632/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/06/novel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">novel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PAHLAWAN + PANCASILA</title>
		<link>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/10/pahlawan-pancasila/</link>
		<comments>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/10/pahlawan-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 13:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmokanjeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal coret]]></category>
		<category><![CDATA[essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atmokanjeng.wordpress.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang absurd dari sejarah Indonesia itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa pahlawan yang berjuang di masa sebelum proklamasi dikatakan sebagai pahlawan kemerdekaan. Dan pahlawan yang berjuang sesudah proklamasi dinamakan sebagai pahlawan proklamasi. Atau pahlawan yang menghancurkan gerakan PKI dari Indonesia dinamakan sebagai pahlawan revolusi. Mungkin di jaman sekarang orang seperti Munir harusnya disebut sebagai pahlawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=624&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/06/images1.jpeg"><img src="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/06/images1.jpeg?w=455" alt="" title="images"   class="alignleft size-full wp-image-629" /></a><br />
Ada yang absurd dari sejarah Indonesia itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa pahlawan yang berjuang di masa sebelum proklamasi dikatakan sebagai pahlawan kemerdekaan. Dan pahlawan yang berjuang sesudah proklamasi dinamakan sebagai pahlawan proklamasi. Atau pahlawan yang menghancurkan gerakan PKI dari Indonesia dinamakan sebagai pahlawan revolusi. Mungkin di jaman sekarang orang seperti Munir harusnya disebut sebagai pahlawan reformasi.</p>
<p>Pahlawan asal kata dari pahala dan wan. Orang yang berjasa yang kemudian mendapat pahala. Pahala selama ini lebih dekat kepada pemahaman Islam, yaitu ganjaran atau balasan. </p>
<p>Dalam Islam, pahala terbesar bagi seorang hamba adalah pahala yang diberikan nanti di akhirat. Dalam banyak ayat, disebutkan bahwa pahala dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pahala di akhirat. </p>
<p>Akhirat yang belum dinampakkan mata sekarang namun kenikmatannya disebutkan dalam Al Quran dengan dikatakan sebagai dimana kebun yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.Tempat bidadari surga yang perawan dan bening kelihatan tulang sumsumnya. cemeti di surga itu sendiri jauh lebih indah daripada dunia seisinya.  Atau bahkan orang yang paling rendahnya berkedudukan di neraka mendapat 10 kali kerajaan bumi . <em>Wa’llahu ta’ala a’lam.</em><span id="more-624"></span></p>
<p>Meskipun akhirat itu kekal adanya, dan dunia adalah kediaman sementara yang fana, justru karena sementara itulah, orang kadang mudah terpedaya dengan dunia yang sementara ini. Mereka tidak percaya dengan adanya akhirat karena tidak nampak keberadaannya sekarang. Kerja keras mereka semata demi dunia, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan bagian dunia yang sementara itu. Tak peduli bahwa ada kehidupan sesudah mati. Bagi mereka dunia adalah puncak kebahagiaan mereka. </p>
<p>Namun disebutkan juga segolongan kaum yang hanya akan diberikan pahala dunia, sesuai yang diambisikannya, yang tak mendapat bagian di akhirat. Orang semacam ini disebut orang yang merugi. Mereka biasanya orang-orang yang melakukan perbuatan dosa besar maupun dosa kecil, yang dilakukan terus menerus hingga karena tidak takut dan terbiasanya ia melakukan dosa kecil ini, ia sebenarnya telah melakukan dosa besar. Termasuk tindakan dosa besar, termasuk membunuh, berzina, merampas kehormatan saudara sendiri. Korupsi, menjual aset negara dan berkhianat kepada pengusaha asing demi segelintir materi, menjadi artis porno di Indonesia, juga termasuk bagian dari ini.</p>
<p>Agar tidak tergelincir di dunia karena itulah begitu manusia dituntunkan untuk meminta kepada Allah kebaikan di dunia dan akhirat. <em>Rabbana attina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah</em>. Selain itu agar manusia mendapatkan pahala Allah yang sempurna di dunia maupun di akhirat yang kekal tiada bandingannya itu, manusia harus melakukan perbuatan (amal sholeh) dan menjauhi yang diharamkan oleh Sang Pencipta.</p>
<p>Pahlawan itu adalah orang yang berjihad menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman. Konsep ini telah menjadi bagian jihad Islam yaitu <em>Amar ma’ruf nahi munkar</em>. Bentuknya bisa berbagai rupa. Dari jihad terhadap diri sendiri hingga jihad berperang untuk mengusir penjajah yang intinya semua bermuara pada keridhaan dan palaha dari Allah Ta’ala. </p>
<p>Di jaman sebelum kemerdekaan ketika mengusir Belanda dan sekutunya dan perang sesudah kemerdekaan melawan para penjajah yang ingin menggagahi bum Indonesia, para pejuang Islam di Indonesia ini berperang dengan kalimat takbir .. <em>Allahu Akbar.. Allahu Akbar…</em> tiada lain bahwa peperangan mereka adalah jihad itu sendiri. Mereka berperang (berjihad) dengan darah, air mata, dan seluruh tenaga. Tak peduli kehilangan nyawa dan harta. Kita bisa melihat sejarah yang sebenarnya para pejuang yang meneriakkan kalimat thoyibah itu bukanlah para pemberontak yang dikatakan ingin mendirikan negara Islam Indonesia dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah itu. </p>
<p>Namun anehnya, di jaman sekarang, sebagian orang yang benci kepada Islam hendak mengecilkan perjuangan umat Islam di jaman era sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan itu dengan sebuah kata Pancasila. Sekarang telah dimulai bahwa gerakan apapun yang bermuatan Islam, layak untuk dicurigai, diinteli, dieliminasi kalau pada dhahirnya mereka tidak mau hormat bendera, dan kalau tidak memasang logo Pancasila di rumah mereka akan dicap sebagai antek NII. Sebagai kaum radikalis yang ingin menggulingkan SBY. Entah itu kaum rakyat biasa atau terpelajar, pokoknya yang memandang sebelah mata kepada Pancasila harus dibersihkan dari Indonesia, takutnya menjadi bahaya laten seperti PKI. Lebih absurd lagi (benar-benar terjadi) di desa saya, mulai ada pemberitahuan di tingkat RT hingga kelurahan untuk tidak memakai pakaian hitam-hitam agar tidak disangka sebagai antek NII.</p>
<p>Padahal kalau ditilik, para pejabat kita yang disumpah dengan dasa lima Pancasila, dengan UUD 45 dengan semangat proklamasi, dan entah formalitas kenegaraan lainnya yang setiap senin dan hari besar tujuh belas agustus, rajin hormat bendera, telah ikut andil menjadikan negara kita terkorup nomer empat sedunia, negara paling miskin nomer sekian, para pejabat yang suka pamer kekayaan, para pejabat yang main film porno, para pejabat yang menjual aset negara, para pejabat yang menghamburkan pajak untuk kepentingan plesir ke luar negeri dengan dalih studi banding, para pejabat yang tidak hanya menerima gaji sekian puluh juta sebulan tapi minta nambah lagi dan memaksa tunjangan keluarga agar dipenuhi. Di tingkat akar rumput, para bonek yang membuat macet jalan dan sering merusak fasilitas umum mengklaim diri mereka sebagai pendukung pahlawan bangsa (PSSI). Mereka-mereka itulah yang menyebut diri mereka sendiri pahlawan Pancasila masa kini. Pahlawan pahlawan gadungan itu menggembor-gemborkan perjuangan mereka dengan wacana dan sesorah di media. Para pahlawan gadungan kotemporer itu berjuang atas dalih kepentingan rakyat. Yang sebenarnya jangankan berkorban nyawa, berkorban sedikit tenaga dan harta saja minta ganti rugi yang besar dengan minta digaji puluhan juta. Kalau tidak dipenuhi mereka mengancam akan korupsi. <em>Naudzu billahi min dzalik. </em></p>
<p>Baiklah, mereka bolehlah mengaku sebagai pahlawan pahlawan Pancasila atau pahlawan apapun, tapi Allah Maha Melihat apa yang mereka lakukan dan sembunyikan. Pahala Allah adalah tujuan utama kesuksesan kita di dunia dan akhirat. Bukan seperti mereka, mengaku pahlawan tapi sebenarnya tak lebih dari penjahat yang ingin menjadi pahlawan.</p>
<p>gambar dari <a href="http://bumipoetra.blogspot.com/2010/11/redefinisi-pahlawan.html">sini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atmokanjeng.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atmokanjeng.wordpress.com/624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atmokanjeng.wordpress.com&amp;blog=6714667&amp;post=624&amp;subd=atmokanjeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atmokanjeng.wordpress.com/2011/06/10/pahlawan-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baab2624de1187a94e81d6b2bf2bd43b?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">atmokanjeng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atmokanjeng.files.wordpress.com/2011/06/images1.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
