Pertobatan Si Pencuri
13 July 2011 at 16:12 2 comments

Sepertiga malam adalah kegelapan paling kekal di langit. Hanya beberapa orang, yang karena hidayah-Nya, bisa bangun dan pergi berwudu. Seorang suami membangunkan istrinya dengan memercik-mercikkan air ke wajah istrinya yang tertidur pulas. Sang istri hanya menggeliat.
Namun sang suami kembali menyuruhnya bangun untuk berwudu.
Mereka salat malam bersama. Takbir serasa merayu di keheningan malam. Salat para mujahidin yang rindu ingin melihat wajah-Nya. Sujud ingin mencium surga-Nya. Sekejap, suasana di musala kecil dalam rumah itu menjadi senyap dan damai. Hingga tak merasa saat itu seorang pencuri menyelinap masuk halaman. Langkahnya seringan kucing dan ia membawa linggis kecil untuk mengungkit jendela.
Pencuri itu berhasil melompat masuk ke dalam rumah. Sejenak ia menajamkan pandangan dan membangkitkan instuisinya, di manakah letak kamar yang menyimpan harta berharga.
Pencuri itu berpikir. Rumah ini milik seorang guru negeri. Seorang pegawai pasti bukan orang miskin. Pasti ada harta berharga tersimpan dalam lemari atau laci.
Ia kembali berjingkat. Saat selangkah berjalan ia mendengar suara orang salat. Pencuri itu tersenyum. Kesempatan baginya menjarah semua barang dengan lebih bebas, pikirnya.
Pencuri itu masuk ke sebuah kamar. Ada tempat tidur, laci dan meja tulis. Ia membuka laci meja itu. Namun ia hanya menemukan benda-benda remeh yang tak berguna baginya.
Ia lalu pergi menuju ke kamar lainnya. Ia menemukan lemari pakaian. Biasanya, di beberapa tempat yang pernah ia jarah, banyak perhiasan disimpan di lemari pakaian. Tak menunggu aba-aba langsung ia mengobrak-abrik isi lemari itu.
Tapi di sini pencuri itu hanya menemukan pakaian dan pakaian. Itupun jenis pakaian biasa, murah dan tak cukup berharga sekalipun dijual ke tempat loak.
Orang macam apa yang tinggal di sini. Biasanya pegawai negeri senang pakaian-pakaian bagus, celana-celana mahal, pikirnya.
Pencuri itu bersijengkat keluar. Masih ada dua kamar. Ia masuk ke salah satunya. Di sini pun hanya ada gudang tempat sepatu, sepeda motor butut dan alat olahraga. Tak ada benda berharga. Sangat tak mungkin membawa sepeda motor butut yang terkunci itu.
Pencuri itu seperti hilang kesabaran. Ia merasa geram. Ia keluar menuju ke kamar terakhir. Ia memutuskan akan mengambil benda apapun asalkan laku dijual.
Di kamar terakhir pencuri itu memberanikan diri menghidupkan lampu. Sekarang semua terang kelihatan. Semua laci dan lemari langsung ia obrak-abrik tak peduli. Tapi lagi-lagi di kamar terakhir ini, ia tak menemukan benda berharga, hanya buku dan buku yang banyak memenuhi di kamar terakhir ini.
Pencuri itu semakin kesal. Ia belum mendapatkan benda berharga apapun. Padahal rumah ini rumah seorang guru negeri. Masak tak ada yang bisa ia ambil.
Napasnya memburu, derdetak tak beraturan. Laki-laki tinggi besar itu terpaksa keluar tanpa barang jarahan. Aman. Ia tak tepergok. Tapi ia masih kesal tak menggondol apa-apa.
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka. Ia menajamkan telinga. Dilihatnya dalam kegelapan ternyata lelaki pemilik rumah keluar dengan membawa tas yang terlihat berat. Pencuri itu merasa penasaran. Ia ingin mengikuti ke mana lelaki itu pergi malam-malam begini dengan menjinjing tas. Ia mendapati ternyata lelaki itu meletakkan sebuah bungkusan di depan pintu sebuah rumah milik seorang janda.
Ia ingin tahu apa yang ditaruh lelaki itu. Baru setelah lelaki itu pergi si pencuri berhasil mendekat. Isi bungkusan adalah beras, beberapa telur serta dua buah mi instan. Dan di beberapa tempat lain yang juga didatangi lelaki itu, entah itu di tempat orang jompo maupun orang miskin di ujung jalan atau di rumah anak yatim, pencuri itu hanya menemukan barang yang sama.
Dalam hati ia membatin, pantaslah pegawai itu tidak punya barang yang mahal-mahal di rumahnya. Padahal dengan gaji seorang guru negeri, pastilah ia mampu beli pakaian bagus, perhiasan atau kendaraan yang setiap tahun baru.
Pencuri itu benar-benar tercekat ketika melihat lelaki dermawan itu menuju ke sebuah rumah. Lelaki itu juga meletakkan bungkusan yang sama. Namun cukup lama si pencuri itu tak berkuasa menggerakkan kakinya, padahal untuk masuk ke rumahnya sendiri.
Pencuri itu akhirnya membuka bungkusan yang ditinggalkan sang lelaki dermawan di rumahnya itu. Tiba-tiba entah mengapa saat membuka barang itu dadanya menjadi sesak. Ia sekarang benar-benar menyesal hampir saja menjarah rumah orang yang memberinya sedekah.
Ia menangis hingga terduduk di depan pintu. Hatinya basah dengan penyesalan. Ia bertobat kepada Tuhan dan memutuskan sejak detik itu tidak akan menjadi pencuri lagi. Ia bersyukur kepada Tuhan karena memberinya hidayah lewat seorang dermawan bukan jeruji besi hukuman.
dimuat di khasanah keluarga solo pos
Entry filed under: cerpen. Tags: .
1.
Yuni Nurul | 18 August 2011 at 16:12
Idenya simpel… mengatur logika kita agar terus bersedekah…
2.
atmokanjeng | 19 August 2011 at 16:12
beberapa koran (media) memang membatasi ruang. jadinya kita harus banyak berkompromi. btw, semoga tidak mengurangi manfaatnya. salam