LOMBA RESENSI AL-QOWAM GROUP

lomba resensi A4WEB

Lomba Resensi buku Al-Qowam Group adalah upaya memperkenalkan buku-buku terbitan Al-Qowam Group kepada masyarakat luas. Dengan adanya Lomba Resensi ini dapat pula merekatkan pembaca buku Al-Qowam Group dengan redaksi dan memberikan penghargaan kepada para pembaca yang setia.

PESERTA:
Para Blogger (Segala macam domain (WordPress, Blogspot, Blogdetik, kompasiana Dll) dan Facebooker dengan Ketentuan Bersyarat

HADIAH:
Pemenang I : Rp. 1.000.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
Pemenang II : Rp. 750.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
Pemenang III : Rp. 500.000,00 + bingkisan buku Khulafaur Rasyidin
5 pemenang harapan masing-masing mendapat bingkisan buku menarik Al-Qowam
Dan jika diperlukan atau meminta akan diberikan sertifikat sebagai kelengkapan.

PENILAIAN:

Kritis dan obyektif tulisan (70 %)
Penggunaan hiperlink yang proporsional (20 %)
Interaktif tulisan di blog/facebook dengan pembaca (10%)

TEKNIK PELAKSANAAN:
1. Artikel lomba merupakan karya original, bukan saduran, terjemahan, dan bebas dari tindakan plagiat. Artikel lomba menggunakan bahasa Indonesia.
2. Semua artikel yang diikutsertakan dalam lomba harus ditayangkan di blog atau catatan facebook. Domain blog bebas (wordpress, blogspot, kompasiana, blogdetik, maupun blog pribadi dengan nama domain dot com atau domain lain).
3. Untuk catatan di facebook, peserta adalah facebooker dengan nama asli bukan nama alias/samaran/nama alay). Minimal teman 100 orang. Meng-add facebook Sahabat Penerbit Al-Qowam dan Kutubuku Al-Qowam (wajib). Resensi diposting di catatan dan meng-tag minimal 15 orang teman termasuk Al-Qowam.
4. Menyertakan gambar buku yang diresensi.
5. Mengandung kata kunci judul buku diresensi yang dilink-kan ke http://www.alqowamgroup.com/
6. Kirim naskah ke alamat email: al-qowamgroup@yahoo.com. Cantumkan nama, alamat, no telp yang bisa dihubungi dan LINK resensi yang diposting.
7. Lomba ini tidak boleh diikuti karyawan Al-Qowam Group.
8. Keputusan pemenang mutlak ada di tangan dewan juri. Keputusan tidak dapat diganggu gugat.
9. Dewan juri tidak menerima pertanyaan atau saran apapun. Tapi pertanyaan bisa ditanyakan ke redaksi lewat komentar di halaman web atau facebook Al-Qowam group.
10. Pengumuman pemenang akan ditayangkan di facebook Al-Qowam dan di website al-qowamgroup.com
11. Pemenang lomba dipilih berdasarkan kualitas tulisan. Jumlah sharing artikel di sosial media, komentar dan jumlah pembaca menjadi bahan pertimbangan dalam penjurian.

Pelaksanaan : 1 April – 1 Mei 2014
Pengumuman Pemenang : 20 Mei 2014

INFO BUKU YANG WAJIB DIRESENSI : www.alqowamgroup.com
INFORMASI
085229628009 (Andri )

ttd
Panitia Lomba

Wajah Calon Lurah Berlumuran Darah

dimuat di joglosemar 23/3
Untitled

Calon lurah itu akhir-akhir ini memang sering datang di warung. Saban hari malah ia datang dengan mobil panthernya. Biasanya ia datang sendirian. Senyum lebarnya selalu menyapa kami, seolah ia orang yang tak pernah merasa kesusahan.

Apalagi menjelang Pilkades yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Dalam setiap kedatangannya ia selalu bermurah hati menraktir semua pengunjung di warung. Bu Kanjeng sendiri, sebagai pemilik warung, ikut merasa dia yang ketiban pulung. Ia pun memanggil si calon lurah yang bernama Yosua itu dengan Bos Yos. Akhirnya semua orang, setiap ketemu dengan calon lurah itu suka mengikuti lidah Bu Kanjeng, semata untuk mendapat hati dari si calon lurah.

Seperti hari ini, jika biasanya yang banyak mendominasi obrolan di warung adalah Narimo si tukang becak, yang isinya kurang lebih curhat kekurangan hidupnya, sekarang hal itu tak terjadi lagi. Sekarang Narimo sendiri paling banter hanya bicara untuk mengaklamasi omongan si Bos Yos itu, persis seperti beo saja. Tapi anehnya, perbuatan yang kami benci dari Narimo ini, tak segan kami lakukan kalau si calon lurah ini bicara.

Seperti kali ini ketika Bos Yos ini sedang menceritakan janji-janjinya kalau jadi lurah nanti dan juga kegiatan amalnya menyumbang korban banjir yang sedang melanda Jakarta. Kami semua, termasuk Narimo hanya mendengarkan. Tak peduli itu cerita itu sebenarnya tidak banyak berbeda seperti janji-janji pejabat yang ingkar janji itu, namun karena Bos Yos yang membayari kami makanan, jadilah kami merasa harus menjadi pendengar yang baik. Tak boleh ada sahutan yang nyaring dari orang-orang, atau celetukan kenes Bu Kanjeng. Pokoknya harus menjadi pendengar sampai si Bos Yos bosan sendiri bicara.

Tetapi tiba-tiba, mungkin karena saking bersemangatnya, tanpa sadar Bos Yos berbuat ceroboh yang sangat gawat. Sikunya yang atraktif itu tak sengaja menumpahkan cangkir kopi pengunjung di sebelahnya, milik Pak Kardi, orang yang paling streng di antara pengunjung warung. Jadilah kemeja putih Pak Kardi itu kena tumpahan kopi hitam yang cukup banyak sehingga membuat kemeja yang belum lunas cicilannya itu menjadi tambah jelek sekali.

“Maaf, maaf Pak. Saya tadi nggak sengaja,” kata si Bos Yos benar-benar minta maaf. Ia berniat mengelapi namun malah meratakan kotoran kuning ampas kopi.

Continue reading

Ziarah Diri ke Puncak Lawu Nan Eksotis

Photo-0002-150x150
Jika engkau melihat sebuah gunung yang mirip seorang wajah perempuan tidur maka itulah gunung Lawu. Terletak pada ketinggian 2.354 m.dpl yang menjadi pembatas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perbedaan dengan banyak gunung di jawa lainnya, hanya gunung Lawu yang menyimpan banyak cerita hidup yang turun temurun diyakini masyarakat dan para pendaki yang datang kepadanya. Bagi beberapa kalangan mendaki gunung Lawu bukan sekedar aktifitas mendaki gunung biasa tapi menziarahi diri lewat sebuah media yang mengada yaitu gunung Lawu. Artinya pendakian ke gunung Lawu itu tak pernah kosong makna.

Ada tiga puncak yang mempunyai pemandangan eksotis di gunung Lawu, yaitu puncak Argo Dumilah, puncak Argo Dalem, dan puncak Argo Dumuling. Ketiga puncak itu terutama mempunyai beberapa kisah hidup yang turun temurun masih diyakini sampai sekarang. Terlepas kisah itu apakah mitos belaka namun kesempatan untuk mengunjungi ketiga puncak Lawu adalah sebuah sensasi tersendiri. Sebuah perjalanan menziarahi alam sekaligus menziarahi diri kita sendiri.

Kita awali perjalanan kita dari jalan di Tawangmangu yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan juga bukan sepi pemadangan indah. Areal persawahan yang hijau dan alur sungai kali Samin yang masih menjadi nadi kehidupan para petani di bawah lereng Lawu. Semua pemandangan itu seperti memanggil sisi hati yang lembut bahwa kita manusia adalah pecinta keindahan dan selalu mempunyai hasrat untuk berbagai keindahan. Artinya keindahan itu tidak bisa berlangsung selamanya jika kita tidak berperan ikut menyumbang di dalamnya. Ancaman hunian warga dan pembangunan properti memang mengincar sebagian kawasan di Tawangmangu yang eksotis. Pada awal mula ini kita diketuk untuk mengingat betapa murah hati sang pencipta memberikan keindahan kepada manusia di dunia dan tugas manusia adalah sebagai khalifah yang menjaga kelestarian bumi.

Setelah perjalanan itu kita lantas berhenti di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Ada dua tempat pintu gerbang pendakian. Semuanya menawarkan sensasi pendakian yang berbeda tentu saja. Tingkat kesulitan yang lebih berat biasanya dipilih pendaki yang menginginkan kisah petualangan yang penuh tantangan. Ada juga tipe pendaki yang ingin melihat-lihat vegetasi dan suka mengadakan penelitian di hutan gunung Lawu biasanya memilih lewat Cemoro kadang. Atau juga para pendaki peziarah spiritiual yang biasanya melewati jalur-jalur tertentu baik lewat Cemoro Kandang atau lewat Cemoro Sewu. Mereka mempunyai ciri khas tersendiri dari perangkat yang mereka bawa. Dengan mudah dapat kita temui banyak tipe pendaki seperti ini di puncak Lawu. Masing-masing karakter ini bukanlah alasan untuk menilai seseorang yang naik ke puncak Lawu. Keragaman ini adalah bagian dari kisah perjalanan yang selalu menyertai. Perilaku-perilaku negatif memang tidak bisa kita tolerir baik itu dari semua jenis pendaki, karena yang terpenting adalah tetap menjaga kelestarian dari gunung Lawu ini yang bisa dilakukan dengan beragam cara, baik itu dengan cara fisik maupun dengan cara pemikiran, dan keduanya sah-sah saja.

425686_393815737300277_100000155619700_1808783_217250675_n-150x150Baiklah, kita mulai perjalanan dari Cemoro Kandang yang lebih landai walaupun nanti sedikit memutar dan lebih jaauh sedikit. Tipe trek adalah jalan setapak, di sini menuntut kita menjadi orang yang berhati-hati, selalu berusaha menjaga keutuhan tim. Karena pada awal seperti ini cenderung para pendaki untuk selalu memforsir kekuatan untuk selalu pertama. Dan hal ini mempunyai kelanjutan yang buruk bagi keutuhan tim. Akhirnya pada trek pertama hingga pos pertama ini, kita harus belajar untuk tetap menjaga jarak dengan teman. Dalam arti menyeimbangkan dengan kekompakan tim bukan menumbuhkan ego masing-masing.

Pada setiap pos disarankan untuk berhenti. Karena perjalanan masih panjang dan perlu kita meneliti ulang apa yang sedang kita tuju di atas sana. Kisah diri kita dan puncak Lawu atau kisah tim di sepanjang trek puncak Lawu. Teliti juga peralatan, dan menjaga kehangatan untuk tetap terjaga. Selalu ada kaidah lebih baik lambat dan selamat daripada terburu-buru nafsu sedang kiri kanan adalah jurang menunggu. Pertanyaanya tentu saja apakah kita mau menjadi orang yang suka buru-buru dan bernasib buruk? Melainkan bagaimana cara kita tetap bertahan bersama hingga ke puncak nanti?
Continue reading

Pertolongan Allah itu Dekat

dimuat di majalah Respon edisi 285/xxvii/20 feb – 20 maret 2014
IMG
Mengumpulkan batu dari kali adalah pekerjaan baru Kasno. Selepas ia dirumahkan dari perusahaan tekstil hanya kerja mengusung batu dari kali itulah pengisi kesibukan baru Kasno. Ya, tentu saja pekerjaan itu tak ada yang membayar. la melakukannya untuk mengisi kesibukan setelah dirumahkan dari pekerjaan tekstil itu. Dan kalau boleh jujur, juga untuk menghindari cernooh isterinya, karena sekarang ia menganggur dengan berdalih cari batu untuk nyicil kelak kalau bisa mbangun rumah sendiri.

Setelah lima kali turun naik dari kali Kasno memerlukan sejenak istirahat. Penat memberati pundak. Sendi-sendi kakinya sudah gemetar. Dicarinya tempat yang teduh di tepi kali.

Biar tidak ngamplo ia merogoh rokoknya di saku. Ah, ternyata tinggal rokok terakhir.

Kasno membakar batang rokok terakhirnya itu. Asap biru berhembus lurus dari mulutnya. Sejenak pikirannya menerawang. Selalu saja seperti itu, merokok yang sedianya untuk melupakan kepenatan, tapi makin membuatnya mengingat hal-hal suram yang telah berlalu.

“Cari kerja sana Mas. Si Thole sebentar lagi masuk TK. Perlu duit banyak buat daftar sekolah.”

“Kemarin juga aku sudah ke pabrik. Tapi uang pesangon belum turun. Gimanalagi?”

“Kok malah tanya gimana? Mas Kasno sendiri sebagai kepala rumah
tangga yang harus mikir; kok malah tanya gimana. Mas Kasno bisa cari
pinjaman. Nanti bisa dilunasi setelah uang pesangon turun. Yu Satiyem yang
kemarin sudah mendaftarkan anaknya, bilang, uang daftar masuk TK sekarang
sudah naik jadi dua juta!”

Itu adalah kejadian semalam. Isterinya minta dirinya segera mencari pinjaman uang untuk biaya daftar sekolah si Thole karena bulan depan si Thole sudah masukTK. Continue reading

Novel Jihad nan Liris >> Review “Jurai” Guntur Alam

Review jurai oleh Andri Saptono untuk Festival Sastra Solo yang diadakan Pawon, 22 Feb/23 Feb 2014

Judul buku :Jurai
Penulis :Guntur Alam
Tebal :vii + 300 hlm
Penerbit :Gramedia
Cetakan :Maret 2013

re_buku_picture_86641

Kata Jurai bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang-orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal maka akan dikatakan: Itu jurai orang tuanya. seperti pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohohnya. Namun makna jurai lebih universal. (Footnote hlm. 8) Saya mencoba membandingkan kosa kata ini dengan sukerta, dalam kosmologi Jawa yang berarti ‘tanda lahir buruk’ semacam sifat genetis (gawan bayi) yang dibawa si anak yang kelak membuatnya mengalami nasib buruk, celaka, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Misalnya, anak ontang-anting (anak tunggal) atau anak kembar dampit. Dalam kosmologi Jawa, anak yang membawa sukerta ini harus diruwat, dibersihkan dengan cara menanggap wayang yang lakonnya tertentu. Tentu ini bukan persoalan sederhana. Bukan hanya biaya nanggap wayang itu mahal, namun jiwa kemerdekaan anak dipasung dengan kisah dongengan seperti itu yang sama sekali tidak bermanfaat dan membawa mudharat. Bahkan hal seperti ini dimanfaatkan beberapa orang untuk memancing di air keruh, memasang jasa untuk meruwat dengan tarif mahal dan sangat bangsat sekali membodohi masyarakat seperti itu.
Tetapi dalam novel jurai, sang penulis memaparkan tentang kisah kemiripan si tokoh (Catuk), seorang anak laki kelas V SD yang mirip dengan bapaknya. Kemiripan ini adalah jurai dan sukerta yang kelak bisa membawa bala. Kelak suatu saat, tepatnya pada pada suatu siang di musim kemarau, Ebak—ayah Catuk—tiba-tiba pulang ke limas—rumah adat Sumatra Selatan—dalam keadaan tanpa nyawa. Padahal pagi harinya, dia dalam keadaan baik-baik saja, segar bugar tanpa kurang sesuatu apa. Ebak masih bisa menemani Catuk mandi di Sungai Lematang, bahkan masih sempat memboncengkan anak bungsunya itu ke sekolah, sebelum meneruskan perjalanan dengan sepeda kumbang menuju kebun karet milik Toge Nagap yang biasa Ebak sadap (halaman 4). Diceritakan pada bab-bab awal itu Ebak meninggal karena diamuk babi hutan.
Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terkuak. Ebak menemui ajal bukan karena diamuk babi hutan, melainkan karena ditabrak sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap, sang majikan Ebak. Toge Nagap berbuat dusta agar tak terkena perkara. Toge Nagap meminta pegawainya yang saat itu berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) mengarang dusta perihal penyebab kematian Ebak bahwa Ebak mati diserang babi hutan. Sementara itu, Toge Nagap yang mengetahui Emak buta huruf, justru membuat surat pernyataan yang berisi Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Hal ini adalah kekhilafan Emak yang tidak bisa baca tulis yang membuatnya mau membubuhkan cap jempol di surat itu (hlm. 109-110).
Hal ini semacam sindiran bahwa kebanyakan majikan yang busuk akan melahirkan anak-anak yang ceroboh dan busuk pula perilakunya. Jika ini dimaksudkan sebagai pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” kiranya ini lebih tepat untuk perkara negatif ini.
Persoalan lain tentang poligami atau kesetaraan gender coba diselipkan penulis dalam novel ini pula. Seperti sudah jatuh kena tangga, ketika hari berduka itu belum sembuh, pada suatu petang, limas Catuk kedatangan tiga orang asing dari Palembang. Mereka itu terdiri dari seorang wanita beserta dua anaknya. Setelah berbasa-basi, mengakulah wanita itu sebagai istri kedua Ebak. Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong, lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Continue reading

Membeli Kebebasan Ibu

dimuat di majalah Basis, 01-02,2014
Edisi_22012014222233_2014,_BASIS_0102_cover

Seharusnya peristiwa itu tak perlu terjadi jika aku mampu mencegahnya. Maaf, bukannya aku ingin bermaksud membagi cerita sedih ini dengan kalian. Aku sendiri berharap seandainya dapat kembali ke masa lalu. Seandainya aku dapat mencegah peristiwa celaka itu terjadi. Ibu pasti tidak akan masuk penjara dan istriku tidak akan menjadikan Nadya sebagai anak piatu. Pembunuhan itu kutahu tak pernah disengaja Ibu karena akupun berada di sana ketika istriku terbunuh pada malam celaka itu.

Malam itu aku dan istriku bertengkar. Dewi menuduhku terlalu bergantung Ibu dan mengusulkan agar kami berumah sendiri, sedangkan Ibu tinggal dengan Bi Asih. Tapi aku bersikeras semua itu tak bisa kulakukan. Ibu tak mungkin kutinggal sendiri karena Ibu sudah tua dan kewajibanku sebagai anak satu-satunya untuk merawat dia.

“Aku tak bisa melakukan itu. Selama ini waktumu selalu habis di kampus. Bahkan untuk mandi Nadya saja ia harus berbagi dengan tugas mengajarmu.”
“Aku bekerja itu semua demi kebaikan kita juga. Aku tak mungkin hanya diam di rumah menjaga Nadya. Aku bisa gila jika tidak beraktivitas!”
“Ah, terserahlah… aku tetap tak mau meninggalkan Ibu.”
Istriku membanting pintu kamar karena aku bersikeras. Ibu muncul dan menghampiriku. Kutahu Ibuku prihatin dengan pertengkaran kami.
“Aku khawatir rumah ini akan meledak karena pertengkaran kalian. Makin lama kalian seperti air dan api, tidak bisa disatukan. Ibu tidak akan terlalu sedih kalau kalian bercerai. Kau pun tak perlu harus beristri seorang dosen. Seperti Bi Asih tak apa-apa, asal selalu di rumah merawat Nadya.”
“Ini tidak sesederhana itu, Bu.”
Tak dinyana istriku ternyata mendengar percakapan kami. Ia langsung menyerang Ibu.
“Kau perempuan tua tidak tahu malu! Kau mau menyingkirkanku?!”
Ibuku langsung menampar istriku. Istriku tak terima. Mereka bergelut dan saling dorong. Continue reading

Resensi Buku Laskar Anak Pintar

oleh Agus Yulianto, S.Pdi
1234814_1402584506635211_1356398086_n
Novel anak yang berjudul Laskar Anak Pintar merupakan gambaran kisah petualangan seorang bocah yang bernama Maman, Lukman, Daud, Iqbal dan Sholeh.Mereka berlima hidup disuatu daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.

Mereka berlima merupakan anak dari keluarga sederhana.Maman anak seorang buruh serabutan yang meninggalkan bangku sekolahan dikarenakan ayahnya tidak sanggup untuk membiayai sekolah, Sholeh merupakan anak dari seorangl elaki yang berjualan pisang goreng keliling kampung, Sholeh merupakan anak yang cerdas, pandai dan selalu mendapatkan beasiswa.Tak ketinggalan Daud, Iqbal dan Lukman mereka semua sama berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka merupakan sahabat yang sejati, meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Dalam hal ini Maman dikisahkan sebagai seorang anak yang tidak menempuh pendidikan Sekolah dan Sholeh merupakan seorang anak yang menempuh pendidikan atau anak sekolahan. Hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka berdua. Biarpun berbeda status sosial ekonomi mereka, rasa kepedulian tetap ada didalam diri mereka. Sikap saling tolong menolong, menghormati sesamanya, serta rasa ingin menegakkan agama dengan cara yang mereka lakukan sungguh sangat mengesankan dan bisa dapat di jadikan contoh untuk anak-anak di era sekarang yang sudah mulai terkikis dengan budaya cyber.

Didalam buku ini kita dapat belajar dari seorang anak kecil yang memiliki kepedulian yang baik untuk lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka anak yang berasal dari keluarga miskin dan sederhana, namun dibalik itu semua mereka mampu menjadi pahlawan kecil di daerah tempat tinggal mereka.Berbagai permasalahan di kampungnya mampu mereka hadapi dan selesaikan bahkan solusipun mereka berikan kepada orang dewasa. Hal ini mengingatkan bahwa anak kecil saja bisa berbuat kebaikan, apalagi kita sebagai orang dewasa selayaknyalah harus bisa lebih baik.

Sumber http://yuliagusyulianto.blogspot.com/2014/02/review-buku-irc.htm